Cerpen oleh: Alin Ifa
“Hidupmu selama ini terlalu monoton, Nak,”
kata Ibu di suatu pagi. Pagi itu hujan, dan tidak ada yang lebih membahagiakan
daripada menikmati teh buatan sendiri ditemani biskuit rumahan karya ibu. Apalagi
hari ini minggu.
“Hm,” Aku
mengiakan saja, “aku juga merasakan itu, sih, Bu.”
Aku menatap
ibu dengan penuh kasih, sebagaimana dirinya memandang mata berbingkaiku ini
dari netra menuanya. Ibu mengekeh. “Nah, kalau sudah tahu, kenapa gak mencari
sesuatu yang lebih menantang?”
“Aku kira
klien-klienku sudah cukup menantang,” gumamku sambil menyembunyikan tatapan
malas itu agar tidak terlihat ibu. Semata untuk membuatnya nyaman, kalian tahu.
Frasa ‘lebih menantang’ membuatku tahu pembicaraan ini akan mengarah ke mana.
Lagi, aku
menyesap tehku. “Bas liburan kemari bukan untuk mencari sesuatu yang lebih
menantang lagi.”
Sejujurnya,
setelah berucap demikian, aku segera mengamati gerak-gerik dan sorot mata ibu.
Wanita renta itu bergeming—tidak memalingkan fokusnya dariku, tapi dia tetap
mengeluarkan satu perasaan itu lagi: khawatir. Padahal, apa yang harus
dikhawatirkan dari pria 35 tahun yang memiliki karir gemilang sebagai pengacara
dan dapat hidup dari pekerjaan itu? Sudah berulang kali aku berusaha
memperlihatkan versi terbaikku di depan ibu, tapi selalu ada saja yang kurang.
Si sang berjasa tidak pernah betul-betul bahagia, apalagi akhir-akhir ini.
Aku
menghela, coba mengingkari bahwa yang dimaksud ibu adalah itu. “Bu, Bas gak liburan untuk mencari istri.”
“Mungkin itu
yang harus kamu lakukan sekarang.” Tapi, daripada marah, ibu tersenyum. “Semua
hal di hidup kamu sudah sempurna, bisa ibu bilang begitu? Hanya itu yang
kurang. Pendamping.”
Pen.dam.ping.
Aku bahkan merasa perlu membaginya menjadi tiga suku kata hanya demi mempertegas
urgensi kata itu dalam hidupku. “Masih banyak hal yang belum aku capai, Bu.”
“Sebutkan,
apa? Ibu bantu kamu mewujudkan itu.”
Alih-alih
menjawab, aku hanya tersenyum. “Yang jelas, pendamping termasuk salah satunya.
Tenang, aku gak lupa cari istri, kok.”
Ibu
mengangguk, menatapku dengan sorot matanya yang menyendu. “Gak lupa itu nggak
menjamin kamu akan mencarinya dengan segera. Gimana Dara? Partnermu itu juga
masih lajang, kan?”
Aku
menyeringai. Dara lagi. Aku masih mengingat jelas tipe pria idamannya seperti
apa. Jauh dari apa yang kumiliki dan ada padaku. “Jangan Dara. Kutu buku kayak
Bas nggak cocok sama dia.”
“Memangnya
ada pengacara yang nggak kutu buku?”
“Ada. Dara
contohnya—dan lagi dia sukanya suami yang nggak seprofesi dengannya,” jawabku
acuh tak acuh. Usai menandaskan tehku, tadinya aku ingin membuka buku dari rak
terdekat dan membacanya sebagai pengalihan pikiran. Namun, ibu menyodorkan
selembar kertas padaku begitu beranjak dari kursinya. Aku menatapnya penasaran.
“Apa ini, Bu?”
“Kontak dia.
Cocok atau enggaknya kasih tahu ibu. Cepat, ya, sebelum stok gadis lajang anak
teman-teman ibu menipis.”
***
Begitu saja,
tapi nyatanya urgensi yang nyata terasa di balik permintaan ibu mulai
menggangguku. Malam, di tepi kolam renang belakang rumah, aku merenungi setiap
gurat nada ucapan ibu tadi siang.
Tiba-tiba
ponsel di sisiku berkedip, menampilkan nama Dara di layarnya. Sebuah telepon.
“Halo, Ra?”
“Baskara Hanggono
kayaknya begitu menikmati ada di tempat ibu, ya?” Dara, tunangan si atlet golf
Ario Wibisana itu tertawa pelan. “Tapi jangan khawatir, gue nggak berniat
ganggu liburan lo kok.”
Aku
menyembunyikan senyum. “Terus? Apa nih telepon-telepon begini?”
“Ngerasa harus
aja.” Kali ini aku bisa merasakan dia mengangkat bahu di seberang sana walau
tidak bisa melihatnya. “SW lo ngilang seharian ini. Gue takut lo kenapa-kenapa.
Belum siap take over BasDa Lawyer
soalnya.”
BasDa Lawyer
adalah nama firma hukum buatan kami. Aku tahu itu nama yang aneh, tapi ternyata
merk usulan Dara itu lebih menarik hati klien daripada BasRa. Nanti klien kita ingatnya kota di
Afganistan, bukan firma hukum. Begitu kata Dara. Kupikir, benar juga.
Karakter
Dara memang ceplas-ceplos di luar ruang sidang. Namun, ketika sudah masuk
pengadilan dan berhadapan dengan yang dibela, Dara akan berubah menjadi wanita
dewasa yang senang mendebat dan membabat. Dia orang yang tepat untuk perkara
pidana, sementara aku lebih banyak menangani perdata.
Yah, sebagai
seseorang yang sudah bertunangan, bisakah Dara dimintai saran juga soal kontak
di tanganku ini? Aku menatap kertas pemberian ibu sekali lagi. Di sana tertulis
sebaris nomor bernama Naila.
“Ra, ibu
mulai jodoh-jodohin gue.” Aku memulai. “Menurut lo gimana?”
“Hem. Bisa
kita pindah ke video call? Gue mau
lihat muka lo.”
“Oke,” Meski
tidak menemukan korelasi apa pun antara nama yang diberikan ibu dan
pertanyaanku tentang itu kepada Dara, aku menurut, “angkat.”
Tidak lama
kemudian, wajah Dara terlihat di kamera. “Oke, jadi ... lo mau dijodohin?”
Tampang sengak Dara seolah mengejek nasibku. “Udah lihat orangnya?”
Aku
merebahkan diri di kursi tepi kolam. “Belum. Ibu cuma kasih gue kontaknya.”
“Udah
dikontak orangnya?”
“Belum.”
“Terus apa
yang mau lo tanyain, sih?” Dara berdecak. “Gue kira prosesnya udah jauh sampai
mana gitu. Teleponan dululah.”
“Takut.”
Tawa Dara
menggema di seberang. Dia sendiri terlihat duduk di meja makan apartemennya.
Langit malam yang cerah sebagai latar Dara, sementara langit mendung sebagai
latarku rasanya mewakili suasana hati masing-masing.
“Kenapa
takut?”
“Takut orang
itu nggak sesuai sama kriteria calon istri Baskara Hanggono yang lo buat.”
Ekspresi
Dara melurus saat itu juga. Tawanya mereda, tatap matanya berubah serius. Dia
meletakan ponsel pada sandaran—aku sangka begitu karena dua tangannya terlipat
di atas meja. “Bas, itu konyol. Lo udah berumur, jangan pake alasan itu untuk—”
“Tapi bener,”
Aku memotong komentarnya, “Karena lo tau gue banget, Ra.”
“Apa yang
udah selesai, selesai di sana. Gak usah dibawa-bawa ke masa depan, Bas.”
Aku
menyeringai menanggapi ucapan yang entah sudah berapa kali terucap dari Dara.
“Susah dong, dengan mendirikan firma itu, secara nggak langsung gue udah bawa
masa lalu ke masa depan.”
“We’re finish. Long time ago.”
Dua kalimat
itu selalu menimbulkan nyeri di dada. Hanya Dara yang bisa melakukannya. Aku
menatap sosok di depan layar dengan sorot yang mungkin saja sulit diartikan.
Selalu begitu setiap Dara menandaskan percakapan personal kami dengan dua
kalimat pendek itu.
“Bahkan
sebelum ibu tahu kita pernah serumah.” Aku menoleh ke sekeliling, melihat
keadaan—siapa tahu ibu memperhatikan percakapanku dengan Dara. “Kadang gue
heran, apa artis-artis yang menikah siri itu ngerasain perasaan sedalam ini?”
Dara
menanggapi, “Telepon orang itu, oke? Lo harus move on.”
“Dengan
menjadikan orang itu sebagai pelampiasan?” Aku coba mendebat Dara. “Gue gak
mau. Dari namanya, dia pasti orang baik.”
“Telepon
orang itu.”
Aku terdiam.
Kalau Dara sudah mengulang kalimatnya dan ucapan itu diakhiri dengan senyuman
tipis nan damai, sepertinya aku tidak bisa berbuat apa-apa. Sekali lagi,
kutatap layar.
“Kalau gue
nggak bisa, gimana? It’s always been you,
Ra.”
“Harus
bisa.”
Tiba-tiba,
layar berubah menjadi tampilan whatsApp kembali. Dara pergi. Suasana sekitarku
kembali sepi.
Kembali, aku
memandang kertas pemberian ibu. Kali ini, kuketikkan nomor itu,
kusimpan—langsung kupanggil. Semoga Naila tidak masalah aku menelepon jam ini.
Nada sambung
terdengar.
Diangkat.
“Halo? Bisa
bicara dengan Naila?”
“Ya, saya
sendiri. Dengan Mas siapa ini?”
“Perkenalkan,
saya Baskara Hanggono. Boleh saya melamar kamu?”
.
.
.
SELESAI



