Minggu, 09 Januari 2022

ENCHANTED

A 'Sweet' Short Story

Alin Ifa


Arga termenung di ruangannya. Berhadapan dengan laptop, ditemani suara rintik hujan yang terdengar samar dari luar, ia bukan merenungi kerugian, kesedihan, kemalangan, atau hal negatif lainnya. Arga terdiam di kursinya sejak lima belas menit yang lalu karena hal sesepele wanita yang dikenalnya melalui jejaring sosial setuju untuk bertemu.

Besok. Haruskah dia meminta saran Nita dan Bragi terkait kencan pertamanya setelah sekian tahun?

Arga menepuk wajahnya. “Ini bukan kencan, Ga. Gila lo!” Ya, gila, segila respons lawan bicaranya karena mau saja diajak bertemu setelah berkenalan seminggu belakangan ini.

Belum pernah video call. Hanya mengirim foto diri di tengah kegiatan masing-masing. Arga akui wanita ini cantik dan anggun, berusia empat tahun lebih muda darinya. Kepribadiannya pun ceria, sejauh yang ia tahu. Entah saat bertemu langsung nanti. Bisa jadi, sifat itu berubah sekian kali lebih baik atau lebih buruk.

Arga mengusap wajahnya, memutuskan untuk mengetik jawaban dari pertanyaan ‘Mau ketemu di mana?’.

“Ayam Geprek Pak Herman?” ketiknya menawarkan. Tempat makan hommie itu memang sedang digandrungi di kota ini.  

Tak terduga, wanita itu membalas, “Besok hari pertama aku di kota kamu. Gak berniat jemput aku di bandara?”

“Ah, yaaa ....” Arga sama sekali tidak menyadarinya, tapi perasaan malu sendiri itu memunculkan rona merah di wajah dan sekitar telinga. Seandainya Bragi dan Nita melihatnya, mereka pasti akan meledek Arga habis-habisan. “Iya juga. Dia dari Kyoto.”

Arga mengetikkan balasan, “Oke, bandara. Hahaha, sorry, you feel so close to me.

Wanita itu membalas dengan emoji tertawa terbahak terlebih dahulu, lalu ....

“Aku cuma bercanda, Arga! It’s okay. See you soon. Aku mau lanjut kerja dulu. Bye. Aku ambil flight malam ini juga ke sana.”

Ada setitik perasaan kecewa ketika dia mengakhiri percakapan mereka. Arga mengetik, “Bye. Semangat.”

Tak lama, Arga menambahkan balasannya, “Dan hati-hati di jalan.”  

Dia menutup percakapan dengan dua kata yang seperti biasa, “You too.”

You too. Kemudian, arah pandangnya terpalingkan pada langit malam. Arga berdiri dan memandang langit Jakarta dari lantai 32 ini. Perasaan hangat yang menyusup ke relung hatinya tidak bisa dicegah. Perlahan, ia mengulas senyum, merasa konyol pada dirinya sendiri dalam percakapan ‘office hour’ mereka tadi. Arga semakin tidak sabar bertemu wanita itu besok.

***

Atas kesadaran diri, Arga akhirnya memutuskan untuk menjemput tamunya di bandara. Berdiam di terminal penjemputan sejak pukul 5 pagi, Arga tidak terkantuk-kantuk. Ia siaga dengan ponsel di tangan. Menyengajakan diri, Arga bahkan berlari di sekitar bandara sambil menunggu. Dia tidak ingin telat menjemput tamunya.

“Dari jadwalnya, jam setengah tujuh sampai airport.” Arga melirik jam tangan yang melingkari pergelangannya. “Lima belas menit lagi.”

Namun, sepertinya tidak perlu menunggu lima belas menit, sosok wanita yang mirip dengan foto muncul menarik troli bandara berisi beberapa tas kecil dan satu koper berukuran medium. Pandangannya seperti mencari-cari sesuatu.

Arga mendekatinya. “Halo?”

“Hai?” Wajah yang awalnya bingung itu menunjukan binarnya. Sebelah tangan langsung terulur. “Arga, ya?”

“Ya, betul.” Arga tersenyum, semata membalas senyum ceria lawan bicaranya. “Misaki?”

Yang dituju berdecak sebentar pertanda tidak setuju dengan panggilan yang disematkan Arga. “Shila aja.”

“Oke.”

Sejenak, mereka berdiri kikuk di lorong besar itu. Arga tahu harus dia dulu yang mulai bicara. Masih pukul enam pagi, mau ke mana mereka? Restoran ayam geprek tujuannya pasti belum buka.

“Aku nggak nyangka kamu jemput di sini.” Shilalah yang nyatanya bicara lebih dulu. “Aku belum tahu harus stay di mana. Tapi mau menyewa hotel terdekat dari sini. Itu di mana, ya?”

“Mau tinggal sampai kapan di sini?” tanya Arga berbasa-basi, semata mengalihkan dirinya sendiri dari aroma parfum Shila yang mulai menyenangkan indra penciumannya.

Shila mengangkat bahu. “Looks like aku sudah terpesona duluan sama Indonesia. Boleh tinggal lama?”

Sorot mata lembut itu bagi Arga seperti menyimpan sejuta maksud di dalamnya. Namun, kali ini Arga tidak mau berlarut-larut dalam penafsirannya sendiri. Ia menyeringai dan mengeluarkan suara tawa yang sedikit aneh dan hambar, tapi terhibur oleh ucapan misterius Shila. “Silakan.”

Sekali lagi mereka terdiam dalam senyum masing-masing. Sekali lagi pula, Shila yang memecah keheningan. “Jadi, kita akan terus diam di sini atau ....”

Atau!” Arga cengengesan, merasa konyol karena menyadari mereka sudah berdiri di lorong itu cukup lama. “Mari, saya antar kamu ke salah satu homestay ter-hommie di kota ini.”

Kemudian, mereka berdua melangkah menjauhi terminal penjemputan. Keceriaan Shila Misaki menghiburnya di pagi itu.

*

Sedikit yang Shila tahu, rumah tinggal yang dimaksud sebenarnya apartemen asetnya di tengah kota. Arga membawa wanita itu masuk, meletakan koper dan tas-tasnya di dekat ruang tamu. Shila sibuk memandang seisi apartemen dengan sorot tak percaya. Lucu rasanya, ia kira karena orang luar, Shila akan biasa saja melihat isi apartemennya.

“Waw,” Binar mata Shila tak bisa membohongi diri, “aku gak yakin ini disebut hommie.”

“Ehem,” Arga mengangkat bahu, “for me, this is quiet hommie.”

“Siapa kamu?”

Arga balas menoleh. Matanya bertubrukan dengan netra pemilik wajah oriental itu. Seketika Arga gugup menerima rasa penasaran yang membuncah dari Shila. “No body, serius.”

“Manajer mana yang punya apartemen sebagai asetnya?”

Arga mau tak mau menunjuk dirinya sendiri.

“Aku gak yakin kamu ‘manajer’.”

Neither do I. Seringai lebar Arga terbit ketika Shila dengan luwesnya memperlihatkan kekagumannya lebih lanjut. Lucu, masih terasa lucu dan semakin lucu. Siapa sangka wanita anggun berumur 28 tahun juga bisa bertingkah lugu seperti ini? Arga mulai mengikuti Shila ke manapun, mendengarkan segala decakan kagumnya dengan penuh perhatian.

Hingga kemudian mereka tiba di dapur ....

“Kamu punya pacar, Arga?” Bersandar pada meja dapur, pandangan penasaran itu menyorotnya.

“Gak ada waktu untuk mencarinya,” jawab Arga dengan tegas.

“Kenapa? At your age, kakakku sudah punya anak dua.”

Arga terkekeh. “At your age, saya hampir menikah.”

“Kenapa urung?”

“Dia nggak tepat buat saya.” Arga mengangkat bahu. Fokusnya sedikit pudar dari Shila bukan karena ia mengingat kenangan di masa lalu, tapi karena sedikit tak siap harus berhadapan dengan pertanyaan seperti ini. “Atau saya yang nggak tepat buat dia? Entahlah.”

“Apa katanya?”

You deserve better.”

Shila tertawa. “Ternyata ... kita punya cerita yang sama.”

Detik selanjutnya, tawa itu perlahan menyurut menjadi tak bernyawa. Shila terus menghindari tatap matanya sambil mengambil duduk di kursi makan. Arga tetap memandangnya penasaran meski wanita berambut lurus itu tak peduli.

Kemarin, Arga penasaran akan sifatnya, kini ia justru penasaran tentang penyebab sepasang mata yang tak sipit tapi juga tidak bundar itu berair. “Thank you,” ucap Shila terbata.

Belum sempat Arga membalas sepatah kata pun, Shila menangis pilu di hadapannya. Arga tidak tuli dan buta—dan tak ingin berbasa-basi. Ia tak tahu harus bagaimana, tapi masih cukup berakal untuk sigap mengambilkan tisu dan segelas air putih. Wanita di hadapannya sepertinya baru patah hati dalam hitungan bulan lalu—atau bahkan hari. Arga tidak akan bertanya kenapa karena itu bukan urusannya.   

Breakfast?” tawar Arga segera, semata untuk mengisi kekosongan obrolan mereka.

“Ya, sure.

Arga berbalik, menelepon layanan pesan antar. Namun, tanpa Arga sadari, sebilah pisau dapur terhunus.

Pisau itu menembus jantungnya tepat sebelum jam 7 pagi.

Shila Misaki menelepon seseorang dari ponselnya sambil berjongkok di sisi si mayat. “Mr. Nelwan, CEO Arga Group sudah tewas.”

Di seberang sana, sang klien tersenyum sambil menyilang foto Arga. “Terima kasih, Shila. Kita ke target selanjutnya. Nita dan Bragi.”

“Siap, Mister.”

.

.

.

BERSAMBUNG ....  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar