A 'Sweet' Short Story
Alin Ifa
Arga termenung di ruangannya. Berhadapan dengan laptop,
ditemani suara rintik hujan yang terdengar samar dari luar, ia bukan merenungi
kerugian, kesedihan, kemalangan, atau hal negatif lainnya. Arga terdiam di
kursinya sejak lima belas menit yang lalu karena hal sesepele wanita yang
dikenalnya melalui jejaring sosial setuju untuk bertemu.
Besok.
Haruskah dia meminta saran Nita dan Bragi terkait kencan pertamanya setelah
sekian tahun?
Arga
menepuk wajahnya. “Ini bukan kencan, Ga. Gila lo!” Ya, gila, segila respons lawan
bicaranya karena mau saja diajak bertemu setelah berkenalan seminggu belakangan
ini.
Belum
pernah video call. Hanya mengirim foto diri di tengah kegiatan masing-masing.
Arga akui wanita ini cantik dan anggun, berusia empat tahun lebih muda darinya.
Kepribadiannya pun ceria, sejauh yang ia tahu. Entah saat bertemu langsung
nanti. Bisa jadi, sifat itu berubah sekian kali lebih baik atau lebih buruk.
Arga
mengusap wajahnya, memutuskan untuk mengetik jawaban dari pertanyaan ‘Mau
ketemu di mana?’.
“Ayam
Geprek Pak Herman?” ketiknya menawarkan. Tempat makan hommie itu memang sedang digandrungi di kota ini.
Tak
terduga, wanita itu membalas, “Besok hari pertama aku di kota kamu. Gak berniat
jemput aku di bandara?”
“Ah,
yaaa ....” Arga sama sekali tidak menyadarinya, tapi perasaan malu sendiri itu
memunculkan rona merah di wajah dan sekitar telinga. Seandainya Bragi dan Nita melihatnya,
mereka pasti akan meledek Arga habis-habisan. “Iya juga. Dia dari Kyoto.”
Arga
mengetikkan balasan, “Oke, bandara. Hahaha, sorry, you feel so close to me.”
Wanita
itu membalas dengan emoji tertawa terbahak terlebih dahulu, lalu ....
“Aku
cuma bercanda, Arga! It’s okay. See you soon. Aku mau lanjut kerja dulu. Bye.
Aku ambil flight malam ini juga ke sana.”
Ada
setitik perasaan kecewa ketika dia mengakhiri percakapan mereka. Arga mengetik,
“Bye. Semangat.”
Tak
lama, Arga menambahkan balasannya, “Dan hati-hati di jalan.”
Dia
menutup percakapan dengan dua kata yang seperti biasa, “You too.”
You too. Kemudian, arah pandangnya terpalingkan pada langit
malam. Arga berdiri dan memandang langit Jakarta dari lantai 32 ini. Perasaan
hangat yang menyusup ke relung hatinya tidak bisa dicegah. Perlahan, ia
mengulas senyum, merasa konyol pada dirinya sendiri dalam percakapan ‘office
hour’ mereka tadi. Arga semakin tidak sabar bertemu wanita itu besok.
***
Atas
kesadaran diri, Arga akhirnya memutuskan untuk menjemput tamunya di bandara.
Berdiam di terminal penjemputan sejak pukul 5 pagi, Arga tidak
terkantuk-kantuk. Ia siaga dengan ponsel di tangan. Menyengajakan diri, Arga
bahkan berlari di sekitar bandara sambil menunggu. Dia tidak ingin telat
menjemput tamunya.
“Dari
jadwalnya, jam setengah tujuh sampai airport.”
Arga melirik jam tangan yang melingkari pergelangannya. “Lima belas menit lagi.”
Namun,
sepertinya tidak perlu menunggu lima belas menit, sosok wanita yang mirip dengan
foto muncul menarik troli bandara berisi beberapa tas kecil dan satu koper
berukuran medium. Pandangannya seperti mencari-cari sesuatu.
Arga
mendekatinya. “Halo?”
“Hai?”
Wajah yang awalnya bingung itu menunjukan binarnya. Sebelah tangan langsung
terulur. “Arga, ya?”
“Ya,
betul.” Arga tersenyum, semata membalas senyum ceria lawan bicaranya. “Misaki?”
Yang
dituju berdecak sebentar pertanda tidak setuju dengan panggilan yang disematkan
Arga. “Shila aja.”
“Oke.”
Sejenak,
mereka berdiri kikuk di lorong besar itu. Arga tahu harus dia dulu yang mulai
bicara. Masih pukul enam pagi, mau ke mana mereka? Restoran ayam geprek
tujuannya pasti belum buka.
“Aku
nggak nyangka kamu jemput di sini.” Shilalah yang nyatanya bicara lebih dulu. “Aku
belum tahu harus stay di mana. Tapi
mau menyewa hotel terdekat dari sini. Itu di mana, ya?”
“Mau
tinggal sampai kapan di sini?” tanya Arga berbasa-basi, semata mengalihkan
dirinya sendiri dari aroma parfum Shila yang mulai menyenangkan indra
penciumannya.
Shila
mengangkat bahu. “Looks like aku sudah
terpesona duluan sama Indonesia. Boleh tinggal lama?”
Sorot
mata lembut itu bagi Arga seperti menyimpan sejuta maksud di dalamnya. Namun,
kali ini Arga tidak mau berlarut-larut dalam penafsirannya sendiri. Ia
menyeringai dan mengeluarkan suara tawa yang sedikit aneh dan hambar, tapi
terhibur oleh ucapan misterius Shila. “Silakan.”
Sekali
lagi mereka terdiam dalam senyum masing-masing. Sekali lagi pula, Shila yang
memecah keheningan. “Jadi, kita akan terus diam di sini atau ....”
“Atau!” Arga cengengesan, merasa konyol karena
menyadari mereka sudah berdiri di lorong itu cukup lama. “Mari, saya antar kamu
ke salah satu homestay ter-hommie di kota ini.”
Kemudian,
mereka berdua melangkah menjauhi terminal penjemputan. Keceriaan Shila Misaki
menghiburnya di pagi itu.
*
Sedikit
yang Shila tahu, rumah tinggal yang dimaksud sebenarnya apartemen asetnya di
tengah kota. Arga membawa wanita itu masuk, meletakan koper dan tas-tasnya di
dekat ruang tamu. Shila sibuk memandang seisi apartemen dengan sorot tak
percaya. Lucu rasanya, ia kira karena orang luar, Shila akan biasa saja melihat
isi apartemennya.
“Waw,”
Binar mata Shila tak bisa membohongi diri, “aku gak yakin ini disebut hommie.”
“Ehem,”
Arga mengangkat bahu, “for me, this is
quiet hommie.”
“Siapa
kamu?”
Arga
balas menoleh. Matanya bertubrukan dengan netra pemilik wajah oriental itu. Seketika
Arga gugup menerima rasa penasaran yang membuncah dari Shila. “No body, serius.”
“Manajer
mana yang punya apartemen sebagai asetnya?”
Arga
mau tak mau menunjuk dirinya sendiri.
“Aku
gak yakin kamu ‘manajer’.”
Neither do I. Seringai lebar Arga terbit ketika Shila dengan
luwesnya memperlihatkan kekagumannya lebih lanjut. Lucu, masih terasa lucu dan
semakin lucu. Siapa sangka wanita anggun berumur 28 tahun juga bisa bertingkah
lugu seperti ini? Arga mulai mengikuti Shila ke manapun, mendengarkan segala
decakan kagumnya dengan penuh perhatian.
Hingga
kemudian mereka tiba di dapur ....
“Kamu
punya pacar, Arga?” Bersandar pada meja dapur, pandangan penasaran itu
menyorotnya.
“Gak
ada waktu untuk mencarinya,” jawab Arga dengan tegas.
“Kenapa?
At your age, kakakku sudah punya anak
dua.”
Arga
terkekeh. “At your age, saya hampir
menikah.”
“Kenapa
urung?”
“Dia
nggak tepat buat saya.” Arga mengangkat bahu. Fokusnya sedikit pudar dari Shila
bukan karena ia mengingat kenangan di masa lalu, tapi karena sedikit tak siap harus
berhadapan dengan pertanyaan seperti ini. “Atau saya yang nggak tepat buat dia?
Entahlah.”
“Apa
katanya?”
“You deserve better.”
Shila
tertawa. “Ternyata ... kita punya cerita yang sama.”
Detik
selanjutnya, tawa itu perlahan menyurut menjadi tak bernyawa. Shila terus
menghindari tatap matanya sambil mengambil duduk di kursi makan. Arga tetap memandangnya
penasaran meski wanita berambut lurus itu tak peduli.
Kemarin,
Arga penasaran akan sifatnya, kini ia justru penasaran tentang penyebab
sepasang mata yang tak sipit tapi juga tidak bundar itu berair. “Thank you,” ucap Shila terbata.
Belum
sempat Arga membalas sepatah kata pun, Shila menangis pilu di hadapannya. Arga
tidak tuli dan buta—dan tak ingin berbasa-basi. Ia tak tahu harus bagaimana,
tapi masih cukup berakal untuk sigap mengambilkan tisu dan segelas air putih. Wanita
di hadapannya sepertinya baru patah hati dalam hitungan bulan lalu—atau bahkan
hari. Arga tidak akan bertanya kenapa karena itu bukan urusannya.
“Breakfast?” tawar Arga segera, semata
untuk mengisi kekosongan obrolan mereka.
“Ya,
sure.”
Arga
berbalik, menelepon layanan pesan antar. Namun, tanpa Arga sadari, sebilah
pisau dapur terhunus.
Pisau
itu menembus jantungnya tepat sebelum jam 7 pagi.
Shila
Misaki menelepon seseorang dari ponselnya sambil berjongkok di sisi si mayat. “Mr.
Nelwan, CEO Arga Group sudah tewas.”
Di
seberang sana, sang klien tersenyum sambil menyilang foto Arga. “Terima kasih,
Shila. Kita ke target selanjutnya. Nita dan Bragi.”
“Siap,
Mister.”
.
.
.
BERSAMBUNG ....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar