Sabtu, 15 Januari 2022

TETIRAH



Cerpen oleh: Alin Ifa


“Hidupmu selama ini terlalu monoton, Nak,” kata Ibu di suatu pagi. Pagi itu hujan, dan tidak ada yang lebih membahagiakan daripada menikmati teh buatan sendiri ditemani biskuit rumahan karya ibu. Apalagi hari ini minggu.

“Hm,” Aku mengiakan saja, “aku juga merasakan itu, sih, Bu.”

Aku menatap ibu dengan penuh kasih, sebagaimana dirinya memandang mata berbingkaiku ini dari netra menuanya. Ibu mengekeh. “Nah, kalau sudah tahu, kenapa gak mencari sesuatu yang lebih menantang?”

“Aku kira klien-klienku sudah cukup menantang,” gumamku sambil menyembunyikan tatapan malas itu agar tidak terlihat ibu. Semata untuk membuatnya nyaman, kalian tahu. Frasa ‘lebih menantang’ membuatku tahu pembicaraan ini akan mengarah ke mana.

Lagi, aku menyesap tehku. “Bas liburan kemari bukan untuk mencari sesuatu yang lebih menantang lagi.”

Sejujurnya, setelah berucap demikian, aku segera mengamati gerak-gerik dan sorot mata ibu. Wanita renta itu bergeming—tidak memalingkan fokusnya dariku, tapi dia tetap mengeluarkan satu perasaan itu lagi: khawatir. Padahal, apa yang harus dikhawatirkan dari pria 35 tahun yang memiliki karir gemilang sebagai pengacara dan dapat hidup dari pekerjaan itu? Sudah berulang kali aku berusaha memperlihatkan versi terbaikku di depan ibu, tapi selalu ada saja yang kurang. Si sang berjasa tidak pernah betul-betul bahagia, apalagi akhir-akhir ini.

Aku menghela, coba mengingkari bahwa yang dimaksud ibu adalah itu. “Bu, Bas gak liburan untuk mencari istri.”

“Mungkin itu yang harus kamu lakukan sekarang.” Tapi, daripada marah, ibu tersenyum. “Semua hal di hidup kamu sudah sempurna, bisa ibu bilang begitu? Hanya itu yang kurang. Pendamping.”

Pen.dam.ping. Aku bahkan merasa perlu membaginya menjadi tiga suku kata hanya demi mempertegas urgensi kata itu dalam hidupku. “Masih banyak hal yang belum aku capai, Bu.”

“Sebutkan, apa? Ibu bantu kamu mewujudkan itu.”

Alih-alih menjawab, aku hanya tersenyum. “Yang jelas, pendamping termasuk salah satunya. Tenang, aku gak lupa cari istri, kok.”

Ibu mengangguk, menatapku dengan sorot matanya yang menyendu. “Gak lupa itu nggak menjamin kamu akan mencarinya dengan segera. Gimana Dara? Partnermu itu juga masih lajang, kan?”

Aku menyeringai. Dara lagi. Aku masih mengingat jelas tipe pria idamannya seperti apa. Jauh dari apa yang kumiliki dan ada padaku. “Jangan Dara. Kutu buku kayak Bas nggak cocok sama dia.”

“Memangnya ada pengacara yang nggak kutu buku?”

“Ada. Dara contohnya—dan lagi dia sukanya suami yang nggak seprofesi dengannya,” jawabku acuh tak acuh. Usai menandaskan tehku, tadinya aku ingin membuka buku dari rak terdekat dan membacanya sebagai pengalihan pikiran. Namun, ibu menyodorkan selembar kertas padaku begitu beranjak dari kursinya. Aku menatapnya penasaran. “Apa ini, Bu?”

“Kontak dia. Cocok atau enggaknya kasih tahu ibu. Cepat, ya, sebelum stok gadis lajang anak teman-teman ibu menipis.”

***

Begitu saja, tapi nyatanya urgensi yang nyata terasa di balik permintaan ibu mulai menggangguku. Malam, di tepi kolam renang belakang rumah, aku merenungi setiap gurat nada ucapan ibu tadi siang.

Tiba-tiba ponsel di sisiku berkedip, menampilkan nama Dara di layarnya. Sebuah telepon. “Halo, Ra?”

“Baskara Hanggono kayaknya begitu menikmati ada di tempat ibu, ya?” Dara, tunangan si atlet golf Ario Wibisana itu tertawa pelan. “Tapi jangan khawatir, gue nggak berniat ganggu liburan lo kok.”

Aku menyembunyikan senyum. “Terus? Apa nih telepon-telepon begini?”

“Ngerasa harus aja.” Kali ini aku bisa merasakan dia mengangkat bahu di seberang sana walau tidak bisa melihatnya. “SW lo ngilang seharian ini. Gue takut lo kenapa-kenapa. Belum siap take over BasDa Lawyer soalnya.”

BasDa Lawyer adalah nama firma hukum buatan kami. Aku tahu itu nama yang aneh, tapi ternyata merk usulan Dara itu lebih menarik hati klien daripada BasRa. Nanti klien kita ingatnya kota di Afganistan, bukan firma hukum. Begitu kata Dara. Kupikir, benar juga.

Karakter Dara memang ceplas-ceplos di luar ruang sidang. Namun, ketika sudah masuk pengadilan dan berhadapan dengan yang dibela, Dara akan berubah menjadi wanita dewasa yang senang mendebat dan membabat. Dia orang yang tepat untuk perkara pidana, sementara aku lebih banyak menangani perdata.

Yah, sebagai seseorang yang sudah bertunangan, bisakah Dara dimintai saran juga soal kontak di tanganku ini? Aku menatap kertas pemberian ibu sekali lagi. Di sana tertulis sebaris nomor bernama Naila.

“Ra, ibu mulai jodoh-jodohin gue.” Aku memulai. “Menurut lo gimana?”

“Hem. Bisa kita pindah ke video call? Gue mau lihat muka lo.”

“Oke,” Meski tidak menemukan korelasi apa pun antara nama yang diberikan ibu dan pertanyaanku tentang itu kepada Dara, aku menurut, “angkat.”

Tidak lama kemudian, wajah Dara terlihat di kamera. “Oke, jadi ... lo mau dijodohin?” Tampang sengak Dara seolah mengejek nasibku. “Udah lihat orangnya?”

Aku merebahkan diri di kursi tepi kolam. “Belum. Ibu cuma kasih gue kontaknya.”

“Udah dikontak orangnya?”

“Belum.”

“Terus apa yang mau lo tanyain, sih?” Dara berdecak. “Gue kira prosesnya udah jauh sampai mana gitu. Teleponan dululah.”

“Takut.”

Tawa Dara menggema di seberang. Dia sendiri terlihat duduk di meja makan apartemennya. Langit malam yang cerah sebagai latar Dara, sementara langit mendung sebagai latarku rasanya mewakili suasana hati masing-masing.

“Kenapa takut?”

“Takut orang itu nggak sesuai sama kriteria calon istri Baskara Hanggono yang lo buat.”

Ekspresi Dara melurus saat itu juga. Tawanya mereda, tatap matanya berubah serius. Dia meletakan ponsel pada sandaran—aku sangka begitu karena dua tangannya terlipat di atas meja. “Bas, itu konyol. Lo udah berumur, jangan pake alasan itu untuk—”

“Tapi bener,” Aku memotong komentarnya, “Karena lo tau gue banget, Ra.”

“Apa yang udah selesai, selesai di sana. Gak usah dibawa-bawa ke masa depan, Bas.”

Aku menyeringai menanggapi ucapan yang entah sudah berapa kali terucap dari Dara. “Susah dong, dengan mendirikan firma itu, secara nggak langsung gue udah bawa masa lalu ke masa depan.”

We’re finish. Long time ago.”

Dua kalimat itu selalu menimbulkan nyeri di dada. Hanya Dara yang bisa melakukannya. Aku menatap sosok di depan layar dengan sorot yang mungkin saja sulit diartikan. Selalu begitu setiap Dara menandaskan percakapan personal kami dengan dua kalimat pendek itu.

“Bahkan sebelum ibu tahu kita pernah serumah.” Aku menoleh ke sekeliling, melihat keadaan—siapa tahu ibu memperhatikan percakapanku dengan Dara. “Kadang gue heran, apa artis-artis yang menikah siri itu ngerasain perasaan sedalam ini?”

Dara menanggapi, “Telepon orang itu, oke? Lo harus move on.”

“Dengan menjadikan orang itu sebagai pelampiasan?” Aku coba mendebat Dara. “Gue gak mau. Dari namanya, dia pasti orang baik.”

“Telepon orang itu.”

Aku terdiam. Kalau Dara sudah mengulang kalimatnya dan ucapan itu diakhiri dengan senyuman tipis nan damai, sepertinya aku tidak bisa berbuat apa-apa. Sekali lagi, kutatap layar.

“Kalau gue nggak bisa, gimana? It’s always been you, Ra.”

“Harus bisa.”

Tiba-tiba, layar berubah menjadi tampilan whatsApp kembali. Dara pergi. Suasana sekitarku kembali sepi.

Kembali, aku memandang kertas pemberian ibu. Kali ini, kuketikkan nomor itu, kusimpan—langsung kupanggil. Semoga Naila tidak masalah aku menelepon jam ini.

Nada sambung terdengar.

Diangkat.

“Halo? Bisa bicara dengan Naila?”

“Ya, saya sendiri. Dengan Mas siapa ini?”

“Perkenalkan, saya Baskara Hanggono. Boleh saya melamar kamu?”

.

.

.

SELESAI

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar