Sabtu, 27 Januari 2018

KEHABISAN INSPIRASI? COBA TENGOK (lagi) PLAYLIST LAGUMU!




It’s me, again. Sisi geeky weirdo-ku kali ini mau membahas tentang writing tips ketika kehabisan inspirasi. Tertarik buat menyimak lebih lanjut? Baca kelanjutan tulisan ini baik-baik yaa ^_^

Bagi kalian yang sudah terbiasa menulis pasti gak asing lagi mengalami saat-saat kehabisan inspirasi. Kamus harfiahnya, kehabisan inspirasi justru menurutku berbeda arti dengan writer’s block. Why? Because, buatku writer’s block adalah saat-saat aku sebenarnya sudah punya satu-dua ide tertentu buat kelanjutan tulisanku, tapi sayang—belum mau menuliskannya dalam satu bentuk bangunan kata yang indah.  Sementara itu kehabisan inspirasi justru waktu ketika aku sama sekali bingung mau menulis apa karena gak ada ide tentang alur, diksi, ataupun tema yang terlintas dalam pikiran. (Entah dalam kamus kalian, ya, hehehe....)

Well, dalam postingan sebelumnya tentang writing tips, aku pernah menyebutkan kalau justru ide itu harusnya digali, bukan ditunggu datang dalam kepala. Yap, benar. Tapi kehabisan inspirasi bukanlah saat-saat kita putus asa menunggu ide itu datang. Kehabisan inspirasi terjadi karena penyair puisi, penulis drama, dan pengarang prosa sering nggak menyadari bahwa karya yang akan mereka hasilkan bisa ber-ide apa aja dan gimana aja. Yang kita bicarakan terkait inspirasi itu soal estetika, alias keindahan. Artinya, ide boleh biasa, tapi eksekusi estetika harus spesial.

Gak ada yang menyalahkan satu ide klise, kan? Kita lirik aja “Perahu Kertas”-nya Dee. Yang ada dalam karya besar Dee itu adalah kisah cinta diantara Kugy dan Keenan yang seolah secara gak langsung berkali-kali dilarang bersama, tapi pada akhirnya saling menemukan juga. Klise, happy ending. Yang menjadikan karya itu luar biasa justru estetika yang Dee keluarkan, yang berhasil membuat kita percaya kalau karakter Kugy dan Keenan memang mungkin sungguhan berada di kehidupan nyata—dengan segala problema dan pendeskripsian emosinya. Dee gak pakai bahasa yang terlalu berbelit dan puitis. Dia hanya jadi pengarang yang masuk dalam cerita, menjadi pencerita bagi kisah luar biasa Kugy dan Keenan yang mengandalkan takdir. Dan, Dee berhasil. Karya yang sempat re-write itu sukses di pasaran.

Maka kunci karya (apalagi sastra) cuma estetika. Keindahan yang disajikan di dalam karya kamu lah yang akan membuat pembaca merasuk, dan mengerti apa yang mau kamu sampaikan. Itulah yang terpenting. Bukan seberapa cemerlang dan rumit ide yang kita gunakan di suatu karya.

Berapa karya yang sudah kamu tulis? Berapa puisi puisi? Berapa cerpen? Berapa novel? Atau bahkan—berapa naskah drama dan skrip film? Berapa cerita yang sudah kamu buat dengan ide berbeda? Darimana kamu mendapatkan ide-ide buat karyamu itu? Sebelum menuju ke paragraf selanjutnya, lebih baik ingat-ingat dulu sumber inspirasimu.

Atauu... justru yang menginspirasi penulisan karyamu itu adalah seseorang?—yang sayangnya kini bukan lagi bagian dari hidupmu? Mantan, misalnya? Atau orangtua yang sudah dipanggil Allah?

Well, kehilangan mereka bukan berarti kamu harus berhenti berkarya. Wise man said, menulis adalah salah satu cara untuk mengukir ilmu agar abadi. Ilmu gak harus selalu berkaitan dengan  hal-hal ilmiah, teman. Kita kita yang ahli menuliskan pelajaran kehidupan, bisa melestarikan nilai norma dengan mulai menulis ulang kisah yang ada di sekitar kita.
Tapi, kalau tak ada lagi yang bisa kita tulis??

Never say nothing. Selalu ada sumber inspirasi tertentu bagi yang mau menggalinya. Well, siapa yang suka nulis di laptop / hp sambil dengerin lagu, mungkin bisa coba melirik playlistnya masing-masing :) (That’s worked for me, anyway)

Mungkin kalian bisa coba cara ini. Misal, kalian tiba pada satu state of mind yang bilang keras-keras, Gue mau nulis! Tapi nulis apa, ya...? Jangan bingung! Silakan dengarkan satu lagu. Apa aja, gak ada batasan. Suka lagu itu? Ngerti maknanya? Bisa ngerasain pengisahan dalam lagunya?


Why don’t you just write that down!


Tulislah ulang kisah dalam lagu itu dengan caramu sendiri! Plagiat? No, never. Siapa bilang rasa terinspirasi itu merupakan bentuk dari plagiarisme?

Oh, atau kalian perlu contoh? Aku pernah ngalamin hal semacam itu, sebenarnya.

Waktu itu pas pertama kali pengen coba tulis cerita crime tentang kepribadian ganda, jujur aku gak kunjung menemukan mood yang tepat. Well, kalian bisa bayangkan: cerita kriminal yang isinya ada orang kepribadian ganda, mana bisa ditulis dengan tata bahasa baku yang berputar-putar? Sayang, itulah yang aku lakukan selama lima draft novel itu. To be honest, dengan alur berbeda pula. Aku gak kunjung menemukan inspirasi buat menghidupkan naskah kriminalku. Diksi yang aku pilih itu lagi itu lagi—gak berkembang sama sekali. Lima draft dengan lima ide cerita berbeda dan pasangan tokoh utama berbeda, sukses kuhapus begitu saja.

And theeen, huge surprise came. Tau lagunya Charlie Puth—Dangerousion? Lagu itulah merupakan inspirasi terbesarku dalam menyelesaikan naskah kriminal itu karena mirip dengan curhatan si tokoh utama a.k.a Laura Gardner yang memang digambarkan stress dan berbahaya karena kepribadian ganda yang dia punya.

Awalnya bahkan aku gak tau sama sekali tentang lagu itu, but then, penjelajahan youtube-ku menemukan lagu itu. Aku suka video klip dan lagunya, dicarilah liriknya. And i was like, FINALLY! THIS IS MY TIME!

Dari sana aku pun tau kalau lagu-lagu sejenis itulah yang cocok buat dimasukan ke playlist penulisan novel kriminalku itu. Download download downlod.. Proses penulisan berlanjut dengan kecepatan yang...yeep...cukuup memuaskan.

So, see what we’re going? Maksudku adalah, kehabisan inspirasi bukan cuma soal kehabisan bahan penceritaan, lho, ya—tapi juga koleksi diksi dan alternatif plot twist yang jadi unsur wajib novel-novel serius. Lagu-lagu karya musisi seantero bumi bisa jadi bahan tulisanmu. Cobalah menjelajah—baik di laptopmu sendiri, maupun internet. Secara gak sadar, mereka menyimpan berjuta sumber inspirasi buat kamu.

Tapi kalau kamu masih juga ngaku kehabisan ide, yang perlu kamu cek justru bukanlah playlistmu—melainkan satu hal:

“SUDAH BERAPA BANYAK YANG KAMU BACA?”



This night, that’s all from me. InsyaAllah di blog ini bakal terbit postingan-postingan selanjutnya. Sooo, JUST SUBSCRIBE, AND WAIT! :)




Your most sincerely,
Peter Van Hou— (WHO’S FANS OF TFIOS???!!—me, obviously -_-)


Ups, sorry,



Alin Ifa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar