Indeed. Bagi orang-orang yang sudah terbiasa menulis, writer's block merupakan salah satu penyakit menyeramkan. Gimana enggak? Disaat mereka seharusnya menghadapi laptop buat menghasilkan 1000/2000 kata, writer's block membuat mereka tak bisa melakukan apa-apa dihadapan laptop. Hanya membuka tulisan lama, mengedit bab terakhir mereka, atau bahkan terjebak dalam "movie hours". Atau yang lebih nggak nyambungnya lagi adalah: makan-tidur-makan-tidur----jalan-jalan.
Mungkin diantara kalian ada yang pernah melakukan hal-hal di atas? Eiits, jangan sekali-kali menyebut hal itu sebagai rangkaian kegiatan nggak berguna. Bukan karena kalian nggak menghasilkan tulisan dalam sehari, jadi ngerasa bersalah atau apapun itu. Jangan sampai terbesit, Ih! Ngapain sih gue hari ini..? Ada deadline novel, juga... Huffft.---Well, rangkaian kegiatan yang kalian lakukan sebenarnya ada hubungannya dengan proses pencarian ide itu sendiri.
Bagi kalian yang mengaku mempunyai cita-cita sebagai penulis entah fiksi atau nonfiksi, mengaku saja: kalian membenarkan serangkaian kegiatan itu menularkan bermacam ide untuk progres tulisan. Kembali lagi pada hakikat fiksi alias sastra, sastra adalah cerminan dari kehidupan nyata. Yap tepat. Kehidupan nyata, artinya sama sekali nggak perlu jauh-jauh mencari ide buat tulisan fiksi. Nggak jauh beda, tulisan nonfiksi seperti artikel, dan bahkan karya ilmiah punya sumber ide tersendiri dari kehidupan nyata. Setiap segi kehidupan sebenarnya bisa kita jadikan sumber berita, opini, celoteh, sampai dengan jurnal-jurnal ilmiah dan skripsi untuk kelulusan jenjang pendidikan.
Jadi, sebenarnya writer's block bukan tentang kehilangan ide yang dialami para penulis. Writer's block terjadi hanya karena kita malas menuliskan sesuatu. Mungkin lagi nggak mood? Atau lagi sakit? Butuh refreshing dan sebagainya?
Karena pada dasarnya ide itu dicari, bukan ditunggu datang. Dan alam raya ini menghasilkan triliunan sumber ide kalau kita mau mencarinya. Masalah utama writer's block sejak awal memang hanya satu: KEMALASAN. Maka, hilangkanlah rasa malas itu. Kuncinya adalah dengan menyemangati diri kita sendiri. Ingat, sungguh-sungguhkah kita jadi satu diantara semiliar orang yang menekuni dunia kepenulisan?
Kalau merasa sungguhan menekuni dunia kata itu, maka tunggu apa lagi? Mulailah menulis!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar