Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Januari 2018

WRITER'S BLOCK = PENYAKIT MENYERAMKAN PARA PENULIS


Indeed. Bagi orang-orang yang sudah terbiasa menulis, writer's block merupakan salah satu penyakit menyeramkan. Gimana enggak? Disaat mereka seharusnya menghadapi laptop buat menghasilkan 1000/2000 kata, writer's block membuat mereka tak bisa melakukan apa-apa dihadapan laptop. Hanya membuka tulisan lama, mengedit bab terakhir mereka, atau bahkan terjebak dalam "movie hours". Atau yang lebih nggak nyambungnya lagi adalah: makan-tidur-makan-tidur----jalan-jalan.  

Mungkin diantara kalian ada yang pernah melakukan hal-hal di atas? Eiits, jangan sekali-kali menyebut hal itu sebagai rangkaian kegiatan nggak berguna. Bukan karena kalian nggak menghasilkan tulisan dalam sehari, jadi ngerasa bersalah atau apapun itu. Jangan sampai terbesit, Ih! Ngapain sih gue hari ini..? Ada deadline novel, juga... Huffft.---Well, rangkaian kegiatan yang kalian lakukan sebenarnya ada hubungannya dengan proses pencarian ide itu sendiri. 

Bagi kalian yang mengaku mempunyai cita-cita sebagai penulis entah fiksi atau nonfiksi, mengaku saja: kalian membenarkan serangkaian kegiatan itu menularkan bermacam ide untuk progres tulisan. Kembali lagi pada hakikat fiksi alias sastra, sastra adalah cerminan dari kehidupan nyata. Yap tepat. Kehidupan nyata, artinya sama sekali nggak perlu jauh-jauh mencari ide buat tulisan fiksi. Nggak jauh beda, tulisan nonfiksi seperti artikel, dan bahkan karya ilmiah punya sumber ide tersendiri dari kehidupan nyata. Setiap segi kehidupan sebenarnya bisa kita jadikan sumber berita, opini, celoteh, sampai dengan jurnal-jurnal ilmiah dan skripsi untuk kelulusan jenjang pendidikan. 

Jadi, sebenarnya writer's block bukan tentang kehilangan ide yang dialami para penulis. Writer's block terjadi hanya karena kita malas menuliskan sesuatu. Mungkin lagi nggak mood? Atau lagi sakit? Butuh refreshing dan sebagainya? 

Karena pada dasarnya ide itu dicari, bukan ditunggu datang. Dan alam raya ini menghasilkan triliunan sumber ide kalau kita mau mencarinya. Masalah utama writer's block sejak awal memang hanya satu: KEMALASAN. Maka, hilangkanlah rasa malas itu. Kuncinya adalah dengan menyemangati diri kita sendiri. Ingat, sungguh-sungguhkah kita jadi satu diantara semiliar orang yang menekuni dunia kepenulisan? 

Kalau merasa sungguhan menekuni dunia kata itu, maka tunggu apa lagi? Mulailah menulis! 

Sabtu, 15 April 2017

HOLLYWOOD KIBLAT FILM, KAABAH KIBLAT UMAT ISLAM, PARIS KIBLAT FESYEN, INDONESIA KIBLAT...(?)

Oleh: Alin Ifa



SEBUAH ironi lantas terlintas di pikiran kita; mengapa nyaris tak ada yang menjadikan Indonesia sebagai trendsetter atau pusat bermulanya suatu budaya? Apa kita kalah dari Hollywood Hills, Amerika? Atau bahkan Mekkah; suatu kota suci yang di dalamnya terdapat Kaabah, yang dijadikan kiblat umat Islam. Semuanya sebenarnya soal selera. Untuk masalah keduniawian, nampaknya Indonesia seakan tak punya bakat cukup kuat untuk menjadi kiblat dari satu aspek budaya internasional. Bahkan bisa dikatakan, nyaris 85 persen pemuda kita menyukai suguhan Amerika dan Paris.
Amerika dengan Hollywoodnya telah merajai perfilm-an sejak zamannya Disney Pictures baru didirikan. Paris; dengan kabar burung tentang begitu rumitnya penemuan parfum yang benar-benar harum digunakan—yang sempat difilmkan juga dalam Parfume: The Story of Murderer, telah melekat dan menjadi ciri khas kiblat-kiblat dunia. Setiap orang yang melihat suatu film yang diproduksi rumah produksi besar seperti Universal Studio atau One Race Film akan langsung tahu kalau film itu datang dari Hollywood. Begitu juga dengan setiap orang yang mendengar kata “parfum” dan “fesyen”, akan terpikir Paris. Nah, pikirkan, apa yang bisa membuat orang-orang berpikir kalau A, B, C, hingga Z itu pasti Indonesia?
Apa yang pantas dibanggakan dari kita? Banyak, tentu saja. Budaya, keramahan masyarakatnya, makanan, bahasa, bahkan hingga hal-hal bersejarah seperti sisa-sisa zaman penjajahan asing ataupun mantra—semua itu bisa dikenalkan kepada asing. Tentu saja karenanya banyak hal juga dari Negeri bernama jelata “Endonesa” ini yang bisa menduduki tempat di hati orang luar.
Indonesia pun punya Bali dengan pure, dan pantainya. Lalu ada Yogyakarta dengan keratonnya. Ditambah lagi pasar-pasar terapung di sungai-sungai Kalimantan dan Sumatera; yang mana hal semacam ini jarang  terlihat di kota pelabuhan (sebutan untuk kota yang memiliki sungai cukup luas) di luar Negeri. Dengan semua yang dimiliki, Indonesia sebenarnya mempunyai potensi untuk disebut “kiblat”.
Sayang, sepertinya semua itulah yang membuat Indonesia tak disebut kiblat manapun. Sebagai Negeri yang sangat kaya, Indonesia memiliki pemuda yang sayangnya lalai dalam mencintai Negerinya sendiri. Ya, mereka sering upacara hari senin, hafal pancasila, dan beberapa pasal Undang-Undang Dasar ’45. Tetapi mayoritas mereka hanya melakukan itu sebagai rutinitas rutin di sekolah, tidak untuk diamalkan. Dampaknya, daya cipta mereka tak tajam untuk tertarik mengasah potensi dalam Negeri. Dibanding membuat suatu pembeda, yang terjadi sekarang adalah—bahkan para inovator pun—jadi berkiblat ke luar Negeri, menggunakan referensi luar Negeri, untuk kreasi-kreasi mereka. Pikiran bahwa segala yang berasal dari luar Negeri itu keren, sudah terlanjur merasuk; tak hanya ke dalam anak muda, namun juga para pelaku kreatif.
Sebenarnya sama sekali tak ada salahnya menjadikan luar Negeri sebagai percontohan. Namun di sinilah poinnya; seperti menyontek yang dimodifikasi, melihat produk-produk atau hasil kreasi asing hendaknya bukan diniatkan untuk menjadi pengikut. Produk A, desain B, wangi C, jasa D, atau apapun itu, terutama produk kreatif yang trend, yang berasal dari luar Negeri, hendaknya diolah luar-dalam oleh para manusia Indonesia menjadi sesuatu yang lebih baru. Kalau bisa, bahkan kita seharusnya menemukan, bukan memodifikasi.
Memang proses menemukan itu sendiri bukanlah hal mudah. Diantara banyaknya potensi mendunia yang Indonesia punya, menemukan sesuatu yang berbeda dari yang dimiliki negara-negara dunia ibarat mencari jarum di tumpukan jerami. Sulit. Tetapi ada satu poin penting yang harus dipenuhi terlebih dulu untuk proses menemukan julukan sebagai sebuah kiblat khusus kepada Indonesia, yaitu pengetahuan. Pengetahuan sendiri tidaklah harus didapat dari kondisi formal. Rasa ingin tahu yang tinggi lah merupakan faktor utama dari mendapatkan sebuah pengetahuan yang mumpuni. Realitasnya, pemuda Indonesia masih memiliki rasa ingin tahu yang amat sedikit terhadap suatu hal, apalagi ketika diharuskan tekun kepada hal tersebut dan memperjuangkannya di kancah dunia. Malas lebih dulu yang ada.
Dari hal tersebut, kita mengetahui bahwa satu hal besar berikutnya adalah memperbaiki mental pemuda kita. Sedikit demi sedikit, dengan perbaikan pendidikan dan kelakuan aparatur Negara sekaligus pemerintah terkait, seluruh pemuda Indonesia akan menjadi pemuda yang tahu apa yang penting untuk Negaranya. Seluruh pemuda Indonesia akan gigih meraih keinginannya mengembangkan dan menyebarkan bidang-bidang itu lalu konsisten di kancah dunia. Dengan begitu, bidang apa yang akan Indonesia kiblati di masa depan, hingga seterusnya, dapat ditebak sesegera mungkin.(**)

Senin, 27 Maret 2017

BEREFEK RADIASI, TIDAK MENGURANGI JAM PENGGUNAAN GADGET

Oleh: Awalina Fitri Fajriyah


MUNGKIN ini ibarat memilih antara mati di tengah padang pasir, atau membeli air yang mahal dari penjelajah lain agar bisa bertahan hidup sampai menemukan jalan ke luar. Ya, gadget adalah kebutuhkan bagi manusia modern. Tidak banyak yang bisa menolaknya. Hanya suku-suku pedalaman dan masyarakat asli tertentu yang adatnya masih sangat kental lah yang bisa menolak keberadaan gadget.
Benar adanya yang dikatakan para pencipta gadget tertentu, kalau banyak kelebihan dan kenikmatan bisa kita nikmati dari menggunakan gadget. Tapi ada satu kekurangan besar menyusup ke kecanggihan gadget, yaitu masalah efek penggunaannya terlalu lama kepada kesehatan. Kata “terlalu lama” membuahkan tendesius yang positif kepada para penikmat gadget. Mereka akan berpikir, ah, asal sesuai aturan, nggak akan masalah. Itu benar. Gadget, apapun bentuk, jenis, dan kecanggihannya, boleh tetap digunakan, asal tahu waktu. Pepatah lama, kalau segala yang berlebihan itu akan merusak, itu juga berlaku pada penggunaan gadget. Meski begitu, masih ada saja pengguna yang tidak mengindahkan frasa “sesuai aturan”. Banyak diantara mereka yang sudah kecanduan menjadi tidak peduli lagi dengan efek radiasi yang dimiliki setiap gadget (baik itu komputer, laptop, atau televise) dan menggunakannya diluar batas.
Ponsel, misalnya. Dengan adanya smartphone, atau ponsel pintar yang dilengkapi segala fitur dan kecanggihannya, seringkali membuat pengguna malas beranjak dari gadget tersebut. Adanya playstore (toko aplikasi/game/buku online), makin memperparah kondisi tersebut. Masyarakat dibuat semakin kecanduan dan konsumtif dengan aplikasi-aplikasi yang ada seperti Go-Jek, Grab Bike, game-game yang kompatibel dengan ponsel pintar masing-masing, hingga aplikasi pekerjaan seperti seri Microsoft Office, dan aplikasi ibadah seperti Al-Quran Indonesia atau buku-buku hadits. Kecanduan hal terakhir memang bagus. Tetapi pengguna smartphone kebanyakan lebih memilih memasang aplikasi / layanan yang memudahkan “mager” hidupnya. Alhasil ia menjadi mager kemana-mana, memilih delivery order sebagai senjata utama mendapat makanan cepat saji, hingga menjadi anti sosial. Ya, efek keberadaan gadget seperti smartphone—bahkan ponsel biasa sekalipun—memang banyak negatifnya. Itu semua hanya efek jangka pendek. Radiasi yang terjadi lama sekali setelahnya adalah efek jangka panjang, yang tak hanya mengakibatkan disfungsi beberapa alat indera (seperti mata), tetapi juga penyakit mematikan, dan kematian.
Dilansir Dailymail, Dr. Alan Preece di Universitas Bristol menyatakan bahwa radiasi ponsel sangat tidak aman. Sebuah studinya menunjukan bahwa emisi transmisi sinyal ponsel akan mengubah reaksi di otak. Peristiwa fatal yang tercipta akibat terlalu banyaknya aktivitas yang melibatkan benda beradiasi itu diperkirakan akan terus bertambah dari hari ke hari karena semakin banyaknya gadget yang tercipta dengan segala kecanggihannya.
Contoh kasus kecil efek radiasi kepada pengguna ponsel terjadi pada 2001—2002. Yaitu kasus Samantha Miller, seorang remaja yang saat itu baru saja dibelikan ponsel biasa (pada zaman itu). Kasusnya yang sempat menjadi viral di dunia maya ini merupakan kisah yang seharusnya dapat dijadikan pelajaran oleh para pengguna ponsel yang overtime. Dikisahkan, beberapa bulan sebelum dilarikan ke rumah sakit di Yeovil, Samantha rutin bertelepon menggunakan ponsel. Sekitar Januari 2001, ia mengeluh sakit yang luar biasa di kepalanya dan dilarikan ke rumah sakit. Samantha didiagnosis menderita tumor ganas di otaknya. Ia terapi menggunakan radioterapi. Namun setahun setelah itu kondisinya sama sekali tidak membaik. Malahan, Samantha menghabiskan minggu-minggu terakhirnya dengan duduk di atas kursi roda dan tubuh yang lumpuh sebagian.
Kisah viral itu menjadi pelajaran bagi sebagian pengguna ponsel hingga saat ini. Namun sebagian lainnya adalah sebaliknya. Banyak diantara mereka yang masih menggunakan ponsel secara overtime, entah alasannya karena semua pekerjaannya ada di sana, keperluan komunikasi jarak jauh, atau apapun itu. Secara langsung memang ponsel seolah memenuhi kebutuhan hidup manusia saat ini. Tidak ada yang harus disalahkan dari beradaan gadget yang semakin menjamur. Tidak pembuat, tidak pemakai. Setiap hal—tidak terkecuali gadget—memiliki kekurangan dan kelebihan, manfaat dan mudarat. Khusus untuk pemakaian ponsel yang beriringan dengan efek radiasi yang mengintai kita, hendaknya mari bijaksana. Keseharian kita tidak selalu membutuhkan ponsel. Jangan biarkan kita diperbudak oleh ponsel, sehingga melupakan sosial di sekitar kita yang akan lebih dekat jika didekati secara langsung, bukan via gadget. Efek radiasi bisa diminimalisir dengan mengurangi jam penggunaan gadget, dan membiasakan beberapa trik khusus seperti menggunakan pengeras suara, matikan ponsel saat malam—terutama jam 00.00 sampai 04.00—hingga jangan terlalu mendekatkan ponsel ke telinga saat masih menyambungkan saluran telepon.

Namun pada akhirnya masing-masing pengguna sendiri yang akan menentukan: mau berakhir di meja operasi atau umur yang pendek akibat macam-macam penyakit radiasi, atau tetap bisa menikmati gadget dengan memahami penggunaan dan kapasitas diri terhadap gadget, dan sebaliknya. Silakan menentukan. (**)

Minggu, 26 Maret 2017

INTERNET, PILIHAN KARIER UTAMA PARA KREATOR

Oleh: Awalina Fitri Fajriyah


INTERNET. Tentu kita sudah tidak asing lagi dengan hal satu itu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia luring Edisi V, internet (n) (komp) adalah jaringan komunikasi elektronik yang menghubungkan jaringan komputer dan fasilitas komputer yang terorganisir di seluruh dunia melalui telepon genggam atau satelit. Di zaman modern ini sudah nyaris seluruh manusia memahami jaringan yang bermula dari DARPA dan ARPANET itu. Kecanggihan yang semakin kesini semakin menjadi, membuat banyak orang tertarik memanfaatkannya. Diantara mereka, yaitu adalah para kreator--atau kita bisa menyebutnya dengan orang-orang yang muncul sebagai penikmat dan pembuat suatu kreativitas. 
Sudah menjadi rahasia umum bahwa internet sebenarnya menyimpan banyak potensi, manfaat, kelebihan, dan kekurangan. Kreator level expert, alias yang sudah profesional, banyak memanfaatkan potensi keberadaan internet untuk berkarier. Diantara mereka banyak yang menjadikan internet, serta akun-akun media sosial mereka, menjadi ladang rupiah. Pundi yang dihasilkan tak jarang melebihi pekerjaan manapun yang ada di dunia nyata. Pertanyaan besar yang kebanyakan muncul dari orang-orang yang baru mengetahui hal ini adalah, Siapa yang membayar mereka?

Siapa lagi kalau bukan si raksasa internet Google.Inc? Sekilas, orang dewasa-tua akan menilai keberadaan Google sebagai salah satu perusahaan penyedia internet dan jaringan terbesar di dunia itu sebagai penghancur generasi penerus mereka dengan banyak membiarkan konten-konten—baik itu melalui website, platform-platform mereka seperti blogger.com, youtube.com, atau bahkan Google Book—yang melanggar norma. Toh paham liberalis yang dianut Negara Si Pencipta Google adalah salah satu hal yang memengaruhi juga keberadaan semua konten-konten itu. Namun, hendaklah kita berpikir dari segala sisi. Keberadaan internet yang dijadikan pilihan karier para kreator itu bisa kita jajal. Apalagi sejak 2010, Google telah mendukung para insan kreatif dengan memberi imbalan kepada mereka di setiap karya yang digandrungi penikmat. Mereka mendapat uang untuk membayar para kreator itu dari setiap Negara-negara yang memberi feedback karena iklannya ditayangkan, website pemerintahan yang didukung, dan lain sebagainya. Dengan terus berkembangnya perekonomian Negara-negara dunia, berkarier bersama Google Inc. dan kawan-kawannya adalah pilihan yang sama sekali tidak muluk. Memang butuh kesabaran, dan banyaknya orang yang memanfaatkan pekerjaan dari internet sebagai pekerjaan sampingan, membuat orang-orang yang ingin mencobanya merasa menjajal karier di internet sebagai kreator sesuatu itu adalah hal muluk.

Padahal hal itu tidak sepenuhnya muluk. Jangan melihat karya-karya yang Si Profesional pada saat sekarang-sekarang, tetapi lihatlah karya pertamanya—apa yang ia buat untuk mencari nama, dan berbagi ilmu. Entah itu video, tulisan fiksi, tulisan non fiksi, ataupun malah sebuah website, pasti versi awal mereka tidaklah sebagus yang sekarang. Syarat utama berkarier di internet sebenarnya adalah mempunyai karya yang bermanfaat dan menarik. Cukup itu saja. Kata “menarik” jangan disamakan dengan sebuah karya yang spektakuler atau yang banyak memakan unsur sinematik atau kemodern-an. Sesungguhnya bukan itu. Untuk pemula, cukup targetkan apa yang akan kamu  sebar di internet adalah sesuatu yang benar-benar disukaimu. Jangan sekali-kali melihat dari sisi “Si Investor”, tetapi lihatlah karyamu sendiri dari sisi “Si Penikmat”. Kalau kamu sudah menyukai karyamu, maka bagikanlah di internet, melalui blogger, youtube, playbook, atau admob. Nah, setelah membagikan, jangan lupa buat satu hal yang terpenting dari “usaha berkarier di internet”, yaitu akun Google Adsense. Membuat akun Google Adsense tidak sulit. Asal kamu sudah mempunyai akun google (bisa disebut juga dengan gmail), kamu sudah bisa membuat akun adsense dengan menautkan email ke platform Google yang ingin dijadikan sebagai sumber penghasilan.


Mudah, kan? Dewasa ini, sudah banyak yang memiliki akun adsense yang ditautkan ke layanan google dan dijadikan sumber penghasilan. Entah kamu pelajar, mahasiswa, pekerja, ibu rumah tangga, atau orang yang iseng menikmati masa tua tanpa kegiatan yang berarti, adsense patut dicoba sebagai salah satu pilihan karier sampingan maupun utama. Kuncinya adalah sabar dan mau belajar. Suatu hari nanti kamu tidak akan merasa rugi setelah berhasil mengikuti jejak para kreator profesional untuk berkarier di internet.    (**)

Jumat, 17 Maret 2017

WATTPAD, MEDIA MELAMBUNGKAN NAMA PENULIS PEMULA


Sumber gambar: PRIBADI

WATTPAD, pasti banyak pembaca yang sudah pernah mendengar tentang media ini sebelumnya. Ya, di era modern ini--dimana manusia pun sudah tidak terlalu butuh yang namanya "orang lain"--teknologi sudah berkembang semakin maju. Itu jugalah yang terjadi dalam ranah kepenulisan. Munculnya Wattpad, sebuah aplikasi menulis dan membaca offline (karena hanya menerbitkan dan mengunduh cerita-nya yang online)--yang sudah tersedia versi websitenya juga--, menjadi bukti teknologi itu. 

Asing, mungkin, ketika satu kegiatan yang biasanya berkaitan dengan pena, buku, atau program-program pengolah kata, jadi dipindah ke sebuah media yang interfacenya secara keseluruhan cukup memikat dan mudah dinikmati. Wattpad menyuguhkan fitur tersebut cuma-cuma. Kita bisa menulis berapapun buku dengan panjang tidak terbatas. Dari mulai bacaan fiksi, sampai non fiksi seperti tutorial, bisa ditemukan dalam aplikasi ini. Menurut saya, sejauh ini, sampai versi terbarunya, aplikasi dari pengembang WP Technology Inc ini masih sangat menyenangkan untuk dinikmati, baik sebagai penulis maupun pembaca. 

Nah, keberadaan wattpad pun menurut saya sangat menguntungkan. Aplikasi ini bisa menjadi media kamu menerbitkan tulisanmu--terutama bagi yang belum diterima-terima penerbit (#curhat nih gue.. :( #Abaikan :v), atau yang masih tulisannya dibaca sendiri saja) Dengan adanya wattpad, kenapa harus menunggu mahir menulis dulu baru diterbitkan? Kalau kamu mau menulis, sudah menulis, apa salahnya terbitkan dulu sendiri dengan dikasih ke teman sendiri atau yaa..lewat ini: Wattpad. Dijamin sama sekali tidak bakal rugi, karena wattpad betul-betul bisa dinikmati secara gratis (ini buat yang belum tahu saja yaa :D)

Sekali lagi--bukan promote media, aplikasi atau apapun, ya...--wattpad harus dicoba, terutama bagi para penulis pemula. Cobalah menulis disana, cari nama pena, jaring pembaca dengan tulisan-tulisan familiar, seperti cerita SMA, kehidupan rumah tangga, ataupun puisi sehari-hari. Kalau kamu berniat bercita-cita menjadi penulis, wattpad adalah salah satu aplikasi yang mesti kamu coba--selain MS.Word :v. Dari wattpad, kamu bukan hanya bisa menikmati bacaan fiksi dan non fiksi (ini juga kebanyakan seputar kepenulisan dan tutorial tentang hal yang sama, sih), tapi dari media ini tidak jarang ada karya yang ratingnya tinggi, disukai, lalu diterbitkan. See? Dream comes true, itu kata mereka. 

Dear Nathan, Revan dan Reina, The Number You're Trying to Reach is not Reachable, dan masih banyak lagi, adalah contoh karya yang laku di Wattpad. Para penulisnya mempunyai karya yang seperti itu, bukan dalam waktu yang singkat dan proses yang instan. Mereka memulai dari nol, dari sign up ke Wattpad, dari cara yang sama dengan kita. Mereka mencari nama. Awalnya, mereka pun penulis pemula, sama seperti saya dan pembaca sekalian. Mereka melambungkan nama masing-masing lewat tulisan mereka di wattpad, tulisan yang sudah entah berapa kali direvisi karena mengikuti saran pembaca dan hati. Alhasil, karena mengikuti semua proses itu, para penulis karya tersebut (yang beberapa diantaranya masih -17 y.o), jadi punya karya yang sangat pantas dan enjoy dibaca. 

Jadi, kenapa tidak mulai menerbitkan karya? Kalau karya kamu tidak kunjung diterbitkan (dengan alasan tidak pede), kapan mau belajar membuat karya yang bagus dan--yang utama, diinginkan pasar? #eak

Perlahan tapi pasti, itulah semboyan yang berlaku di dunia kepenulisan. Kalau mau menjadi penulis, ya harus sabar. Kalau tidak bisa sabar, asal koneksi besar, rezeki dari bidang itupun lancar :v 


Sekian dulu dari saya, terima kasih atas kesediaannya membaca postingan kurang penting ini :v


All love, 
Alin Ifa

Jumat, 04 November 2016

Perspektif Keterkenalan



Oke, hiraukan judulnya yang sedikit aneh. Saya hanya penasaran dengan topik di atas, makanya saya menulis ini.

"Perspektif Keterkenalan", apa yang pertama singgah di benak atau kepala anda tentang itu? Saya rasa tidak akan banyak--atau bahkan, ada yang tidak peduli sama sekali karena faktor fisik blognya yang tidak menarik :/
Hiraukan.


Gambar: http://quotesgram.com/the-fault-in-our-stars-quotes-poster/



Kata kedua sedikit mengusik benak saya. "Keterkenalan" seperti skala terkenal seseorang, sejalan skala dihargai sebagai manusia yang berpemikiran. Banyak orang yang punya idola, tentu saja, dan tak jarang mereka menjadikan idolanya itu sebagai panutan. Banyak juga yang punya cita-cita menjadi terkenal karena mengidamkan sang idola. Sayang, banyak orang yang salah menilai bahwa "Hanya dengan menjadi A, kita akan dikenal. Hanya dengan berbuat A, kita akan dikenang." Akibatnya banyak orang yang stagnan, diam disitu-situ saja. Mereka yang seperti inilah tidak mengetahui potensi dirinya dengan jelas.

Apalagi zaman sekarang tidak sedikit yang dibully karena idolanya, yang diejek karena cita-citanya yang terlalu muluk (misalkan?), yang tidak bisa berkutik karena nasib, atau yang paling awalnya ialah; banyak yang diacuhkan karena kedua hal pertama itu tak masuk klasifikasi wajar di keseharian dewasa ini. Diantara kita masih banyak yang menjudge keinginan seseorang, padahal belum tentu kita tahu latar belakang keinginannya. Misalnya, tentu sah-sah saja seseorang ingin menjadi A karena ingin membuktikan kepada semua orang bahwa dia bisa. Dengan begitu, menurutnya ia akan dihargai sebagai seseorang. Setiap orang punya caranya sendiri untuk bahagia, semua orang tahu itu. Nah, masalahnya di sini adalah, mau teguh memegang keinginan itu, atau menjadi pembeda dengan potensi diri kita yang lain meski pada jalur yang mereka sebut "wajar"?

Kalau saya, memilih opsi kedua. Mengapa? Karena jujur, menurut saya kenapa tidak kita menggali potensi diri selagi masih muda? (khusus untuk 11 sampai 40 tahun yaa :D) Tidak akan rugi orang yang bisa nyaris segalanya. Dulu saya sempat berkeinginan menjadi penyanyi dengan mengikuti Idola Cilik. Tapi setelah dipikir lagi, terutama dari sisi studi, saya mengurungkan niat dan menemukan hobi ini; menulis. Sekarang saya sedang mendalaminya dengan kuliah di jurusan Sastra Indonesia. Semakin kesini tulisan saya semakin berkembang. Banyak kata dan istilah baru yang saya pelajari dari omongan atau pelajaran sebagai akademisi Sastra. Diiringi dengan memeraktekannya di blog dan dunia kepenulisan buku fiksi, akhirnya cukup lumayan yang mengenal saya sebagai pengarang. Saya bersyukur, karena mereka menghargai setiap tulisan saya dengan memberikan kritik dan saran. Coba, tak bisa dibayangkan kalau dulu saya teguh memegang cita-cita dunia entertainment itu. Entertainment dunia sementara, begitu juga sastra, sebenarnya. Tetapi jika saya tidak begitu berhasil di Sastra, saya masih bisa bekerja menjadi guru bahasa karena akademik yang terselesaikan. Kalau saya tidak sukses di entertainment? Pasti susah melanjutkan hidup ke depannya tanpa studi yang baik. Tahu kan kalau yang lebih penting sekarang itu di dunia kerja adalah ijazah, bukan skiilnya?

Maka dari itu, pikir lagi. Menjadi seperti idola atau punya cita-cita yang antimainstream memang sah-sah saja. Tapi teguh itu tidak selamanya baik, terutama ketika kita seperti tak mau menyadari potensi lain yang Tuhan tanam dalam diri kita. Kasarnya, sombong namanya.

Saya pernah menonton film "The Fault in Our Stars", yang dibintang Ansel Elgort dan Shailene Woodley. Di sana, tokoh Augustus Waters yang diperankan Elgort punya ketakutan terbesar; akan dilupakan setelah ia meninggal. Sebagai penderita kanker, dia punya cita-cita yang besar; menjadi terkenal di mata setiap orang dengan menjadi pahlawan. Tapi ini bukan lagi zaman perang atau propaganda, kan? Hazel tahu itu. Dilupakan itu pasti. Berbeda dengan Waters, Hazel punya perspektif lain tentang keterkenalan dan kaitannya dengan dihargai dan diingat. Baginya, cukup kerabat, keluarga dan orang terkasih yang mengenal, menghargai, dan mengingatnya. Ketika ketiga orang itu sudah begitu, maka bisa dibilang Hazel sudah menemukan kebahagiaannya.

Saya setuju dengan perspektifnya. Tidak harus semua orang tahu kita. Keterkenalan dihadapan mereka bukanlah sesuatu yang wajib. Lebih penting mencari potensi diri dan berbuat dengan hati, daripada memikirkan itu semua. Karena apa? Bila kita teguh bahwa semua orang harus mengetahui kita ada sebagai seseorang di dunia ini, ketika kita jatuh banyak juga yang akan menertawakan kita. Mereka akan menatap kita seolah mengatakan: "Aku bilang juga apa! Keinginanmu itu bodoh!"

Dan soal berbuat dengan hati, itu benar kiranya. Saya mencontoh Dewi Lestari, atau yang akrab disapa Dee, dengan novel Perahu Kertas-nya. Ia tentu awalnya tidak pernah mengira akan menerbitkan novel yang ia sebar sebagai bacaan gratis pada masa kuliah dulu. Karena dia mencintai hobinya, menyukai, dan menekuni apa yang dia lakukan, maka Dee mendapat timbal balik cinta yang sama dari orang-orang yang membaca karyanya, dari masa-masa sangat awal, hingga keantusiasan yang sama saat novel tersebut diadaptasi menjadi film oleh Hanung Bramantyo pada 2012 lalu.

Apa salahnya kita berbuat hal yang sama? Maksud saya, pikirkan lagi potensi diri, kembangkan diri selagi belum masuk ke liang lahat. Belajarlah belajarlah belajarlah. Tak ada batasan pembelajaran bagi yang mau belajar. Si pelajar akan menggali apapun yang menurut dia berguna, dari sumber manapun. Dengan begitu selain banyak yang akan dia bisa, ia pun menjadi mengerti poin terpenting dari semua ini; bahwa lebih penting dikenal Tuhan saat masa hisab nanti daripada dikenal seisi dunia tapi dengan mulut yang lebih banyak menggunjingkan keburukan kita.

Pikir lagi, karena semua keinginan bak negeri dongeng, antimainstream, dan muluk-muluk itu tidak selamanya disetujui dunia dan Tuhan. Dunia bukanlah pabrik pengabul keinginan. Tapi Tuhan adalah satu-satunya yang tahu jalan lain terhadap keinginan kita.