Sabtu, 15 April 2017

HOLLYWOOD KIBLAT FILM, KAABAH KIBLAT UMAT ISLAM, PARIS KIBLAT FESYEN, INDONESIA KIBLAT...(?)

Oleh: Alin Ifa



SEBUAH ironi lantas terlintas di pikiran kita; mengapa nyaris tak ada yang menjadikan Indonesia sebagai trendsetter atau pusat bermulanya suatu budaya? Apa kita kalah dari Hollywood Hills, Amerika? Atau bahkan Mekkah; suatu kota suci yang di dalamnya terdapat Kaabah, yang dijadikan kiblat umat Islam. Semuanya sebenarnya soal selera. Untuk masalah keduniawian, nampaknya Indonesia seakan tak punya bakat cukup kuat untuk menjadi kiblat dari satu aspek budaya internasional. Bahkan bisa dikatakan, nyaris 85 persen pemuda kita menyukai suguhan Amerika dan Paris.
Amerika dengan Hollywoodnya telah merajai perfilm-an sejak zamannya Disney Pictures baru didirikan. Paris; dengan kabar burung tentang begitu rumitnya penemuan parfum yang benar-benar harum digunakan—yang sempat difilmkan juga dalam Parfume: The Story of Murderer, telah melekat dan menjadi ciri khas kiblat-kiblat dunia. Setiap orang yang melihat suatu film yang diproduksi rumah produksi besar seperti Universal Studio atau One Race Film akan langsung tahu kalau film itu datang dari Hollywood. Begitu juga dengan setiap orang yang mendengar kata “parfum” dan “fesyen”, akan terpikir Paris. Nah, pikirkan, apa yang bisa membuat orang-orang berpikir kalau A, B, C, hingga Z itu pasti Indonesia?
Apa yang pantas dibanggakan dari kita? Banyak, tentu saja. Budaya, keramahan masyarakatnya, makanan, bahasa, bahkan hingga hal-hal bersejarah seperti sisa-sisa zaman penjajahan asing ataupun mantra—semua itu bisa dikenalkan kepada asing. Tentu saja karenanya banyak hal juga dari Negeri bernama jelata “Endonesa” ini yang bisa menduduki tempat di hati orang luar.
Indonesia pun punya Bali dengan pure, dan pantainya. Lalu ada Yogyakarta dengan keratonnya. Ditambah lagi pasar-pasar terapung di sungai-sungai Kalimantan dan Sumatera; yang mana hal semacam ini jarang  terlihat di kota pelabuhan (sebutan untuk kota yang memiliki sungai cukup luas) di luar Negeri. Dengan semua yang dimiliki, Indonesia sebenarnya mempunyai potensi untuk disebut “kiblat”.
Sayang, sepertinya semua itulah yang membuat Indonesia tak disebut kiblat manapun. Sebagai Negeri yang sangat kaya, Indonesia memiliki pemuda yang sayangnya lalai dalam mencintai Negerinya sendiri. Ya, mereka sering upacara hari senin, hafal pancasila, dan beberapa pasal Undang-Undang Dasar ’45. Tetapi mayoritas mereka hanya melakukan itu sebagai rutinitas rutin di sekolah, tidak untuk diamalkan. Dampaknya, daya cipta mereka tak tajam untuk tertarik mengasah potensi dalam Negeri. Dibanding membuat suatu pembeda, yang terjadi sekarang adalah—bahkan para inovator pun—jadi berkiblat ke luar Negeri, menggunakan referensi luar Negeri, untuk kreasi-kreasi mereka. Pikiran bahwa segala yang berasal dari luar Negeri itu keren, sudah terlanjur merasuk; tak hanya ke dalam anak muda, namun juga para pelaku kreatif.
Sebenarnya sama sekali tak ada salahnya menjadikan luar Negeri sebagai percontohan. Namun di sinilah poinnya; seperti menyontek yang dimodifikasi, melihat produk-produk atau hasil kreasi asing hendaknya bukan diniatkan untuk menjadi pengikut. Produk A, desain B, wangi C, jasa D, atau apapun itu, terutama produk kreatif yang trend, yang berasal dari luar Negeri, hendaknya diolah luar-dalam oleh para manusia Indonesia menjadi sesuatu yang lebih baru. Kalau bisa, bahkan kita seharusnya menemukan, bukan memodifikasi.
Memang proses menemukan itu sendiri bukanlah hal mudah. Diantara banyaknya potensi mendunia yang Indonesia punya, menemukan sesuatu yang berbeda dari yang dimiliki negara-negara dunia ibarat mencari jarum di tumpukan jerami. Sulit. Tetapi ada satu poin penting yang harus dipenuhi terlebih dulu untuk proses menemukan julukan sebagai sebuah kiblat khusus kepada Indonesia, yaitu pengetahuan. Pengetahuan sendiri tidaklah harus didapat dari kondisi formal. Rasa ingin tahu yang tinggi lah merupakan faktor utama dari mendapatkan sebuah pengetahuan yang mumpuni. Realitasnya, pemuda Indonesia masih memiliki rasa ingin tahu yang amat sedikit terhadap suatu hal, apalagi ketika diharuskan tekun kepada hal tersebut dan memperjuangkannya di kancah dunia. Malas lebih dulu yang ada.
Dari hal tersebut, kita mengetahui bahwa satu hal besar berikutnya adalah memperbaiki mental pemuda kita. Sedikit demi sedikit, dengan perbaikan pendidikan dan kelakuan aparatur Negara sekaligus pemerintah terkait, seluruh pemuda Indonesia akan menjadi pemuda yang tahu apa yang penting untuk Negaranya. Seluruh pemuda Indonesia akan gigih meraih keinginannya mengembangkan dan menyebarkan bidang-bidang itu lalu konsisten di kancah dunia. Dengan begitu, bidang apa yang akan Indonesia kiblati di masa depan, hingga seterusnya, dapat ditebak sesegera mungkin.(**)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar