Oleh: Alin Ifa
SEBUAH ironi lantas terlintas di pikiran kita;
mengapa nyaris tak ada yang menjadikan Indonesia sebagai trendsetter
atau pusat bermulanya suatu budaya? Apa kita kalah dari Hollywood Hills,
Amerika? Atau bahkan Mekkah; suatu kota suci yang di dalamnya terdapat Kaabah,
yang dijadikan kiblat umat Islam. Semuanya sebenarnya soal selera. Untuk
masalah keduniawian, nampaknya Indonesia seakan tak punya bakat cukup kuat
untuk menjadi kiblat dari satu aspek budaya internasional. Bahkan bisa
dikatakan, nyaris 85 persen pemuda kita menyukai suguhan Amerika dan Paris.
Amerika dengan Hollywoodnya telah merajai
perfilm-an sejak zamannya Disney Pictures baru didirikan. Paris; dengan kabar
burung tentang begitu rumitnya penemuan parfum yang benar-benar harum
digunakan—yang sempat difilmkan juga dalam Parfume: The Story of Murderer,
telah melekat dan menjadi ciri khas kiblat-kiblat dunia. Setiap orang yang
melihat suatu film yang diproduksi rumah produksi besar seperti Universal
Studio atau One Race Film akan langsung tahu kalau film itu datang dari
Hollywood. Begitu juga dengan setiap orang yang mendengar kata “parfum” dan
“fesyen”, akan terpikir Paris. Nah, pikirkan, apa yang bisa membuat orang-orang
berpikir kalau A, B, C, hingga Z itu pasti Indonesia?
Apa yang pantas dibanggakan dari kita? Banyak,
tentu saja. Budaya, keramahan masyarakatnya, makanan, bahasa, bahkan hingga
hal-hal bersejarah seperti sisa-sisa zaman penjajahan asing ataupun
mantra—semua itu bisa dikenalkan kepada asing. Tentu saja karenanya banyak hal
juga dari Negeri bernama jelata “Endonesa” ini yang bisa menduduki tempat di
hati orang luar.
Indonesia pun punya Bali dengan pure, dan
pantainya. Lalu ada Yogyakarta dengan keratonnya. Ditambah lagi pasar-pasar
terapung di sungai-sungai Kalimantan dan Sumatera; yang mana hal semacam ini
jarang terlihat di kota pelabuhan
(sebutan untuk kota yang memiliki sungai cukup luas) di luar Negeri. Dengan
semua yang dimiliki, Indonesia sebenarnya mempunyai potensi untuk disebut
“kiblat”.
Sayang, sepertinya semua itulah yang membuat
Indonesia tak disebut kiblat manapun. Sebagai Negeri yang sangat kaya,
Indonesia memiliki pemuda yang sayangnya lalai dalam mencintai Negerinya
sendiri. Ya, mereka sering upacara hari senin, hafal pancasila, dan beberapa
pasal Undang-Undang Dasar ’45. Tetapi mayoritas mereka hanya melakukan itu
sebagai rutinitas rutin di sekolah, tidak untuk diamalkan. Dampaknya, daya
cipta mereka tak tajam untuk tertarik mengasah potensi dalam Negeri. Dibanding
membuat suatu pembeda, yang terjadi sekarang adalah—bahkan para inovator
pun—jadi berkiblat ke luar Negeri, menggunakan referensi luar Negeri, untuk
kreasi-kreasi mereka. Pikiran bahwa segala yang berasal dari luar Negeri itu
keren, sudah terlanjur merasuk; tak hanya ke dalam anak muda, namun juga para
pelaku kreatif.
Sebenarnya sama sekali tak ada salahnya
menjadikan luar Negeri sebagai percontohan. Namun di sinilah poinnya; seperti
menyontek yang dimodifikasi, melihat produk-produk atau hasil kreasi asing
hendaknya bukan diniatkan untuk menjadi pengikut. Produk A, desain B, wangi C,
jasa D, atau apapun itu, terutama produk kreatif yang trend, yang
berasal dari luar Negeri, hendaknya diolah luar-dalam oleh para manusia
Indonesia menjadi sesuatu yang lebih baru. Kalau bisa, bahkan kita seharusnya
menemukan, bukan memodifikasi.
Memang proses menemukan itu sendiri bukanlah
hal mudah. Diantara banyaknya potensi mendunia yang Indonesia punya, menemukan
sesuatu yang berbeda dari yang dimiliki negara-negara dunia ibarat mencari
jarum di tumpukan jerami. Sulit. Tetapi ada satu poin penting yang harus
dipenuhi terlebih dulu untuk proses menemukan julukan sebagai sebuah kiblat
khusus kepada Indonesia, yaitu pengetahuan. Pengetahuan sendiri tidaklah harus
didapat dari kondisi formal. Rasa ingin tahu yang tinggi lah merupakan faktor
utama dari mendapatkan sebuah pengetahuan yang mumpuni. Realitasnya, pemuda
Indonesia masih memiliki rasa ingin tahu yang amat sedikit terhadap suatu hal,
apalagi ketika diharuskan tekun kepada hal tersebut dan memperjuangkannya di
kancah dunia. Malas lebih dulu yang ada.
Dari hal tersebut, kita mengetahui bahwa satu
hal besar berikutnya adalah memperbaiki mental pemuda kita. Sedikit demi
sedikit, dengan perbaikan pendidikan dan kelakuan aparatur Negara sekaligus
pemerintah terkait, seluruh pemuda Indonesia akan menjadi pemuda yang tahu apa
yang penting untuk Negaranya. Seluruh pemuda Indonesia akan gigih meraih
keinginannya mengembangkan dan menyebarkan bidang-bidang itu lalu konsisten di
kancah dunia. Dengan begitu, bidang apa yang akan Indonesia kiblati di masa
depan, hingga seterusnya, dapat ditebak sesegera mungkin.(**)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar