Oleh: Alin Ifa
Ketika kamu adalah seseorang an-author-wanna-be yang
sudah ditolak penerbit mayor mentah-mentah, apa yang akan kamu lakukan? Apa
langkahmu selanjutnya? Terus menawarkan naskah itu—entah fiksi atau nonfiksi, atau
menyerah dengan cita-citamu? Di awal, pasti kamu sudah menggebu-gebu,
mengatakan kepada dirimu sendiri, bahkan kepada orang banyak, kalau kamu ingin
jadi penulis. Kamu ingin tulisanmu diubah menjadi karya yang bernilai jual—yang
sekaligus akan mengubah anggapan kalau penulis itu tidak bisa dijadikan profesi
tetap. Jauh di dalam sana, kamu ingin berkata kepada orang-orang, “Siapa bilang
penulis itu nggak bisa ngasilin uang banyak?” Atau, “Aku bisa, kok jadi
penulis serius!” Ya, ketahuilah, tidak ada yang salah dengan itu sama sekali.
Dunia modern sudah mengusung kebebasan berekspresi, berpendapat, dan berkreasi.
Bahkan di Indonesia hal itu sudah diatur di Undang-undang Dasar 1945 pasal 28. Jadi
jelas tidak ada yang salah dengan anggapan kalau penulis adalah pekerjaan yang
bisa dijadikan profesi utama. Penulis fiksi, misalnya—seperti novel, cerpen,
dan puisi?
Cara terawal untuk membuktikan anggapan itu
adalah berhasil memasukan naskah kamu ke ranah nasional seperti ke penerbit
mayor atau media nasional. Saat kata “nasional” terdengar, inilah kendalanya.
Nasional, berarti satu Indonesia. Di tangan penerbit atau media terkait, naskah
kamu akan bersaing dengan penulis-penulis lain dengan tema yang nyaris sama
(atau bahkan sama). Dari sini, sudah terdengar menyeramkan, bukan? Belum lagi
ada beberapa penerbit yang regulasinya panjang sekaligus pemberitahuan
keputusan naskahnya yang super lama.Ya, tepat. Tetapi bagi kamu yang pernah
mencobanya, kamu pasti sepakat kalau karena keputusan naskah itu, kamu jadi tahu
daya saing naskahmu di penerbit mayor. Karena itulah, ayo jadilah orang yang
jeli menilai peluang! Setelah misalkan naskahmu ditolak suatu
penerbit—katakanlah Gagasmedia; yang lebih mengusung tema remaja, atau genre
romantika dan sosial, atau Bukune; yang lebih mengutamakan humor—hendaknya
jangan mudah putus asa. Ingat, orang terbaik adalah yang berhasil
memperjuangkan impiannya.
Masih banyak yang bisa kamu lakukan dengan
naskahmu. Berikut saya rangkum beberapa pelarian yang bisa kamu lakukan
terhadap naskahmu. Silakan disimak!
1. Dicetak dan dipajang untuk dijadikan bacaan
sendiri
Ya, hal di atas mungkin bukan pilihan yang
cukup bagus, dan cukup...err...yah, menjengkelkan pula. Tapi tidak usah bohong,
diantara kalian pasti banyak yang sudah melakukannya pada karya-karya awal,
yang ala-ala masih ditulis tangan atau saat baru pertama kali memegang aplikasi
pengolah kata. Naskah yang berakhir di rak buku rumah tidaklah buruk. Malah,
seringkali keberadaan naskah-naskah itu akan bisa membangkitkan lagi semangat
menulis kita.
Misal, kamu pernah mengirimkan naskah tertentu
ke penerbit dan tidak diterima, lalu memutuskan untuk memajangnya saja di
rumah. Di waktu senggang, bacalah lagi naskah tersebut, resapi setiap bagiannya
dengan kepala dan pikiran yang menyatu kepada isi naskah. Percaya atau tidak, kamu
akan menemukan semangat menulismu kembali. Yakinkanlah diri sendiri untuk
menuliskan kisah yang lebih baik daripada tulisan terdahulumu. Tapi jangan
anggap naskah yang “buangan” itu sebagai bagian kelam dari pengalaman
menulismu. Justru anggaplah tulisan-tulisan pribadi yang kamu pajang di rumah
sebagai catatan perkembangan tulisanmu. Itu akan membantu tulisan-tulisanmu
kedepannya menjadi jauh lebih baik lagi dan mencapai akhir yang kamu inginkan:
masuk ke penerbit besar untuk dinikmati orang banyak.
2. Dimodif dan dibagikan di dunia maya
Inilah cara kedua untuk naskah “buangan” kamu.
Kamu punya naskah romance, misalnya, tapi bingung mau diapakan setelah
ditolak beberapa kali oleh penerbit mayor. Saya pikir inilah salah satu cara
tertepat menerbitkannya. Untuk cara ini, kamu perlu menyampingkan dulu pikiran
ingin menjual naskahmu dalam bentuk buku. Pikir lagi, naskah yang bisa
memperkaya kamu adalah naskah yang banyak dibeli orang, bukan hanya yang mejeng
di toko buku besar sekelas Gramedia. Ayo tebak, apa yang harus kamu ketahui
dari keinginan itu? Tepat, selera pasar.
Penerbit satu seumpama menolak naskahmu dengan
alasan a, b, c, hingga z. Jangan putus asa. Mengapa tidak kamu melihat naskahmu
dari kacamata pembaca, bahkan redaksi? Bacalah lagi naskah tersebut. Jangan
terlalu cepat menyalahkan penerbit atau bahkan mengutuk diri kita sendiri tidak
berbakat menulis. Ya, memang; ibarat Lionel Messi dengan sepakbolanya, menulis
sendiri bisa dilihat sebagai bakat. Tapi cobalah bergeser sedikit ke Cristiano
Ronaldo—yang sukses di sepakbola karena kerja kerasnya. Poinnya, kamu harus
bisa menganalisis kelemahan naskahmu sendiri. Kalau sudah mendapatkan weakspot-nya,
silakan, ujilah selera pasar dengan membagikan hasil modifikasi naskahmu ke
dunia maya sebagai sastra cyber.
Sastra cyber hematnya bisa disebut
sebagai tulisan-tulisan fiksi yang tersebar di dunia maya. Ia dapat dipasang di
media apapun. Tetapi kalau kamu ingin menjangkau selera pasar, cobalah
wattpad.com, atau storial.com. Terbitkanlah keseluruhan naskahmu di sana. Dengan
tagline yang tepat, naskah kamu bisa ditemukan oleh pembaca dari
Indonesia, bahkan seluruh penjuru dunia. Dari menerbitkan di salah satu tempat
itu, kamu akan bisa melihat respon si dunia oranye dan si dunia biru langit itu
terhadap karyamu. Poin plusnya, jika mendapatkan respon positif—apalagi naskah
romantik atau genre teen-fiction—penerbit regional yang seringkali
menjadi sider (silent reader) di sana akan tertarik menerbitkan
karyamu dalam bentuk buku.
3. Dicetak dan dijual melalui self publisher
Cara ketiga ini mungkin langkah yang cukup
berani. Karena kenapa? Disarankan cara satu ini dilakukan oleh kamu yang sudah
punya income sendiri, atau yang pintar menabung, atau yang punya
keterampilan dibidang editing dan desain kover. Oleh beberapa penulis (terutama
penulis nonfiksi), cara menjual buku melalui self publisher, atau
menerbitkan sendiri, memang menjadi senjata utama penyebaran bukunya. Tapi bagi
kamu yang pemula, tidak disarankan menggunakan cara ini. Mungkin ya, karya kita
akan mejeng di toko buku online penerbit tertentu yang menyediakan penerbitan self
publish. Saya sependapat bagi yang mengatakan ini bukanlah cara ampuh untuk
kamu yang ingin mendongkrak nama.
Penerbitan-sendiri sebuah buku bisa saja
sukses besar. Tetapi kamu juga harus tahu; dari namanya saja sudah ‘Self-Publishing’—itu
berarti, karya kita akan diterbitkan secara cetak, dan dijual oleh kita. Sudah
banyak memang yang menyediakan jasa penerbitan-sendiri dengan paket-paket unggulan
masing-masing, seperti Leutika Prio, Nulisbuku.com, atau Guepedia.com. Mereka
menyediakan jasa percetakan bukumu sekaligus penjualannya dan layanan promosi,
ISBN, plus pembuatan kovernya. Pahitnya, untuk layanan, jika kamu ingin memakai
jasa mereka, bisa dipastikan biaya penerbitan akan bertambah, dan itu tidak
pernah sedikit—terutama untuk kantong penulis-penulis pelajar.
Jalan satu-satunya jika kamu tetap ingin
mencoba jalan self publishing adalah dengan mempelajari keterampilan
penyuntingan dan desain kover buku. Dengan menggunakan media sosial pribadi
untuk promosi dan mempelajari keterampilan promosi lainnya, bisa dipastikan
biaya penerbitan buku kamu hanya terdiri dari pencetakan buku saja, tidak
dengan pembuatan kover, editing, ataupun soal promosi. Poin plus dari
cara ini adalah, membuka peluang berbisnis penerbitan kamu untuk jangka panjang
karena (khusus Nulisbuku.com) kamu bisa memajang nama penerbitanmu
sendiri—seperti Aftsa Publisher, misalnya.
4. Dimodif dan dikirim kembali ke penerbit
sasaranmu
Cara terakhir ini agak ngotot,
sebenarnya. Tapi saya rasa tidak ada salahnya juga kamu menggunakan ide lamamu
untuk ditawarkan ke penerbit sasaranmu lagi. Bukan bermaksud keras kepala. Dari
sana, diam-diam penerbit sasaranmu (tempat naskah versi lamamu pernah ditolak,
dulu) akan menilai sejauh mana kamu menginginkan menerbitkan buku di sana. Awal-awal
terbitnya karya penulis besar di penerbit tertentu juga seperti itu; mereka
mengirim, terus mengirim hingga nama mereka tak asing lagi di meja redaksi.
Lama kelamaan redaksi penerbit itu akan mempertimbangkan karyanya. Dan, bom,
terbitlah novel-novel yang kamu kenal sekarang ini.
Ya, meski saya sendiri tak bisa bohong kalau
faktor yang termasuk utama dalam kesuksesan cara ini adalah relasi, tapi usaha
tidak akan mengkhianati hasil, kan? Pada awalnya penerbit incaranmu menolak
naskahmu dengan kekurang a, b, c. Maka, perbaikilah naskah “buangan” itu hingga
pantas dibaca dari sudut pandang manapun. Namun kunci utamanya saat
memodif naskah—baik untuk ditawarkan kembali atau untuk dibagikan ke dunia maya
(poin 2)—adalah justru jangan memikirkan kesan pertama yang didapatkan atau
tampak fisik struktur kalimatnya. Ya, jangan sekali-kali.
Dalam menulis, menyunting, atau bahkan hingga
memodifikasi sebuah naskah, kita sebenarnya sama sekali tidak perlu otak. Yang
kita perlukan hanyalah hati, dan sense untuk merasa seperti semua
karakter yang ada di dalam cerita kita. Jika semuanya sudah enak dibaca,
dimengerti, dan bahkan berhasil membuat kita terbawa ke dalamnya, itulah yang disebut
berhasil menulis.
Mimpi adalah sesuatu yang perlu
diperjuangkan. Jika kita gagal di satu mimpi, kita mempunyai dua pilihan; mau
tetap bertahan dan mencoba lagi berjuang di mimpi yang sama, atau pindah dan
kembali bermimpi lagi. Silakan, tinggal kamu pilih. Bermimpi dan berusahalah
menjadi penulis, atau menyerah pada anggapan orang bahwa menulis hanya
merupakan pekerjaan sampingan. Semua terserah padamu—karena pada hakikatnya dasar
label “naskah buangan” itu tercipta karena selera. Kamu mau menciptakan selera
kamu sendiri, atau mengikuti selera pasar dan terjebak di dalamnya? (**)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar