Rabu, 22 November 2017

4 PILIHAN PELARIAN NASKAH “BUANGAN”

Oleh: Alin Ifa



Ketika kamu adalah seseorang an-author-wanna-be yang sudah ditolak penerbit mayor mentah-mentah, apa yang akan kamu lakukan? Apa langkahmu selanjutnya? Terus menawarkan naskah itu—entah fiksi atau nonfiksi, atau menyerah dengan cita-citamu? Di awal, pasti kamu sudah menggebu-gebu, mengatakan kepada dirimu sendiri, bahkan kepada orang banyak, kalau kamu ingin jadi penulis. Kamu ingin tulisanmu diubah menjadi karya yang bernilai jual—yang sekaligus akan mengubah anggapan kalau penulis itu tidak bisa dijadikan profesi tetap. Jauh di dalam sana, kamu ingin berkata kepada orang-orang, “Siapa bilang penulis itu nggak bisa ngasilin uang banyak?” Atau, “Aku bisa, kok jadi penulis serius!” Ya, ketahuilah, tidak ada yang salah dengan itu sama sekali. Dunia modern sudah mengusung kebebasan berekspresi, berpendapat, dan berkreasi. Bahkan di Indonesia hal itu sudah diatur di Undang-undang Dasar 1945 pasal 28. Jadi jelas tidak ada yang salah dengan anggapan kalau penulis adalah pekerjaan yang bisa dijadikan profesi utama. Penulis fiksi, misalnya—seperti novel, cerpen, dan puisi?
Cara terawal untuk membuktikan anggapan itu adalah berhasil memasukan naskah kamu ke ranah nasional seperti ke penerbit mayor atau media nasional. Saat kata “nasional” terdengar, inilah kendalanya. Nasional, berarti satu Indonesia. Di tangan penerbit atau media terkait, naskah kamu akan bersaing dengan penulis-penulis lain dengan tema yang nyaris sama (atau bahkan sama). Dari sini, sudah terdengar menyeramkan, bukan? Belum lagi ada beberapa penerbit yang regulasinya panjang sekaligus pemberitahuan keputusan naskahnya yang super lama.Ya, tepat. Tetapi bagi kamu yang pernah mencobanya, kamu pasti sepakat kalau karena keputusan naskah itu, kamu jadi tahu daya saing naskahmu di penerbit mayor. Karena itulah, ayo jadilah orang yang jeli menilai peluang! Setelah misalkan naskahmu ditolak suatu penerbit—katakanlah Gagasmedia; yang lebih mengusung tema remaja, atau genre romantika dan sosial, atau Bukune; yang lebih mengutamakan humor—hendaknya jangan mudah putus asa. Ingat, orang terbaik adalah yang berhasil memperjuangkan impiannya.
Masih banyak yang bisa kamu lakukan dengan naskahmu. Berikut saya rangkum beberapa pelarian yang bisa kamu lakukan terhadap naskahmu. Silakan disimak!
     1.      Dicetak dan dipajang untuk dijadikan bacaan sendiri
Ya, hal di atas mungkin bukan pilihan yang cukup bagus, dan cukup...err...yah, menjengkelkan pula. Tapi tidak usah bohong, diantara kalian pasti banyak yang sudah melakukannya pada karya-karya awal, yang ala-ala masih ditulis tangan atau saat baru pertama kali memegang aplikasi pengolah kata. Naskah yang berakhir di rak buku rumah tidaklah buruk. Malah, seringkali keberadaan naskah-naskah itu akan bisa membangkitkan lagi semangat menulis kita.
Misal, kamu pernah mengirimkan naskah tertentu ke penerbit dan tidak diterima, lalu memutuskan untuk memajangnya saja di rumah. Di waktu senggang, bacalah lagi naskah tersebut, resapi setiap bagiannya dengan kepala dan pikiran yang menyatu kepada isi naskah. Percaya atau tidak, kamu akan menemukan semangat menulismu kembali. Yakinkanlah diri sendiri untuk menuliskan kisah yang lebih baik daripada tulisan terdahulumu. Tapi jangan anggap naskah yang “buangan” itu sebagai bagian kelam dari pengalaman menulismu. Justru anggaplah tulisan-tulisan pribadi yang kamu pajang di rumah sebagai catatan perkembangan tulisanmu. Itu akan membantu tulisan-tulisanmu kedepannya menjadi jauh lebih baik lagi dan mencapai akhir yang kamu inginkan: masuk ke penerbit besar untuk dinikmati orang banyak.

     2.      Dimodif dan dibagikan di dunia maya
Inilah cara kedua untuk naskah “buangan” kamu. Kamu punya naskah romance, misalnya, tapi bingung mau diapakan setelah ditolak beberapa kali oleh penerbit mayor. Saya pikir inilah salah satu cara tertepat menerbitkannya. Untuk cara ini, kamu perlu menyampingkan dulu pikiran ingin menjual naskahmu dalam bentuk buku. Pikir lagi, naskah yang bisa memperkaya kamu adalah naskah yang banyak dibeli orang, bukan hanya yang mejeng di toko buku besar sekelas Gramedia. Ayo tebak, apa yang harus kamu ketahui dari keinginan itu? Tepat, selera pasar.
Penerbit satu seumpama menolak naskahmu dengan alasan a, b, c, hingga z. Jangan putus asa. Mengapa tidak kamu melihat naskahmu dari kacamata pembaca, bahkan redaksi? Bacalah lagi naskah tersebut. Jangan terlalu cepat menyalahkan penerbit atau bahkan mengutuk diri kita sendiri tidak berbakat menulis. Ya, memang; ibarat Lionel Messi dengan sepakbolanya, menulis sendiri bisa dilihat sebagai bakat. Tapi cobalah bergeser sedikit ke Cristiano Ronaldo—yang sukses di sepakbola karena kerja kerasnya. Poinnya, kamu harus bisa menganalisis kelemahan naskahmu sendiri. Kalau sudah mendapatkan weakspot-nya, silakan, ujilah selera pasar dengan membagikan hasil modifikasi naskahmu ke dunia maya sebagai sastra cyber.
Sastra cyber hematnya bisa disebut sebagai tulisan-tulisan fiksi yang tersebar di dunia maya. Ia dapat dipasang di media apapun. Tetapi kalau kamu ingin menjangkau selera pasar, cobalah wattpad.com, atau storial.com. Terbitkanlah keseluruhan naskahmu di sana. Dengan tagline yang tepat, naskah kamu bisa ditemukan oleh pembaca dari Indonesia, bahkan seluruh penjuru dunia. Dari menerbitkan di salah satu tempat itu, kamu akan bisa melihat respon si dunia oranye dan si dunia biru langit itu terhadap karyamu. Poin plusnya, jika mendapatkan respon positif—apalagi naskah romantik atau genre teen-fiction—penerbit regional yang seringkali menjadi sider (silent reader) di sana akan tertarik menerbitkan karyamu dalam bentuk buku.

     3.      Dicetak dan dijual melalui self publisher
Cara ketiga ini mungkin langkah yang cukup berani. Karena kenapa? Disarankan cara satu ini dilakukan oleh kamu yang sudah punya income sendiri, atau yang pintar menabung, atau yang punya keterampilan dibidang editing dan desain kover. Oleh beberapa penulis (terutama penulis nonfiksi), cara menjual buku melalui self publisher, atau menerbitkan sendiri, memang menjadi senjata utama penyebaran bukunya. Tapi bagi kamu yang pemula, tidak disarankan menggunakan cara ini. Mungkin ya, karya kita akan mejeng di toko buku online penerbit tertentu yang menyediakan penerbitan self publish. Saya sependapat bagi yang mengatakan ini bukanlah cara ampuh untuk kamu yang ingin mendongkrak nama.
Penerbitan-sendiri sebuah buku bisa saja sukses besar. Tetapi kamu juga harus tahu; dari namanya saja sudah ‘Self-Publishing’—itu berarti, karya kita akan diterbitkan secara cetak, dan dijual oleh kita. Sudah banyak memang yang menyediakan jasa penerbitan-sendiri dengan paket-paket unggulan masing-masing, seperti Leutika Prio, Nulisbuku.com, atau Guepedia.com. Mereka menyediakan jasa percetakan bukumu sekaligus penjualannya dan layanan promosi, ISBN, plus pembuatan kovernya. Pahitnya, untuk layanan, jika kamu ingin memakai jasa mereka, bisa dipastikan biaya penerbitan akan bertambah, dan itu tidak pernah sedikit—terutama untuk kantong penulis-penulis pelajar.
Jalan satu-satunya jika kamu tetap ingin mencoba jalan self publishing adalah dengan mempelajari keterampilan penyuntingan dan desain kover buku. Dengan menggunakan media sosial pribadi untuk promosi dan mempelajari keterampilan promosi lainnya, bisa dipastikan biaya penerbitan buku kamu hanya terdiri dari pencetakan buku saja, tidak dengan pembuatan kover, editing, ataupun soal promosi. Poin plus dari cara ini adalah, membuka peluang berbisnis penerbitan kamu untuk jangka panjang karena (khusus Nulisbuku.com) kamu bisa memajang nama penerbitanmu sendiri—seperti Aftsa Publisher, misalnya.

     4.      Dimodif dan dikirim kembali ke penerbit sasaranmu
Cara terakhir ini agak ngotot, sebenarnya. Tapi saya rasa tidak ada salahnya juga kamu menggunakan ide lamamu untuk ditawarkan ke penerbit sasaranmu lagi. Bukan bermaksud keras kepala. Dari sana, diam-diam penerbit sasaranmu (tempat naskah versi lamamu pernah ditolak, dulu) akan menilai sejauh mana kamu menginginkan menerbitkan buku di sana. Awal-awal terbitnya karya penulis besar di penerbit tertentu juga seperti itu; mereka mengirim, terus mengirim hingga nama mereka tak asing lagi di meja redaksi. Lama kelamaan redaksi penerbit itu akan mempertimbangkan karyanya. Dan, bom, terbitlah novel-novel yang kamu kenal sekarang ini.
Ya, meski saya sendiri tak bisa bohong kalau faktor yang termasuk utama dalam kesuksesan cara ini adalah relasi, tapi usaha tidak akan mengkhianati hasil, kan? Pada awalnya penerbit incaranmu menolak naskahmu dengan kekurang a, b, c. Maka, perbaikilah naskah “buangan” itu hingga pantas dibaca dari sudut pandang manapun. Namun kunci utamanya saat memodif naskah—baik untuk ditawarkan kembali atau untuk dibagikan ke dunia maya (poin 2)—adalah justru jangan memikirkan kesan pertama yang didapatkan atau tampak fisik struktur kalimatnya. Ya, jangan sekali-kali.
Dalam menulis, menyunting, atau bahkan hingga memodifikasi sebuah naskah, kita sebenarnya sama sekali tidak perlu otak. Yang kita perlukan hanyalah hati, dan sense untuk merasa seperti semua karakter yang ada di dalam cerita kita. Jika semuanya sudah enak dibaca, dimengerti, dan bahkan berhasil membuat kita terbawa ke dalamnya, itulah yang disebut berhasil menulis.
            Mimpi adalah sesuatu yang perlu diperjuangkan. Jika kita gagal di satu mimpi, kita mempunyai dua pilihan; mau tetap bertahan dan mencoba lagi berjuang di mimpi yang sama, atau pindah dan kembali bermimpi lagi. Silakan, tinggal kamu pilih. Bermimpi dan berusahalah menjadi penulis, atau menyerah pada anggapan orang bahwa menulis hanya merupakan pekerjaan sampingan. Semua terserah padamu—karena pada hakikatnya dasar label “naskah buangan” itu tercipta karena selera. Kamu mau menciptakan selera kamu sendiri, atau mengikuti selera pasar dan terjebak di dalamnya? (**)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar