Tampilkan postingan dengan label writing tips. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label writing tips. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Januari 2018

KEHABISAN INSPIRASI? COBA TENGOK (lagi) PLAYLIST LAGUMU!




It’s me, again. Sisi geeky weirdo-ku kali ini mau membahas tentang writing tips ketika kehabisan inspirasi. Tertarik buat menyimak lebih lanjut? Baca kelanjutan tulisan ini baik-baik yaa ^_^

Bagi kalian yang sudah terbiasa menulis pasti gak asing lagi mengalami saat-saat kehabisan inspirasi. Kamus harfiahnya, kehabisan inspirasi justru menurutku berbeda arti dengan writer’s block. Why? Because, buatku writer’s block adalah saat-saat aku sebenarnya sudah punya satu-dua ide tertentu buat kelanjutan tulisanku, tapi sayang—belum mau menuliskannya dalam satu bentuk bangunan kata yang indah.  Sementara itu kehabisan inspirasi justru waktu ketika aku sama sekali bingung mau menulis apa karena gak ada ide tentang alur, diksi, ataupun tema yang terlintas dalam pikiran. (Entah dalam kamus kalian, ya, hehehe....)

Well, dalam postingan sebelumnya tentang writing tips, aku pernah menyebutkan kalau justru ide itu harusnya digali, bukan ditunggu datang dalam kepala. Yap, benar. Tapi kehabisan inspirasi bukanlah saat-saat kita putus asa menunggu ide itu datang. Kehabisan inspirasi terjadi karena penyair puisi, penulis drama, dan pengarang prosa sering nggak menyadari bahwa karya yang akan mereka hasilkan bisa ber-ide apa aja dan gimana aja. Yang kita bicarakan terkait inspirasi itu soal estetika, alias keindahan. Artinya, ide boleh biasa, tapi eksekusi estetika harus spesial.

Gak ada yang menyalahkan satu ide klise, kan? Kita lirik aja “Perahu Kertas”-nya Dee. Yang ada dalam karya besar Dee itu adalah kisah cinta diantara Kugy dan Keenan yang seolah secara gak langsung berkali-kali dilarang bersama, tapi pada akhirnya saling menemukan juga. Klise, happy ending. Yang menjadikan karya itu luar biasa justru estetika yang Dee keluarkan, yang berhasil membuat kita percaya kalau karakter Kugy dan Keenan memang mungkin sungguhan berada di kehidupan nyata—dengan segala problema dan pendeskripsian emosinya. Dee gak pakai bahasa yang terlalu berbelit dan puitis. Dia hanya jadi pengarang yang masuk dalam cerita, menjadi pencerita bagi kisah luar biasa Kugy dan Keenan yang mengandalkan takdir. Dan, Dee berhasil. Karya yang sempat re-write itu sukses di pasaran.

Maka kunci karya (apalagi sastra) cuma estetika. Keindahan yang disajikan di dalam karya kamu lah yang akan membuat pembaca merasuk, dan mengerti apa yang mau kamu sampaikan. Itulah yang terpenting. Bukan seberapa cemerlang dan rumit ide yang kita gunakan di suatu karya.

Berapa karya yang sudah kamu tulis? Berapa puisi puisi? Berapa cerpen? Berapa novel? Atau bahkan—berapa naskah drama dan skrip film? Berapa cerita yang sudah kamu buat dengan ide berbeda? Darimana kamu mendapatkan ide-ide buat karyamu itu? Sebelum menuju ke paragraf selanjutnya, lebih baik ingat-ingat dulu sumber inspirasimu.

Atauu... justru yang menginspirasi penulisan karyamu itu adalah seseorang?—yang sayangnya kini bukan lagi bagian dari hidupmu? Mantan, misalnya? Atau orangtua yang sudah dipanggil Allah?

Well, kehilangan mereka bukan berarti kamu harus berhenti berkarya. Wise man said, menulis adalah salah satu cara untuk mengukir ilmu agar abadi. Ilmu gak harus selalu berkaitan dengan  hal-hal ilmiah, teman. Kita kita yang ahli menuliskan pelajaran kehidupan, bisa melestarikan nilai norma dengan mulai menulis ulang kisah yang ada di sekitar kita.
Tapi, kalau tak ada lagi yang bisa kita tulis??

Never say nothing. Selalu ada sumber inspirasi tertentu bagi yang mau menggalinya. Well, siapa yang suka nulis di laptop / hp sambil dengerin lagu, mungkin bisa coba melirik playlistnya masing-masing :) (That’s worked for me, anyway)

Mungkin kalian bisa coba cara ini. Misal, kalian tiba pada satu state of mind yang bilang keras-keras, Gue mau nulis! Tapi nulis apa, ya...? Jangan bingung! Silakan dengarkan satu lagu. Apa aja, gak ada batasan. Suka lagu itu? Ngerti maknanya? Bisa ngerasain pengisahan dalam lagunya?


Why don’t you just write that down!


Tulislah ulang kisah dalam lagu itu dengan caramu sendiri! Plagiat? No, never. Siapa bilang rasa terinspirasi itu merupakan bentuk dari plagiarisme?

Oh, atau kalian perlu contoh? Aku pernah ngalamin hal semacam itu, sebenarnya.

Waktu itu pas pertama kali pengen coba tulis cerita crime tentang kepribadian ganda, jujur aku gak kunjung menemukan mood yang tepat. Well, kalian bisa bayangkan: cerita kriminal yang isinya ada orang kepribadian ganda, mana bisa ditulis dengan tata bahasa baku yang berputar-putar? Sayang, itulah yang aku lakukan selama lima draft novel itu. To be honest, dengan alur berbeda pula. Aku gak kunjung menemukan inspirasi buat menghidupkan naskah kriminalku. Diksi yang aku pilih itu lagi itu lagi—gak berkembang sama sekali. Lima draft dengan lima ide cerita berbeda dan pasangan tokoh utama berbeda, sukses kuhapus begitu saja.

And theeen, huge surprise came. Tau lagunya Charlie Puth—Dangerousion? Lagu itulah merupakan inspirasi terbesarku dalam menyelesaikan naskah kriminal itu karena mirip dengan curhatan si tokoh utama a.k.a Laura Gardner yang memang digambarkan stress dan berbahaya karena kepribadian ganda yang dia punya.

Awalnya bahkan aku gak tau sama sekali tentang lagu itu, but then, penjelajahan youtube-ku menemukan lagu itu. Aku suka video klip dan lagunya, dicarilah liriknya. And i was like, FINALLY! THIS IS MY TIME!

Dari sana aku pun tau kalau lagu-lagu sejenis itulah yang cocok buat dimasukan ke playlist penulisan novel kriminalku itu. Download download downlod.. Proses penulisan berlanjut dengan kecepatan yang...yeep...cukuup memuaskan.

So, see what we’re going? Maksudku adalah, kehabisan inspirasi bukan cuma soal kehabisan bahan penceritaan, lho, ya—tapi juga koleksi diksi dan alternatif plot twist yang jadi unsur wajib novel-novel serius. Lagu-lagu karya musisi seantero bumi bisa jadi bahan tulisanmu. Cobalah menjelajah—baik di laptopmu sendiri, maupun internet. Secara gak sadar, mereka menyimpan berjuta sumber inspirasi buat kamu.

Tapi kalau kamu masih juga ngaku kehabisan ide, yang perlu kamu cek justru bukanlah playlistmu—melainkan satu hal:

“SUDAH BERAPA BANYAK YANG KAMU BACA?”



This night, that’s all from me. InsyaAllah di blog ini bakal terbit postingan-postingan selanjutnya. Sooo, JUST SUBSCRIBE, AND WAIT! :)




Your most sincerely,
Peter Van Hou— (WHO’S FANS OF TFIOS???!!—me, obviously -_-)


Ups, sorry,



Alin Ifa

Kamis, 25 Januari 2018

WRITER'S BLOCK = PENYAKIT MENYERAMKAN PARA PENULIS


Indeed. Bagi orang-orang yang sudah terbiasa menulis, writer's block merupakan salah satu penyakit menyeramkan. Gimana enggak? Disaat mereka seharusnya menghadapi laptop buat menghasilkan 1000/2000 kata, writer's block membuat mereka tak bisa melakukan apa-apa dihadapan laptop. Hanya membuka tulisan lama, mengedit bab terakhir mereka, atau bahkan terjebak dalam "movie hours". Atau yang lebih nggak nyambungnya lagi adalah: makan-tidur-makan-tidur----jalan-jalan.  

Mungkin diantara kalian ada yang pernah melakukan hal-hal di atas? Eiits, jangan sekali-kali menyebut hal itu sebagai rangkaian kegiatan nggak berguna. Bukan karena kalian nggak menghasilkan tulisan dalam sehari, jadi ngerasa bersalah atau apapun itu. Jangan sampai terbesit, Ih! Ngapain sih gue hari ini..? Ada deadline novel, juga... Huffft.---Well, rangkaian kegiatan yang kalian lakukan sebenarnya ada hubungannya dengan proses pencarian ide itu sendiri. 

Bagi kalian yang mengaku mempunyai cita-cita sebagai penulis entah fiksi atau nonfiksi, mengaku saja: kalian membenarkan serangkaian kegiatan itu menularkan bermacam ide untuk progres tulisan. Kembali lagi pada hakikat fiksi alias sastra, sastra adalah cerminan dari kehidupan nyata. Yap tepat. Kehidupan nyata, artinya sama sekali nggak perlu jauh-jauh mencari ide buat tulisan fiksi. Nggak jauh beda, tulisan nonfiksi seperti artikel, dan bahkan karya ilmiah punya sumber ide tersendiri dari kehidupan nyata. Setiap segi kehidupan sebenarnya bisa kita jadikan sumber berita, opini, celoteh, sampai dengan jurnal-jurnal ilmiah dan skripsi untuk kelulusan jenjang pendidikan. 

Jadi, sebenarnya writer's block bukan tentang kehilangan ide yang dialami para penulis. Writer's block terjadi hanya karena kita malas menuliskan sesuatu. Mungkin lagi nggak mood? Atau lagi sakit? Butuh refreshing dan sebagainya? 

Karena pada dasarnya ide itu dicari, bukan ditunggu datang. Dan alam raya ini menghasilkan triliunan sumber ide kalau kita mau mencarinya. Masalah utama writer's block sejak awal memang hanya satu: KEMALASAN. Maka, hilangkanlah rasa malas itu. Kuncinya adalah dengan menyemangati diri kita sendiri. Ingat, sungguh-sungguhkah kita jadi satu diantara semiliar orang yang menekuni dunia kepenulisan? 

Kalau merasa sungguhan menekuni dunia kata itu, maka tunggu apa lagi? Mulailah menulis! 

Rabu, 22 November 2017

4 PILIHAN PELARIAN NASKAH “BUANGAN”

Oleh: Alin Ifa



Ketika kamu adalah seseorang an-author-wanna-be yang sudah ditolak penerbit mayor mentah-mentah, apa yang akan kamu lakukan? Apa langkahmu selanjutnya? Terus menawarkan naskah itu—entah fiksi atau nonfiksi, atau menyerah dengan cita-citamu? Di awal, pasti kamu sudah menggebu-gebu, mengatakan kepada dirimu sendiri, bahkan kepada orang banyak, kalau kamu ingin jadi penulis. Kamu ingin tulisanmu diubah menjadi karya yang bernilai jual—yang sekaligus akan mengubah anggapan kalau penulis itu tidak bisa dijadikan profesi tetap. Jauh di dalam sana, kamu ingin berkata kepada orang-orang, “Siapa bilang penulis itu nggak bisa ngasilin uang banyak?” Atau, “Aku bisa, kok jadi penulis serius!” Ya, ketahuilah, tidak ada yang salah dengan itu sama sekali. Dunia modern sudah mengusung kebebasan berekspresi, berpendapat, dan berkreasi. Bahkan di Indonesia hal itu sudah diatur di Undang-undang Dasar 1945 pasal 28. Jadi jelas tidak ada yang salah dengan anggapan kalau penulis adalah pekerjaan yang bisa dijadikan profesi utama. Penulis fiksi, misalnya—seperti novel, cerpen, dan puisi?
Cara terawal untuk membuktikan anggapan itu adalah berhasil memasukan naskah kamu ke ranah nasional seperti ke penerbit mayor atau media nasional. Saat kata “nasional” terdengar, inilah kendalanya. Nasional, berarti satu Indonesia. Di tangan penerbit atau media terkait, naskah kamu akan bersaing dengan penulis-penulis lain dengan tema yang nyaris sama (atau bahkan sama). Dari sini, sudah terdengar menyeramkan, bukan? Belum lagi ada beberapa penerbit yang regulasinya panjang sekaligus pemberitahuan keputusan naskahnya yang super lama.Ya, tepat. Tetapi bagi kamu yang pernah mencobanya, kamu pasti sepakat kalau karena keputusan naskah itu, kamu jadi tahu daya saing naskahmu di penerbit mayor. Karena itulah, ayo jadilah orang yang jeli menilai peluang! Setelah misalkan naskahmu ditolak suatu penerbit—katakanlah Gagasmedia; yang lebih mengusung tema remaja, atau genre romantika dan sosial, atau Bukune; yang lebih mengutamakan humor—hendaknya jangan mudah putus asa. Ingat, orang terbaik adalah yang berhasil memperjuangkan impiannya.
Masih banyak yang bisa kamu lakukan dengan naskahmu. Berikut saya rangkum beberapa pelarian yang bisa kamu lakukan terhadap naskahmu. Silakan disimak!
     1.      Dicetak dan dipajang untuk dijadikan bacaan sendiri
Ya, hal di atas mungkin bukan pilihan yang cukup bagus, dan cukup...err...yah, menjengkelkan pula. Tapi tidak usah bohong, diantara kalian pasti banyak yang sudah melakukannya pada karya-karya awal, yang ala-ala masih ditulis tangan atau saat baru pertama kali memegang aplikasi pengolah kata. Naskah yang berakhir di rak buku rumah tidaklah buruk. Malah, seringkali keberadaan naskah-naskah itu akan bisa membangkitkan lagi semangat menulis kita.
Misal, kamu pernah mengirimkan naskah tertentu ke penerbit dan tidak diterima, lalu memutuskan untuk memajangnya saja di rumah. Di waktu senggang, bacalah lagi naskah tersebut, resapi setiap bagiannya dengan kepala dan pikiran yang menyatu kepada isi naskah. Percaya atau tidak, kamu akan menemukan semangat menulismu kembali. Yakinkanlah diri sendiri untuk menuliskan kisah yang lebih baik daripada tulisan terdahulumu. Tapi jangan anggap naskah yang “buangan” itu sebagai bagian kelam dari pengalaman menulismu. Justru anggaplah tulisan-tulisan pribadi yang kamu pajang di rumah sebagai catatan perkembangan tulisanmu. Itu akan membantu tulisan-tulisanmu kedepannya menjadi jauh lebih baik lagi dan mencapai akhir yang kamu inginkan: masuk ke penerbit besar untuk dinikmati orang banyak.

     2.      Dimodif dan dibagikan di dunia maya
Inilah cara kedua untuk naskah “buangan” kamu. Kamu punya naskah romance, misalnya, tapi bingung mau diapakan setelah ditolak beberapa kali oleh penerbit mayor. Saya pikir inilah salah satu cara tertepat menerbitkannya. Untuk cara ini, kamu perlu menyampingkan dulu pikiran ingin menjual naskahmu dalam bentuk buku. Pikir lagi, naskah yang bisa memperkaya kamu adalah naskah yang banyak dibeli orang, bukan hanya yang mejeng di toko buku besar sekelas Gramedia. Ayo tebak, apa yang harus kamu ketahui dari keinginan itu? Tepat, selera pasar.
Penerbit satu seumpama menolak naskahmu dengan alasan a, b, c, hingga z. Jangan putus asa. Mengapa tidak kamu melihat naskahmu dari kacamata pembaca, bahkan redaksi? Bacalah lagi naskah tersebut. Jangan terlalu cepat menyalahkan penerbit atau bahkan mengutuk diri kita sendiri tidak berbakat menulis. Ya, memang; ibarat Lionel Messi dengan sepakbolanya, menulis sendiri bisa dilihat sebagai bakat. Tapi cobalah bergeser sedikit ke Cristiano Ronaldo—yang sukses di sepakbola karena kerja kerasnya. Poinnya, kamu harus bisa menganalisis kelemahan naskahmu sendiri. Kalau sudah mendapatkan weakspot-nya, silakan, ujilah selera pasar dengan membagikan hasil modifikasi naskahmu ke dunia maya sebagai sastra cyber.
Sastra cyber hematnya bisa disebut sebagai tulisan-tulisan fiksi yang tersebar di dunia maya. Ia dapat dipasang di media apapun. Tetapi kalau kamu ingin menjangkau selera pasar, cobalah wattpad.com, atau storial.com. Terbitkanlah keseluruhan naskahmu di sana. Dengan tagline yang tepat, naskah kamu bisa ditemukan oleh pembaca dari Indonesia, bahkan seluruh penjuru dunia. Dari menerbitkan di salah satu tempat itu, kamu akan bisa melihat respon si dunia oranye dan si dunia biru langit itu terhadap karyamu. Poin plusnya, jika mendapatkan respon positif—apalagi naskah romantik atau genre teen-fiction—penerbit regional yang seringkali menjadi sider (silent reader) di sana akan tertarik menerbitkan karyamu dalam bentuk buku.

     3.      Dicetak dan dijual melalui self publisher
Cara ketiga ini mungkin langkah yang cukup berani. Karena kenapa? Disarankan cara satu ini dilakukan oleh kamu yang sudah punya income sendiri, atau yang pintar menabung, atau yang punya keterampilan dibidang editing dan desain kover. Oleh beberapa penulis (terutama penulis nonfiksi), cara menjual buku melalui self publisher, atau menerbitkan sendiri, memang menjadi senjata utama penyebaran bukunya. Tapi bagi kamu yang pemula, tidak disarankan menggunakan cara ini. Mungkin ya, karya kita akan mejeng di toko buku online penerbit tertentu yang menyediakan penerbitan self publish. Saya sependapat bagi yang mengatakan ini bukanlah cara ampuh untuk kamu yang ingin mendongkrak nama.
Penerbitan-sendiri sebuah buku bisa saja sukses besar. Tetapi kamu juga harus tahu; dari namanya saja sudah ‘Self-Publishing’—itu berarti, karya kita akan diterbitkan secara cetak, dan dijual oleh kita. Sudah banyak memang yang menyediakan jasa penerbitan-sendiri dengan paket-paket unggulan masing-masing, seperti Leutika Prio, Nulisbuku.com, atau Guepedia.com. Mereka menyediakan jasa percetakan bukumu sekaligus penjualannya dan layanan promosi, ISBN, plus pembuatan kovernya. Pahitnya, untuk layanan, jika kamu ingin memakai jasa mereka, bisa dipastikan biaya penerbitan akan bertambah, dan itu tidak pernah sedikit—terutama untuk kantong penulis-penulis pelajar.
Jalan satu-satunya jika kamu tetap ingin mencoba jalan self publishing adalah dengan mempelajari keterampilan penyuntingan dan desain kover buku. Dengan menggunakan media sosial pribadi untuk promosi dan mempelajari keterampilan promosi lainnya, bisa dipastikan biaya penerbitan buku kamu hanya terdiri dari pencetakan buku saja, tidak dengan pembuatan kover, editing, ataupun soal promosi. Poin plus dari cara ini adalah, membuka peluang berbisnis penerbitan kamu untuk jangka panjang karena (khusus Nulisbuku.com) kamu bisa memajang nama penerbitanmu sendiri—seperti Aftsa Publisher, misalnya.

     4.      Dimodif dan dikirim kembali ke penerbit sasaranmu
Cara terakhir ini agak ngotot, sebenarnya. Tapi saya rasa tidak ada salahnya juga kamu menggunakan ide lamamu untuk ditawarkan ke penerbit sasaranmu lagi. Bukan bermaksud keras kepala. Dari sana, diam-diam penerbit sasaranmu (tempat naskah versi lamamu pernah ditolak, dulu) akan menilai sejauh mana kamu menginginkan menerbitkan buku di sana. Awal-awal terbitnya karya penulis besar di penerbit tertentu juga seperti itu; mereka mengirim, terus mengirim hingga nama mereka tak asing lagi di meja redaksi. Lama kelamaan redaksi penerbit itu akan mempertimbangkan karyanya. Dan, bom, terbitlah novel-novel yang kamu kenal sekarang ini.
Ya, meski saya sendiri tak bisa bohong kalau faktor yang termasuk utama dalam kesuksesan cara ini adalah relasi, tapi usaha tidak akan mengkhianati hasil, kan? Pada awalnya penerbit incaranmu menolak naskahmu dengan kekurang a, b, c. Maka, perbaikilah naskah “buangan” itu hingga pantas dibaca dari sudut pandang manapun. Namun kunci utamanya saat memodif naskah—baik untuk ditawarkan kembali atau untuk dibagikan ke dunia maya (poin 2)—adalah justru jangan memikirkan kesan pertama yang didapatkan atau tampak fisik struktur kalimatnya. Ya, jangan sekali-kali.
Dalam menulis, menyunting, atau bahkan hingga memodifikasi sebuah naskah, kita sebenarnya sama sekali tidak perlu otak. Yang kita perlukan hanyalah hati, dan sense untuk merasa seperti semua karakter yang ada di dalam cerita kita. Jika semuanya sudah enak dibaca, dimengerti, dan bahkan berhasil membuat kita terbawa ke dalamnya, itulah yang disebut berhasil menulis.
            Mimpi adalah sesuatu yang perlu diperjuangkan. Jika kita gagal di satu mimpi, kita mempunyai dua pilihan; mau tetap bertahan dan mencoba lagi berjuang di mimpi yang sama, atau pindah dan kembali bermimpi lagi. Silakan, tinggal kamu pilih. Bermimpi dan berusahalah menjadi penulis, atau menyerah pada anggapan orang bahwa menulis hanya merupakan pekerjaan sampingan. Semua terserah padamu—karena pada hakikatnya dasar label “naskah buangan” itu tercipta karena selera. Kamu mau menciptakan selera kamu sendiri, atau mengikuti selera pasar dan terjebak di dalamnya? (**)

Sabtu, 28 Januari 2017

3 CARA YANG MEMBUAT SEMANGAT MENULISMU MUNCUL KEMBALI



Banyak orang yang berpikir penulis itu pekerjaan termudah di dunia. Saya akui, memang benar, jika dilihat sekilas. Yang terlihat oleh pembaca dari kehidupan seorang penulis itu adalah, orang yang hanya duduk di depan laptop/komputer/buku kosongnya, dan menuliskan beberapa kata dan menyusunnya menjadi sebuah buku. Setelah tulisannya terbungkus rapi ke dalam sebuah buku dengan kisah tertentu, si penulis tinggal memasukan naskahnya ke penerbit, dan boom, diterima lalu mendapat royalti. Itulah yang membuat mayoritas manusia mager di dunia berkeinginan menjadi penulis. Ya, yang terlihat menjadi semudah itu kalau kita enggan menilik dalamnya. Duduk, menulis, mengirimkan ke penerbit, laku, mendapatkan uang--terlebih kalau tulisan tersebut dijadikan film. Bertambahlah pundi-pundi yang mengalir ke kantong penulis. Tetapi sebenarnya yang terjadi tidaklah begitu.

Saya tidak akan meributkan bagaimana susahnya memasukan naskah ke penerbit mayor atau mempromosikan buku hingga bisa laku. Di sini, saya akan menyoroti proses penulisan sebuah cerita itu sendiri.

Seorang penulis juga manusia. Seringkali mereka mengalami masalah pribadi, pekerjaan utama, dan bahkan masalah sosial, yang menghambat tulisan mereka. Nah, bagi siapa yang berniat menjadi penulis, harus siap dengan semua itu. Sebab apabila kita hendak menerbitkan buku ke penerbit mayor, lalu ternyata laku, penerbit terkait bahkan pembaca buku kita terdahulu biasanya menagih kreatifitas kita yang lain. Di saat itu lah hambatan-hambatan tersebut perlu ditangkis dengan membangun mood menulis agar tulisan kita terus berjalan.

Berdasarkan pengalaman saya selama delapan tahun menulis cerita (yang seringkali aneh dan beride cerita absurd :v), ada tiga cara yang bisa kamu praktekan untuk membangun lagi mood menulismu.

    1.   Membaca
Membaca yang saya maksud adalah membaca segalanya. Mana ada dunia yang di dalamnya sama sekali tidak ada kata, kan? Dari mulai membaca artikel, buku, novel penulis di penerbit incaranmu, petuah bijak semangat menulis, bahkan hingga membaca lirik lagu sampai stalking akun media sosial mantan pun bisa mendatangkan inspirasi. Inspirasi biasanya adalah awal bagi seseorang untuk menuliskan karyanya, ceritanya.

    2.   Refreshing
Refreshing. Kegiatan satu ini tidak harus membutuhkan biaya mahal kok. Lagipula, refreshing, atau etimologisnya adalah menyegarkan pikiran, tidak harus dengan pergi ke tempat-tempat sunyi, berkemah, atau menepi beberapa hari layaknya biksu yang sedang di pertapaan. Tidak sama sekali, oke? Banyak kegiatan murah yang berhasil untuk menyegarkan otak kita, seperti misalnya mendengarkan musik. Seperti membaca bahasa asing atau kitab keagamaan yang tidak berbahasa Indonesia, mendengarkan musik sebaiknya kita juga mengetahui arti lagu itu—bagus-bagus sejarahnya, karena tak jarang seseorang yang rasa ingin tahunya besar, malah mendapatkan ide untuk tulisannya hanya dari sebuah lagu. Lalu tak lama ia akan terpacu menulis lagi.  
Cara refreshing berikutnya juga bisa dengan mencari tempat mengetik yang berbeda, atau menata ruang kerja kita supaya menjadi lebih baru. Bagi sebagian orang, terkecuali saya (:D), menata tempat kerja adalah salah satu faktor pendorong keluarnya karya seseorang. Sebagian orang dapat menjadi lebih produktif karena view baru yang didapat di ruang kerjanya.
Atau, bisa juga kita bertukar pikiran dengan para penulis di komunitas-komunitas menulis. Nah, sangat bagus untuk bergabung ke sana. Zaman sekarang sudah banyak yang namanya sastra cyber. Jadi tidak perlu ada yang namanya membuat janji temu atau apapun. Cukup koneksi internet, akun media sosial, membuka percakapan tentang pikiran kamu, dan belajar sebanyak-banyaknya dari wejangan mereka.
Jujur, kalau kamu bertanya jenis refreshing apa yang paling saya lakukan, saya lebih dikategorikan sebagai orang aneh yang suka mengkhayal. Dalam membangun mood untuk menulis, saya malah harus meninggalkan laptop selama belum mood dan terus membangun bermacam scene, dan peristiwa di kepala saya. Saya akan mengkhayalkan dulu banyak adegan, random. Baru setelah menemukan adegan dan waktu menulis yang cocok, saya masukan adegan tersebut ke karya yang sedang saya kerjakan. Tempat favorit saya mengkhayalkan semua adegan untuk karya saya sebenarnya tidak terbatas. Mau di kamar mandi, ruang makan, ruang tamu, kampus, sampai di mall pun kalau yang namanya pikiran sedang kosong, ya saya akan mengisinya dengan potongan adegan itu. Absurd memang. Tapi yah, begitulah. Cara itu terbukti ampuh untuk saya, untungnya XD
Selain cara di atas, ada dua lainnya bentuk refreshing yang biasa saya lakukan. Terkadang, jika sedang malas menulis, saya tetap akan membuka file tulisan, lalu mengeditnya hingga bosan, bahkan ditinggal tidur. Lalu selain itu kalian juga bisa memeraktekan cara pamungkas lain, yaitu dengan memposisikan bokong seenaknya saja ketika mengetik. Cara yang konyol, memang, tapi kalau otak kamu sedikit korslet seperti saya, ya...patut dicoba juga :v

    3.   Menarget Tulisan
Nah, cara yang terakhir adalah menarget tulisan. Menarget, menurut KBBI, adalah menetapkan sasaran (batas ketentuan dsb) yang harus dicapai (dalam waktu tertentu). Misal, dalam kurun waktu tertentu kamu ingin menyelesaikan karya apa? Puisi kah? Novel kah? Cerpen? Atau drama? Terserah. Yang jelas, pasang target. Seperti halnya kita menarget nilai waktu sekolah dulu supaya melebihi nilai ketuntasan minimal, tulisan yang sedang/akan kamu kerjakan juga harus ditarget. Kalau perlu, pasang alarm di ponsel atau buatlah tulisan besar tentang targetmu. Terakhir kali, cara itu berhasil pada saya.

Nah, sekian dulu tips abal dari saya. Terima kasih atas kesediaannya membaca J Maaf kalau ada typo-typo gaje itu yah wkwkw

All love,
Alin Ifa