It’s me, again. Sisi geeky
weirdo-ku kali ini mau membahas tentang writing tips ketika kehabisan
inspirasi. Tertarik buat menyimak lebih lanjut? Baca kelanjutan tulisan ini
baik-baik yaa ^_^
Bagi kalian yang sudah terbiasa menulis
pasti gak asing lagi mengalami saat-saat kehabisan inspirasi. Kamus harfiahnya,
kehabisan inspirasi justru menurutku berbeda arti dengan writer’s
block. Why? Because, buatku writer’s block adalah
saat-saat aku sebenarnya sudah punya satu-dua ide tertentu buat kelanjutan
tulisanku, tapi sayang—belum mau menuliskannya dalam satu bentuk bangunan kata
yang indah. Sementara itu kehabisan inspirasi
justru waktu ketika aku sama sekali bingung mau menulis apa karena gak ada
ide tentang alur, diksi, ataupun tema yang terlintas dalam pikiran. (Entah
dalam kamus kalian, ya, hehehe....)
Well, dalam postingan sebelumnya
tentang writing tips, aku pernah menyebutkan kalau justru ide itu
harusnya digali, bukan ditunggu datang dalam kepala. Yap, benar. Tapi kehabisan
inspirasi bukanlah saat-saat kita putus asa menunggu ide itu datang. Kehabisan
inspirasi terjadi karena penyair puisi, penulis drama, dan pengarang prosa sering
nggak menyadari bahwa karya yang akan mereka hasilkan bisa ber-ide apa aja dan
gimana aja. Yang kita bicarakan terkait inspirasi itu soal estetika, alias
keindahan. Artinya, ide boleh biasa, tapi eksekusi estetika harus spesial.
Gak ada yang menyalahkan satu ide
klise, kan? Kita lirik aja “Perahu Kertas”-nya Dee. Yang ada dalam karya besar
Dee itu adalah kisah cinta diantara Kugy dan Keenan yang seolah secara gak
langsung berkali-kali dilarang bersama, tapi pada akhirnya saling menemukan
juga. Klise, happy ending. Yang menjadikan karya itu luar biasa justru
estetika yang Dee keluarkan, yang berhasil membuat kita percaya kalau karakter
Kugy dan Keenan memang mungkin sungguhan berada di kehidupan nyata—dengan segala
problema dan pendeskripsian emosinya. Dee gak pakai bahasa yang terlalu
berbelit dan puitis. Dia hanya jadi pengarang yang masuk dalam cerita, menjadi
pencerita bagi kisah luar biasa Kugy dan Keenan yang mengandalkan takdir. Dan,
Dee berhasil. Karya yang sempat re-write itu sukses di pasaran.
Maka kunci karya (apalagi sastra)
cuma estetika. Keindahan yang disajikan di dalam karya kamu lah yang akan
membuat pembaca merasuk, dan mengerti apa yang mau kamu sampaikan. Itulah yang
terpenting. Bukan seberapa cemerlang dan rumit ide yang kita gunakan di suatu
karya.
Berapa karya yang sudah kamu
tulis? Berapa puisi puisi? Berapa cerpen? Berapa novel? Atau bahkan—berapa
naskah drama dan skrip film? Berapa cerita yang sudah kamu buat dengan ide
berbeda? Darimana kamu mendapatkan ide-ide buat karyamu itu? Sebelum menuju ke
paragraf selanjutnya, lebih baik ingat-ingat dulu sumber inspirasimu.
Atauu... justru yang
menginspirasi penulisan karyamu itu adalah seseorang?—yang sayangnya kini bukan
lagi bagian dari hidupmu? Mantan, misalnya? Atau orangtua yang sudah dipanggil
Allah?
Well,
kehilangan mereka bukan berarti kamu harus berhenti berkarya. Wise man said,
menulis adalah salah satu cara untuk mengukir ilmu agar abadi. Ilmu gak
harus selalu berkaitan dengan hal-hal
ilmiah, teman. Kita kita yang ahli menuliskan pelajaran kehidupan, bisa
melestarikan nilai norma dengan mulai menulis ulang kisah yang ada di sekitar
kita.
Tapi, kalau tak
ada lagi yang bisa kita tulis??
Never say
nothing. Selalu ada sumber inspirasi tertentu bagi yang mau
menggalinya. Well, siapa yang suka nulis di laptop / hp sambil dengerin
lagu, mungkin bisa coba melirik playlistnya masing-masing :) (That’s
worked for me, anyway)
Mungkin kalian bisa coba cara
ini. Misal, kalian tiba pada satu state of mind yang bilang keras-keras,
Gue mau nulis! Tapi nulis apa, ya...? Jangan bingung! Silakan dengarkan
satu lagu. Apa aja, gak ada batasan. Suka lagu itu? Ngerti maknanya? Bisa
ngerasain pengisahan dalam lagunya?
Why don’t you
just write that down!
Tulislah ulang kisah dalam lagu itu
dengan caramu sendiri! Plagiat? No, never. Siapa bilang rasa
terinspirasi itu merupakan bentuk dari plagiarisme?
Oh, atau kalian perlu contoh? Aku
pernah ngalamin hal semacam itu, sebenarnya.
Waktu itu pas pertama kali pengen
coba tulis cerita crime tentang kepribadian ganda, jujur aku gak kunjung
menemukan mood yang tepat. Well, kalian bisa bayangkan: cerita
kriminal yang isinya ada orang kepribadian ganda, mana bisa ditulis dengan tata
bahasa baku yang berputar-putar? Sayang, itulah yang aku lakukan selama lima
draft novel itu. To be honest, dengan alur berbeda pula. Aku gak kunjung
menemukan inspirasi buat menghidupkan naskah kriminalku. Diksi yang aku pilih
itu lagi itu lagi—gak berkembang sama sekali. Lima draft dengan lima ide cerita
berbeda dan pasangan tokoh utama berbeda, sukses kuhapus begitu saja.
And theeen, huge
surprise came. Tau lagunya Charlie Puth—Dangerousion? Lagu
itulah merupakan inspirasi terbesarku dalam menyelesaikan naskah kriminal itu
karena mirip dengan curhatan si tokoh utama a.k.a Laura Gardner yang memang
digambarkan stress dan berbahaya karena kepribadian ganda yang dia punya.
Awalnya bahkan aku gak tau sama
sekali tentang lagu itu, but then, penjelajahan youtube-ku menemukan
lagu itu. Aku suka video klip dan lagunya, dicarilah liriknya. And i was
like, FINALLY! THIS IS MY TIME!
Dari sana aku pun tau kalau
lagu-lagu sejenis itulah yang cocok buat dimasukan ke playlist penulisan novel
kriminalku itu. Download download downlod.. Proses penulisan berlanjut dengan
kecepatan yang...yeep...cukuup memuaskan.
So, see what we’re
going? Maksudku adalah, kehabisan inspirasi bukan cuma soal
kehabisan bahan penceritaan, lho, ya—tapi juga koleksi diksi dan alternatif
plot twist yang jadi unsur wajib novel-novel serius. Lagu-lagu karya musisi
seantero bumi bisa jadi bahan tulisanmu. Cobalah menjelajah—baik di laptopmu
sendiri, maupun internet. Secara gak sadar, mereka menyimpan berjuta sumber
inspirasi buat kamu.
Tapi kalau kamu masih juga ngaku
kehabisan ide, yang perlu kamu cek justru bukanlah playlistmu—melainkan satu
hal:
“SUDAH BERAPA
BANYAK YANG KAMU BACA?”
This night, that’s
all from me. InsyaAllah di blog ini bakal terbit postingan-postingan
selanjutnya. Sooo, JUST SUBSCRIBE, AND WAIT! :)
Your most sincerely,
Peter Van Hou— (WHO’S FANS OF TFIOS???!!—me,
obviously -_-)
Ups, sorry,
Alin Ifa


