Banyak orang yang berpikir penulis itu pekerjaan termudah di dunia. Saya akui, memang benar, jika dilihat sekilas. Yang terlihat oleh pembaca dari kehidupan seorang penulis itu adalah, orang yang hanya duduk di depan laptop/komputer/buku kosongnya, dan menuliskan beberapa kata dan menyusunnya menjadi sebuah buku. Setelah tulisannya terbungkus rapi ke dalam sebuah buku dengan kisah tertentu, si penulis tinggal memasukan naskahnya ke penerbit, dan boom, diterima lalu mendapat royalti. Itulah yang membuat mayoritas manusia mager di dunia berkeinginan menjadi penulis. Ya, yang terlihat menjadi semudah itu kalau kita enggan menilik dalamnya. Duduk, menulis, mengirimkan ke penerbit, laku, mendapatkan uang--terlebih kalau tulisan tersebut dijadikan film. Bertambahlah pundi-pundi yang mengalir ke kantong penulis. Tetapi sebenarnya yang terjadi tidaklah begitu.
Saya tidak
akan meributkan bagaimana susahnya memasukan naskah ke penerbit mayor atau
mempromosikan buku hingga bisa laku. Di sini, saya akan menyoroti proses
penulisan sebuah cerita itu sendiri.
Seorang
penulis juga manusia. Seringkali mereka mengalami masalah pribadi, pekerjaan
utama, dan bahkan masalah sosial, yang menghambat tulisan mereka. Nah, bagi
siapa yang berniat menjadi penulis, harus siap dengan semua itu. Sebab apabila
kita hendak menerbitkan buku ke penerbit mayor, lalu ternyata laku, penerbit
terkait bahkan pembaca buku kita terdahulu biasanya menagih kreatifitas kita
yang lain. Di saat itu lah hambatan-hambatan tersebut perlu ditangkis dengan
membangun mood menulis agar tulisan kita terus berjalan.
Berdasarkan
pengalaman saya selama delapan tahun menulis cerita (yang seringkali aneh dan
beride cerita absurd :v), ada tiga cara yang bisa kamu praktekan untuk
membangun lagi mood menulismu.
1.
Membaca
Membaca yang saya maksud adalah membaca segalanya. Mana
ada dunia yang di dalamnya sama sekali tidak ada kata, kan? Dari mulai membaca artikel,
buku, novel penulis di penerbit incaranmu, petuah bijak semangat menulis, bahkan
hingga membaca lirik lagu sampai stalking akun media sosial mantan pun
bisa mendatangkan inspirasi. Inspirasi biasanya adalah awal bagi seseorang
untuk menuliskan karyanya, ceritanya.
2.
Refreshing
Refreshing. Kegiatan satu ini tidak harus membutuhkan biaya mahal kok. Lagipula, refreshing,
atau etimologisnya adalah menyegarkan pikiran, tidak harus dengan pergi ke
tempat-tempat sunyi, berkemah, atau menepi beberapa hari layaknya biksu yang
sedang di pertapaan. Tidak sama sekali, oke? Banyak kegiatan murah yang
berhasil untuk menyegarkan otak kita, seperti misalnya mendengarkan musik.
Seperti membaca bahasa asing atau kitab keagamaan yang tidak berbahasa Indonesia,
mendengarkan musik sebaiknya kita juga mengetahui arti lagu itu—bagus-bagus
sejarahnya, karena tak jarang seseorang yang rasa ingin tahunya besar, malah
mendapatkan ide untuk tulisannya hanya dari sebuah lagu. Lalu tak lama ia akan
terpacu menulis lagi.
Cara refreshing berikutnya juga bisa dengan
mencari tempat mengetik yang berbeda, atau menata ruang kerja kita supaya
menjadi lebih baru. Bagi sebagian orang, terkecuali saya (:D), menata tempat
kerja adalah salah satu faktor pendorong keluarnya karya seseorang. Sebagian
orang dapat menjadi lebih produktif karena view baru yang didapat di
ruang kerjanya.
Atau, bisa juga kita bertukar pikiran dengan para penulis
di komunitas-komunitas menulis. Nah, sangat bagus untuk bergabung ke sana.
Zaman sekarang sudah banyak yang namanya sastra cyber. Jadi tidak perlu ada
yang namanya membuat janji temu atau apapun. Cukup koneksi internet, akun media
sosial, membuka percakapan tentang pikiran kamu, dan belajar sebanyak-banyaknya
dari wejangan mereka.
Jujur, kalau kamu bertanya jenis refreshing apa
yang paling saya lakukan, saya lebih dikategorikan sebagai orang aneh yang suka
mengkhayal. Dalam membangun mood untuk menulis, saya malah harus meninggalkan
laptop selama belum mood dan terus membangun bermacam scene, dan
peristiwa di kepala saya. Saya akan mengkhayalkan dulu banyak adegan, random.
Baru setelah menemukan adegan dan waktu menulis yang cocok, saya masukan adegan
tersebut ke karya yang sedang saya kerjakan. Tempat favorit saya mengkhayalkan
semua adegan untuk karya saya sebenarnya tidak terbatas. Mau di kamar mandi,
ruang makan, ruang tamu, kampus, sampai di mall pun kalau yang namanya pikiran
sedang kosong, ya saya akan mengisinya dengan potongan adegan itu. Absurd
memang. Tapi yah, begitulah. Cara itu terbukti ampuh untuk saya, untungnya XD
Selain cara di atas, ada dua lainnya bentuk refreshing
yang biasa saya lakukan. Terkadang, jika sedang malas menulis, saya tetap
akan membuka file tulisan, lalu mengeditnya hingga bosan, bahkan ditinggal
tidur. Lalu selain itu kalian juga bisa memeraktekan cara pamungkas lain, yaitu
dengan memposisikan bokong seenaknya saja ketika mengetik. Cara yang konyol,
memang, tapi kalau otak kamu sedikit korslet seperti saya, ya...patut dicoba
juga :v
3.
Menarget Tulisan
Nah, cara yang terakhir adalah menarget tulisan. Menarget,
menurut KBBI, adalah menetapkan sasaran (batas ketentuan dsb) yang harus
dicapai (dalam waktu tertentu). Misal, dalam kurun waktu tertentu kamu ingin
menyelesaikan karya apa? Puisi kah? Novel kah? Cerpen? Atau drama? Terserah.
Yang jelas, pasang target. Seperti halnya kita menarget nilai waktu sekolah
dulu supaya melebihi nilai ketuntasan minimal, tulisan yang sedang/akan kamu
kerjakan juga harus ditarget. Kalau perlu, pasang alarm di ponsel atau buatlah
tulisan besar tentang targetmu. Terakhir kali, cara itu berhasil pada saya.
Nah, sekian
dulu tips abal dari saya. Terima kasih atas kesediaannya membaca J Maaf kalau ada typo-typo gaje itu yah wkwkw
All love,
Alin Ifa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar