Sabtu, 28 Januari 2017

3 CARA YANG MEMBUAT SEMANGAT MENULISMU MUNCUL KEMBALI



Banyak orang yang berpikir penulis itu pekerjaan termudah di dunia. Saya akui, memang benar, jika dilihat sekilas. Yang terlihat oleh pembaca dari kehidupan seorang penulis itu adalah, orang yang hanya duduk di depan laptop/komputer/buku kosongnya, dan menuliskan beberapa kata dan menyusunnya menjadi sebuah buku. Setelah tulisannya terbungkus rapi ke dalam sebuah buku dengan kisah tertentu, si penulis tinggal memasukan naskahnya ke penerbit, dan boom, diterima lalu mendapat royalti. Itulah yang membuat mayoritas manusia mager di dunia berkeinginan menjadi penulis. Ya, yang terlihat menjadi semudah itu kalau kita enggan menilik dalamnya. Duduk, menulis, mengirimkan ke penerbit, laku, mendapatkan uang--terlebih kalau tulisan tersebut dijadikan film. Bertambahlah pundi-pundi yang mengalir ke kantong penulis. Tetapi sebenarnya yang terjadi tidaklah begitu.

Saya tidak akan meributkan bagaimana susahnya memasukan naskah ke penerbit mayor atau mempromosikan buku hingga bisa laku. Di sini, saya akan menyoroti proses penulisan sebuah cerita itu sendiri.

Seorang penulis juga manusia. Seringkali mereka mengalami masalah pribadi, pekerjaan utama, dan bahkan masalah sosial, yang menghambat tulisan mereka. Nah, bagi siapa yang berniat menjadi penulis, harus siap dengan semua itu. Sebab apabila kita hendak menerbitkan buku ke penerbit mayor, lalu ternyata laku, penerbit terkait bahkan pembaca buku kita terdahulu biasanya menagih kreatifitas kita yang lain. Di saat itu lah hambatan-hambatan tersebut perlu ditangkis dengan membangun mood menulis agar tulisan kita terus berjalan.

Berdasarkan pengalaman saya selama delapan tahun menulis cerita (yang seringkali aneh dan beride cerita absurd :v), ada tiga cara yang bisa kamu praktekan untuk membangun lagi mood menulismu.

    1.   Membaca
Membaca yang saya maksud adalah membaca segalanya. Mana ada dunia yang di dalamnya sama sekali tidak ada kata, kan? Dari mulai membaca artikel, buku, novel penulis di penerbit incaranmu, petuah bijak semangat menulis, bahkan hingga membaca lirik lagu sampai stalking akun media sosial mantan pun bisa mendatangkan inspirasi. Inspirasi biasanya adalah awal bagi seseorang untuk menuliskan karyanya, ceritanya.

    2.   Refreshing
Refreshing. Kegiatan satu ini tidak harus membutuhkan biaya mahal kok. Lagipula, refreshing, atau etimologisnya adalah menyegarkan pikiran, tidak harus dengan pergi ke tempat-tempat sunyi, berkemah, atau menepi beberapa hari layaknya biksu yang sedang di pertapaan. Tidak sama sekali, oke? Banyak kegiatan murah yang berhasil untuk menyegarkan otak kita, seperti misalnya mendengarkan musik. Seperti membaca bahasa asing atau kitab keagamaan yang tidak berbahasa Indonesia, mendengarkan musik sebaiknya kita juga mengetahui arti lagu itu—bagus-bagus sejarahnya, karena tak jarang seseorang yang rasa ingin tahunya besar, malah mendapatkan ide untuk tulisannya hanya dari sebuah lagu. Lalu tak lama ia akan terpacu menulis lagi.  
Cara refreshing berikutnya juga bisa dengan mencari tempat mengetik yang berbeda, atau menata ruang kerja kita supaya menjadi lebih baru. Bagi sebagian orang, terkecuali saya (:D), menata tempat kerja adalah salah satu faktor pendorong keluarnya karya seseorang. Sebagian orang dapat menjadi lebih produktif karena view baru yang didapat di ruang kerjanya.
Atau, bisa juga kita bertukar pikiran dengan para penulis di komunitas-komunitas menulis. Nah, sangat bagus untuk bergabung ke sana. Zaman sekarang sudah banyak yang namanya sastra cyber. Jadi tidak perlu ada yang namanya membuat janji temu atau apapun. Cukup koneksi internet, akun media sosial, membuka percakapan tentang pikiran kamu, dan belajar sebanyak-banyaknya dari wejangan mereka.
Jujur, kalau kamu bertanya jenis refreshing apa yang paling saya lakukan, saya lebih dikategorikan sebagai orang aneh yang suka mengkhayal. Dalam membangun mood untuk menulis, saya malah harus meninggalkan laptop selama belum mood dan terus membangun bermacam scene, dan peristiwa di kepala saya. Saya akan mengkhayalkan dulu banyak adegan, random. Baru setelah menemukan adegan dan waktu menulis yang cocok, saya masukan adegan tersebut ke karya yang sedang saya kerjakan. Tempat favorit saya mengkhayalkan semua adegan untuk karya saya sebenarnya tidak terbatas. Mau di kamar mandi, ruang makan, ruang tamu, kampus, sampai di mall pun kalau yang namanya pikiran sedang kosong, ya saya akan mengisinya dengan potongan adegan itu. Absurd memang. Tapi yah, begitulah. Cara itu terbukti ampuh untuk saya, untungnya XD
Selain cara di atas, ada dua lainnya bentuk refreshing yang biasa saya lakukan. Terkadang, jika sedang malas menulis, saya tetap akan membuka file tulisan, lalu mengeditnya hingga bosan, bahkan ditinggal tidur. Lalu selain itu kalian juga bisa memeraktekan cara pamungkas lain, yaitu dengan memposisikan bokong seenaknya saja ketika mengetik. Cara yang konyol, memang, tapi kalau otak kamu sedikit korslet seperti saya, ya...patut dicoba juga :v

    3.   Menarget Tulisan
Nah, cara yang terakhir adalah menarget tulisan. Menarget, menurut KBBI, adalah menetapkan sasaran (batas ketentuan dsb) yang harus dicapai (dalam waktu tertentu). Misal, dalam kurun waktu tertentu kamu ingin menyelesaikan karya apa? Puisi kah? Novel kah? Cerpen? Atau drama? Terserah. Yang jelas, pasang target. Seperti halnya kita menarget nilai waktu sekolah dulu supaya melebihi nilai ketuntasan minimal, tulisan yang sedang/akan kamu kerjakan juga harus ditarget. Kalau perlu, pasang alarm di ponsel atau buatlah tulisan besar tentang targetmu. Terakhir kali, cara itu berhasil pada saya.

Nah, sekian dulu tips abal dari saya. Terima kasih atas kesediaannya membaca J Maaf kalau ada typo-typo gaje itu yah wkwkw

All love,
Alin Ifa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar