Sumber: Dokumentasi Pribadi
Penulis, kata yang tidak asing bagi orang awam sekalipun. Secara harfiah, penulis adalah orang yang menulis (ya iyalah :v). Menulis apa saja. Fiksi, non fiksi, drama--apa saja. Sehari lalu, ibu gue baru aja menyinggung soal ini. Yah, pertanyaannya klise. Pertanyaan itu selalu diajukan setiap kali gue merasa yakin soal ini; menjadi "penulis" (gue pakaikan tanda kutip, karena banyak yang yakin kalau jadi "penulis" nggak sesederhana menjadi penulis).
Oke, hiraukan kalimat berlibet barusan. Pertanyaan beliau adalah: "Masih yakin sama cita-cita itu?" Maksudnya, penulis.
Asal kalian tau, saat itu juga gue langsung nelen ludah--ala-ala dihadapkan pada trauma karena nggak kunjung berhasil nembus satupun media atau penerbit buku buat semua cerita gue. Well, jujur, gue pun ragu. Gue mulai ragu dengan cita-cita satu itu. Penulis. Sama halnya pas gue denger dari setiap orang tentang, "Masuk sastra Indonesia? Mau jadi apa?" Ha! Jackpot. Rasanya dua simpulan yang berkaitan dengan studi gue sekarang perlahan bisa-bisa buat gue runtuh usaha disini dan mengiyakan intuisi mereka. Oke, sastra dan penulis, rasanya dua hal yang nggak akan pernah menyejahterakan hidup lo. Salah pilih jurusan lo.
Yang bisa gue jadikan balasan ke beliau adalah cuma diam, senyum, dan berpikir beberapa resolusi buat tulisan gue (selain ke penerbit, blog, wattpad, atau cuma dinikmati sendiri): entah diupload ke youtube dalam bentuk book trailer, atau menerbitkan secara sendiri di google playbook. Yap. Gue akui, itulah salah satu cara menghindar dari menyerahnya gue di sini; di usaha untuk menjadi penulis.
Mungkin yang ada di kepalanya adalah sama dengan pemikiran orang kebanyakan tentang profesi itu. Penulis, kaya-nya dia cuma bisa dihitung dari royalti buku. Sementara peminat buku di Indonesia sudah sangat kurang, dan diantara mereka yang mampu malah memilih untuk membaca yang gratis. Yah. Seperti itulah nekatnya gue dan orang lain yang bercita-cita menjadi penulis. Sudah tau peminat buku sedikit, masih coba buat sukses di perbukuan. Kasarnya, bullshit.
Well, gue akui itu benar. Semua itu benar. Apa untungnya jadi penulis kalau kerjaan cuma nyelesain buku, tanpa tau siapa yang mau membeli?
Tapi, menurut gue itu terlalu cetek. Kenapa? Karena menulis bukan cuma soal uang. Menulis menurut gue adalah soal membuka pendapat dan wawasan kita kepada orang-orang. Buat gue pribadi yang super duper introvert ini, menulis adalah cara gue berkomunikasi dengan orang-orang. Menulis adalah cara gue biar bisa didengar oleh mereka. Entah lewat tulisan argumentatif seperti ini, atau lewat karya fiksi. Kalau sudah didengar, dihargai, tulisan-tulisan kita selanjutnya bakal dianggap bagus dan bisa jadi beberapa pelaku industri kreatif tertarik menguangkan tulisan kita. See? Uang adalah nomor ke sekian bagi penulis. Malah, menurut gue kalau seorang penulis yang money oriented nggak akan pernah bisa menjangkau hati pembaca dengan tulisannya.
Jujur aja, sad to hear the truth about this. Ketika orang tersayang kita dan lingkungan nggak kunjung mendukung apa yang kita pengen. Dengan menulis, seandainya mereka tau, gue mau menjangkau dua jalur sekaligus: mencerdaskan dan menghibur secara karya, juga biar bisa menjadikan hobi setengah mampus ini sebagai profesi. Gue pikir apa salahnya? Ya, orang yang bisa jadiin hobi sebagai profesi itu beruntung banget menurut gue. Karena dia bisa menikmati apa yang dia kerjakan. Gue cuma pengen jadi orang itu. Dan selesai. Lihat, bahkan keinginan terbesar gue dalam hidup sama sekali nggak muluk.
Jadi curhat kayaknya gue di sini..
Tapi intinya, gue cuma pengen bilang ke pembaca sekalian yang bercita-cita atau tertarik berprofesi sebagai penulis, supaya tahan banting dengan argumen-argumen menjatuhkan yang mempertanyakan kesejahteraan. Dan kunci utama dari benteng pertahanan diri itu nggak lain dan nggak bukan adalah, dengan mulai menulis.
Start learning, start thinking, start writing! Be an awesome writer!
Cheers!
All love,
Alin Ifa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar