Tampilkan postingan dengan label celoteh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label celoteh. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Januari 2018

BOSAN? 3 CARA INI BISA JADI JALUR PELARIAN YANG TEPAT!



Di lapangan kehidupan (eak, bahasanya...), nyatanya gue sering menemukan orang-orang yang nggak pernah bosan bilang kalau dia "BOSAN". Yap, ngerti kan maksudnya? Nowdays, dengan begitu banyaknya kemudahan teknologi dan alternatif aktivitas, justru seharusnya orang-orang yang seperti itu bisa cari satu saja kegiatan pelarian yang nantinya bisa mereka masukan ke dalam daftar kegiatan harian. Well, bagus-bagus kegiatan itu lama-lama menghasilkan manfaat. Apapun kegiatannya, memang kuncinya cuma satu: TEKUN. 

Banyak faktor sebenarnya yang membuat orang-orang itu merasa bosan. Dari mulai faktor sepele berupa "sungguhan bosan" karena mereka ngelakuin kegiatan yang sama, terus-menerus, atau memang "nggak melakukan apa-apa", sampai dengan faktor kebosanan yang kompleks---yang gue definisikan sebagai "bosan bohongan". 

Nggak ada yang tau seseorang bilang bosan itu karena apa, kan? Siapa tau dia lagi ada masalah atau semacamnya, dan jadi nggak mood ngelakuin rutinitasnya itu. Nggak mood bakal berubah jadi nggak melakukan apa-apa. Ya, intinya satu memang: karena apapun bosannya, yang jelas mereka sebenarnya sadar harus melakukan sesuatu. 

So, below, gue rangkum 3 kegiatan yang kiranya bisa jadi jalur pelarian yang tepat buat kamu-kamu yang lagi bosan alias boring, border, bordesen...bored.  

1. Find your hobbies! (Cari hobimu!)
Melakukan hobi adalah salah satu cara terjitu membunuh kebosanan. Hobi bisa apa aja. Dari mulai hobi di belakang laptop semisal menulis fiksi/artikel, mendesain sesuatu, atau melakukan segala hal yang bisa dilakukan di laptop/komputer/gadget kamu. Semodern ini mustahil banget kalau masih ada manusia yang tabu dengan hobi. Masing-masing dari kalian pasti punya hobi tersendiri. Lakukanlah itu buat membunuh si bosan. Jangan biarkan diri kamu sama sekali nggak ngelakuin apa-apa dalam sehari. 

Yap, sebenarnya nggak ada salahnya juga menyediakan 'silence session' dalam rangka mengistirahatkan otak dan badan dari kegiatan harian. Kita bisa melakukan hal itu dalam bentuk tidur. Tapi nggak mungkin juga kan tidur kita sampai makan waktu seharian? Rugi berat kita melalui sekitar dua belas jam waktu produktif dengan hanya "TIDUR".. Yeah, i think that's not the best option. Apalagi ada segelintir orang yang menjadikan tidur sebagai hobi sungguhan. Well, i mean, that's good. But... lebih baik jadi orang yang cukup tidur daripada kelebihan tidur. Nggak baik buat kesehatan juga, soalnya. 

Dan balik lagi pada pembahasan hobi, selain hobi di balik meja, ada pula hobi yang "take action". Contohnya: travelling, membuat film/video kocak, membuat kover lagu kalau kamu punya hobi dasar menyanyi, berdagang (ala-ala Mail di Upin Ipin, misalnya?), atau sampai dengan coba-coba jadi 'speaker' kalau memang kamu ngerasa pintar ngomong di depan orang banyak. Those are worth trying, believe me. 


2. Fix yourself! (Benahi dirimu!)
Cara kedua dilakukan karena mungkin saja ada yang salah dengan pola kegiatan harianmu. Well, gue cuma saran, dan itu bukan berarti orang-orang yang bosan itu jadi pribadi yang gagal. Enggak. Setiap dari kita dilahirkan sebagai pemenang. Ya...IYKWIM. Dalam rahim ibu kita, kita adalah sperm yang tercepat sampai ke ovum. Pembuahan terjadi dan lain sebagainya itu (pokoknya ingat-ingat aja pelajaran biologi SMP haha...). So, nggak ada alasan seseorang itu punya takdir buat selalu salah atau semacamnya. Masing-masing dari kita dikasih kesempatan kedua untuk membenahi diri. Sedetil apapun kesalahan yang ada di dalam diri gue rasa bakal menjadi celah datangnya kebosanan. Bosan sama diri lo yang gini-gini aja, misalnya? Then find the wrong thing, misalnya: kesalahan pola tidur, pola makan, pola pikir, sampai kerutinan kita menghadapkan diri kepada Allah, bisa jadi alasan kebosanan itu datang---tapi sekaligus juga bisa jadi jalan buat kita membenahi diri dan berubah, menjadi pribadi yang nggak bosenan. 

Well, again, who knows? Seringkali kita ngerasain sesuatu yang kita sendiri nggak bisa terjemahin alasannya. Inilah jawaban caranya. Karena kemungkinan ada sesuatu yang salah dalam diri kita, maka yang harus dilakukan adalah fix yourself. Benahi dirimu!--karena proses membenahi diri seharusnya memang nggak dilakukan pada saat menghadap Allah aja, atau di bulan suci seperti Ramadhan. All i can say is: manusia hidup buat berproses. Kalo kita bosenan, do nothing, then gimana mau ada proses? Yeah. That's what i mean. 


3. Try something new! (Cobalah sesuatu yang baru!)
Cara terakhir ini agak sebelas dua belas sama cara satu. Buuuut, not that hard. Mencoba sesuatu yang baru nggak harus berbentuk ngelakuin kegiatan yang namanya hobi, atau ngelakuin proses membenahi diri. Enggak. Mencoba sesuatu yang baru bisa dalam bentuk kita bereksperimen pada apapun yang lagi kita lakuin. Cari tau lebih dalam, jelajahi sesuatu yang belum pernah kita jamah. Bukan dalam arti sesuatu yang macam-macam. Kata Rasul juga, mencari ilmu itu wajib bagi muslim laki-laki dan perempuan. Dan, lagipula pepatah "Carilah ilmu sampai ke Negeri Cina", sama ucapan "Tuntutlah ilmu sampai ke liang lahat." memperjelas urgensi 'try something new'. Jadilah manusia yang pembelajar, yang selalu punya rasa ingin tau. Gue yakin itu satu tipe manusia yang nggak pernah punya rasa bosan karena dia selalu menilai segala sesuatu itu masih ada terusannya. Nggak ada ilmu yang benar-benar berbatas. Banyak hal yang bisa kita pelajari di bumi ini. Dari mulai yang eksak, sampai yang nyeni. 

Sooo, as a wise human, haruslah kita pikirkan satu hal sebelum try something new. Apa itu? 

Pernah dengar istilah 'berpikir melingkar'? Yap, that. Apapun yang ingin kita coba, harus punya dampak positif bagi diri kita, bahkan bagus-bagus, buat orang lain. Kan salah kalau kita justru mempelajari dan (amit-amitnya..) menyebarkan sesuatu yang jelek. Mau dibawa kemana Indonesia kita kalau generasi mudanya belajar hal yang bukan-bukan?? Bagi yang lagi, segera udahan. Bukan tappan lagi, tapi udahan. Poinnya, buat apa belajar sesuatu yang bikin dampak negatif buat kita, kan? Belum lagi, hisabnya pun bakal berat di akhirat nanti (bagi pembaca yang merasa muslim/muslimah, ehehe...) 



Uhm...Okay, then. Kayaknya nggak ada lagi yang pengen gue baceo-in di sini. Jadi, udahan aja, ya tulisan kali ini? Resumenya: if you are boring, then do something! / kalau lo bosan, lakukanlah sesuatu!. Jangan diam, kalau nggak mau tergantikan! 

Okelah, guys. Lebih baik gue undur diri sekarang sebelum ditimpuk pake batu dan tanah karena banyaknya campur kode yang gue lakukan di sini wkwk... 

So...

SEE YOU SOON! Alin pamit undur diri!



Best regards, 
Alin Ifa

Kamis, 18 Januari 2018

HOLIDAY SESSION: FUN OR NAH?




That's a weird title, i know.. 

Actually about that, gue rasa kita harus masukan kembali hakikat kata sifat. Adjective word depends on perspective. Phhfft, yah... Hal satu itu yang akhir-akhir ini gue pegang. Segala yang berbau kata sifat dan bersangkutan dengan kata sifat, nggak akan selamanya punya pendapat tetap, karena balik lagi, tergantung sikap setiap orang- bakal mengeluarkan sifat yang bagaimana ketika berhadapan dengan satu kata tertentu. 

From my own perspective, i'd like to say, gue lebih condong menganggap holiday alias liburan alias break dari segala rutinitas harian kita adalah masa-masa yang menyenangkan. Kenapa? Bukan karena kita nggak melakukan apa-apa, tapi kita bebas jadi apa-apa dan melakukan apapun yang kita suka di holiday. 

Well, seperti yang kalian tau, anak sekolah sudah mumet sehari-hari dijejal tugas dan pelajaran. Belum lagi bimbel dan kewajiban yang menantinya di rumah. Waktu untuk diri sendiri pun terbatas disaat weekday. Semua itu membuat kita nggak bebas, gue rasa. Dan, begitu holiday datang, everyone release their mind, refresh their body and head. Yang terpikir begitu liburan datang adalah: REFRESHING. 

Mungkin gue pernah mengulas ini di satu tulisan sebelumnya yang bilang, refreshing nggak harus menghabiskan banyak uang, bisa dilakukan di sekitar rumah, atau bahkan dengan bantu-bantu keluarga di rumah. But, that's not what i want to say. 

Obviously, cara kita menghabiskan liburan bisa bermacam-macam. Ada yang benar-benar jalan ke tempat rekreasi, atau bahkan yang makan-tidur-makan-tidur juga ada. Balik lagi, tergantung orang menganggap apa yang mereka lakukan di liburan ini tuh menyenangkan apa enggak. Bisa jadi, orang yang liburannya rekreasi terus seakan tu duit nggak akan habis sampai tujuh turunan, malah sama sekali nggak merasa puas dan senang. Atau justru yang liburannya di rumah mondar-mandir kasur-dapur-teras lah yang punya liburan menyenangkan. Nggak ada batasan terhadap sebuah anggapan, demikian juga dengan ini. 

The point is, suit yourself. Tujuan berlibur itu buat merileks-kan pikiran. Nggak lebih. Kita berlibur bukan untuk mencapai target tertentu kayak yang kita lakukan pada saat weekdays. Nggak, bro, sist. Kita berlibur untuk mengistirahatkan jiwa dan raga biar kembali siap beraktivitas seperti biasa. Well, yea i mean...kan sama sekali nggak lucu kalau awal-awal liburan jalan-jalan kemana-mana atau terlalu banyak menikmati waktu dengan beraktivitas capek-capek, tapi di akhir liburan malah tifus. Uh...jangan sampai begitu yaa. 

Kemanapun dan bagaimanapun kita nikmati holiday, intinya cuma satu: tau batasan--batasan duit, batasan diri, dan batasan hati. Know your limit. That's the best way to safe yourself in every situation of life, ya know? 

Aaaannnddd, karena kiranya nggak ada yang perlu gue celotehin lagi di sini, jadi gue pamit undur diri wkwk. 

FYI, gue lagi nikmatin libur semesteran dengan pulang ke rumah ortu dan bantu-bantu mereka sebisa gue. I'm not really going anywhere, but that's fun because chillin with your family is everything. Jadi, sampai jumpa lagi besok di postingan gaje berikutnya. I'm gonna tell something to you about ldr story. 

Curious? Don't go anywhere! I'll be right bacckkkk, people! 



And nggak lupa...

"HAPPY HOLIDAYYY!!!" 



Stamp of love, 
Alin Ifa

Rabu, 29 Maret 2017

"YOU SHOW ME HOW YOU WRITE, YOU SHOW ME WHO YOU ARE"




Jujur gue terinspirasi sama film satu ini. Yap, Fast Furious franchise, who don't know it? Whole world know. Bagi yang belum tau, ini adalah scene saat Dom bilang, "You show me how you drive, i'll show you who you are." di Furious 6. Sesaat setelah gue nonton ini untuk yang kesekian kalinya, gue mikir, bener juga, ya. I mean, itu jelas berlaku pada semua tindakan kita, baik keterampilan, akademis, atau kegiatan sehari-hari. Nah, begitu juga di dunia kepenulisan (baik yang pemula maupun yang expert). 

Gimana cara kita menulis, gimana cara kita meracik semua kata itu dan menggambarkannya ke dalam suatu adegan dalam cerita khayalan apapun, akan menunjukan siapa diri kita. Awal orang-orang menyukai seorang penulis bukan karena perilakunya, atau bahkan setelah menjadi stalker kehidupan dunia nyata dan dunia maya-nya (kok serem amat, ya :v). Pasti yang pernah dan sering baca novel, at least sepakat sama gue kalau yang bikin kalian tertarik sama penulis tertentu adalah karena karyanya. Tanpa perlu membaca buku biografinya (kalo ada wkwkwk), kita pasti akan menjadi stalker dengan sendirinya begitu menyukai karya suatu penulis. Dari karyanya, kita bisa tahu seperti apa si penulis itu. Dan menurut gue, karena itulah kita--gue, dan pembaca yang bercita-cita berkarya melalui tulisan--harus menulis sesuatu yang benar-benar membuat ada rasa "Ih, kok gue banget", pas ngebaca karya itu lagi. Gue pribadi beranggapan kalau karya yang sesuai dengan kepribadian kita bisa ngebuat pembaca secara nggak langsung mengenal seluk-beluk diri kita. Ketika lo menulis tentang kisah aksi yang di dalamnya ada sepasang manusia cuek yang sangat oriented kepada tujuan misinya, sehingga mengesampingkan urusan hati, pembaca akan bisa menilai kalau salah satu diantara tokoh utama itu adalah kalian. Ya, kalian, yang nulis cerita itu. Ditambah lagi kalau dialog-dialog yang lo buat itu mudah dimengerti dan friendly buat dibaca atau juga ketika dialog itu ada di dalam cerita. Bisa jadi nggak lama setelah cerita lo banyak yang baca, akan banyak juga yang berani berkomentar, mengkritik, bahkan bisa ada yang menjadi teman chattingan lo dalam sekejap. Who knows, kan? 

Well, that's like true story for me hahaha... Jadi kan gue juga nulis di Wattpad. Work gue itu berisi cerita-cerita yang bahasanya dan dialognya kaku-kaku banget. Asli, ngayal. Cuma beberapa kejadian di cerita-cerita gue yang terinspirasi dari kehidupan nyata. Sisanya? nope. Lo tau apa hasilnya? Bagian-bagian yang mudah dimengerti dan berasal dari kehidupan nyata itu lah yang terbanyak dapat vote dan komentar. Yang lainnya cuma dibaca lewat doang hahahaha... Tragis banget ya gue :v 

Tapi, nggak papa. Sekarang gue lagi berusaha bikin sesuatu yang gue banget dan realitas banget. Memang sulit, sih, apalagi buat gue yang terbiasa ngayal abis-abisan ini (tapi untungnya nggak sampe bikin cerita-cerita alay :/) 

Dan kenyataan lainnya tentang itu adalah waktu gue jadi pembaca novelnya Exprellianmus (user Wattpad), dengan ceritanya "The Number You're Trying to Reach is not Reachable". Bagi yang sudah baca novelnya (eh, spoiler, novel ini udah terbit lhooo keren asli!), pasti tau dan ngerasain betapa gedeknya waktu baca kecerdasan sekaligus kepolosan Aira yang nggak ketulungan. Yak, saya aja sampe ngakak gak berhenti-berhenti waktu dengan polosnya ada kalimat, "oke, siapa yang pertama kali mencetuskan ide genius kalau nilai terbanyak itu sama dengan PDKT". Gue pikir, seharusnya itu udah jadi bahasa nasional, dong? Siapa coba yang nggak tau modus hahahaha... Tapi nyatanya "ada", walaupun cuma karakter Aira buatan penulis bernama asli Adara Kirana ini. Jadi penghafal KBBI sejak kelas empat SD gue kira seharusnya dia tau bahasa-bahasa gaul juga. Ternyataa.. ampun dah. Btw, cukuplah curhat soal buku ini wkwk, gue ngiler pengen beli coba (bagi aku uaaang :v *canda deng*). Belum sempat ke tokbuk *hiks*. Udah habis kali, entah deh hehehe... Soal buku ini, recommended banget buat dibeli. Selain menghibur, di sana lo juga bisa dapat pelajaran-pelajaran, vocab bahasa Inggris dan penulisannya yang asik, dan cerita tentang novel-novel luar plusss mitologi Yunani (:D) yang seru abis dan dijelaskan secara gampang. Gue banyak belajar dari novelnya, btw. 

Nah berkaitan dengan judul, dari ceritanya, Exprellianmus berhasil "sedikit" menunjukan dirinya kepada pembaca. Dia penggemar Harry Potter series (kelihatan dari Usernamenya dan PP, dan tokoh utama yang seolah ada mengambil sedikit sifat Hermonie --- au nulisnya bener atau engga ini :v). Melihat ceritanya yang dipenuhi mitologi Yunani dan banyak buku yang nggak gue kenal, sementara Adara terasa lihai dan enak menuliskannya, seenggaknya membuat gue tahu kalau sebenarnya ada sisi dirinya yang "begitu", alias mirip-mirip, alias sebelas-dua belas sama Aira. Pembacanya yang lain juga sempet bilang di wall (ketauan dah stalkernya hehe...) dengan kalimat begini, "Kok ceritanya kayak lo banget si, thor?". Dan benar aja, pas gue stalk IGnya (hehe..), Adara kelihatan remaja yang pintar. IGnya lo tau isinya apa? Buku. Yap BUKU. BUKUUUU. Duh, gue sampe ngiler ngeliat foto-fotonya. Dalam hati, maauuu dong! Hahaha.. sayangnya kepala gue udah keburu keracunin sama novel-novel yang yaah begitulah.., bukan serial Potter, atau novel-novel yang agak "berbobot"..

Ok ok, cukup curhatnya lah hehe.. I think that's prove, kalau apa yang kita tulis, apabila kita terlihat dan terasa lihai menuliskannya, bisa dilihat oleh pembaca kayak sesuatu yang mencerminkan diri kita banget. 

Poin gue di sini adalah, kalau lo mau menulis sesuatu, usahakan yang kerasa "lo banget". Bukan "lo banget" itu berarti lo harus nulis buku "BIOGRAFI" yaa.. Jangan dulu hehe. Maksud gue, ketika lo lagi suka sama genre A, alur B, tema A, latar B, tokoh A, dan lain sebagainya, gabungkan itu menjadi suatu cerita yang LO BANGET. Kalau lo udah enjoy bacanya, nggak ngerasa "Hiih...bete bacanya..", berarti lo udah berhasil membuat suatu karya yang kelak akan ada pembaca. Pembaca yang dimaksud nggak harus pembaca berbayar kok (yang beli dari tokbuk, maksudnya). Pembaca dari platform Wattpad, Storial.co, atau yang lainnya, juga bisa. Yang penting karya lo dibaca, kan? Itu kan poinnya kenapa lo pengen jadi penulis?--atau at least, itu gue hehe--karena yah, realistis aja: karya yang udah keren, dan enak dibaca pasti suatu saat bakal nyangkut ke scoutnya penerbit. Diam-diam--di Wattpad, setau gue--banyak penerbit yang jadi sider. Nggak lama, eeh, tertarik menerbitkan karya tertentulah. 

Oke segitu aja ya dulu ocehan gue pagi ini. Sampai ketemu di postingan selanjutnyaa :) 
Dadaaaah :* 

All love,
Alin Ifa

Selasa, 07 Maret 2017

MENULIS UNTUK MEREFRESH OTAK (?)


Sumber gambar: PRIBADI

Siapa yang tahu, kegiatan yang sangat erat hubungannya dengan belajar justru bermanfaat dan jitu untuk mengusir penat setelah beraktifitas seharian? 

Di sinilah aspek artistik sebuah lamunan panjang tentang kepenatan. Semua orang pernah stress, penat, ingin keluar dari rutinitas. Gue pun mengalami hal yang sama. Rasanya begitu diingatkan oleh tugas A sampai Z yang menanti, ingin keluar atau teriak saja di semua telinga si pemberi. Tapi kalau sudah tanggungjawab, kepenatan itu mesti dijalani. Mau gimana lagi, kan?--kasarnya, itu sudah jadi takdir yang tidak bisa dielakan. Karena itulah yang paling kita cari saat ini adalah bagaimana caranya refreshing. Survey pencarian (meski bukan dari mbah google), bentuk refreshing yang dicari adalah refreshing yang low budget

Apa lagi kalau bukan menulis? Ya. Kegiatan seperti berhadapan dengan pena dan kertas atau buku, laptop, bahkan apapun yang bisa menjadi alat dan media menulis. 

Dilihat dari satu sisi, kegiatan satu itu seolah tidak berefek untuk menghilangkan penat. Banyak dari kita yang memilih langsung terbenam di dalam kasur dan bermimpi indah. Atau yang paling mudahnya, mendengarkan musik, menonton film, dan kegiatan menghibur lainnya. Itu benar. Itu semua adalah kegiatan untuk menghilangkan penat, merefresh otak setelah seharian beraktifitas. Tapi menurut gue, menulis adalah salah satu kegiatan refreshing yang patut dicoba. 

Mungkin di antara kita banyak yang sudah tahu dan mengenal buku diary atau catatan harian. Apa salahnya kebiasaan menulis di diary itu diteruskan, kan? Selain bisa mengeluarkan unek-unek yang bebas ghibah (hehehe...), kita juga mempunyai media yang dapat merefleksi diri. 

Banyak hal yang akan kita dapat dari mulai menulis untuk refreshing. Kalau gue lebih menyarankan (termasuk sering ngelakuin juga), menulis fiksi seperti novel, cerpen, dan puisi aja. Alasannya sebenarnya gampang: lebih leluasa memuntahkan unek-unek dalam bentuk teks fiksi daripada ilmiah. Ilmiah itu kan berisi ilmu-ilmu dan teori-teori. Kalau curhat dalam versi ilmiah, bisa-bisa tambah stress, kan? XD 

That's why i prefer to write some fiction. 

Cobalah dengan setiap malam atau di waktu santai mengambil ATK/Laptop/Komputer. Di sana, pikirkan hal pertama yang membuat kamu amat kesal hari ini. Setelah ketemu (gue seringkali) mulai dengan menulis sesuatu yang tidak jelas. Lama kelamaan, itu sering buat gue lega. 

Nah, marilah beranjak ke menulis beberapa kalimat jelas. Di antara pembaca sekalian pasti pernah kan membaca novel, cerpen, atau puisi? Cobalah membayangkan menjadi salah satu tokoh yang kalian suka, ingin punya hari yang seperti apa, atau kagum dengan kehidupan seperti apa. Mulailah menulis berdasarkan itu. Awal tulisan kalian bisa berupa harapan-harapan atau sekadar tanda baca "!" "?" besar-besar. Lama kelamaan, seiring kebiasaan menulis yang semakin berkembang, begitu juga dengan karangan kalian. Siapa yang tahu kalau suatu saat karangan itu bernilai jual? Kalau kata dosen gue, jangan berhenti menulis di buku diare. Siapa tahu suatu saat kita berminat terjun ke dunia kepenulisan (menjadi penulis profesional, misalnya?). Ya, tidak ada yang salah dengan itu. 

Well, dengan opini "bernilai jual" barusan, gue bukan bermaksud membujuk pembaca sekalian untuk bersikap matrealis atau apapun. Tapi itu benar. I mean, daripada kita mengakhiri hari dengan menulis caci-maki-curhat-ga-guna di sosial media atau bersikap buruk ke semua orang rumah karena hari yang tidak mengenakan, lebih baik menuangkan semua unek-unek itu dengan menulis sesuatu yang berguna. Seperti buku motivasi, misalnya? Atau fiksi ala Raditya Dika (yang menceritakan kehidupan sendiri--meski itu aib :D). Dua-duanya punya manfaat tersendiri, yang jelas. Yah, menilik dari argumen-argumen sederhana itu, itulah kenapa gue pribadi memilih bermain kata di akhir hari. Sampai saat ini, kebiasaan itu berguna buat meghilangkan stress di wajah gue yang rata-rata ini (halah ._.) 

Tapi sebenarnya kuncinya dari diri kita sendiri. As a wonderful person, mulailah berpikir meluas dan melingkar kepada setiap unek-unek yang mengganjal di hati. Pasti pernah mendengar kan ungkapan "Allah tidak akan memberi cobaan melebihi kemampuan makhluknya". Positif saja, walau punya hari yang negatif. Mulailah berpikir mengenai alasan. Lalu sebarkan semangat berpikir meluas dan melingkar itu melalui tulisan-tulisan kamu ^^


Membaca adalah jembatan ilmu. Menulis adalah cara menyampaikan ilmu. 

Ilmu dapat didefinisikan dalam berbagai paham. Dari mulai teoritis hingga ilmu sehari-hari seperti soal bagaimana menerima tamu. Maka dari itu, menuangkan unek-unekmu jadi bacaan berilmu (meski itu bentuk curhatan). Orang-orang yang suka membaca (khususnya cerita), selain akan terhibur, pasti lama kelamaan juga akan terinspirasi (atau bahkan mencoba menghindari sikap tertentu yang kamu tulis). 

Gue tidak akan bilang kalau setiap coretan kalian pasti ditanggapi demikian. Tapi, siapa yang tahu? Contohnya saja pada film The Fault in Our Stars. Di sana Hazel terinspirasi dan menyukai buku Peter Van Houten yang berjudul Imperial Affliction (entah benar atau salah ini judulnya ya "^_^ ) Gara-gara membaca buku itu Hazel jadi mempunyai semangat hidup lagi di tengah kanker yang tidak bisa sembuh. Atau, terdekatnya kita bisa contoh Raditya Dika, dengan Kambing Jantannya. Jujur gue belum pernah baca bukunya. Tapi dengan jadi buku yang difilmkan, dan hasilnya menghibur, itulah bukti kalau sebuah curhatan harian bisa menjadi hal yang luar biasa bermanfaat (dibanding menumpahkannya ke kegiatan sia-sia). 

Dua contoh kecil di atas mungkin saja membuat pembaca sekalian berpikir lagi untuk menolak mulai menulis. Menulis? Kenapa enggak? Jangan ragu mencoret sepatah-atau dua patah kata di atas kertas. Selain untuk merefresh otak dan menghibur diri kita sendiri dengan pikiran, Eeeh, ya Allah, alay banget sih gue dulu, atau Dulu gue pernah suka sama dia ya?, atau Haha... kangen ih.. --- menulis menurut gue juga jadi cara terhebat untuk mendongengkan kisah kita nanti kepada anak-cucu. Tentu itu akan mendorong kita berlaku terbaik supaya mempunyai kisah terbaik yang membuat kerabat dan keluarga bangga telah mengenal kita :). 

Jadi, tunggu apa lagi?
Kapan kamu mulai menulis? 



All love, 
Alin Ifa

Senin, 27 Februari 2017

#CurhatSession "CERITA LIBURAN"


Sumber gambar: Dokumentasi Pribadi
(Inilah sight kamar lama saya ^^)


Okeh, menurut gue postingan ini bakal kerasa sedikit membosankan. Tapi, entahlah ya. Maybe this is the worst story ever. I mean, nggak ada yang asyik dari yang namanya liburan kalau tipe liburannya kayak gue wkwk... 

Semakin kesini--seiring semakin bertambah usia dan tingginya pendidikan (halah... :v)--rasanya liburan yang gue punya semakin banyak. Ya, itu bagus, tentu saja buat yang tau gimana caranya nikmati liburan mengasyikan. Yah, itu nggak bekerja sama gue. Liburan kuliah lama (atau tepatnya nyaris dua bulan -_-) nggak membuat gue benar-benar berlibur. 

Bagi gue--dan mungkin orang-orang lainnya yang ngerasain ini juga--liburan nggak pernah ada. Makanya setiap kata, Eh, mumpung libur, jalan yuk!, atau yang sejenis dengan itu, gue selalu nggak bisa sembarang membuat janji dengan mengiyakan. Liburan kali ini aja (dari Desember akhir sampai hari ini), udah berapa banyak kesempatan hangout secara langsung ataupun enggak yang gue lewatkan. Entah yang sekadar main kah, atau sampai ke acara organisasi, nggak ada yang gue datangi. Mau tahu apa yang gue lakuin sepanjang liburan yang panjangnya kayak jalan kereta Anyer-Panarukan zamannya Daendles itu? Yakin mau tahu? Oke, berikut beberapa kegiatan yang gue lakuin di liburan ini (yang mungkin bisa kalian jadikan referensi di liburan mendatang :v) 

1. Bantu Mamak
Inilah kegiatan paling rutin. Bantu mamak--itu berarti semuanya. Dari mulai nyuci baju, perabot, sampai beres-beres rumah. Yaaa...gue nggak bermaksud pamer kebaikan atau apa. Gue mau ngasih tau aja kepada pembaca sekalian apa yang menarik dari kegiatan satu ini. 

Hmmm...yang menarik dari ini adalah... (drururrmrmrmrmdudurummm--marching on!) tentu aja bisa nambah pahala hehe.. Ya, gimana enggak? Asal kita iklas, anggap aja semua bantuan tenaga yang kita tawarkan buat menyelesaikan kerjaan rumah itu sebagai pengganti jam-jam ketidak-bersamaan kita sama orangtua (atau salah satunya, atau sanak keluarga terdekat). Liburan, bagi yang nggak bekerja, adalah saat-saat berdiam diri di rumah. Ya, daripada bosen ngalor-ngidul nggak jelas tanpa asbab dan faedah, mending berdiam diri tapi begerak di rumah, kan? Kalau gue biasanya punya kebiasaan setelah, ketika, atau sebelum serentetan kegiatan berlabel bantu mamak itu. Namanya Curhat Colongan. Atau kalau dalam istilah ibu dan gue itu disebut Ngadu Bako. Nggak tau juga sih artinya apa. Yang jelas pas sesi itu lebih sering diisi sama ibu gue sih wkwk... Soalnya dialah orang yang punya kisah dan pergaulan paling luas diantara anggota keluarga gue. You know lah.. ibu-ibu kalau udah bergaul itu gimana sih? Hehe... 

Bagusnya, dari sesi itu banyak yang bisa gue pelajari. Entah dari wejangannya, atau keluh kesahnya. Banyak juga inspirasi yang bisa gue dapatkan dari sana. Well, itulah buktinya kalau bantu-bantu orangtua nggak ada ruginya kan? Selain itu kita juga bakal makin disayang sama Allah :)


2. Tukang Anter
Naah, tukang anter adalah kegiatan gue yang kedua. Kalian tau, begitu bangun (entah jam empat, lima, enam, atau bahkan sepuluh "-_-) rasanya sama sekali bukan merupakan celah buat si nyonya besar alias ibu gue alias si mamakku tersayang, buat nggak ngejelasin jadwalnya secara rinci. Jadwal kemana aja dia pengen dianter, pastinya, haha... Belum beres dari mimpi, pernah satu pagi ibu gue nyamperin gue ke atas (ke kamar gue) dan bilang, Teh, hari ini kita habis nganter ade ke kantor langsung, terus kamu tunggu. Habis itu kita ke rumah dinas nyiapin tempat arisan. Pulang dari si ade, kamu anterin ibu ke arisan. Terus jemput kakak. Nanti jemput ibu lagi terus anterin ibu ke Nenek Zidan mau arisan alma. Dari situ jemput ibu lagi mo kondangan

Rentetan ucapan itu buat gue sadar sepenuhnya. Seketika gue diingatkan sama jadwal itu yang memang udah dia jelasin sehari--atau bahkan tiga hari (?) sebelumnya. Yah, silakan baca ulang: terbayang kan gimana gue dalam mode tukang nganter ngider ke tempat-tempat itu seharian? Haha... that's something. Belum lagi soal si tengah. Selama gue libur dia benar-benar kontinyu minta dijemput (kadang dianter), atau minta dianterin sesuatu, atau minta dianter beli sesuatu--buat keperluan sekolahnya. Dua orang itu (ibunda dan adik gue), untung aja nggak ada dalam satu usia. Kalau iya, rasanya sama kayak gue ngadepin dua ibu :D. Agak puyeng sih, dan pengen aja gitu satu saat (meski udah pernah sih sebenernya), bilang ke mereka kalau, Please, saya butuh istirahat. Biarin saya nulis, oke? Atau kasih uang biar bisa ke suatu tempat. 

PS: yang terakhir itu sebenarnya agak nggak tau diri juga, ya... Yaudah, anggap aja itu sebagai keinginan sisi liar gue ._.

Tapi kalian tahu apa sisi baiknya? Jajan yang benar-benar lebih. 
Yap. Tentu saja begitu. Tapi jangan buru-buru nyangka gue minta lebih atau apa. Well, intinya setiap gue perlu A hingga Z selalu ada. Itu udah cukup buat gue anggap sebagai ongkos ojek hehe...  

Kenapa gue bilang begitu? Setiap gue nganter dan jemput ibu, ade kedua, ataupun si kecil (ade ketiga), pasti ada aja ucapan, Mau mie? Mau jajan dulu nggak? Mau cilung nggak? Es yuk! Nah, itu rezeki, kan? Datangnya rezeki nggak boleh ditampik. Alhasil, gue kecipratan deh hehe... Alhamdulillaah. 

Disamping itu--keuntungan yang berbau materil--sisi bagusnya gue juga banyak kenal orang dan tempat. Yah, meski pernah dianggap sebagai tante-tante Grab sama satpam sekolah sendiri pas nganterin tugas si tengah ke SMP gue dulu, gue bisa berkomunikasi lebih sama orang-orang. Siapa yang nggak setuju kalau itu feedback yang bagus? 


3. Asisten Guru SD
Asisten guru SD. Yap, tepat. Sebenernya kegiatan ini nggak gue lakuin hampir di setiap liburan sih. Tapi di liburan ini dia minta tolong, so i helped her out. Dia minta tolong banyak, omong-omong. Dia mengawali aliran rezeki gue dari nyelonong aja ke kamar, ditemenin ibu, manggil gue yang lagi ngeringkuk di atas kasus sambil selimutan karena demam. Ibu yang nggak tau gue sakit, langsung nyuruh gue bangun. Alhasil, si guru SD itu minta tolonglah ke gue. Tahu apa yang dia suruh? Ngitung nilai anak muridnya di lebih dari 5 mata pelajaran. Dan dia bilang secara mendadak kalau perhitungannya harus selesai hari itu juga di jam 10 pagi. Yah, apa boleh buat? Gue kebut lah. Singkirkan selimut, renggangkan kaki, badan, tangan, dan kepala yang masih berat, biar logika gue yang terlanjur ngayal jadi nyampe ngitung semua nilai itu. Well, finally selesai juga di jam 10 kurang dikit. Tapi tapi tapi... saat gue tanyain kapan kerjaan ini mau diambil, dia bilang dengan santainya entar aja. Uhhh...untung ada sebungkus wafer cokelat besar dari dia yang berhasil memperbaiki mood gue. Akhirnya, tugas itu baru dikasihkan besok harinya.

Nggak berhenti sampai di sana, orang itu menyuruh gue lagi dengan tiga tumpuk salinan RPP dan setumpuk buku tebal yang isinya soal-soal ulangan harian plus remedial. Dia.suruh.gue.menyalin. Oke fix. Since i got better, makanya gue terima tugas itu, karena ingat dari suruhan-suruhan dia sebelumnya, dia bakal kasih imbalan yang pantas. Yaaap, right, dari semua tugas itu, alhamdulillaahnya lagi, gue dapat imbalan yang lumayan---selain dapat saran langsung buat jadi guru :/--buat membahagiakan ade-ade dari ancaman "tidak ada jatah" ala ibu wkwk... 

Kegiatan inilah kiranya yang akan jadi sumber penghasilan yang lumayan selagi gue dan si guru masih satu lingkungan hehe... 


4. Orang Warnet
The next "worst thing" is gue jadi orang warnet dadakan. Dari mulai downloadin video youtube, sampai mencarikan sesuatu di internet. Nggak terlalu banyak memang yang gue dapat disini secara materil. Tapi seenggaknya gue dapat satu hal berharga: bahwa lebih banyak keunikan yang dimiliki orang terhadap spesifikasi sifat-sikap masing-masing. Gue menyadari itu selama menjalani kegiatan ini. Banyak pengalaman yang para karakter itu bagi juga. Akhirnya, semua yang gue dapat baik secara nggak langsung ataupun langsung, akan diaplikasikan juga ke beberapa tulisan fiksi gue. 

Kebetulan, diantara mereka ada yang mempunyai kisah yang benar-benar baru buat gue. Istilahnya kayak, Oh..ada juga ya orang kayak si A.. Oh, ada juga ya kisah kayak gini di kehidupan nyata... Ya, kira-kira seperti itulah yang gue pikirkan ketika berhasil mencerna karakter mereka. It's weird sometimes, tapi bagusnya gue jadi tau apa yang sebaiknya gue lakuin ketika karakter seperti mereka muncul lebih banyak di dalam hidup gue ke depannya. 


5. Ngayal
Yeaaay! This is the best thing. Ya ngayal, seperti kebiasaan bengong mendadak di kamar mandi atau pas nyampe kamar (tentu bukan benar-benar "bengong" dengan tatapan kosong yang menyeramkan itu ya :v). Gue suka banget kegiatan ini. Inilah saat dimana temuan baru gue dalam sembilan kegiatan lainnya (dalam post ini), diaplikasikan. Setelah ngayal, gue nggak selalu nulis. I'll keep it first in mind. Gue simpan dulu itu di kepala, karena aplikasinya sendiri sengaja nggak dalam cerita atau tulisan yang benar-benar "baru". Ada dua proyek yang lagi gue kerjain (fanfict dan novel), nah gue selipkan lah beberapa karakter unik di sekitar gue ke sana. Gue akui, itu menyenangkan. Maksud gue, ketika memikirkan apa yang si karakter A lakukan dengan hidupnya, membuat kita merasa bisa menguasai atau mengatur hidup orang lain. 

Ya, perasaan itu memang baru muncul ketika gue sudah berhasil menuliskannya ke dalam sebuah tulisan jadi yang cukup matang (seenggaknya menurut gue). Tapi yah, ada rasa puas tersendiri setelah bisa menyimpulkan. Bahasa lembutnya, kegiatan ini bisa jadi kalian sebut juga dengan muhasabah--karena nggak jarang (buat gue) kegiatan ini berakhir dengan memikirkan seberapa banyak keiklasan yang gue tebar sepanjang berperilaku di hari ini. Entah dengan kalian. 


6. Nonton
Nah, ini hal terbaik kedua. Jujur, gue punya stok film yang cukup bervariasi di laptop. Jadi nggak jarang kalau gue sudah selesai dengan semuanya (nganter, kerjaan rumah, dan tugas pesanan), gue malah mengkolkan kursor ke folder "BIOSKOP" yang ada di laptop. Setelah itu terjadi, nggak jarang panggilan makanpun gue acuhkan wkwkw...

Kalau kalian mau tau, gue punya film dari mulai 21 Jump Street (film komedi tentang dua polisi bodoh yang nyamar jadi siswa SMU buat nangkap pengedar narkoba), sampai Habibie dan Ainun. Selain itu, yaa... gue ngaku kalau di laptop ada kesembilan seri Fast Furious. Yang bintangnya Paul Walker itu, Vin Diesel? Dominic Toretto? Brian? Oke, pasti pembaca pada kenal mereka, kan? Menurut Wiki, film itu nggak cuma ada 7 (sejauh yang ditayangkan di bioskop dunia), tapi ada sembilan, yaitu termasuk Turbo Charger Prelude (film pendek intro 2 Fast 2 Furious), dan Los Bandoleros (film pendek intro Fast 4/Fast Furious). Gue denger-denger sih ada satu lagi, yaitu film intro masuknya Han Seoul Oh ke tim Dom. Tapi entah ada dimana. Di bank filmnya Mbah Google, gue cuma nemu sampai 9 (7 diantaranya gue minta, 2 film pendek itu barulah gue download sendiri wkwk)

Ah, mungkin diantara kalian ada yang langsung berpikiran, Kurang kerjaan banget. Ngapain ngoleksi film selengkap itu? Well, gue mengaku, penasaran sama motivasi mereka memproduksi film berseri seperti itu dengan alur cerita yang justru membuat si protagonist berlaku jahat. Ya, siapa yang nggak tau kalau Dom, yang dikenal sebagai bos jalanan dan menemukan ajang balap gurun Race Wars, justru sangat menyayangi keluarga dan bisa dibilang akan ngelakuin apapun hanya supaya keluarganya bahagia? Dan hal kedua, jujur gue pengen sekali-kali ada film Indonesia yang bisa sampai sebesar itu. Kalau ada, mungkin seri film itu adalah film kedua yang gue koleksi dengan lengkap setelah Fast Furious. Honest, i'm enjoy watching those guys that so fit on the movie. Perkembangan karakternya makin terasa dari film ke film. Di April 2017 nanti, film ke delapannya (atau yang ke sepuluh), akan ada. Dilihat dari trailer, Dom berubah jadi jahat. Nah, gue makin penasaran sama motivasinya. Haha... Kalau kata review orang luar, kayak nonton Optimus Prime di cerita Transformers. Gue jadi pengen tau yang sebenarnya dengan nonton langsung nanti :D Semoga aja disiarin di bioskop Indo. 

Well, oke cukup promosi filmnya. Masih banyak hal yang pengen gue tulis disini menjelang jam-jam terakhir hari libur gue #eak 

Omong-omong soal Nonton Film, film yang paling sering gue tonton adalah ini:


Diantara yang banyak itu, cuma segitu yang sering gue tonton buat dijadikan inspirasi. Mungkin kalian secara nggak langsung bisa menilai gue hehe....


7. Buka IG
Mulai dari ngayal, sampai kegiatan terakhir adalah kegiatan yang paling menjadi sumber inspirasi. Termasuk ini: Buka IG. Gue nggak bisa bilang kalau jarang ngepost di akun satu itu. Tapi ya, kalau lagi nggak ada yang bisa dipost (entah soal kerjaan atau kuliah), gue cuma menjelajah jejaring penyebar selfie itu dengan malas. Ujung-ujungnya, gue nyangkut ke beberapa meme bola atau akun mitos-kejiwaan (karena kebetulan gue lagi ngerjain novel yang berkaitan dengan itu sekarang). Overall, nggak ada yang terlalu asik sih dari sana. Sisi negatifnya seringkali gue jadi kecanduan (tapi untungnya nggak sampai tuli sama adzan hehe..) Tapi sisi bagusnya, tentu saja gue bisa lebih banyak, lagi, lagi, dan lagi, belajar. Buka IG, atau jejaring sosial apapun itu, nggak selalu berarti negatif, kalau kita bisa menyaring apa yang kita buka, kok. ;-) 


8. Tidur
Here it is... Kegiatan ini adalah kegiatan yang paling berguna setelah ibadah, makan, dan bantu orang tua. Yah, meski gue sering menghabiskan malam dengan tidur setengah dua pagi, terus bangun lagi jam 5, dan lanjut lagi tidur sampai jam 7 terus bangun lagi buat kerjain kerjaan rumah dan mulai aktivitas, gue akui tidur adalah salah satu sumber inspirasi juga. Banyak mimpi diantara tidur gue yang gue wujudkan kejadiannya ke dalam cerita. 

Ada satu, sih, tapi bukan di liburan ini. Pas liburan semester satu lalu, kalo nggak salah. Gue mimpi opening film aksi gitu. Eh...dua bulan kemudian skripnya jadi wkwk... 

Ehm...tapi satu itu tayang di kepala gue doang sih, belum berani serahin ke PH soalnya hehe... Doain aja suatu saat ada yang nyangkut :) 


9. Makan
Gue bakal sebut kegiatan satu ini, over limit. Sepanjang liburan bisa dibilang gue nggak berhenti makan. Memang, meski sering telat makan pagi, tapi justru setengah jam kemudian udah ada aja yang gue makan (entah nasi lagi pakai telur, mie, atau lauk yang ada). Nggak tau kenapa nafsu makan gue melunjak semenjak libur, haha... Tapi untungnya gue udah nggak minum obat penyetabil imun itu (FYI, gue sempet divonis Anemia Hemolitik dan suruh minum obat itu buat biar imunnya nggak bertingkah ke Hemoglobin gue). Obat itu bikin pipi gue bulat selama pengobatan. Ya, nggak kebayang deh kalau sampai sekarang gue masih minum obat itu dibarengi sama makan yang nggak kenal waktu, tempat, dan lauk. 

Btw, inilah di pipi bakpao itu (kalau kata temen-temen gue) :v 
Dokumentasi pribadi
Saat pipi bakpao (Gue yang kerudung hitam di tengah-tengah dua kerudung ungu)
Yang ungu sebelah kanan kalian itu ibu gue, sementara di kiri itu temen si kecil, Denis. 
Nah di Denis itu yang satu-satunya kerudung putih. Itu foto pas kita habis mendongeng buat tugas kampus gue hehe...



10. Jajan
And theen, the last activity in my loooong holiday is jajan. Makan juga sih, sebenernya. Tapi ya...karena ini bukan makan nasi, jadi gue pisahin kategorinya haha..

Gue nggak menjunjung semboyan Tiada hari tanpa jajan, sih... Tetap ada aja hari dimana kami sekeluarga nggak jajan (cuma makan di rumah aja). Tapi inilah kegiatan terseru terakhir. Karena saat jajan, adalah saat dimana gue nggak mesti keluar buat beli sesuatu. I mean, i have two sisters, jadi kenapa enggak gue gunain mereka buat pergi-pergian dekat sementara mereka sendiri suka nyuruh gue nganter pergi-pergian jauh? wkwk.. Meski terkesan balas dendam, tapi menyenangkan, jujur saja. 


Yah, gue sudahi saja kali ya..karena udah kepanjangan juga, hehe.. Maklum, judul post kali ini adalah Curhat Session. Jadi, ya...bisa dibilang, gue tumpahin unek-unek sepanjang liburan, di sini. 

Gue cuma mau bilang, ya liburan ini membosankan, nggak kayak liburan pembaca sekalian yang mungkin ada keluar rumah dan hangout sama teman sebaya atau jalan-jalan ke tempat wisata. Tapi inilah liburan ala gue--bahkan mungkin akan terus begini selama gue belum bisa melepas semua kebiasaan ini: melihat keluarga gue setiap hari, bantu mereka meski cuma bisa sesering ini pas liburan, selalu ada untuk mereka, makin tahu mereka. Jujur, itu udah buat gue seneng. Bagi gue, keluarga adalah segalanya. Bahkan rasanya tawaran kerjaan berduit besar akan gue tolak jika itu artinya harus nggak bersama keluarga barang beberapa waktu. 

Btw, fyi, itu jugalah yang buat gue berusaha fokus di kuliah dulu dan nggak kepancing ngelamar ke sana sini. Dari semua kegiatan saat sama-sama kayak gini gue sering mikir, gimana gue ngelepas mereka? Ibu, ade.. Rasanya lebih baik begini dulu sampai benar-benar tiba saatnya gue nyemplung di rutinitas yang namanya "kerja". Ya, pemikiran itulah sayangnya yang justru buat ibu gue gatal nyodorin anaknya ini buat ngelamar ke beberapa lowongan pekerjaan...haha..

Meski cuma di sekitar rumah, seenggaknya ini udah buat gue puas. Puas dekat sama mereka. Puas tahu mereka lebih jauh. Puas bisa jadi yang lebih baik buat mereka. Gue sering nganggap ini (semua kesibukan di waktu liburan gue) sebagai bayaran atas seringnya gue keluar rumah buat organisasi pas SMK dulu. Yah, i think that's worth it. Semua itu setimpal. Nggak tau kenapa, gue juga jadi luar biasa lega sekarang. 

Oke..then, tiba di simpulan. 
Dari Cerita Liburan ini, satu kepala kah kalian kalau cerita macam ini adalah cerita liburan terburuk? 

Yah, itu terserah opini anda masing-masing. Yang jelas, terburuk atau terbaik itu adalah kata sifat, yang tidak bisa berusaha disamakan terhadap seseorang atas sesuatu atau seseorang lagi. Jadi tergantung kita, manusia yang merasakannya. Dan menurut gue, libur kuliah dua bulan lebih ini begitu menyenangkan, bahkan untuk disandingkan dengan pergi ke taman bermain sekalipun. 

Baik atau buruk, tergantung kamu yang menjalaninya. 
Baik atau buruk, tergantung cara kamu melihatnya.


Sekian, dan terima kasih banyak telah membaca sampai selesai tulisan panjang sekalee pertama saya :v 

Take a standing ovation for you :* 

All love, 
Alin Ifa

Minggu, 26 Februari 2017

#SelfQuestion "WIRASWASTA APA MENJADI PEKERJA?"



Sumber gambar: 
Koleksi pribadi buku WIRAUSAHA BERMODAL NOL RUPIAH karya Baban Sarbana



Well, that's ironic one. Tetapi saat beranjak dewasa justru pertanyaan inilah yang bergelayut di kepala kita. Wiraswasta, apa menjadi pekerja? Ada yang memilih wiraswasta dengan alasan dapat membuka lapangan pekerjaan, ada juga yang sebaliknya--dengan alasan enggan ribet ini itu soal membuka badan usaha baru, sertifikasi tempat kerja dan sebagainya. 

Bagi gue, dua pilihan itu sebenarnya sama saja--bisa dijadikan satu subjek yang sama sekali nggak ada bedanya. Wiraswasta didefinisikan secara umum sebagai pekerjaan yang awalnya serabutan, oleh masyarakat kebanyakan. Tapi sebenarnya wiraswasta menurut gue lebih berkaitan ke seseorang yang nggak ingin bergantung ke suatu instansi untuk penghasilan mereka sendiri. Mereka banyak bekerja dikala mereka mau, cuma saat mereka butuh, dan menggunakan brand mereka sendiri. Itu berarti, menjadi wiraswasta membuat kita secara tidak langsung menjadi pekerja untuk kebutuhan kita sendiri, dengan keuntungan yang dibagi sendiri, dinikmati sendiri, karena kita bekerja cuma sendiri. Yah, seperti itulah kira-kira kata "wiraswasta" dalam benak gue. Entah dengan para pembaca sekalian. Mungkin dalam kepala pembaca yang budiman (tinggiin dikit bahasanya, ya, hehehe...), wiraswasta adalah seseorang yang benar-benar membuka lapangan pekerjaan buat orang lain--orang yang mempunyai modal, kemampuan membuat produk baru, berinovasi, mempunyai badan usaha lalu tinggal membutuhkan pekerja. Definisi wiraswasta itulah yang kiranya melekat bahkan sampai ke buku pelajaran Kewirausahaan. Ya, itu--pandangan yang awalnya bikin gue takut setengah mati untuk mencoba berkarier sendiri. Padahal, setelah gue pikir lebih jauh, apa salahnya?

Menurut gue, menjadi wiraswasta termasuk hal yang mengasyikan. Terlebih, gue cewek, yah i mean nggak usah muluk membangun karier karena kaum feminin akan berakhir mengurus anak, suami, dan rumah. Ketika gue sadar fakta itu, gue pikir lebih baik dari sekarang membangun skill untuk berusaha bekerja sendiri, berbisnis sendiri--meski cuma bisa lewat jasa karena itulah satu-satunya "barang jualan" nggak bermodal. Ya, siapa yang butuh uang buat modal bisnis kalau dia sudah punya keahlian tertentu dan bisa menjualnya? Kuncinya cuma mau belajar, itu aja. 

Nah, antara cewek (atau wanita kali ya, biar lebih dewasa dibacanya :v), keluarga, dan pekerjaan memang selalu bertubrukan. Wanita itu makhluk yang susah membagi hati kalau sama-sama mencintai dua hal itu (keluarga dan pekerjaannya). Ketika keduanya bertubrukan di satu urgensi dan waktu yang sama..., bom! That will explode. Yang jelas gue nggak mau jadi ibu dan istri masa depan yang terlanjur workaholic, yang akhirnya nggak memerhatikan suami dan anak. Lain lagi kalau yang pria, nih. Ya...secara harfiah sudah kewajiban kaum lelaki untuk mencari nafkah, entah itu menjadi wiraswasta atau pekerja. Well, yang bisa gue saranin untuk pembaca lelaki (terutama yang punya pasangan "agak gesrek" dalam hal keuangan, belanja, dan lain sebagainya), sebaiknya menjadi pekerja dulu aja. Karena wanita macam itu enggan menemani kalian dalam masa-masa sulit menjadi wiraswasta. Menabung lah dulu. Baru nanti kalau sudah punya modal yang cukup untuk membuka bisnis keluarga, bukalah. Dirikan perusahaan. Jangan bilang itu muluk. Bisa aja itu terjadi karena ibu gue pernah bilang, justru lelaki yang punya resolusi dalam pekerjaannya lah yang (bisa dibilang bakal) membanggakan keluarga. 

(Ps: ini family opinion ya. Damai kalau ada yang nggak berpendapat kayak gitu hhehehe...)

Pada akhirnya, ya, sampai detik ini gue masih yakin buat berusaha menjadi "pekerja sendiri" dengan mengandalkan skill multimedia dan sastra gue. Semoga Allah bantu hajat kita semua dalam mencari rezeki, ya ^^. Oh ya, yang paling penting ingat satu hal: apapun itu, mau menjadi wiraswasta atau pekerja, carilah rezeki yang halal, karena yang haram akan menghasilkan diri dan generasi penyuka perbuatan haram juga. 

"Jadilah orang baik meski melarat, daripada si kaya tapi lupa darat."


All love, 
Alin Ifa

Sabtu, 25 Februari 2017

#SelfQuestion "KENAPA GUE MAU JADI PENULIS?"


Sumber: Dokumentasi Pribadi


Penulis, kata yang tidak asing bagi orang awam sekalipun. Secara harfiah, penulis adalah orang yang menulis (ya iyalah :v). Menulis apa saja. Fiksi, non fiksi, drama--apa saja. Sehari lalu, ibu gue baru aja menyinggung soal ini. Yah, pertanyaannya klise. Pertanyaan itu selalu diajukan setiap kali gue merasa yakin soal ini; menjadi "penulis" (gue pakaikan tanda kutip, karena banyak yang yakin kalau jadi "penulis" nggak sesederhana menjadi penulis).  

Oke, hiraukan kalimat berlibet barusan. Pertanyaan beliau adalah: "Masih yakin sama cita-cita itu?" Maksudnya, penulis. 

Asal kalian tau, saat itu juga gue langsung nelen ludah--ala-ala dihadapkan pada trauma karena nggak kunjung berhasil nembus satupun media atau penerbit buku buat semua cerita gue. Well, jujur, gue pun ragu. Gue mulai ragu dengan cita-cita satu itu. Penulis. Sama halnya pas gue denger dari setiap orang tentang, "Masuk sastra Indonesia? Mau jadi apa?" Ha! Jackpot. Rasanya dua simpulan yang berkaitan dengan studi gue sekarang perlahan bisa-bisa buat gue runtuh usaha disini dan mengiyakan intuisi mereka. Oke, sastra dan penulis, rasanya dua hal yang nggak akan pernah menyejahterakan hidup lo. Salah pilih jurusan lo. 

Yang bisa gue jadikan balasan ke beliau adalah cuma diam, senyum, dan berpikir beberapa resolusi buat tulisan gue (selain ke penerbit, blog, wattpad, atau cuma dinikmati sendiri): entah diupload ke youtube dalam bentuk book trailer, atau menerbitkan secara sendiri di google playbook. Yap. Gue akui, itulah salah satu cara menghindar dari menyerahnya gue di sini; di usaha untuk menjadi penulis. 

Mungkin yang ada di kepalanya adalah sama dengan pemikiran orang kebanyakan tentang profesi itu. Penulis, kaya-nya dia cuma bisa dihitung dari royalti buku. Sementara peminat buku di Indonesia sudah sangat kurang, dan diantara mereka yang mampu malah memilih untuk membaca yang gratis. Yah. Seperti itulah nekatnya gue dan orang lain yang bercita-cita menjadi penulis. Sudah tau peminat buku sedikit, masih coba buat sukses di perbukuan. Kasarnya, bullshit. 

Well, gue akui itu benar. Semua itu benar. Apa untungnya jadi penulis kalau kerjaan cuma nyelesain buku, tanpa tau siapa yang mau membeli? 

Tapi, menurut gue itu terlalu cetek. Kenapa? Karena menulis bukan cuma soal uang. Menulis menurut gue adalah soal membuka pendapat dan wawasan kita kepada orang-orang. Buat gue pribadi yang super duper introvert ini, menulis adalah cara gue berkomunikasi dengan orang-orang. Menulis adalah cara gue biar bisa didengar oleh mereka. Entah lewat tulisan argumentatif seperti ini, atau lewat karya fiksi. Kalau sudah didengar, dihargai, tulisan-tulisan kita selanjutnya bakal dianggap bagus dan bisa jadi beberapa pelaku industri kreatif tertarik menguangkan tulisan kita. See? Uang adalah nomor ke sekian bagi penulis. Malah, menurut gue kalau seorang penulis yang money oriented nggak akan pernah bisa menjangkau hati pembaca dengan tulisannya. 

Jujur aja, sad to hear the truth about this. Ketika orang tersayang kita dan lingkungan nggak kunjung mendukung apa yang kita pengen. Dengan menulis, seandainya mereka tau, gue mau menjangkau dua jalur sekaligus: mencerdaskan dan menghibur secara karya, juga biar bisa menjadikan hobi setengah mampus ini sebagai profesi. Gue pikir apa salahnya? Ya, orang yang bisa jadiin hobi sebagai profesi itu beruntung banget menurut gue. Karena dia bisa menikmati apa yang dia kerjakan. Gue cuma pengen jadi orang itu. Dan selesai. Lihat, bahkan keinginan terbesar gue dalam hidup sama sekali nggak muluk. 

Jadi curhat kayaknya gue di sini.. 

Tapi intinya, gue cuma pengen bilang ke pembaca sekalian yang bercita-cita atau tertarik berprofesi sebagai penulis, supaya tahan banting dengan argumen-argumen menjatuhkan yang mempertanyakan kesejahteraan. Dan kunci utama dari benteng pertahanan diri itu nggak lain dan nggak bukan adalah, dengan mulai menulis. 

Start learning, start thinking, start writing! Be an awesome writer!
Cheers!


All love, 
Alin Ifa