Sumber gambar: Dokumentasi Pribadi
(Inilah sight kamar lama saya ^^)
Okeh, menurut gue postingan ini bakal kerasa sedikit membosankan. Tapi, entahlah ya. Maybe this is the worst story ever. I mean, nggak ada yang asyik dari yang namanya liburan kalau tipe liburannya kayak gue wkwk...
Semakin kesini--seiring semakin bertambah usia dan tingginya pendidikan (halah... :v)--rasanya liburan yang gue punya semakin banyak. Ya, itu bagus, tentu saja buat yang tau gimana caranya nikmati liburan mengasyikan. Yah, itu nggak bekerja sama gue. Liburan kuliah lama (atau tepatnya nyaris dua bulan -_-) nggak membuat gue benar-benar berlibur.
Bagi gue--dan mungkin orang-orang lainnya yang ngerasain ini juga--liburan nggak pernah ada. Makanya setiap kata, Eh, mumpung libur, jalan yuk!, atau yang sejenis dengan itu, gue selalu nggak bisa sembarang membuat janji dengan mengiyakan. Liburan kali ini aja (dari Desember akhir sampai hari ini), udah berapa banyak kesempatan hangout secara langsung ataupun enggak yang gue lewatkan. Entah yang sekadar main kah, atau sampai ke acara organisasi, nggak ada yang gue datangi. Mau tahu apa yang gue lakuin sepanjang liburan yang panjangnya kayak jalan kereta Anyer-Panarukan zamannya Daendles itu? Yakin mau tahu? Oke, berikut beberapa kegiatan yang gue lakuin di liburan ini (yang mungkin bisa kalian jadikan referensi di liburan mendatang :v)
1. Bantu Mamak
Inilah kegiatan paling rutin. Bantu mamak--itu berarti semuanya. Dari mulai nyuci baju, perabot, sampai beres-beres rumah. Yaaa...gue nggak bermaksud pamer kebaikan atau apa. Gue mau ngasih tau aja kepada pembaca sekalian apa yang menarik dari kegiatan satu ini.
Hmmm...yang menarik dari ini adalah... (drururrmrmrmrmdudurummm--marching on!) tentu aja bisa nambah pahala hehe.. Ya, gimana enggak? Asal kita iklas, anggap aja semua bantuan tenaga yang kita tawarkan buat menyelesaikan kerjaan rumah itu sebagai pengganti jam-jam ketidak-bersamaan kita sama orangtua (atau salah satunya, atau sanak keluarga terdekat). Liburan, bagi yang nggak bekerja, adalah saat-saat berdiam diri di rumah. Ya, daripada bosen ngalor-ngidul nggak jelas tanpa asbab dan faedah, mending berdiam diri tapi begerak di rumah, kan? Kalau gue biasanya punya kebiasaan setelah, ketika, atau sebelum serentetan kegiatan berlabel bantu mamak itu. Namanya Curhat Colongan. Atau kalau dalam istilah ibu dan gue itu disebut Ngadu Bako. Nggak tau juga sih artinya apa. Yang jelas pas sesi itu lebih sering diisi sama ibu gue sih wkwk... Soalnya dialah orang yang punya kisah dan pergaulan paling luas diantara anggota keluarga gue. You know lah.. ibu-ibu kalau udah bergaul itu gimana sih? Hehe...
Bagusnya, dari sesi itu banyak yang bisa gue pelajari. Entah dari wejangannya, atau keluh kesahnya. Banyak juga inspirasi yang bisa gue dapatkan dari sana. Well, itulah buktinya kalau bantu-bantu orangtua nggak ada ruginya kan? Selain itu kita juga bakal makin disayang sama Allah :)
2. Tukang Anter
Naah, tukang anter adalah kegiatan gue yang kedua. Kalian tau, begitu bangun (entah jam empat, lima, enam, atau bahkan sepuluh "-_-) rasanya sama sekali bukan merupakan celah buat si nyonya besar alias ibu gue alias si mamakku tersayang, buat nggak ngejelasin jadwalnya secara rinci. Jadwal kemana aja dia pengen dianter, pastinya, haha... Belum beres dari mimpi, pernah satu pagi ibu gue nyamperin gue ke atas (ke kamar gue) dan bilang, Teh, hari ini kita habis nganter ade ke kantor langsung, terus kamu tunggu. Habis itu kita ke rumah dinas nyiapin tempat arisan. Pulang dari si ade, kamu anterin ibu ke arisan. Terus jemput kakak. Nanti jemput ibu lagi terus anterin ibu ke Nenek Zidan mau arisan alma. Dari situ jemput ibu lagi mo kondangan.
Rentetan ucapan itu buat gue sadar sepenuhnya. Seketika gue diingatkan sama jadwal itu yang memang udah dia jelasin sehari--atau bahkan tiga hari (?) sebelumnya. Yah, silakan baca ulang: terbayang kan gimana gue dalam mode tukang nganter ngider ke tempat-tempat itu seharian? Haha... that's something. Belum lagi soal si tengah. Selama gue libur dia benar-benar kontinyu minta dijemput (kadang dianter), atau minta dianterin sesuatu, atau minta dianter beli sesuatu--buat keperluan sekolahnya. Dua orang itu (ibunda dan adik gue), untung aja nggak ada dalam satu usia. Kalau iya, rasanya sama kayak gue ngadepin dua ibu :D. Agak puyeng sih, dan pengen aja gitu satu saat (meski udah pernah sih sebenernya), bilang ke mereka kalau, Please, saya butuh istirahat. Biarin saya nulis, oke? Atau kasih uang biar bisa ke suatu tempat.
PS: yang terakhir itu sebenarnya agak nggak tau diri juga, ya... Yaudah, anggap aja itu sebagai keinginan sisi liar gue ._.
Tapi kalian tahu apa sisi baiknya? Jajan yang benar-benar lebih.
Yap. Tentu saja begitu. Tapi jangan buru-buru nyangka gue minta lebih atau apa. Well, intinya setiap gue perlu A hingga Z selalu ada. Itu udah cukup buat gue anggap sebagai ongkos ojek hehe...
Kenapa gue bilang begitu? Setiap gue nganter dan jemput ibu, ade kedua, ataupun si kecil (ade ketiga), pasti ada aja ucapan, Mau mie? Mau jajan dulu nggak? Mau cilung nggak? Es yuk! Nah, itu rezeki, kan? Datangnya rezeki nggak boleh ditampik. Alhasil, gue kecipratan deh hehe... Alhamdulillaah.
Disamping itu--keuntungan yang berbau materil--sisi bagusnya gue juga banyak kenal orang dan tempat. Yah, meski pernah dianggap sebagai tante-tante Grab sama satpam sekolah sendiri pas nganterin tugas si tengah ke SMP gue dulu, gue bisa berkomunikasi lebih sama orang-orang. Siapa yang nggak setuju kalau itu feedback yang bagus?
3. Asisten Guru SD
Asisten guru SD. Yap, tepat. Sebenernya kegiatan ini nggak gue lakuin hampir di setiap liburan sih. Tapi di liburan ini dia minta tolong, so i helped her out. Dia minta tolong banyak, omong-omong. Dia mengawali aliran rezeki gue dari nyelonong aja ke kamar, ditemenin ibu, manggil gue yang lagi ngeringkuk di atas kasus sambil selimutan karena demam. Ibu yang nggak tau gue sakit, langsung nyuruh gue bangun. Alhasil, si guru SD itu minta tolonglah ke gue. Tahu apa yang dia suruh? Ngitung nilai anak muridnya di lebih dari 5 mata pelajaran. Dan dia bilang secara mendadak kalau perhitungannya harus selesai hari itu juga di jam 10 pagi. Yah, apa boleh buat? Gue kebut lah. Singkirkan selimut, renggangkan kaki, badan, tangan, dan kepala yang masih berat, biar logika gue yang terlanjur ngayal jadi nyampe ngitung semua nilai itu. Well, finally selesai juga di jam 10 kurang dikit. Tapi tapi tapi... saat gue tanyain kapan kerjaan ini mau diambil, dia bilang dengan santainya entar aja. Uhhh...untung ada sebungkus wafer cokelat besar dari dia yang berhasil memperbaiki mood gue. Akhirnya, tugas itu baru dikasihkan besok harinya.
Nggak berhenti sampai di sana, orang itu menyuruh gue lagi dengan tiga tumpuk salinan RPP dan setumpuk buku tebal yang isinya soal-soal ulangan harian plus remedial. Dia.suruh.gue.menyalin. Oke fix. Since i got better, makanya gue terima tugas itu, karena ingat dari suruhan-suruhan dia sebelumnya, dia bakal kasih imbalan yang pantas. Yaaap, right, dari semua tugas itu, alhamdulillaahnya lagi, gue dapat imbalan yang lumayan---selain dapat saran langsung buat jadi guru :/--buat membahagiakan ade-ade dari ancaman "tidak ada jatah" ala ibu wkwk...
Kegiatan inilah kiranya yang akan jadi sumber penghasilan yang lumayan selagi gue dan si guru masih satu lingkungan hehe...
4. Orang Warnet
The next "worst thing" is gue jadi orang warnet dadakan. Dari mulai downloadin video youtube, sampai mencarikan sesuatu di internet. Nggak terlalu banyak memang yang gue dapat disini secara materil. Tapi seenggaknya gue dapat satu hal berharga: bahwa lebih banyak keunikan yang dimiliki orang terhadap spesifikasi sifat-sikap masing-masing. Gue menyadari itu selama menjalani kegiatan ini. Banyak pengalaman yang para karakter itu bagi juga. Akhirnya, semua yang gue dapat baik secara nggak langsung ataupun langsung, akan diaplikasikan juga ke beberapa tulisan fiksi gue.
Kebetulan, diantara mereka ada yang mempunyai kisah yang benar-benar baru buat gue. Istilahnya kayak, Oh..ada juga ya orang kayak si A.. Oh, ada juga ya kisah kayak gini di kehidupan nyata... Ya, kira-kira seperti itulah yang gue pikirkan ketika berhasil mencerna karakter mereka. It's weird sometimes, tapi bagusnya gue jadi tau apa yang sebaiknya gue lakuin ketika karakter seperti mereka muncul lebih banyak di dalam hidup gue ke depannya.
5. Ngayal
Yeaaay! This is the best thing. Ya ngayal, seperti kebiasaan bengong mendadak di kamar mandi atau pas nyampe kamar (tentu bukan benar-benar "bengong" dengan tatapan kosong yang menyeramkan itu ya :v). Gue suka banget kegiatan ini. Inilah saat dimana temuan baru gue dalam sembilan kegiatan lainnya (dalam post ini), diaplikasikan. Setelah ngayal, gue nggak selalu nulis. I'll keep it first in mind. Gue simpan dulu itu di kepala, karena aplikasinya sendiri sengaja nggak dalam cerita atau tulisan yang benar-benar "baru". Ada dua proyek yang lagi gue kerjain (fanfict dan novel), nah gue selipkan lah beberapa karakter unik di sekitar gue ke sana. Gue akui, itu menyenangkan. Maksud gue, ketika memikirkan apa yang si karakter A lakukan dengan hidupnya, membuat kita merasa bisa menguasai atau mengatur hidup orang lain.
Ya, perasaan itu memang baru muncul ketika gue sudah berhasil menuliskannya ke dalam sebuah tulisan jadi yang cukup matang (seenggaknya menurut gue). Tapi yah, ada rasa puas tersendiri setelah bisa menyimpulkan. Bahasa lembutnya, kegiatan ini bisa jadi kalian sebut juga dengan muhasabah--karena nggak jarang (buat gue) kegiatan ini berakhir dengan memikirkan seberapa banyak keiklasan yang gue tebar sepanjang berperilaku di hari ini. Entah dengan kalian.
6. Nonton
Nah, ini hal terbaik kedua. Jujur, gue punya stok film yang cukup bervariasi di laptop. Jadi nggak jarang kalau gue sudah selesai dengan semuanya (nganter, kerjaan rumah, dan tugas pesanan), gue malah mengkolkan kursor ke folder "BIOSKOP" yang ada di laptop. Setelah itu terjadi, nggak jarang panggilan makanpun gue acuhkan wkwkw...
Kalau kalian mau tau, gue punya film dari mulai 21 Jump Street (film komedi tentang dua polisi bodoh yang nyamar jadi siswa SMU buat nangkap pengedar narkoba), sampai Habibie dan Ainun. Selain itu, yaa... gue ngaku kalau di laptop ada kesembilan seri Fast Furious. Yang bintangnya Paul Walker itu, Vin Diesel? Dominic Toretto? Brian? Oke, pasti pembaca pada kenal mereka, kan? Menurut Wiki, film itu nggak cuma ada 7 (sejauh yang ditayangkan di bioskop dunia), tapi ada sembilan, yaitu termasuk Turbo Charger Prelude (film pendek intro 2 Fast 2 Furious), dan Los Bandoleros (film pendek intro Fast 4/Fast Furious). Gue denger-denger sih ada satu lagi, yaitu film intro masuknya Han Seoul Oh ke tim Dom. Tapi entah ada dimana. Di bank filmnya Mbah Google, gue cuma nemu sampai 9 (7 diantaranya gue minta, 2 film pendek itu barulah gue download sendiri wkwk)
Ah, mungkin diantara kalian ada yang langsung berpikiran, Kurang kerjaan banget. Ngapain ngoleksi film selengkap itu? Well, gue mengaku, penasaran sama motivasi mereka memproduksi film berseri seperti itu dengan alur cerita yang justru membuat si protagonist berlaku jahat. Ya, siapa yang nggak tau kalau Dom, yang dikenal sebagai bos jalanan dan menemukan ajang balap gurun Race Wars, justru sangat menyayangi keluarga dan bisa dibilang akan ngelakuin apapun hanya supaya keluarganya bahagia? Dan hal kedua, jujur gue pengen sekali-kali ada film Indonesia yang bisa sampai sebesar itu. Kalau ada, mungkin seri film itu adalah film kedua yang gue koleksi dengan lengkap setelah Fast Furious. Honest, i'm enjoy watching those guys that so fit on the movie. Perkembangan karakternya makin terasa dari film ke film. Di April 2017 nanti, film ke delapannya (atau yang ke sepuluh), akan ada. Dilihat dari trailer, Dom berubah jadi jahat. Nah, gue makin penasaran sama motivasinya. Haha... Kalau kata review orang luar, kayak nonton Optimus Prime di cerita Transformers. Gue jadi pengen tau yang sebenarnya dengan nonton langsung nanti :D Semoga aja disiarin di bioskop Indo.
Well, oke cukup promosi filmnya. Masih banyak hal yang pengen gue tulis disini menjelang jam-jam terakhir hari libur gue #eak
Omong-omong soal Nonton Film, film yang paling sering gue tonton adalah ini:
Diantara yang banyak itu, cuma segitu yang sering gue tonton buat dijadikan inspirasi. Mungkin kalian secara nggak langsung bisa menilai gue hehe....
7. Buka IG
Mulai dari ngayal, sampai kegiatan terakhir adalah kegiatan yang paling menjadi sumber inspirasi. Termasuk ini: Buka IG. Gue nggak bisa bilang kalau jarang ngepost di akun satu itu. Tapi ya, kalau lagi nggak ada yang bisa dipost (entah soal kerjaan atau kuliah), gue cuma menjelajah jejaring penyebar selfie itu dengan malas. Ujung-ujungnya, gue nyangkut ke beberapa meme bola atau akun mitos-kejiwaan (karena kebetulan gue lagi ngerjain novel yang berkaitan dengan itu sekarang). Overall, nggak ada yang terlalu asik sih dari sana. Sisi negatifnya seringkali gue jadi kecanduan (tapi untungnya nggak sampai tuli sama adzan hehe..) Tapi sisi bagusnya, tentu saja gue bisa lebih banyak, lagi, lagi, dan lagi, belajar. Buka IG, atau jejaring sosial apapun itu, nggak selalu berarti negatif, kalau kita bisa menyaring apa yang kita buka, kok. ;-)
8. Tidur
Here it is... Kegiatan ini adalah kegiatan yang paling berguna setelah ibadah, makan, dan bantu orang tua. Yah, meski gue sering menghabiskan malam dengan tidur setengah dua pagi, terus bangun lagi jam 5, dan lanjut lagi tidur sampai jam 7 terus bangun lagi buat kerjain kerjaan rumah dan mulai aktivitas, gue akui tidur adalah salah satu sumber inspirasi juga. Banyak mimpi diantara tidur gue yang gue wujudkan kejadiannya ke dalam cerita.
Ada satu, sih, tapi bukan di liburan ini. Pas liburan semester satu lalu, kalo nggak salah. Gue mimpi opening film aksi gitu. Eh...dua bulan kemudian skripnya jadi wkwk...
Ehm...tapi satu itu tayang di kepala gue doang sih, belum berani serahin ke PH soalnya hehe... Doain aja suatu saat ada yang nyangkut :)
9. Makan
Gue bakal sebut kegiatan satu ini, over limit. Sepanjang liburan bisa dibilang gue nggak berhenti makan. Memang, meski sering telat makan pagi, tapi justru setengah jam kemudian udah ada aja yang gue makan (entah nasi lagi pakai telur, mie, atau lauk yang ada). Nggak tau kenapa nafsu makan gue melunjak semenjak libur, haha... Tapi untungnya gue udah nggak minum obat penyetabil imun itu (FYI, gue sempet divonis Anemia Hemolitik dan suruh minum obat itu buat biar imunnya nggak bertingkah ke Hemoglobin gue). Obat itu bikin pipi gue bulat selama pengobatan. Ya, nggak kebayang deh kalau sampai sekarang gue masih minum obat itu dibarengi sama makan yang nggak kenal waktu, tempat, dan lauk.
Btw, inilah di pipi bakpao itu (kalau kata temen-temen gue) :v
Dokumentasi pribadi
Saat pipi bakpao (Gue yang kerudung hitam di tengah-tengah dua kerudung ungu)
Yang ungu sebelah kanan kalian itu ibu gue, sementara di kiri itu temen si kecil, Denis.
Nah di Denis itu yang satu-satunya kerudung putih. Itu foto pas kita habis mendongeng buat tugas kampus gue hehe...
10. Jajan
And theen, the last activity in my loooong holiday is jajan. Makan juga sih, sebenernya. Tapi ya...karena ini bukan makan nasi, jadi gue pisahin kategorinya haha..
Gue nggak menjunjung semboyan Tiada hari tanpa jajan, sih... Tetap ada aja hari dimana kami sekeluarga nggak jajan (cuma makan di rumah aja). Tapi inilah kegiatan terseru terakhir. Karena saat jajan, adalah saat dimana gue nggak mesti keluar buat beli sesuatu. I mean, i have two sisters, jadi kenapa enggak gue gunain mereka buat pergi-pergian dekat sementara mereka sendiri suka nyuruh gue nganter pergi-pergian jauh? wkwk.. Meski terkesan balas dendam, tapi menyenangkan, jujur saja.
Yah, gue sudahi saja kali ya..karena udah kepanjangan juga, hehe.. Maklum, judul post kali ini adalah Curhat Session. Jadi, ya...bisa dibilang, gue tumpahin unek-unek sepanjang liburan, di sini.
Gue cuma mau bilang, ya liburan ini membosankan, nggak kayak liburan pembaca sekalian yang mungkin ada keluar rumah dan hangout sama teman sebaya atau jalan-jalan ke tempat wisata. Tapi inilah liburan ala gue--bahkan mungkin akan terus begini selama gue belum bisa melepas semua kebiasaan ini: melihat keluarga gue setiap hari, bantu mereka meski cuma bisa sesering ini pas liburan, selalu ada untuk mereka, makin tahu mereka. Jujur, itu udah buat gue seneng. Bagi gue, keluarga adalah segalanya. Bahkan rasanya tawaran kerjaan berduit besar akan gue tolak jika itu artinya harus nggak bersama keluarga barang beberapa waktu.
Btw, fyi, itu jugalah yang buat gue berusaha fokus di kuliah dulu dan nggak kepancing ngelamar ke sana sini. Dari semua kegiatan saat sama-sama kayak gini gue sering mikir, gimana gue ngelepas mereka? Ibu, ade.. Rasanya lebih baik begini dulu sampai benar-benar tiba saatnya gue nyemplung di rutinitas yang namanya "kerja". Ya, pemikiran itulah sayangnya yang justru buat ibu gue gatal nyodorin anaknya ini buat ngelamar ke beberapa lowongan pekerjaan...haha..
Meski cuma di sekitar rumah, seenggaknya ini udah buat gue puas. Puas dekat sama mereka. Puas tahu mereka lebih jauh. Puas bisa jadi yang lebih baik buat mereka. Gue sering nganggap ini (semua kesibukan di waktu liburan gue) sebagai bayaran atas seringnya gue keluar rumah buat organisasi pas SMK dulu. Yah, i think that's worth it. Semua itu setimpal. Nggak tau kenapa, gue juga jadi luar biasa lega sekarang.
Oke..then, tiba di simpulan.
Dari Cerita Liburan ini, satu kepala kah kalian kalau cerita macam ini adalah cerita liburan terburuk?
Yah, itu terserah opini anda masing-masing. Yang jelas, terburuk atau terbaik itu adalah kata sifat, yang tidak bisa berusaha disamakan terhadap seseorang atas sesuatu atau seseorang lagi. Jadi tergantung kita, manusia yang merasakannya. Dan menurut gue, libur kuliah dua bulan lebih ini begitu menyenangkan, bahkan untuk disandingkan dengan pergi ke taman bermain sekalipun.
Baik atau buruk, tergantung kamu yang menjalaninya.
Baik atau buruk, tergantung cara kamu melihatnya.
Sekian, dan terima kasih banyak telah membaca sampai selesai tulisan panjang sekalee pertama saya :v
Take a standing ovation for you :*
All love,
Alin Ifa