Sumber gambar: PRIBADI
Siapa yang tahu, kegiatan yang sangat erat hubungannya dengan belajar justru bermanfaat dan jitu untuk mengusir penat setelah beraktifitas seharian?
Di sinilah aspek artistik sebuah lamunan panjang tentang kepenatan. Semua orang pernah stress, penat, ingin keluar dari rutinitas. Gue pun mengalami hal yang sama. Rasanya begitu diingatkan oleh tugas A sampai Z yang menanti, ingin keluar atau teriak saja di semua telinga si pemberi. Tapi kalau sudah tanggungjawab, kepenatan itu mesti dijalani. Mau gimana lagi, kan?--kasarnya, itu sudah jadi takdir yang tidak bisa dielakan. Karena itulah yang paling kita cari saat ini adalah bagaimana caranya refreshing. Survey pencarian (meski bukan dari mbah google), bentuk refreshing yang dicari adalah refreshing yang low budget.
Apa lagi kalau bukan menulis? Ya. Kegiatan seperti berhadapan dengan pena dan kertas atau buku, laptop, bahkan apapun yang bisa menjadi alat dan media menulis.
Dilihat dari satu sisi, kegiatan satu itu seolah tidak berefek untuk menghilangkan penat. Banyak dari kita yang memilih langsung terbenam di dalam kasur dan bermimpi indah. Atau yang paling mudahnya, mendengarkan musik, menonton film, dan kegiatan menghibur lainnya. Itu benar. Itu semua adalah kegiatan untuk menghilangkan penat, merefresh otak setelah seharian beraktifitas. Tapi menurut gue, menulis adalah salah satu kegiatan refreshing yang patut dicoba.
Mungkin di antara kita banyak yang sudah tahu dan mengenal buku diary atau catatan harian. Apa salahnya kebiasaan menulis di diary itu diteruskan, kan? Selain bisa mengeluarkan unek-unek yang bebas ghibah (hehehe...), kita juga mempunyai media yang dapat merefleksi diri.
Banyak hal yang akan kita dapat dari mulai menulis untuk refreshing. Kalau gue lebih menyarankan (termasuk sering ngelakuin juga), menulis fiksi seperti novel, cerpen, dan puisi aja. Alasannya sebenarnya gampang: lebih leluasa memuntahkan unek-unek dalam bentuk teks fiksi daripada ilmiah. Ilmiah itu kan berisi ilmu-ilmu dan teori-teori. Kalau curhat dalam versi ilmiah, bisa-bisa tambah stress, kan? XD
That's why i prefer to write some fiction.
Cobalah dengan setiap malam atau di waktu santai mengambil ATK/Laptop/Komputer. Di sana, pikirkan hal pertama yang membuat kamu amat kesal hari ini. Setelah ketemu (gue seringkali) mulai dengan menulis sesuatu yang tidak jelas. Lama kelamaan, itu sering buat gue lega.
Nah, marilah beranjak ke menulis beberapa kalimat jelas. Di antara pembaca sekalian pasti pernah kan membaca novel, cerpen, atau puisi? Cobalah membayangkan menjadi salah satu tokoh yang kalian suka, ingin punya hari yang seperti apa, atau kagum dengan kehidupan seperti apa. Mulailah menulis berdasarkan itu. Awal tulisan kalian bisa berupa harapan-harapan atau sekadar tanda baca "!" "?" besar-besar. Lama kelamaan, seiring kebiasaan menulis yang semakin berkembang, begitu juga dengan karangan kalian. Siapa yang tahu kalau suatu saat karangan itu bernilai jual? Kalau kata dosen gue, jangan berhenti menulis di buku diare. Siapa tahu suatu saat kita berminat terjun ke dunia kepenulisan (menjadi penulis profesional, misalnya?). Ya, tidak ada yang salah dengan itu.
Well, dengan opini "bernilai jual" barusan, gue bukan bermaksud membujuk pembaca sekalian untuk bersikap matrealis atau apapun. Tapi itu benar. I mean, daripada kita mengakhiri hari dengan menulis caci-maki-curhat-ga-guna di sosial media atau bersikap buruk ke semua orang rumah karena hari yang tidak mengenakan, lebih baik menuangkan semua unek-unek itu dengan menulis sesuatu yang berguna. Seperti buku motivasi, misalnya? Atau fiksi ala Raditya Dika (yang menceritakan kehidupan sendiri--meski itu aib :D). Dua-duanya punya manfaat tersendiri, yang jelas. Yah, menilik dari argumen-argumen sederhana itu, itulah kenapa gue pribadi memilih bermain kata di akhir hari. Sampai saat ini, kebiasaan itu berguna buat meghilangkan stress di wajah gue yang rata-rata ini (halah ._.)
Tapi sebenarnya kuncinya dari diri kita sendiri. As a wonderful person, mulailah berpikir meluas dan melingkar kepada setiap unek-unek yang mengganjal di hati. Pasti pernah mendengar kan ungkapan "Allah tidak akan memberi cobaan melebihi kemampuan makhluknya". Positif saja, walau punya hari yang negatif. Mulailah berpikir mengenai alasan. Lalu sebarkan semangat berpikir meluas dan melingkar itu melalui tulisan-tulisan kamu ^^
Membaca adalah jembatan ilmu. Menulis adalah cara menyampaikan ilmu.
Ilmu dapat didefinisikan dalam berbagai paham. Dari mulai teoritis hingga ilmu sehari-hari seperti soal bagaimana menerima tamu. Maka dari itu, menuangkan unek-unekmu jadi bacaan berilmu (meski itu bentuk curhatan). Orang-orang yang suka membaca (khususnya cerita), selain akan terhibur, pasti lama kelamaan juga akan terinspirasi (atau bahkan mencoba menghindari sikap tertentu yang kamu tulis).
Gue tidak akan bilang kalau setiap coretan kalian pasti ditanggapi demikian. Tapi, siapa yang tahu? Contohnya saja pada film The Fault in Our Stars. Di sana Hazel terinspirasi dan menyukai buku Peter Van Houten yang berjudul Imperial Affliction (entah benar atau salah ini judulnya ya "^_^ ) Gara-gara membaca buku itu Hazel jadi mempunyai semangat hidup lagi di tengah kanker yang tidak bisa sembuh. Atau, terdekatnya kita bisa contoh Raditya Dika, dengan Kambing Jantannya. Jujur gue belum pernah baca bukunya. Tapi dengan jadi buku yang difilmkan, dan hasilnya menghibur, itulah bukti kalau sebuah curhatan harian bisa menjadi hal yang luar biasa bermanfaat (dibanding menumpahkannya ke kegiatan sia-sia).
Dua contoh kecil di atas mungkin saja membuat pembaca sekalian berpikir lagi untuk menolak mulai menulis. Menulis? Kenapa enggak? Jangan ragu mencoret sepatah-atau dua patah kata di atas kertas. Selain untuk merefresh otak dan menghibur diri kita sendiri dengan pikiran, Eeeh, ya Allah, alay banget sih gue dulu, atau Dulu gue pernah suka sama dia ya?, atau Haha... kangen ih.. --- menulis menurut gue juga jadi cara terhebat untuk mendongengkan kisah kita nanti kepada anak-cucu. Tentu itu akan mendorong kita berlaku terbaik supaya mempunyai kisah terbaik yang membuat kerabat dan keluarga bangga telah mengenal kita :).
Jadi, tunggu apa lagi?
Kapan kamu mulai menulis?
All love,
Alin Ifa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar