Minggu, 26 Februari 2017

#SelfQuestion "WIRASWASTA APA MENJADI PEKERJA?"



Sumber gambar: 
Koleksi pribadi buku WIRAUSAHA BERMODAL NOL RUPIAH karya Baban Sarbana



Well, that's ironic one. Tetapi saat beranjak dewasa justru pertanyaan inilah yang bergelayut di kepala kita. Wiraswasta, apa menjadi pekerja? Ada yang memilih wiraswasta dengan alasan dapat membuka lapangan pekerjaan, ada juga yang sebaliknya--dengan alasan enggan ribet ini itu soal membuka badan usaha baru, sertifikasi tempat kerja dan sebagainya. 

Bagi gue, dua pilihan itu sebenarnya sama saja--bisa dijadikan satu subjek yang sama sekali nggak ada bedanya. Wiraswasta didefinisikan secara umum sebagai pekerjaan yang awalnya serabutan, oleh masyarakat kebanyakan. Tapi sebenarnya wiraswasta menurut gue lebih berkaitan ke seseorang yang nggak ingin bergantung ke suatu instansi untuk penghasilan mereka sendiri. Mereka banyak bekerja dikala mereka mau, cuma saat mereka butuh, dan menggunakan brand mereka sendiri. Itu berarti, menjadi wiraswasta membuat kita secara tidak langsung menjadi pekerja untuk kebutuhan kita sendiri, dengan keuntungan yang dibagi sendiri, dinikmati sendiri, karena kita bekerja cuma sendiri. Yah, seperti itulah kira-kira kata "wiraswasta" dalam benak gue. Entah dengan para pembaca sekalian. Mungkin dalam kepala pembaca yang budiman (tinggiin dikit bahasanya, ya, hehehe...), wiraswasta adalah seseorang yang benar-benar membuka lapangan pekerjaan buat orang lain--orang yang mempunyai modal, kemampuan membuat produk baru, berinovasi, mempunyai badan usaha lalu tinggal membutuhkan pekerja. Definisi wiraswasta itulah yang kiranya melekat bahkan sampai ke buku pelajaran Kewirausahaan. Ya, itu--pandangan yang awalnya bikin gue takut setengah mati untuk mencoba berkarier sendiri. Padahal, setelah gue pikir lebih jauh, apa salahnya?

Menurut gue, menjadi wiraswasta termasuk hal yang mengasyikan. Terlebih, gue cewek, yah i mean nggak usah muluk membangun karier karena kaum feminin akan berakhir mengurus anak, suami, dan rumah. Ketika gue sadar fakta itu, gue pikir lebih baik dari sekarang membangun skill untuk berusaha bekerja sendiri, berbisnis sendiri--meski cuma bisa lewat jasa karena itulah satu-satunya "barang jualan" nggak bermodal. Ya, siapa yang butuh uang buat modal bisnis kalau dia sudah punya keahlian tertentu dan bisa menjualnya? Kuncinya cuma mau belajar, itu aja. 

Nah, antara cewek (atau wanita kali ya, biar lebih dewasa dibacanya :v), keluarga, dan pekerjaan memang selalu bertubrukan. Wanita itu makhluk yang susah membagi hati kalau sama-sama mencintai dua hal itu (keluarga dan pekerjaannya). Ketika keduanya bertubrukan di satu urgensi dan waktu yang sama..., bom! That will explode. Yang jelas gue nggak mau jadi ibu dan istri masa depan yang terlanjur workaholic, yang akhirnya nggak memerhatikan suami dan anak. Lain lagi kalau yang pria, nih. Ya...secara harfiah sudah kewajiban kaum lelaki untuk mencari nafkah, entah itu menjadi wiraswasta atau pekerja. Well, yang bisa gue saranin untuk pembaca lelaki (terutama yang punya pasangan "agak gesrek" dalam hal keuangan, belanja, dan lain sebagainya), sebaiknya menjadi pekerja dulu aja. Karena wanita macam itu enggan menemani kalian dalam masa-masa sulit menjadi wiraswasta. Menabung lah dulu. Baru nanti kalau sudah punya modal yang cukup untuk membuka bisnis keluarga, bukalah. Dirikan perusahaan. Jangan bilang itu muluk. Bisa aja itu terjadi karena ibu gue pernah bilang, justru lelaki yang punya resolusi dalam pekerjaannya lah yang (bisa dibilang bakal) membanggakan keluarga. 

(Ps: ini family opinion ya. Damai kalau ada yang nggak berpendapat kayak gitu hhehehe...)

Pada akhirnya, ya, sampai detik ini gue masih yakin buat berusaha menjadi "pekerja sendiri" dengan mengandalkan skill multimedia dan sastra gue. Semoga Allah bantu hajat kita semua dalam mencari rezeki, ya ^^. Oh ya, yang paling penting ingat satu hal: apapun itu, mau menjadi wiraswasta atau pekerja, carilah rezeki yang halal, karena yang haram akan menghasilkan diri dan generasi penyuka perbuatan haram juga. 

"Jadilah orang baik meski melarat, daripada si kaya tapi lupa darat."


All love, 
Alin Ifa

1 komentar:

  1. Itulah makanya ada omongan "Keluarga awal dari pembangunan karakter" wkwk... Btw, makasih sudah mampir 😀😊

    BalasHapus