CERMIN
Karya: Alin Ifa
DIA selalu bilang, sesekali lihatlah cermin.
Katanya, dalam cermin, aku bisa menemukan diriku yang sebenarnya. Katanya,
dalam cermin, aku bisa menemukan rasa percaya itu lagi. Katanya dalam cermin,
aku sama sekali bukanlah aku yang di dunia nyata. Semua katanya itu bak sugesti
yang terus menghantuiku jika bertemu dengan cermin. Dulu, iya, aku pernah
menemukan itu. Aku pernah bahagia bersama itu. Namun sekarang, tidak lagi.
Sejak dia tak ada, aku tidak pernah lagi menemukan apa yang dia bilang saat
menatap diri sendiri ke dalam cermin.
Aku hanya
menemukan diriku yang biasa dilihat rendah dan diremehkan orang. Ketika di depanku ada kaca yang berisi wujud diriku
sendiri, aku hanya bisa mendefinisikan wujud itu dengan kehitaman, kekuntetan,
dan kekriboan. Aku tanya, apa yang bagus dari semua itu? Tidak ada. Ya, tepat.
Tidak ada.
Lama kelamaan,
setelah sekian kali menghadapi simpulan yang sama tentang cermin vs diriku, aku
muak. Ya, jujur aku muak. Selain masih tidak menemukan apa yang dia katakan,
aku semakin jijik kepada diriku sendiri. Suara-suara ejekan yang juga masih dan
makin banyak bersahutan itu menambah kejijikanku. Odel si hitam! Odel si
kribo! Wah, si kuntet datang juga! Huh, ingin rasanya aku meninju mereka sambil
berkata Ya, aku hitam! Aku kribo dan pendek! Tapi itu lebih baik daripada
kalian yang cantik dan tampan tapi tidak punya hati! Ya percayalah, aku ingin,
kalau aku bisa. Sayangnya; sama sekali tidak. Tanpanya, aku seakan tak punya
meski setitik saja keberanian untuk menghadapi mereka.
Kalian
bertanya-tanya siapa yang kumaksud ‘dia’? Kalian bertanya mengapa aku begitu
ketergantungan padanya? Akan kukisahkan secara singkat di sini.
“Aku mau
merantau,”
Waktu itu ia
terkejut mendengar keinginanku. Saking terkejutnya, keindahan hamparan bukit di
hadapan kami tak lagi ia hiraukan. Wajah itu menghadap padaku dengan alis
berkerut. Kala itu, aku tak mengerti mengapa dia bertanggap begitu, karena yang
kutahu dari ceritanya, tempat asalnya tak kalah indah dengan tempat ini. Ya,
dia sempat bercerita beberapa kali tentang kampungnya. Kampungnya adalah tempat
kecanggihan teknologi dan alat transportasi. Tidak seperti di kampungku yang
masih sangat konvensional.
“Aku mau ikut
kamu. Boleh? Di kota sepertinya asyik.”
Dia menghela
menjawabku. Pandangannya beralih tatap kepada matahari di hadapan kami yang
masih berpijar meski redup. Tetapi setelah itu tidak ada balasan apa-apa
darinya.
“Boleh, tak?”
“Jayapura juga
kota, kok.”
Begitulah ia,
selalu membuat jawaban menghindar tentang itu. Bukan sekali aku menanyakan
kepadanya tentang kampungnya yang canggih itu. Sudah ribuan kali, bahkan,
semenjak dia menetap di kampungku sebagai pengajar sukarela. Sekali waktu,
malahan dia sama sekali tidak menjawabku atau mengalihkan pertanyaan itu ke hal
lain.
“Aku ingin
mengetahui Indonesia, di luar Papua, biar bisa aku buat cerita dan dibagikan ke
adek-adek untuk dibaca. Ayolah, ajak aku! Sebentar lagi kan kamu pulang. Aku
ikut sebentar saja.”
Dan dia hanya
diam membalasku. Sampai matahari benar-benar terbenam ke balik bukit, heninglah
yang jadi selimut kami.
Namun tak lama,
ia mengajakku beranjak. Saat itulah dia mengatakan jawaban yang kuinginkan.
*
Aku masih ingat
betul, tatapan-tatapan tidak suka itu menyerangku setibanya kami di lingkungan
kontrakannya. Dia beramah-tamah, mengenalkanku kepada semua orang terdekat dari
kontrakannya di kota. Mereka merespon ramah kepadanya, tapi tidak kepadaku.
Seketika, saat itu, aku menciut, tak bernyali lagi menatap mereka dengan
tatapan yang sama ramah dengannya. Akhirnya, demi kesopanan, aku mengikutinya
saja.
Satu celetukan
pendek menyalip telingaku hingga rasa menyesal karena sempat memohon-mohon ikut
ke mari timbul begitu saja.
“Kok Dre mau
yah sama yang begituan? Pantesnya jadi jongosnya, bukan pacarnya.”
Sejak itu aku
setengah hati berada di kota ini. Bahkan aku mengaku, rasanya aku telah
setengah hati kepada semuanya. Mereka—semua orang yang berpapasan denganku—sama
sekali tidak sepertiku. Tidak ada, malah. Perbedaan ini seketika membuatku tahu
mereka telah terbiasa mendiskriminasi, mencemooh, dan menumbuhkan sikap tidak
suka yang tak beralasan. Sampai satu hari, ada titik aku muak dengan semua
tatapan bernada seperti yang kumaksud; si jelek, kribo, kuntet, dan
semacamnya.
“Aku mau pulang
saja. Kamu benar, lebih baik di Jayapura.”
Dia hanya diam
menanggapinya di pintu kamarku. Dari sudut mata, aku bisa melihat tangannya
bersedekap santai menanggapiku.
“Jangan
khawatir soal tiket pulang. Aku ada tabungan.”
Lagi, reaksi
stagnan yang masih ia tunjukan. Sampai aku berlalu dari pintu kamar, barulah
tangan kokoh itu mencegahku. Dia menarik ujung leher kaosku.
“Aku tahu,”
“Tapi sebentar dulu.”
Ketika itu, aku
tidak menanggapinya selain diam di tempat. Aku membatu menyaksikannya mengambil
sesuatu dari lemari. Kaca.
“Ini cermin,”
“Sesekali kamu lihatlah cermin.”
Seakan sebuah
perintah, aku menurut saja kepadanya. Aku hanya melihat definisi yang mereka
bilang; kuntet, kribo, hitam. Aku sungguh tidak mengerti maksudnya, maka
hanya mengangkat wajah lah yang kulakukan.
“Apa yang kamu
lihat?”
Hal yang sama. Tadinya aku bisa saja menjawabnya begitu. Tetapi aku tahu bukan itu yang
ia butuhkan. Jawaban baik itu terasa mustahil melekat pada diriku, bila orang
sini yang melontarkannya.
Aku menepisnya.
Masih sangat ingat, waktu itu aku mengacuhkannya dengan terus berjalan ke pintu
ke luar. Dan yang terjadi adalah, dia menahanku dan membungkamku dengan
beberapa baris ucapan telak.
“Jadi segitu
saja mental penjelajah anak Papua?! Aku kira semua petualangan yang adek-adek
bikin juga terjadi padamu! Ternyata tidak! Mau pulang? Silakan! Pulang saja!”
“Biar adek-adekmu tahu kalau kakaknya tak seberani itu, kalau kakaknya hanya
takluk dengan omongan orang, kalau kakaknya tidak lagi seorang Odelia yang
pandai, ceria, dan menyenangkan!”
Aku membeku.
Ketika itu ingatanku terlempar jauh ke masa menikmatinya mengajar adek-adek di
kampungku. Teringat semua senyum mereka, tertawa mereka bersama kami, juga petualangan-petualangan
kecil kami mendaki bukit, menyusuri sungai, bahkan berguling bersama di tepi
pantai, membuat mataku memanas. Aku tersadar seketika. Mereka lah alasanku
berani ke mari. Ya, mereka.
“Dengar, Del...
Mungkin di sini kamu berbeda, bahkan bisa jadi satu-satunya. Tetapi untuk
itulah kamu di sini. Kamu di sini sebagai pembeda yang menunjukan kepada
mereka, kalau keindahan tidak mesti hanya berbentuk fisik. Kamu; dengan hati
kamu, sifat kamu, sikap kamu, sudah bisa memenangkan hati mereka. Jangan pernah
melihat diri kamu dan semua orang hanya dari satu sisi, Del.”
Sementara aku
terpana, tersadarkan oleh semua ucapannya, ia mengangkat cermin yang tadi.
“Lihat ke mari.
Kamu bukan Odelia yang hitam, pendek, jelek, atau julukan buruk rupa lainnya,”
Pandanganku
berubah mendelik kepadanya saat kalimat pembuka itu terucap.
“Tapi kamu
adalah Odelia yang percaya diri, ceria, menyenangkan, pandai, dan bisa menjadi
contoh buat semua orang mewakili anak Papua. Kamu, bukan Odel si buruk rupa.
Tatap cermin ini. Lihat diri kamu yang sebenarnya. Kamu lebih dari apa yang semua
orang bilang.”
Ia memupuk
kepercayaan diriku. Sejak saat itu kami melalui hari di kota dengan bahagia dan
menyenangkan. Aku menikmati kemudahan teknologi dan transportasi, sementara dia
melanjutkan studi S2 Sastra Indonesianya. Lalu tak lama, studi itu terselesaikan.
Tetapi, tahukah
kalian; dengan itu, selesai pula hidup kami. Tepat setelah kelulusan, sosok
yang mengenalkanku pada cermin dan berpikir dengan bermacam cara itu, hilang
ditelan takdir.
HARIAN KAMPUS 11 Desember 2016
Kecelakaan tunggal yang melibatkan master bahasa, Dre Ardiansyah, terjadi
pada sore hari (10/12) waktu setempat. Korban tewas di tempat setelah motor
yang ditungganginya melaju dengan kencang dan kehilangan kendali hingga
melompat ke sungai. Jasadnya belum ditemukan hingga berita ini diturunkan. (**)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar