Rabu, 11 Januari 2017

#SESI BERCERITA => CERITA PENDEK "CERMIN"


CERMIN
Karya: Alin Ifa 



DIA selalu bilang, sesekali lihatlah cermin. Katanya, dalam cermin, aku bisa menemukan diriku yang sebenarnya. Katanya, dalam cermin, aku bisa menemukan rasa percaya itu lagi. Katanya dalam cermin, aku sama sekali bukanlah aku yang di dunia nyata. Semua katanya itu bak sugesti yang terus menghantuiku jika bertemu dengan cermin. Dulu, iya, aku pernah menemukan itu. Aku pernah bahagia bersama itu. Namun sekarang, tidak lagi. Sejak dia tak ada, aku tidak pernah lagi menemukan apa yang dia bilang saat menatap diri sendiri ke dalam cermin.
Aku hanya menemukan diriku yang biasa dilihat rendah dan diremehkan orang. Ketika di  depanku ada kaca yang berisi wujud diriku sendiri, aku hanya bisa mendefinisikan wujud itu dengan kehitaman, kekuntetan, dan kekriboan. Aku tanya, apa yang bagus dari semua itu? Tidak ada. Ya, tepat. Tidak ada.
Lama kelamaan, setelah sekian kali menghadapi simpulan yang sama tentang cermin vs diriku, aku muak. Ya, jujur aku muak. Selain masih tidak menemukan apa yang dia katakan, aku semakin jijik kepada diriku sendiri. Suara-suara ejekan yang juga masih dan makin banyak bersahutan itu menambah kejijikanku. Odel si hitam! Odel si kribo! Wah, si kuntet datang juga! Huh, ingin rasanya aku meninju mereka sambil berkata Ya, aku hitam! Aku kribo dan pendek! Tapi itu lebih baik daripada kalian yang cantik dan tampan tapi tidak punya hati! Ya percayalah, aku ingin, kalau aku bisa. Sayangnya; sama sekali tidak. Tanpanya, aku seakan tak punya meski setitik saja keberanian untuk menghadapi mereka.
Kalian bertanya-tanya siapa yang kumaksud ‘dia’? Kalian bertanya mengapa aku begitu ketergantungan padanya? Akan kukisahkan secara singkat di sini.
“Aku mau merantau,”
Waktu itu ia terkejut mendengar keinginanku. Saking terkejutnya, keindahan hamparan bukit di hadapan kami tak lagi ia hiraukan. Wajah itu menghadap padaku dengan alis berkerut. Kala itu, aku tak mengerti mengapa dia bertanggap begitu, karena yang kutahu dari ceritanya, tempat asalnya tak kalah indah dengan tempat ini. Ya, dia sempat bercerita beberapa kali tentang kampungnya. Kampungnya adalah tempat kecanggihan teknologi dan alat transportasi. Tidak seperti di kampungku yang masih sangat konvensional.
“Aku mau ikut kamu. Boleh? Di kota sepertinya asyik.”
Dia menghela menjawabku. Pandangannya beralih tatap kepada matahari di hadapan kami yang masih berpijar meski redup. Tetapi setelah itu tidak ada balasan apa-apa darinya.
“Boleh, tak?”
“Jayapura juga kota, kok.”
Begitulah ia, selalu membuat jawaban menghindar tentang itu. Bukan sekali aku menanyakan kepadanya tentang kampungnya yang canggih itu. Sudah ribuan kali, bahkan, semenjak dia menetap di kampungku sebagai pengajar sukarela. Sekali waktu, malahan dia sama sekali tidak menjawabku atau mengalihkan pertanyaan itu ke hal lain.
“Aku ingin mengetahui Indonesia, di luar Papua, biar bisa aku buat cerita dan dibagikan ke adek-adek untuk dibaca. Ayolah, ajak aku! Sebentar lagi kan kamu pulang. Aku ikut sebentar saja.”
Dan dia hanya diam membalasku. Sampai matahari benar-benar terbenam ke balik bukit, heninglah yang jadi selimut kami.
Namun tak lama, ia mengajakku beranjak. Saat itulah dia mengatakan jawaban yang kuinginkan.
*
Aku masih ingat betul, tatapan-tatapan tidak suka itu menyerangku setibanya kami di lingkungan kontrakannya. Dia beramah-tamah, mengenalkanku kepada semua orang terdekat dari kontrakannya di kota. Mereka merespon ramah kepadanya, tapi tidak kepadaku. Seketika, saat itu, aku menciut, tak bernyali lagi menatap mereka dengan tatapan yang sama ramah dengannya. Akhirnya, demi kesopanan, aku mengikutinya saja.
Satu celetukan pendek menyalip telingaku hingga rasa menyesal karena sempat memohon-mohon ikut ke mari timbul begitu saja.
“Kok Dre mau yah sama yang begituan? Pantesnya jadi jongosnya, bukan pacarnya.”
Sejak itu aku setengah hati berada di kota ini. Bahkan aku mengaku, rasanya aku telah setengah hati kepada semuanya. Mereka—semua orang yang berpapasan denganku—sama sekali tidak sepertiku. Tidak ada, malah. Perbedaan ini seketika membuatku tahu mereka telah terbiasa mendiskriminasi, mencemooh, dan menumbuhkan sikap tidak suka yang tak beralasan. Sampai satu hari, ada titik aku muak dengan semua tatapan bernada seperti yang kumaksud; si jelek, kribo, kuntet, dan semacamnya.
“Aku mau pulang saja. Kamu benar, lebih baik di Jayapura.”
Dia hanya diam menanggapinya di pintu kamarku. Dari sudut mata, aku bisa melihat tangannya bersedekap santai menanggapiku.
“Jangan khawatir soal tiket pulang. Aku ada tabungan.”
Lagi, reaksi stagnan yang masih ia tunjukan. Sampai aku berlalu dari pintu kamar, barulah tangan kokoh itu mencegahku. Dia menarik ujung leher kaosku.
“Aku tahu,” “Tapi sebentar dulu.”
Ketika itu, aku tidak menanggapinya selain diam di tempat. Aku membatu menyaksikannya mengambil sesuatu dari lemari. Kaca.
“Ini cermin,” “Sesekali kamu lihatlah cermin.”
Seakan sebuah perintah, aku menurut saja kepadanya. Aku hanya melihat definisi yang mereka bilang; kuntet, kribo, hitam. Aku sungguh tidak mengerti maksudnya, maka hanya mengangkat wajah lah yang kulakukan.
“Apa yang kamu lihat?”
Hal yang sama. Tadinya aku bisa saja menjawabnya begitu. Tetapi aku tahu bukan itu yang ia butuhkan. Jawaban baik itu terasa mustahil melekat pada diriku, bila orang sini yang melontarkannya.
Aku menepisnya. Masih sangat ingat, waktu itu aku mengacuhkannya dengan terus berjalan ke pintu ke luar. Dan yang terjadi adalah, dia menahanku dan membungkamku dengan beberapa baris ucapan telak.
“Jadi segitu saja mental penjelajah anak Papua?! Aku kira semua petualangan yang adek-adek bikin juga terjadi padamu! Ternyata tidak! Mau pulang? Silakan! Pulang saja!” “Biar adek-adekmu tahu kalau kakaknya tak seberani itu, kalau kakaknya hanya takluk dengan omongan orang, kalau kakaknya tidak lagi seorang Odelia yang pandai, ceria, dan menyenangkan!”
Aku membeku. Ketika itu ingatanku terlempar jauh ke masa menikmatinya mengajar adek-adek di kampungku. Teringat semua senyum mereka, tertawa mereka bersama kami, juga petualangan-petualangan kecil kami mendaki bukit, menyusuri sungai, bahkan berguling bersama di tepi pantai, membuat mataku memanas. Aku tersadar seketika. Mereka lah alasanku berani ke mari. Ya, mereka.
“Dengar, Del... Mungkin di sini kamu berbeda, bahkan bisa jadi satu-satunya. Tetapi untuk itulah kamu di sini. Kamu di sini sebagai pembeda yang menunjukan kepada mereka, kalau keindahan tidak mesti hanya berbentuk fisik. Kamu; dengan hati kamu, sifat kamu, sikap kamu, sudah bisa memenangkan hati mereka. Jangan pernah melihat diri kamu dan semua orang hanya dari satu sisi, Del.”
Sementara aku terpana, tersadarkan oleh semua ucapannya, ia mengangkat cermin yang tadi.
“Lihat ke mari. Kamu bukan Odelia yang hitam, pendek, jelek, atau julukan buruk rupa lainnya,”
Pandanganku berubah mendelik kepadanya saat kalimat pembuka itu terucap.
“Tapi kamu adalah Odelia yang percaya diri, ceria, menyenangkan, pandai, dan bisa menjadi contoh buat semua orang mewakili anak Papua. Kamu, bukan Odel si buruk rupa. Tatap cermin ini. Lihat diri kamu yang sebenarnya. Kamu lebih dari apa yang semua orang bilang.”
Ia memupuk kepercayaan diriku. Sejak saat itu kami melalui hari di kota dengan bahagia dan menyenangkan. Aku menikmati kemudahan teknologi dan transportasi, sementara dia melanjutkan studi S2 Sastra Indonesianya.  Lalu tak lama, studi itu terselesaikan.
Tetapi, tahukah kalian; dengan itu, selesai pula hidup kami. Tepat setelah kelulusan, sosok yang mengenalkanku pada cermin dan berpikir dengan bermacam cara itu, hilang ditelan takdir.

HARIAN KAMPUS   11 Desember 2016


Kecelakaan tunggal yang melibatkan master bahasa, Dre Ardiansyah, terjadi pada sore hari (10/12) waktu setempat. Korban tewas di tempat setelah motor yang ditungganginya melaju dengan kencang dan kehilangan kendali hingga melompat ke sungai. Jasadnya belum ditemukan hingga berita ini diturunkan.  (**)  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar