Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 April 2017

#SesiCerpen "FOTO"

Ngomong-ngomong, gue bingung mau ngepost apa, tapi pengen buka blog. Yaudahlah yaa... akhirnya ngepost cerpen lama aja :v 

Btw, umurnya udah dua tahun lho. Ditulis tahun 2015 wkwk, waktu bahasanya masih ancur-ancuran haha... (sekarang juga masih sih hehe..)

Enjoy reading!
*********************************************************************************

FOTO

Bandung, 2015…
Dia memandangi foto itu lama..sekali. Seolah dengan memandangi foto satu itu, seseorang yang telah lama dirindukannya bisa keluar seketika itu juga, menjadi di hadapannya. Sementara matanya terus pada foto itu, seorang yang sudah setahun ini akrab menemani hari-harinya di tempat yang baru, masuk ke ruangannya, muncul di hadapannya.
            “Siap, Dis? Presentasinya dimulai sebentar lagi.” kata orang itu, sekedar memberitahu.
            Disa—perempuan itu—mengangkat wajah. Wajah itu seketika mengulaskan senyum tipis yang biasanya hanya bisa dilihat oleh si orang tersebut, Ferry.
            “Oh, come on… Jangan tampakin ekspresi itu lagi ke saya.” Ferry melangkah mendekati Disa ketika melihat ekspresi yang selalu membuatnya berpikir: seberapa istimewanya foto itu?
            “Aku nggak apa-apa.” Disa cepat-cepat menyangkal, mencegah Ferry mendekatinya dan mengeluarkan sekian kalimat nasehat tentang hal yang sama, namun sama sekali tidak pernah berhasil padanya.
Yang ia lihat malah wajah Ferry yang terlampau dekat darinya, persis di hadapan matanya. “Fer?”
“Konsentrasi sama presentasinya, oke? Jangan sampai kita kehilangan tender.”
Dua kalimat itu membuat Disa sepenuhnya mendengus. “Sialan….”
***
FrameLine Production akhirnya dapat memenangkan tender yang diadakan untuk pemilihan siapa yang tepat menjadi kru syuting iklan salah satu klub sepakbola terbesar di Indonesia ini. Karena itu juga, malam ini FrameLine Production mengadakan pesta besar-besaran.
            Namun rupanya Disa sama sekali tidak terpengaruh dengan suasana pesta yang meriah itu. Dia malah diam-diam saja di pojok bar sambil meminum sesuatu. Satu hal yang tidak berubah darinya : tangan kirinya masih saja memegang foto itu sementara yang lainnya memegang gelas ice tea yang isinya sudah nyaris habis.
            Srrtt… Pelan..sekali sesapan terakhirnya ke ice tea yang dimaksud. Dalam diam, sebuah memori berputar. Memori tentang foto itu.

Bogor, Desember 2004…
            Deru mobil itu terdengar halus dari bengkel yang berada tepat di sebelah rumah si mpunya. Sementara itu, seorang cewek 18 tahun masuk ke bengkel, menyapa cowok berumur sama yang tengah asyik memandangi betapa indahnya mesin mobil yang sedang ia kerjakan.
            “Masih berkutat aja..” kata si Cewek, Disa.
            Cowok itu menarik diri dari bawah mobil dan menampakkan senyum lebarnya. Cengiran kuda khas-nya, tepatnya “Mau ikutan?” tanya dia bercanda.
            Disa berjongkok dan mengangkat kamera kodak-nya. “Hari ini kan aku belum foto kamu.”
            “He-eeh…” Cowok itu kembali nyengir. “Jangan coba buat gue nge-fly-lah… Gue tau lo lagi mau buat artikel tentang mobil gue, kan?”
            Disa hanya tersenyum, tidak lebih. Kemudian dia menarik cowok itu dan berfoto bersamanya. “Masa cuma mobilnya doang yang aku foto?...”

MEMORINYA terpotong begitu saja saat satu sentakan di pundak menyadarikannya.
            “Ngelamun lagi…” –Ferry.
            Disa menoleh, “Emang ada yang nyebutin kalau ngelamun ngelanggar hak asasi, ya?”
            Dengan satu komentar balasan itu, wajah Ferry mendadak berubah, sepenuhnya jadi memuram memandangi Disa dengan kernyitan yang dalam di dahinya.
            Namun bukan kata yang dia jadikan sebagai kelanjutan dari obrolan mereka. Gerakan tangannya yang berubah merampas foto itu dari tangan Disa dengan kasar dan merobeknya menjadi kelanjutannya.
            Ferry pun pergi, meninggalkan Disa yang tertegun dengan mata yang memandangi pria itu tidak percaya. Kemudian dia beranjak. Disa memunguti robekan foto itu dengan setengah hati dan memasukannya ke kantong bajunya. Lagi, dalam diam.
***
Kejadian personal semalam berdampak cukup berbeda pada mereka berdua. Yang satu masih tetap konsentrasi dengan pekerjaannya sebagai head project dalam iklan klub sepakbola, yang satu malah begitu asyiknya terjebak dalam ekspresi merengut dan kesal yang masih amat sangat nyata.
            Orang-orang kantor yang melihat perbedaan pada bos mereka jelas menanyakan itu pada Disa. Yang mereka tahu, Disa-lah orang terdekat sang bos, meski bukan sebagai pacar. Tapi Disa hanya bisa menjawabnya dengan jawaban asal saja sampai menemukan waktu yang tepat untuk menanyakan itu sendiri pada Ferry.
            Sepertinya istirahat makan siang inilah yang dia jadikan sebagai waktu yang tepat itu. Disa tengah berdiri di depan pintu ruangan Ferry. Dia hanya terpaku disana, berpikir dua kali untuk masuk. Tapi sepertinya tidak jadi karena yang punya ruangan sudah membuka pintunya duluan.
            “Ngapain kamu?” Ferry bertanya dengan nada yang cukup menusuk.
            Akhirnya setelah memberanikan diri untuk mengajak sang Atasan berbicara, Disa mengangkat wajah. “Kita harus ngomong.”

            Ferry mengetuk-ngetukan jarinya ke meja. Bukannya risih atau apa karena menunggu sesuatu. Dia hanya bingung mau membicarakan apa sementara menunggu pesanan makan siang mereka datang. Satu hal, ini bukan dimana-mana. Mereka—Ferry dan Disa—ada di ruangannya.
            “Maaf kalau soal foto itu ganggu kamu.” kata Disa akhirnya, membuka keheningan diantara mereka.
            Ferry mendengus mendengar topik pertama yang head projectnya ini buka. Topik yang sebenarnya membuatnya merasa bersalah semalaman. “…Bisa ganti topik?”
            “Enggak sebelum aku tau alasannya yang harusnya lebih dari sekedar ‘Saya sayang sama kamu.’,” tukas Disa, membuat Ferry sepenuhnya terdiam. Ya, memang dia pernah menyatakan perasaannya pada perempuan itu setelah beberapa saat dari pertemuan pertama mereka. Tapi itu dulu. Dulu…sekali, dan Disa sudah lama menolaknya.
            “…Aku nggak nuntut apapun. Just come back. Bersikap profesional.”
            Ferry memalingkan wajah karena perkataan itu. Dia tahu dan harus begitu. Tapi rasanya ini sudah terlampau keterlaluan buatnya. Ferry merasa punya segala yang lebih dari cowok kucel yang ada di foto itu. Kenapa Disa harus terlihat olehnya menaruh perhatian lebih yang justru ke cowok itu—bukan kepadanya?.
            “Bisa?.”
            “Kamu nggak tau apa yang saya rasain setiap kali kamu lihat foto itu.” sambar Ferry geram. “…Nggak masuk akal. Sampai segitunya kamu nganggap cowok yang sekarang mungkin udah entah kemana itu.
            “Tapi apa masalah kayak gitu pantas dibawa ke kantor?.” Disa mendebatnya dengan nada yang jauh lebih tinggi daripada tadi. “Ini kantor, Fer. Dan harusnya kamu sadar posisi kamu disini.”
            Seperti tidak peduli lagi dengan yang Disa katakan, Ferry langsung berdiri dan membentaknya, sekasar-kasarnya.
            “KAMU YANG SADAR DIRI!” “Sadar, Dis! Siapa sebenarnya kamu disini!. Ba-wa-han!.” “Jadi nggak usah nasehati saya dan keluar sekarang,” Kemudian nada Ferry merendah. “..Keluar.”
            Meski agak tertohok mendengar bentakan itu, Disa berdiri juga, menuruti emosi Ferry. Lagi-lagi, dalam diam. Diam juga yang menemaninya hingga di luar dan mendengarkan sayup-sayup luapan emosi Ferry di dalam sana.
***
Hanya teriakan heboh dari semua orang yang dia bisa dengar. Teriakan itu mengiringi langkah kakinya menuju ke sumber yang membuat semua orang berteriak. Langkah kaki itu berderap. Sangat terdengar terburu-buru, hingga tidak bisa bohong kalau yang punyanya sedang dilanda kepanikan yang amat sangat.

            Kemudian tarikan nafas tersengal yang terdengar. Disa menoleh ke sekelilingnya dan mengusap peluh, mengatur nafas—tahu yang dilihatnya saat ini tidak lebih dari kamarnya yang temaram dan kesepian.
            Tak lama, ponselnya bergetar dari meja kamar. Nomor yang dilihatnya dari pesan di layar membuatnya mengusap muka dan pergi dari ruangan pribadi itu.

            Yang ada di hadapannya sekarang adalah Ferry, dengan seorang dokter pribadi yang mendampinginya. Wajah itu terlihat kusut, terbenam dalam kepiluan yang bisa dibilang tidak bisa digambarkan. Sementara itu sang Dokter berbisik sesuatu padanya, membuat Disa mengangguk dan beranjak ke sisi Ferry.
            “Hei,” Dia memulai, menyapa dengan selembut mungkin.
            Ferry menoleh, tanpa kata.
            “…Aku bawain sesuatu.” katanya, masih pelan. Disa menyodorkan sekantung kresek makanan ringan kesukaan Ferry.
            Tapi yang jadi balasan dari pria itu malah cegahan dari tangannya ke makanan Disa dan tolehan dengan tatapan dalam. “Jelasin semuanya.”
            “Jelasin apa, Fer?” Disa bertanya tidak mengerti. “Kenapa?”
            “Mana foto itu? Jelasin.” Ferry mendesaknya dengan nada yang berubah tersengal, tergesa.
            Setelah yakin akan apa yang seharusnya dia jelaskan, akhirnya Disa mengeluarkan foto yang sudah dilem kembali itu dan memulai dengan dua kata. Dua kata yang membuat semuanya jelas.
            “Ini kamu.”
            Ferry tidak membantah. Dia diam dan mencoba mendengarkan. Mendengarkannya kali ini untuk mencocokan dengan ingatan yang ia punya tentang sosok perempuan yang baru saja dia bentak siang tadi.
            “Kenapa..?” dan dia hanya bisa bertanya dengan terbata.
            “Dulu, jauh sebelum aku tau kamu sebagai Ferry yang nggak suka otomotif lagi dan lebih tertarik ke film, kamu atlet kabupaten di lomba drag nasional.” Disa menjelaskan, mencoba pelan-pelan agar tidak membuat ingatan sahabat lamanya ini kembali buyar dan kacau.
            Ferry masih mencoba mendengarkan, merasakan kebenaran dalam ucapan Disa dan potongan ingatannya tentang balapan yang dimaksud.
            “I don’t know for sure… Tapi kata mama, keluarga kamu nggak mau kamu ikutan balapan lagi. So..mereka nggak mau kamu kenal aku lagi, dan balapan lagi.” lanjut Disa. “Mereka menganggap…kalau aku-lah salah satu penyebab kamu begitu konsen ke balapan.”
            Dan Ferry menggeleng pelan, tidak terima dengan ucapan terakhir Disa. Menurutnya pilihan ke karirnya sekarang ini adalah dari dirinya sendiri. “Enggak,” “Enggak ada yang bisa maksa saya buat ngelakuin sesuatu yang nggak saya pengen.”
            “Ya.. memang. Dan ini termasuk salah satu yang kamu pengen, sayangnya—dalam ingatan baru kamu.” “Setelah balapan nasional ingatan itu mulai dibentuk.” “Delapan tahun lalu.” “Sejak kamu divonis kehilangan setengah memori berarti dalam otak kamu, aku nggak bisa berhenti mantau perkembangan kamu. Sampai sekarang.” Disa menambahkan penjelasannya. Sementara itu, si Dokter hanya diam memandangi adegan yang menjurus ke romantis itu.
            Yang hanya bisa Ferry lakukan adalah memandangi foto itu dan mengambilnya. Jemarinya mengelus foto itu pelan. Dia mengesah, tidak menyangka bahwa cowok kucel yang ada di foto itu adalah dirinya. Cowok yang dia anggap sebagai orang-istimewa-tak-berguna-Disa adalah dirinya. Dan dia yakin, penantian delapan tahun untuk menjadi orang yang kembali diingat olehnya sangatlah panjang. Ferry sangat tersanjung sekaligus terpaku menyadari ketulusan Disa menemaninya sampai ingatannya kembali seperti sekarang.  
            “Alasanku nggak langsung ngasih tau semua itu adalah…Dokter Farhan bilang kondisi kamu masih labil. Aku takut satu kejujuran itu bakal ngancurin semuanya, dan aku nggak mau itu. Aku nggak mau dilupain selamanya.”
            “Terus kenapa kamu nggak kasih tau ke saya kalau nama cowok itu Ferry...?” tanya Ferry, dalam nada yang berubah menjadi seperti biasa.
            “Prayoga atau Yoga. Aku pikir itu bakal buat kamu peka..” “Ternyata, samanya kayak dulu: nggak pernah peka-peka...
            Ferry dan Dokter Farhan sama-sama menghela dan tergelak. Yah, setidaknya hari ini, jam ini, malam ini, semuanya terjelaskan. Sebuah foto bisa berarti untuk seseorang atau sebaliknya. Dimana tempat untuk menyimpan utuh sebuah memori bersejarah, tentang menyayangi dan mengingat, membenci dan melupakan. Tempat yang hanya sebuah kertas tipis dan licin, bertinta warna—bisa berubah menjadi sesuatu yang berarti dan terus diingat sampai kapanpun itu.

            Kemudian, seuntai lirik lagu mengalun dari pemutar musik terdekat, menemani pagi tentram mereka di tempat yang kembali berbeda. Keduanya mengulaskan senyum yang amat damai.  Dengan tangan yang kali ini saling tertaut, mereka menikmati kebersamaan dalam gerakan dansa diiringi lagu itu, di momen privasi mereka.
            “Kapan kita mau pulang? Sudah seminggu lho disini.” kata perempuan yang sama dengan memori di bengkelnya, 12 tahun lalu.
            “Sampai ada Ferry junior aja, ya?” Si Pria membalas dengan nada jahil tapi serius-nya.
            Perempuan itu tidak membalas apa-apa. Hanya diam dan kembali menikmati gerakan dansa-lah yang ia lakukan. Ya, dia akan terus seperti itu. Mereka akan terus seperti itu setelah proses kembali saling menemukan itu dijalani. Disa sendiri tidak akan membiarkan laki-laki kucel yang sekarang jadi bos besar perusahaan periklanan itu pergi lagi dari hidupnya, sekalipun menjadi seorang yang kembali berbeda.
            Dia juga sangat bersyukur dengan keputusannya tetap menyimpan foto itu. Dengan foto satu-satunya dari memori terbaik yang dia punya tentang Ferry, dia bisa mendapatkan orang itu kembali.
            Lalu yang tersisa dari mereka hanyalah alunan musik yang rasanya pas dengan cerita mereka.

So you can keep me
Inside the pocket
Of your ripped jeans
Holdin' me closer
'Til our eyes meet
You won't ever be alone

And if you hurt me
That's OK, baby, only words bleed
Inside these pages you just hold me
And I won't ever let you go

Wait for me to come home *

SELESAI….

*Ed Sheeran : Photograph

Rabu, 11 Januari 2017

#SESI BERCERITA => CERITA PENDEK "CERMIN"


CERMIN
Karya: Alin Ifa 



DIA selalu bilang, sesekali lihatlah cermin. Katanya, dalam cermin, aku bisa menemukan diriku yang sebenarnya. Katanya, dalam cermin, aku bisa menemukan rasa percaya itu lagi. Katanya dalam cermin, aku sama sekali bukanlah aku yang di dunia nyata. Semua katanya itu bak sugesti yang terus menghantuiku jika bertemu dengan cermin. Dulu, iya, aku pernah menemukan itu. Aku pernah bahagia bersama itu. Namun sekarang, tidak lagi. Sejak dia tak ada, aku tidak pernah lagi menemukan apa yang dia bilang saat menatap diri sendiri ke dalam cermin.
Aku hanya menemukan diriku yang biasa dilihat rendah dan diremehkan orang. Ketika di  depanku ada kaca yang berisi wujud diriku sendiri, aku hanya bisa mendefinisikan wujud itu dengan kehitaman, kekuntetan, dan kekriboan. Aku tanya, apa yang bagus dari semua itu? Tidak ada. Ya, tepat. Tidak ada.
Lama kelamaan, setelah sekian kali menghadapi simpulan yang sama tentang cermin vs diriku, aku muak. Ya, jujur aku muak. Selain masih tidak menemukan apa yang dia katakan, aku semakin jijik kepada diriku sendiri. Suara-suara ejekan yang juga masih dan makin banyak bersahutan itu menambah kejijikanku. Odel si hitam! Odel si kribo! Wah, si kuntet datang juga! Huh, ingin rasanya aku meninju mereka sambil berkata Ya, aku hitam! Aku kribo dan pendek! Tapi itu lebih baik daripada kalian yang cantik dan tampan tapi tidak punya hati! Ya percayalah, aku ingin, kalau aku bisa. Sayangnya; sama sekali tidak. Tanpanya, aku seakan tak punya meski setitik saja keberanian untuk menghadapi mereka.
Kalian bertanya-tanya siapa yang kumaksud ‘dia’? Kalian bertanya mengapa aku begitu ketergantungan padanya? Akan kukisahkan secara singkat di sini.
“Aku mau merantau,”
Waktu itu ia terkejut mendengar keinginanku. Saking terkejutnya, keindahan hamparan bukit di hadapan kami tak lagi ia hiraukan. Wajah itu menghadap padaku dengan alis berkerut. Kala itu, aku tak mengerti mengapa dia bertanggap begitu, karena yang kutahu dari ceritanya, tempat asalnya tak kalah indah dengan tempat ini. Ya, dia sempat bercerita beberapa kali tentang kampungnya. Kampungnya adalah tempat kecanggihan teknologi dan alat transportasi. Tidak seperti di kampungku yang masih sangat konvensional.
“Aku mau ikut kamu. Boleh? Di kota sepertinya asyik.”
Dia menghela menjawabku. Pandangannya beralih tatap kepada matahari di hadapan kami yang masih berpijar meski redup. Tetapi setelah itu tidak ada balasan apa-apa darinya.
“Boleh, tak?”
“Jayapura juga kota, kok.”
Begitulah ia, selalu membuat jawaban menghindar tentang itu. Bukan sekali aku menanyakan kepadanya tentang kampungnya yang canggih itu. Sudah ribuan kali, bahkan, semenjak dia menetap di kampungku sebagai pengajar sukarela. Sekali waktu, malahan dia sama sekali tidak menjawabku atau mengalihkan pertanyaan itu ke hal lain.
“Aku ingin mengetahui Indonesia, di luar Papua, biar bisa aku buat cerita dan dibagikan ke adek-adek untuk dibaca. Ayolah, ajak aku! Sebentar lagi kan kamu pulang. Aku ikut sebentar saja.”
Dan dia hanya diam membalasku. Sampai matahari benar-benar terbenam ke balik bukit, heninglah yang jadi selimut kami.
Namun tak lama, ia mengajakku beranjak. Saat itulah dia mengatakan jawaban yang kuinginkan.
*
Aku masih ingat betul, tatapan-tatapan tidak suka itu menyerangku setibanya kami di lingkungan kontrakannya. Dia beramah-tamah, mengenalkanku kepada semua orang terdekat dari kontrakannya di kota. Mereka merespon ramah kepadanya, tapi tidak kepadaku. Seketika, saat itu, aku menciut, tak bernyali lagi menatap mereka dengan tatapan yang sama ramah dengannya. Akhirnya, demi kesopanan, aku mengikutinya saja.
Satu celetukan pendek menyalip telingaku hingga rasa menyesal karena sempat memohon-mohon ikut ke mari timbul begitu saja.
“Kok Dre mau yah sama yang begituan? Pantesnya jadi jongosnya, bukan pacarnya.”
Sejak itu aku setengah hati berada di kota ini. Bahkan aku mengaku, rasanya aku telah setengah hati kepada semuanya. Mereka—semua orang yang berpapasan denganku—sama sekali tidak sepertiku. Tidak ada, malah. Perbedaan ini seketika membuatku tahu mereka telah terbiasa mendiskriminasi, mencemooh, dan menumbuhkan sikap tidak suka yang tak beralasan. Sampai satu hari, ada titik aku muak dengan semua tatapan bernada seperti yang kumaksud; si jelek, kribo, kuntet, dan semacamnya.
“Aku mau pulang saja. Kamu benar, lebih baik di Jayapura.”
Dia hanya diam menanggapinya di pintu kamarku. Dari sudut mata, aku bisa melihat tangannya bersedekap santai menanggapiku.
“Jangan khawatir soal tiket pulang. Aku ada tabungan.”
Lagi, reaksi stagnan yang masih ia tunjukan. Sampai aku berlalu dari pintu kamar, barulah tangan kokoh itu mencegahku. Dia menarik ujung leher kaosku.
“Aku tahu,” “Tapi sebentar dulu.”
Ketika itu, aku tidak menanggapinya selain diam di tempat. Aku membatu menyaksikannya mengambil sesuatu dari lemari. Kaca.
“Ini cermin,” “Sesekali kamu lihatlah cermin.”
Seakan sebuah perintah, aku menurut saja kepadanya. Aku hanya melihat definisi yang mereka bilang; kuntet, kribo, hitam. Aku sungguh tidak mengerti maksudnya, maka hanya mengangkat wajah lah yang kulakukan.
“Apa yang kamu lihat?”
Hal yang sama. Tadinya aku bisa saja menjawabnya begitu. Tetapi aku tahu bukan itu yang ia butuhkan. Jawaban baik itu terasa mustahil melekat pada diriku, bila orang sini yang melontarkannya.
Aku menepisnya. Masih sangat ingat, waktu itu aku mengacuhkannya dengan terus berjalan ke pintu ke luar. Dan yang terjadi adalah, dia menahanku dan membungkamku dengan beberapa baris ucapan telak.
“Jadi segitu saja mental penjelajah anak Papua?! Aku kira semua petualangan yang adek-adek bikin juga terjadi padamu! Ternyata tidak! Mau pulang? Silakan! Pulang saja!” “Biar adek-adekmu tahu kalau kakaknya tak seberani itu, kalau kakaknya hanya takluk dengan omongan orang, kalau kakaknya tidak lagi seorang Odelia yang pandai, ceria, dan menyenangkan!”
Aku membeku. Ketika itu ingatanku terlempar jauh ke masa menikmatinya mengajar adek-adek di kampungku. Teringat semua senyum mereka, tertawa mereka bersama kami, juga petualangan-petualangan kecil kami mendaki bukit, menyusuri sungai, bahkan berguling bersama di tepi pantai, membuat mataku memanas. Aku tersadar seketika. Mereka lah alasanku berani ke mari. Ya, mereka.
“Dengar, Del... Mungkin di sini kamu berbeda, bahkan bisa jadi satu-satunya. Tetapi untuk itulah kamu di sini. Kamu di sini sebagai pembeda yang menunjukan kepada mereka, kalau keindahan tidak mesti hanya berbentuk fisik. Kamu; dengan hati kamu, sifat kamu, sikap kamu, sudah bisa memenangkan hati mereka. Jangan pernah melihat diri kamu dan semua orang hanya dari satu sisi, Del.”
Sementara aku terpana, tersadarkan oleh semua ucapannya, ia mengangkat cermin yang tadi.
“Lihat ke mari. Kamu bukan Odelia yang hitam, pendek, jelek, atau julukan buruk rupa lainnya,”
Pandanganku berubah mendelik kepadanya saat kalimat pembuka itu terucap.
“Tapi kamu adalah Odelia yang percaya diri, ceria, menyenangkan, pandai, dan bisa menjadi contoh buat semua orang mewakili anak Papua. Kamu, bukan Odel si buruk rupa. Tatap cermin ini. Lihat diri kamu yang sebenarnya. Kamu lebih dari apa yang semua orang bilang.”
Ia memupuk kepercayaan diriku. Sejak saat itu kami melalui hari di kota dengan bahagia dan menyenangkan. Aku menikmati kemudahan teknologi dan transportasi, sementara dia melanjutkan studi S2 Sastra Indonesianya.  Lalu tak lama, studi itu terselesaikan.
Tetapi, tahukah kalian; dengan itu, selesai pula hidup kami. Tepat setelah kelulusan, sosok yang mengenalkanku pada cermin dan berpikir dengan bermacam cara itu, hilang ditelan takdir.

HARIAN KAMPUS   11 Desember 2016


Kecelakaan tunggal yang melibatkan master bahasa, Dre Ardiansyah, terjadi pada sore hari (10/12) waktu setempat. Korban tewas di tempat setelah motor yang ditungganginya melaju dengan kencang dan kehilangan kendali hingga melompat ke sungai. Jasadnya belum ditemukan hingga berita ini diturunkan.  (**)  

Kamis, 24 November 2016

#SesiBercerita::: REAL LONG DISTANCE RELATIONSHIP


Kredit gambar: http://lovingfromadistance.com/thingstodo5.html


LDR? Banyak yang tidak bisa bertahan dalam hubungan macam itu. Karenanya, Lita tidak percaya satu katapun tentang LDR, bahkan kata 'relationship' itu sendiri. Baginya, menjalin hubungan khusus dengan seseorang terutama dalam waktu dekat ini, terasa mustahil. Yah, semua orang tahu dia adalah mahasiswi dengan hafalan pelajaran dan tugas terbaik di kelas. Atau bahkan, di fakultas. Itu dibuktikan dengan IPnya saat ini yang seolah membeku di angka 4. Kesibukannya dalam menggali ilmu membuatnya tidak mau menghiraukan hal-hal yang tidak berguna untuk cita-cita terbesarnya; penulis. Salah satu hal tak berguna itu menurutnya adalah menjalin hubungan dengan seseorang. 

Yah,meski begitu, teman-teman terdekatnya bukannya sepakat kalau Lita sama sekali 'tidak mau mengenal lawan jenis' atau semacamnya. Ia tetap ramah kepada siapapun, termasuk laki-laki yang mendekatinya. Lebih dari itu, teman-teman terdekatnya kagum dengan kemampuannya untuk fokus meski beberapa kali mereka menangkap pandangan 'galau' ala Lita. Ya, walaupun begitu fokus, gadis itu bukan berarti menutup diri. Dia tetap menyukai laki-laki dan sedang menyukai laki-laki, tetapi tidak mau terlalu muluk karena takut tidak fokus. 

Seisi kelas tahu Lita menyukai pimpinan LDK (Lembaga Dakwah Kampus) mereka. Bahkan setelah dua tahun berlalu, Lita masih menyimpan pandangan tertunduk yang sama setiap membahas soal dia. 

Namanya Alris. Yang Lita tahu soal ikhwan itu adalah; dia mahasiswa berprestasi, perantau sejati, yang membiayayi kesehariannya selama di sini dengan berjualan keripik pedas. Seringkali Alris terlihat menjual sendiri keripiknya di acara-acara LDK mereka, tanpa malu hanya karena dia seorang ketua umum LDK. Lita kagum dengan ikhtiarnya. Bahkan terkadang dia merasa malu karena meski berada di organisasi yang sama, belum bisa mencontoh kegiatan berguna Alris. Ia masih berusaha memantapkan diri dalam amaliyah sunnahnya dan memperbanyak bacaan-bacaan keagamaan. Hanya itu yang Lita bisa, dengan membuang jauh-jauh virus merah jambu dari kepalanya. Ia harus fokus, ia harus baik, dengan caranya sendiri. Hanya itu yang Lita tahu. Hanya itu yang bisa ia jadikan pedoman untuk terus lurus, dan tidak kebablasan hanya gara-gara hati. 

Untuk kesekian kalinya, Lita menggeleng dalam ketikannya. Mengingat Alris dan sikap pemuda itu kepadanya, bisa membuatnya tersenyum sendiri. Tapi ia tahu tak boleh begitu. Ia tahu seharusnya janganlah berharap lebih dari sesuatu yang tidak dinyatakan. Yang dinyatakan saja bisa ditolak, apalagi yang tidak dinyatakan? Yang bisa ia lakukan ketika setiap kali mengingat pemuda itu adalah berdoa, agar dijauhkan dari keinginan menyatakan perasaannya. 

"Astaghfirullah.." Dalam keheningan yang sama, Lita melanjutkan ketikannya. 

Fokus Lit.. fokus.. 

"LITA!!" Nyatanya, teriakan itulah yang membuatnya fokus. Tepat setelah tersentak, Lita menoleh pada yang di belakangnya. Namun yang ia lihat bukanlah temannya, melainkan Alris. Lita tak yakin dengan apa yang dilihatnya di meja lain kafe ini. 

Alris, dengan jaket organisasi yang tersampir di kursi, terlihat antusias menjelaskan sesuatu kepada perempuan di hadapannya. Di hadapan mereka ada laptop. Sesekali Alris terlihat memperlihatkan sesuatu di laptop itu. 

"Hei, Arlita Ayunda..?? Are you there??"

Seketika Arlita mengerejap. Dia pun baru tersadar telah melamunkan Alris. 
"Ya ya.. Kenapa, Dhes?"

"Melamun hm? Ngelamunin siapa sih mbak e?"

Namun sebelum Lita sempat menjawab, kepala Gandhes sudah menoleh ke orang yang sama. 
"Ah, gue tahu..."

Segera, Lita mengibaskan tangan untuk menepis rasa 'kecewa' itu lagi yang tiba-tiba muncul. Ia berusaha terlihat baik-baik saja di depan sahabat-sejak-semester-satu-nya itu. 
"Gak usah ngeliat kesana. Nanti dia ngerasa diperhatiin. Udah ah,"

"Kalo emang diperhatiin, kenapa, Ta?" "You likes him, a lot."

"Aku gak mau bahas itu, oke?" Lita tidak menghiraukan ucapan Gandhes. Ia kembali berusaha menyibukan dirinya dengan tulisannya. Tapi tiba-tiba, jemarinya terhenti ketika terdengar kata dari sumber yang sama. 

"Oke, makasih ya, Mbak. Nanti kita kontakan lagi buat kesepakatan lebih lanjut."

"Oke, Ris. Thank you ya. Keep it up. Aku suka orang kayak kamu. Begitu detail membuat proposal proyek dan nggak menyepelekan."

Terdengar tawa dari Alris. "Ah, jangan suka muji gitu lah.." "Sama-sama, Mbak."

Kemudian perempuan itu melakukan sesuatu terhadap Alris yang mungkin tidak akan pernah bisa Lita lupakan seumur hidupnya. Secarik kertas disodorkan kepada Alris. 
"Contact me later, okay? Setelah kuliah."

"Oke.."

Lita nyaris tak bisa menahan diri untuk menangis. Akhirnya, ia memalingkan wajah untuk mengalihkan perhatian. 

Gandhes menangkap sesak di sana. 

****

Lita tahu Gandhes meneleponnya berkali-kali malam ini. Tapi Lita tahu bahasannya tidak akan jauh dari Alris. Setelah apa yang pemuda itu lakukan tadi siang, ia rasa ia hanya membutuhkan senjata pamukasnya; alat sholat. 

Saat ini waktu menunjukan jam tiga pagi, waktu yang cukup ideal untuk sholat tahajjud. Maka Lita pun bersiap melakukan itu. 

Ia selesai dari berwudhu dan mulai memakai alat sholatnya. 
Tak lama, sholat dimulai. "Allahu akbar.."

Dalam sujud, matanya memejam. Sengaja, ia melamakan sujudnya. Untuk pertama kalinya, ia menyelipkan nama Alris dalam doanya, setelah sebelumnya ia hanya mengadu kepada-Nya soal cita-cita dan kelancaran studinya. 

Entah kenapa, inilah pertama kalinya Lita merasa sesakit ini. 

"Ya Allah... Maafkan hamba berdoa atas rasa sayang selain kepadamu.. Tapi entah kenapa kali ini sungguh berbeda.. Perasaan yang selama ini berusaha hamba biaskan dengan kesibukan, malah meledak begitu saja hari ini. Hamba kecewa, tapi tahu bukan hak hamba.. Hamba hanya...ingin mengadu tentangnya. Alris, namanya.. 

Engkau pasti lebih tahu tentangnya dan isi hatinya daripada hamba... Maka bimbinglah ia selalu ke jalan-Mu.. Ke jalan para penghuni Jannah.. Dan...jika ia memang jodohku, tolong pertemukan kami kembali, Ya Allah..."

***
***

2016...
Empat tahun berlalu, belum ada yang berubah darinya selain karier yang akhirnya menjadi kenyataan. Ya, dia berhasil. Seorang Arlita Ayunda berhasil memampangkan namanya di buku-buku roman dan novel kritik sosial di toko buku. Beberapa di antaranya ada yang best seller. Karena itulah dia di sini hari ini, omong-omong. Di toko buku besar ini, ia mengadakan jumpa pembaca yang ingin mendapatkan tanda tangannya.

"Makasih, Mbaak. Nggak nyangka deh akhirnya aku bisa ketemu mbak di sini." "Kita selfie, yuk."

Untuk ke sekian kalinya dalam hari ini, dia berfoto bersama pembacanya. 

"Makasih."

"Iya, sama-sama," Lita tersenyum, berusaha ramah meski sudah letih. Ya, ini bagian dari cita-citanya. Apa ada alasan untuk lelah dengan ini semua? Tepat sekali, tidak. 

Omong-omong, ya, semuanya masih sama; termasuk soal pendamping yang seharusnya sudah dia miliki. 

Memorinya melayang ke masa itu, masa di mana untuk pertama kalinya nama Alris diakuinya dihadapan-Nya sebagai orang yang dia suka. Setelah hari itu, ia rutin mengadu kepada-Nya, dan lebih banyak soal perasaan. Inti dari malam-malam bersujud panjang itu adalah sama; meski tak ternyatakan, Lita mengharapkan yang terbaik dari perasaannya. Kalau mau jujur, sampai sekarang seringkali ia masih merindukan melihat wajah itu lagi. Sejak lulus kuliah, mereka benar-benar lost kontak. Alris yang katanya pindah ke luar kota mengikuti pekerjaannya, membuatnya benar-benar merasakan 'LDR' yang sebenarnya. LDR pada umumnya adalah yang ternyatakan. Sementara dia? Tidak pernah sama sekali. Lagi, kesibukanlah yang membuat Lita melupakan perasaannya untuk beberapa waktu. 

Pelan, senyuman tersungging tipis di bibirnya. Bersamaan dengan itu, terdengar suara familiar dari hadapannya. 
"Selamat, ya, sudah berhasil jadi penulis."

"Ah, ya.." Tiba-tiba kikuk luar biasa melandanya. Ia bingung mau melanjutkan obrolan baru mereka dengan apa. 
Namun tak lama, pria itu menyodorkan bukunya. Lita jadi tahu kemana obrolan ini akan dia arahkan. 
"...Sudah baca bukunya?"

Alris terkekeh, "Sudah. Bagus. Saya terhanyut ke dalam pilihan diksinya. Rasanya seperti dibawa ke dalam cerita kamu."

Lita segera menyelesaikan tanda tangannya di buku milik Alris. "Senang kamu suka."

Alris terlihat tidak menghiraukan perkataan itu. Ia kembali terkekeh, tapi kali ini terasa agak tidak masuk akal karena rasanya tidak ada yang lucu sama sekali.

"Kenapa?"

"Engga..." "Saya cuma pengen tanya aja."

"Soal?"

"Waktu nulis buku itu, kamu udah tau rasanya dikhitbah belum?"

Deg, entah kenapa Lita tertegun. Ia merasa ada maksud lain dari Alris mengapa berucap itu dengan begitu gamblang. 
"Belum.. Ini buku pertamaku. Aku nulis ini pas lagi kuliah dulu."

"Tapi nggak tahu kenapa rasanya begitu tepat. Saya sampai benar-benar berharap ada perempuan yang menjadi Aisyah-saya. Karakter gadis itu istri idaman banget. Dan omong-omong, watak karakternya mirip sama kamu."

Lita...belum bisa menyelesaikan kagetnya. Sebagai orang yang sudah sering berhadapan dengan makna-makna konotatif, ia jadi tidak yakin dengan apa yang didengarnya. Simpulannya secara tidak langsung mengatakan kalau Lita adalah istri idaman. 

Duh..jangan ge-er dulu, Lit.. Lita mengangkat wajah. 
"Memang di novel pertama aku gunain spesifikasi karakter yang ada di sekitarku waktu itu.."

Namun yang menjadi balasan Alris selanjutnya bukanlah pertanyaan tentang novel pertamanya lagi. Pria itu berdecak, seakan mau membenarkan ucapannya. 
"Oke, saya langsung aja, deh.."

Lita memandang Alris sekilas dengan bingung. 

"Lit, kamu belum ada yang ngekhitbah, kan?"

Oh...jangan bilang.. Lita diam dan menggeleng. Dia mewanti-wanti dirinya sendiri untuk berkaca diri dan jangan terlalu ge-er. Bisa saja Alris menyodorkan temannya atau siapapun itu. 

"Nanti sore, boleh saya dan keluarga datang ke rumah kamu?"
.
.
.
.
.


SEKIAN.

NB: BUKAN CERITA BERSAMBUNG ^_^ 

Salam hangat, 
Alin Ifa

Minggu, 20 November 2016

#SesiBercerita "HARI KELAM"





Di sudut kamar, ia hanya membatu memandang layar laptopnya. Layar itu menampangkan sesuatu yang sama sekali tidak dia harapkan. Tahukah kau apa yang dimaksud? Yah, hal apapun itu, yang jelas berisi keputusan--karena wajahnya melemas tepat selesai membaca itu. 

Brak! Emosinya melabil. Laptop yang ada di hadapannya pun menjadi sasaran amarahnya. 
"AKH!" 

Seisi kamar seakan mengelam. menyambut ketidakkaruan perasaannya sekarang. 

Dia mengerjakan sesuatu di laptop itu. Sebuah tulisan tepatnya. Dia merasa telah mengerjakan itu sesuai dengan kebutuhan targetnya. Dia merasa sudah benar dengan seisi tulisannya; EYD, pemilihan diksi, juga riset dalam tulisannya. Dia sangat yakin inilah percobaan terakhirnya, dan akan sukses membuktikan kepada dunia--paling tidak dunianya--kalau menulis bukanlah hal yang bisa disepelekan untuk dijadikan pekerjaan. Dia merasa sangat amat yakin, bahkan, kalau tulisannya kali ini akan diterima. 

Tapi ternyata, yang terjadi adalah sebaliknya. Ia tak puas, rasanya ingin bakar saja manusia-manusia penting dalam penerbit itu. Rasanya ia ingin mengatakan keras-keras kepada mereka, "Apa lagi yang salah dengan tulisan saya?!!" Namun kenyataannya, yang terjadi sekarang adalah ia dibuat harus menyesal dan menyerah pada mimpinya. Tuhan telah menghendaki dia harus bangun dari mimpinya dan mulai berpikir realistis. 

Ia bangkit, ke luar kamar, tidak mau memedulikan lagi seisi kamarnya. Dadanya menyesak, merasa sia-sia saja dengan upayanya selama ini. Ia terdiam sepanjang langkah, namun tak mau menoleh ke belakang. Ia hanya berjalan, terus ke depan tanpa menoleh kanan dan kiri. Ia hanya tahu kalau kecewa itu menyesak dalam dirinya. Ia hanya ingin menemukan tempat untuk meluapkan semuanya. Hari ini benar-benar kelam buatnya, benar-benar menyiksanya. 

Sementara mentari turun, menampakan kelam yang semakin nyata. Ia masih berjalan, tanpa tahu harus kemana. Ia masih termenung, tertegun dalam diam, tanpa tahu harus memprioritaskan pikiran apa dalam kepalanya. Matanya memandang jalan lurus-lurus. Tatapannya kosong, seperti kehilangan semangat. 

Burung tuwu melengkapi kekosongan harinya. Pekiknya tak membantu menghilangkan kelam sama sekali, malah menambah. Kemudian beberapa burung terbang, melewatinya, hinggap di dahan pohon yang lain. 

Ia berhenti, memandang burung-burung tuwu yang masih berkicau itu. 

"Tuhu! Tuhu!", begitu kata mereka. 
"Tuhu! Tuhu!"
"Tuhu! Tuhu!"
"Tuhu! Tuhu!"

Kesalnya memuncak tanpa alasan. 'Tuhu' burung-burung itu seolah mengejeknya. 

"Tuhu! Tuhu!"

"DIAM!!" 
Ia terduduk begitu saja di jalanan. Frustasi sangat tampak di wajahnya. Mentalnya begitu turun. Ia meringkuk menekuk seperti anak kecil, seperti siap menyalahkan Tuhan atas kegagalannya, lagi, kali ini. Dahinya mengerenyit. Alisnya berkerut. Amarah makin menuju puncak seperti siap diledakan kapan saja. 

Namun tak lama, geraknya memudar. Dalam duduknya ia diam. Dalam diamnya, ia tak lagi kosong. Ia terpikir satu hal yang mungkin saja sukses menghilangkan hari kelamnya. 

Berlarilah ia, menuju kamarnya lagi. Dia mengambil beberapa benda penangkap inspirasi itu dan berkemas. Hendak kemana, ia pun masih belum menemukan jawabannya. Namun keyakinannya kembali tumbuh. 

Sesuatu berkata dalam dirinya, tepat saat menyadari analogi terbangnya burung tuhu itu ke pohon di hadapannya lalu seolah mengejeknya. Perkataan keyakinan timbul dalam dirinya; 'Jangan sampai aku terlangkahi orang lain yang mengejekku dengan impianku..'

Jangan.sampai... 

Ia menghentikan taksi di depan penginapannya. 
"Mau kemana, Mas?" Supir taksi bertanya. Dalam pikirnya, sebenarnya ia agak aneh melihat wajah penumpangnya ini. Tapi supir itu menghiraukan, hanya berpikir lurus--lakukan saja tugasmu hingga habis hari.

Sementara itu ia terdiam sejenak, sama sekali tak terpikir akan kemana. Tiba-tiba sekelebat ingatan akan alur dalam tulisannya menyergap. 

"Ke stasiun, Pak."


*

Stasiun; itu salah satu latar tempat dalam tulisannya. Ia hanya terpikir untuk naik ke rute terjauh yang ada di stasiun kereta ini. 

Ia masuk, memesan tiket, dan naik kereta yang dimaksud. Dalam diam, ia mencari kursinya. Di tiketnya tertera lokal A, kursi nomor satu. 

Tak lama, ia menemukannya. Lokal berisi empat kursi itu masih kosong saat ia memutuskan untuk membatu di kursi yang dimaksud. Namun kemudian, satu suara menghapus keheningannya. 

"Lokal A, ya?"

Ia mendongak, bermaksud membalas seadanya kepada suara itu. 

"Iya, Mbak."

Pemilik suara itu wanita. Tampilannya tak berhasil memindahkan fokusnya pada hal lain. Matanya tak bisa mencegah pandangan terpakunya pada sosok itu. Kemanapun dia, rasanya obrolan yang tercipta diantara mereka akan sangat panjang. 

Jilbab panjang wanita itu melambai, seiring hembusan angin dari jendela lokal yang dibuka. Wanita itu tak terfokus kepadanya, berbeda dengannya. Begitu duduk, wanita itu langsung membuka sebuah buku. Buku novel, tepatnya. Ia merasa mengenal judul dan isi ceritanya. 

"Suka karya beliau juga, Mbak?" Keki, ia buka suara, memulai obrolan pertamanya dengan wanita itu. 

"Ya." Sosok itu menanggapi dengan anggukan. Lalu tangannya terulurkan buku itu, seolah menawarkan. "Mau baca?"

Kepalanya seperti tak bisa dicegah untuk mengangguk. Maka mengangguklah ia menjawabnya. Tak lama, buku berpindah tangan. 

Ia membaca bukunya sekilas. Benar saja ini adalah salah satu karya dari penulis favoritnya. Sebenarnya, karya inilah yang menjadi inspirasinya di tulisan gagal itu. Itulah yang membuatnya kecewa luar biasa mendengar tulisannya tidak diterima. 

Tak mau berlama-lama, ia tiba di halaman terakhir; bagian profil penulis. Namanya, Indah Saraswati, akademisi sastra yang lulus cumlaude di universitas favorit dan sudah mempunyai banyak karya. Namun sejauh ini, ia hanya tahu nama, tidak dengan wajah, karena takut Dia akan membawa kecintaannya pada penulis ini menjadi terlalu dalam. Ia tak mau melupakan-Nya hanya demi mengorek dan mencintai dunia sesama manusia. Ia tahu dirinya; seorang pria 24 tahun yang akan terlalu fanatik jika sekali sudah suka dan kagum dengan kisah hidup seseorang. 

Profil tanpa foto itu membuatnya tersenyum sekilas. Akan bahagia rasanya jika suatu saat dapat membuat orang tuanya bangga dengan cara seperti yang Indah lakukan. 

Ah..sudahlah. Perbaiki saja tulisanmu dulu, Van.

Ia menutup buku itu, mengembalikannya kepada si empu. 
"Makasih." "Saya udah pernah baca. Baca sekilas aja barusan."

Wanita itu mengangguk dalam senyum. "Oh? Bagus gak ceritanya menurutmu?"

Ia mengangguk yakin. "Ya." "Malah buku ini yang jadi inspirasi saya buat menulis."

"Suka nulis? Karyanya udah pernah terbit?"

Mendengus, gerutuan kecil tersirat di kepalanya, Belum, terus kenapa? Kan kalau suka nulis nggak harus nerbitin karya.

"Iya. Tapi belum ada yang terbit sejauh ini."

Senyuman muncul dari wanita itu. Senyuman pengertian, tepatnya. Ia menghangat melihat goresan bibir yang sempurna menampakan ketenangan baginya. 

"Semangat. Tuhan tahu, kok, proses yang mana yang pantas buat dijadikan hasil terbaik."

"Ya.." Untuk sekian kalinya dalam lima menit ke belakang, ia merasa hari kelamnya sudah mulai terhapus. 

Tak lama, kereta berjalan, mengacuhkan kanan kiri jalan dan orang yang telat memasukan. Bersamaan dengan itu, kalimat lain meluncur dari sosok di hadapannya. 

"Boleh kenalan?"

Ia mengangguk. "Saya Ivan." "Mbak?"

"Indah Saraswati."

***

2016...
Tiga tahun adalah bukan waktu yang sebentar untuk menikmati kesuksesannya. Menilik ke belakang, ia jadi bersyukur dengan pilihannya naik kereta tujuan Jakarta--Surabaya itu. 

"Aku boleh lihat tulisan terakhir kamu? Siapa tahu bagus, dan bisa diterbitkan di publisherku."

Kalimat itulah yang menjadi awal kesuksesan tulisan terakhirnya. Sekarang, setelah kehidupannya membaik, ia tengah melanjutkan buku keduanya tentang kisah yang sama. 

"Bi, jangan keterusan menulisnya. Makan dulu, yuk. Anak-anak sudah pada nunggu di bawah, tuh."

Ia menoleh. Melihat sosok yang menyapanya, malah membuatnya semakin kebanjiran inspirasi. Sosok itulah yang dulu, sekarang, dan nanti, menjadi inspirasinya. Kehadiran sosok itu sudah seperti sumber ide untuknya. Setiap mengingatnya, ia semakin menjadi menarikan jari di atas tuts laptopnya. Setiap mengingatnya, ia semakin bersyukur tentang ungkapan 'Habis Gelap Terbitlah Terang', yang benar-benar terjadi di kehidupannya. 

"Sebentar,"

"Ivan!,"

Sedetik, ia harus merelakan kepalanya tertawa, dan bibirnya tersenyum riang. Sejauh yang ia tahu, kalau sudah memanggil nama, apa yang orang itu katakan wajib dan harus dilaksanakan. 

"Ay, ay," Ia mengacuh, menuliskan beberapa kata lagi sebelum beringsut ke pintu kamar. 

Pandangannya meneduh. "Indahku berisik, ya.. Ganggu aliran ide aja."

Orang itu mendengus, "Itu bisa disambung nanti, kamu tahu."

"Aku tahu." 

Satu kecupan di kening mengheningkan suasana di antara mereka. 


-BUKAN CERITA BERSAMBUNG ^_^-

"Yakin saja, Tuhan punya rencana lain di balik setiap hari kelammu"




Salam hangat,
Alin Ifa