Ngomong-ngomong, gue bingung mau ngepost apa, tapi pengen buka blog. Yaudahlah yaa... akhirnya ngepost cerpen lama aja :v
Btw, umurnya udah dua tahun lho. Ditulis tahun 2015 wkwk, waktu bahasanya masih ancur-ancuran haha... (sekarang juga masih sih hehe..)
Enjoy reading!
*********************************************************************************
FOTO
Bandung, 2015…
Dia
memandangi foto itu lama..sekali. Seolah dengan memandangi foto satu itu,
seseorang yang telah lama dirindukannya bisa keluar seketika itu juga, menjadi
di hadapannya. Sementara matanya terus pada foto itu, seorang yang sudah
setahun ini akrab menemani hari-harinya di tempat yang baru, masuk ke
ruangannya, muncul di hadapannya.
“Siap, Dis? Presentasinya dimulai
sebentar lagi.” kata orang itu, sekedar memberitahu.
Disa—perempuan itu—mengangkat wajah.
Wajah itu seketika mengulaskan senyum tipis yang biasanya hanya bisa dilihat
oleh si orang tersebut, Ferry.
“Oh, come on… Jangan tampakin ekspresi itu lagi ke saya.” Ferry
melangkah mendekati Disa ketika melihat ekspresi yang selalu membuatnya
berpikir: seberapa istimewanya foto itu?
“Aku nggak apa-apa.” Disa
cepat-cepat menyangkal, mencegah Ferry mendekatinya dan mengeluarkan sekian
kalimat nasehat tentang hal yang sama, namun sama sekali tidak pernah berhasil
padanya.
Yang
ia lihat malah wajah Ferry yang terlampau dekat darinya, persis di hadapan matanya.
“Fer?”
“Konsentrasi
sama presentasinya, oke? Jangan sampai kita kehilangan tender.”
Dua
kalimat itu membuat Disa sepenuhnya mendengus. “Sialan….”
***
FrameLine
Production akhirnya dapat memenangkan tender yang diadakan untuk pemilihan
siapa yang tepat menjadi kru syuting iklan salah satu klub sepakbola terbesar
di Indonesia ini. Karena itu juga, malam ini FrameLine Production mengadakan
pesta besar-besaran.
Namun rupanya Disa sama sekali tidak
terpengaruh dengan suasana pesta yang meriah itu. Dia malah diam-diam saja di
pojok bar sambil meminum sesuatu. Satu hal yang tidak berubah darinya : tangan
kirinya masih saja memegang foto itu sementara yang lainnya memegang gelas ice tea yang isinya sudah nyaris habis.
Srrtt…
Pelan..sekali sesapan terakhirnya ke ice
tea yang dimaksud. Dalam diam, sebuah memori berputar. Memori tentang foto
itu.
Bogor, Desember 2004…
Deru
mobil itu terdengar halus dari bengkel yang berada tepat di sebelah rumah si
mpunya. Sementara itu, seorang cewek 18 tahun masuk ke bengkel, menyapa cowok
berumur sama yang tengah asyik memandangi betapa indahnya mesin mobil yang
sedang ia kerjakan.
“Masih
berkutat aja..” kata si Cewek, Disa.
Cowok
itu menarik diri dari bawah mobil dan menampakkan senyum lebarnya. Cengiran
kuda khas-nya, tepatnya “Mau ikutan?” tanya dia bercanda.
Disa
berjongkok dan mengangkat kamera kodak-nya. “Hari ini kan aku belum foto kamu.”
“He-eeh…”
Cowok itu kembali nyengir. “Jangan coba buat gue nge-fly-lah… Gue tau lo lagi
mau buat artikel tentang mobil gue, kan?”
Disa
hanya tersenyum, tidak lebih. Kemudian dia menarik cowok itu dan berfoto
bersamanya. “Masa cuma mobilnya doang yang aku foto?...”
MEMORINYA terpotong
begitu saja saat satu sentakan di pundak menyadarikannya.
“Ngelamun lagi…” –Ferry.
Disa menoleh, “Emang ada yang
nyebutin kalau ngelamun ngelanggar hak asasi, ya?”
Dengan satu komentar balasan itu,
wajah Ferry mendadak berubah, sepenuhnya jadi memuram memandangi Disa dengan
kernyitan yang dalam di dahinya.
Namun bukan kata yang dia jadikan
sebagai kelanjutan dari obrolan mereka. Gerakan tangannya yang berubah merampas
foto itu dari tangan Disa dengan kasar dan merobeknya menjadi kelanjutannya.
Ferry pun pergi, meninggalkan Disa
yang tertegun dengan mata yang memandangi pria itu tidak percaya. Kemudian dia
beranjak. Disa memunguti robekan foto itu dengan setengah hati dan memasukannya
ke kantong bajunya. Lagi, dalam diam.
***
Kejadian
personal semalam berdampak cukup berbeda pada mereka berdua. Yang satu masih
tetap konsentrasi dengan pekerjaannya sebagai head project dalam iklan klub sepakbola, yang satu malah begitu
asyiknya terjebak dalam ekspresi merengut dan kesal yang masih amat sangat
nyata.
Orang-orang kantor yang melihat perbedaan
pada bos mereka jelas menanyakan itu pada Disa. Yang mereka tahu, Disa-lah
orang terdekat sang bos, meski bukan sebagai pacar. Tapi Disa hanya bisa
menjawabnya dengan jawaban asal saja sampai menemukan waktu yang tepat untuk menanyakan
itu sendiri pada Ferry.
Sepertinya istirahat makan siang
inilah yang dia jadikan sebagai waktu yang tepat itu. Disa tengah berdiri di
depan pintu ruangan Ferry. Dia hanya terpaku disana, berpikir dua kali untuk
masuk. Tapi sepertinya tidak jadi karena yang punya ruangan sudah membuka
pintunya duluan.
“Ngapain kamu?” Ferry bertanya
dengan nada yang cukup menusuk.
Akhirnya setelah memberanikan diri
untuk mengajak sang Atasan berbicara, Disa mengangkat wajah. “Kita harus
ngomong.”
Ferry mengetuk-ngetukan jarinya ke
meja. Bukannya risih atau apa karena menunggu sesuatu. Dia hanya bingung mau
membicarakan apa sementara menunggu pesanan makan siang mereka datang. Satu
hal, ini bukan dimana-mana. Mereka—Ferry dan Disa—ada di ruangannya.
“Maaf kalau soal foto itu ganggu
kamu.” kata Disa akhirnya, membuka keheningan diantara mereka.
Ferry mendengus mendengar topik
pertama yang head projectnya ini
buka. Topik yang sebenarnya membuatnya merasa bersalah semalaman. “…Bisa ganti
topik?”
“Enggak sebelum aku tau alasannya
yang harusnya lebih dari sekedar ‘Saya sayang sama kamu.’,” tukas Disa, membuat
Ferry sepenuhnya terdiam. Ya, memang dia
pernah menyatakan perasaannya pada perempuan itu setelah beberapa saat dari
pertemuan pertama mereka. Tapi itu dulu. Dulu…sekali, dan Disa sudah lama
menolaknya.
“…Aku nggak nuntut apapun. Just come back. Bersikap profesional.”
Ferry memalingkan wajah karena
perkataan itu. Dia tahu dan harus begitu. Tapi rasanya ini sudah terlampau
keterlaluan buatnya. Ferry merasa punya segala yang lebih dari cowok kucel yang ada di foto itu. Kenapa Disa
harus terlihat olehnya menaruh perhatian lebih yang justru ke cowok itu—bukan
kepadanya?.
“Bisa?.”
“Kamu nggak tau apa yang saya rasain
setiap kali kamu lihat foto itu.” sambar Ferry geram. “…Nggak masuk akal. Sampai segitunya kamu nganggap cowok yang sekarang
mungkin udah entah kemana itu.”
“Tapi apa masalah kayak gitu pantas
dibawa ke kantor?.” Disa mendebatnya dengan nada yang jauh lebih tinggi daripada
tadi. “Ini kantor, Fer. Dan harusnya kamu sadar posisi kamu disini.”
Seperti tidak peduli lagi dengan
yang Disa katakan, Ferry langsung berdiri dan membentaknya, sekasar-kasarnya.
“KAMU YANG SADAR DIRI!” “Sadar, Dis!
Siapa sebenarnya kamu disini!. Ba-wa-han!.” “Jadi nggak usah nasehati saya dan
keluar sekarang,” Kemudian nada Ferry merendah.
“..Keluar.”
Meski agak tertohok mendengar
bentakan itu, Disa berdiri juga, menuruti emosi Ferry. Lagi-lagi, dalam diam.
Diam juga yang menemaninya hingga di luar dan mendengarkan sayup-sayup luapan
emosi Ferry di dalam sana.
***
Hanya
teriakan heboh dari semua orang yang dia bisa dengar. Teriakan itu mengiringi
langkah kakinya menuju ke sumber yang membuat semua orang berteriak. Langkah
kaki itu berderap. Sangat terdengar terburu-buru, hingga tidak bisa bohong
kalau yang punyanya sedang dilanda kepanikan yang amat sangat.
Kemudian tarikan nafas tersengal
yang terdengar. Disa menoleh ke sekelilingnya dan mengusap peluh, mengatur
nafas—tahu yang dilihatnya saat ini tidak lebih dari kamarnya yang temaram dan
kesepian.
Tak lama, ponselnya bergetar dari
meja kamar. Nomor yang dilihatnya dari pesan di layar membuatnya mengusap muka
dan pergi dari ruangan pribadi itu.
Yang ada di hadapannya sekarang
adalah Ferry, dengan seorang dokter pribadi yang mendampinginya. Wajah itu terlihat
kusut, terbenam dalam kepiluan yang bisa dibilang tidak bisa digambarkan.
Sementara itu sang Dokter berbisik sesuatu padanya, membuat Disa mengangguk dan
beranjak ke sisi Ferry.
“Hei,”
Dia memulai, menyapa dengan selembut mungkin.
Ferry menoleh, tanpa kata.
“…Aku bawain sesuatu.” katanya,
masih pelan. Disa menyodorkan sekantung kresek makanan ringan kesukaan Ferry.
Tapi yang jadi balasan dari pria itu
malah cegahan dari tangannya ke makanan Disa dan tolehan dengan tatapan dalam.
“Jelasin semuanya.”
“Jelasin apa, Fer?” Disa bertanya
tidak mengerti. “Kenapa?”
“Mana foto itu? Jelasin.” Ferry mendesaknya dengan nada yang berubah
tersengal, tergesa.
Setelah yakin akan apa yang
seharusnya dia jelaskan, akhirnya Disa mengeluarkan foto yang sudah dilem kembali
itu dan memulai dengan dua kata. Dua kata yang membuat semuanya jelas.
“Ini kamu.”
Ferry tidak membantah. Dia diam dan
mencoba mendengarkan. Mendengarkannya kali ini untuk mencocokan dengan ingatan
yang ia punya tentang sosok perempuan yang baru saja dia bentak siang tadi.
“Kenapa..?” dan dia hanya bisa bertanya dengan terbata.
“Dulu, jauh sebelum aku tau kamu
sebagai Ferry yang nggak suka otomotif lagi dan lebih tertarik ke film, kamu
atlet kabupaten di lomba drag nasional.” Disa menjelaskan, mencoba pelan-pelan
agar tidak membuat ingatan sahabat lamanya ini kembali buyar dan kacau.
Ferry masih mencoba mendengarkan,
merasakan kebenaran dalam ucapan Disa dan potongan ingatannya tentang balapan
yang dimaksud.
“I
don’t know for sure… Tapi kata mama, keluarga kamu nggak mau kamu ikutan
balapan lagi. So..mereka nggak mau
kamu kenal aku lagi, dan balapan lagi.” lanjut Disa.
“Mereka menganggap…kalau aku-lah salah satu penyebab kamu begitu konsen ke
balapan.”
Dan Ferry menggeleng pelan, tidak
terima dengan ucapan terakhir Disa. Menurutnya pilihan ke karirnya sekarang ini
adalah dari dirinya sendiri. “Enggak,” “Enggak ada
yang bisa maksa saya buat ngelakuin sesuatu yang nggak saya pengen.”
“Ya.. memang. Dan ini termasuk salah
satu yang kamu pengen, sayangnya—dalam ingatan baru kamu.” “Setelah balapan
nasional ingatan itu mulai dibentuk.” “Delapan tahun lalu.” “Sejak kamu divonis
kehilangan setengah memori berarti dalam otak kamu, aku nggak bisa berhenti
mantau perkembangan kamu. Sampai sekarang.” Disa
menambahkan penjelasannya. Sementara itu, si Dokter hanya diam memandangi
adegan yang menjurus ke romantis itu.
Yang hanya bisa Ferry lakukan adalah
memandangi foto itu dan mengambilnya. Jemarinya mengelus foto itu pelan. Dia
mengesah, tidak menyangka bahwa cowok kucel
yang ada di foto itu adalah dirinya. Cowok yang dia anggap sebagai
orang-istimewa-tak-berguna-Disa adalah dirinya. Dan dia yakin, penantian
delapan tahun untuk menjadi orang yang kembali diingat olehnya sangatlah
panjang. Ferry sangat tersanjung sekaligus terpaku menyadari ketulusan Disa
menemaninya sampai ingatannya kembali seperti sekarang.
“Alasanku nggak langsung ngasih tau
semua itu adalah…Dokter Farhan bilang kondisi kamu masih labil. Aku takut satu
kejujuran itu bakal ngancurin semuanya, dan aku nggak mau itu. Aku nggak mau
dilupain selamanya.”
“Terus kenapa kamu nggak kasih tau
ke saya kalau nama cowok itu Ferry...?” tanya Ferry,
dalam nada yang berubah menjadi seperti biasa.
“Prayoga atau Yoga. Aku pikir itu bakal buat kamu peka..” “Ternyata, samanya kayak
dulu: nggak pernah peka-peka...”
Ferry dan Dokter Farhan sama-sama
menghela dan tergelak. Yah, setidaknya hari ini, jam ini, malam ini, semuanya
terjelaskan. Sebuah foto bisa berarti untuk seseorang atau sebaliknya. Dimana
tempat untuk menyimpan utuh sebuah memori bersejarah, tentang menyayangi dan
mengingat, membenci dan melupakan. Tempat yang hanya sebuah kertas tipis dan
licin, bertinta warna—bisa berubah menjadi sesuatu yang berarti dan terus
diingat sampai kapanpun itu.
Kemudian, seuntai lirik lagu
mengalun dari pemutar musik terdekat, menemani pagi tentram mereka di tempat yang
kembali berbeda. Keduanya mengulaskan senyum yang amat damai. Dengan tangan yang kali ini saling tertaut,
mereka menikmati kebersamaan dalam gerakan dansa diiringi lagu itu, di momen
privasi mereka.
“Kapan kita mau pulang? Sudah
seminggu lho disini.” kata perempuan yang sama dengan memori di bengkelnya, 12
tahun lalu.
“Sampai ada Ferry junior aja, ya?”
Si Pria membalas dengan nada jahil tapi serius-nya.
Perempuan itu tidak membalas
apa-apa. Hanya diam dan kembali menikmati gerakan dansa-lah yang ia lakukan.
Ya, dia akan terus seperti itu. Mereka akan terus seperti itu setelah proses
kembali saling menemukan itu dijalani. Disa sendiri tidak akan membiarkan
laki-laki kucel yang sekarang jadi
bos besar perusahaan periklanan itu pergi lagi dari hidupnya, sekalipun menjadi
seorang yang kembali berbeda.
Dia juga sangat bersyukur dengan
keputusannya tetap menyimpan foto itu. Dengan foto satu-satunya dari memori
terbaik yang dia punya tentang Ferry, dia bisa mendapatkan orang itu kembali.
Lalu yang tersisa dari mereka
hanyalah alunan musik yang rasanya pas dengan cerita mereka.
So you can keep me
Inside the pocket
Of your ripped jeans
Holdin' me closer
'Til our eyes meet
You won't ever be alone
And if you hurt me
That's OK, baby, only words bleed
Inside these pages you just hold me
And I won't ever let you go
Wait for me to come home *
SELESAI….
*Ed Sheeran : Photograph


