Kredit gambar: http://lovingfromadistance.com/thingstodo5.html
LDR? Banyak yang tidak bisa bertahan dalam hubungan macam itu. Karenanya, Lita tidak percaya satu katapun tentang LDR, bahkan kata 'relationship' itu sendiri. Baginya, menjalin hubungan khusus dengan seseorang terutama dalam waktu dekat ini, terasa mustahil. Yah, semua orang tahu dia adalah mahasiswi dengan hafalan pelajaran dan tugas terbaik di kelas. Atau bahkan, di fakultas. Itu dibuktikan dengan IPnya saat ini yang seolah membeku di angka 4. Kesibukannya dalam menggali ilmu membuatnya tidak mau menghiraukan hal-hal yang tidak berguna untuk cita-cita terbesarnya; penulis. Salah satu hal tak berguna itu menurutnya adalah menjalin hubungan dengan seseorang.
Yah,meski begitu, teman-teman terdekatnya bukannya sepakat kalau Lita sama sekali 'tidak mau mengenal lawan jenis' atau semacamnya. Ia tetap ramah kepada siapapun, termasuk laki-laki yang mendekatinya. Lebih dari itu, teman-teman terdekatnya kagum dengan kemampuannya untuk fokus meski beberapa kali mereka menangkap pandangan 'galau' ala Lita. Ya, walaupun begitu fokus, gadis itu bukan berarti menutup diri. Dia tetap menyukai laki-laki dan sedang menyukai laki-laki, tetapi tidak mau terlalu muluk karena takut tidak fokus.
Seisi kelas tahu Lita menyukai pimpinan LDK (Lembaga Dakwah Kampus) mereka. Bahkan setelah dua tahun berlalu, Lita masih menyimpan pandangan tertunduk yang sama setiap membahas soal dia.
Namanya Alris. Yang Lita tahu soal ikhwan itu adalah; dia mahasiswa berprestasi, perantau sejati, yang membiayayi kesehariannya selama di sini dengan berjualan keripik pedas. Seringkali Alris terlihat menjual sendiri keripiknya di acara-acara LDK mereka, tanpa malu hanya karena dia seorang ketua umum LDK. Lita kagum dengan ikhtiarnya. Bahkan terkadang dia merasa malu karena meski berada di organisasi yang sama, belum bisa mencontoh kegiatan berguna Alris. Ia masih berusaha memantapkan diri dalam amaliyah sunnahnya dan memperbanyak bacaan-bacaan keagamaan. Hanya itu yang Lita bisa, dengan membuang jauh-jauh virus merah jambu dari kepalanya. Ia harus fokus, ia harus baik, dengan caranya sendiri. Hanya itu yang Lita tahu. Hanya itu yang bisa ia jadikan pedoman untuk terus lurus, dan tidak kebablasan hanya gara-gara hati.
Untuk kesekian kalinya, Lita menggeleng dalam ketikannya. Mengingat Alris dan sikap pemuda itu kepadanya, bisa membuatnya tersenyum sendiri. Tapi ia tahu tak boleh begitu. Ia tahu seharusnya janganlah berharap lebih dari sesuatu yang tidak dinyatakan. Yang dinyatakan saja bisa ditolak, apalagi yang tidak dinyatakan? Yang bisa ia lakukan ketika setiap kali mengingat pemuda itu adalah berdoa, agar dijauhkan dari keinginan menyatakan perasaannya.
"Astaghfirullah.." Dalam keheningan yang sama, Lita melanjutkan ketikannya.
Fokus Lit.. fokus..
"LITA!!" Nyatanya, teriakan itulah yang membuatnya fokus. Tepat setelah tersentak, Lita menoleh pada yang di belakangnya. Namun yang ia lihat bukanlah temannya, melainkan Alris. Lita tak yakin dengan apa yang dilihatnya di meja lain kafe ini.
Alris, dengan jaket organisasi yang tersampir di kursi, terlihat antusias menjelaskan sesuatu kepada perempuan di hadapannya. Di hadapan mereka ada laptop. Sesekali Alris terlihat memperlihatkan sesuatu di laptop itu.
"Hei, Arlita Ayunda..?? Are you there??"
Seketika Arlita mengerejap. Dia pun baru tersadar telah melamunkan Alris.
"Ya ya.. Kenapa, Dhes?"
"Melamun hm? Ngelamunin siapa sih mbak e?"
Namun sebelum Lita sempat menjawab, kepala Gandhes sudah menoleh ke orang yang sama.
"Ah, gue tahu..."
Segera, Lita mengibaskan tangan untuk menepis rasa 'kecewa' itu lagi yang tiba-tiba muncul. Ia berusaha terlihat baik-baik saja di depan sahabat-sejak-semester-satu-nya itu.
"Gak usah ngeliat kesana. Nanti dia ngerasa diperhatiin. Udah ah,"
"Kalo emang diperhatiin, kenapa, Ta?" "You likes him, a lot."
"Aku gak mau bahas itu, oke?" Lita tidak menghiraukan ucapan Gandhes. Ia kembali berusaha menyibukan dirinya dengan tulisannya. Tapi tiba-tiba, jemarinya terhenti ketika terdengar kata dari sumber yang sama.
"Oke, makasih ya, Mbak. Nanti kita kontakan lagi buat kesepakatan lebih lanjut."
"Oke, Ris. Thank you ya. Keep it up. Aku suka orang kayak kamu. Begitu detail membuat proposal proyek dan nggak menyepelekan."
Terdengar tawa dari Alris. "Ah, jangan suka muji gitu lah.." "Sama-sama, Mbak."
Kemudian perempuan itu melakukan sesuatu terhadap Alris yang mungkin tidak akan pernah bisa Lita lupakan seumur hidupnya. Secarik kertas disodorkan kepada Alris.
"Contact me later, okay? Setelah kuliah."
"Oke.."
Lita nyaris tak bisa menahan diri untuk menangis. Akhirnya, ia memalingkan wajah untuk mengalihkan perhatian.
Gandhes menangkap sesak di sana.
****
Lita tahu Gandhes meneleponnya berkali-kali malam ini. Tapi Lita tahu bahasannya tidak akan jauh dari Alris. Setelah apa yang pemuda itu lakukan tadi siang, ia rasa ia hanya membutuhkan senjata pamukasnya; alat sholat.
Saat ini waktu menunjukan jam tiga pagi, waktu yang cukup ideal untuk sholat tahajjud. Maka Lita pun bersiap melakukan itu.
Ia selesai dari berwudhu dan mulai memakai alat sholatnya.
Tak lama, sholat dimulai. "Allahu akbar.."
Dalam sujud, matanya memejam. Sengaja, ia melamakan sujudnya. Untuk pertama kalinya, ia menyelipkan nama Alris dalam doanya, setelah sebelumnya ia hanya mengadu kepada-Nya soal cita-cita dan kelancaran studinya.
Entah kenapa, inilah pertama kalinya Lita merasa sesakit ini.
"Ya Allah... Maafkan hamba berdoa atas rasa sayang selain kepadamu.. Tapi entah kenapa kali ini sungguh berbeda.. Perasaan yang selama ini berusaha hamba biaskan dengan kesibukan, malah meledak begitu saja hari ini. Hamba kecewa, tapi tahu bukan hak hamba.. Hamba hanya...ingin mengadu tentangnya. Alris, namanya..
Engkau pasti lebih tahu tentangnya dan isi hatinya daripada hamba... Maka bimbinglah ia selalu ke jalan-Mu.. Ke jalan para penghuni Jannah.. Dan...jika ia memang jodohku, tolong pertemukan kami kembali, Ya Allah..."
***
***
2016...
Empat tahun berlalu, belum ada yang berubah darinya selain karier yang akhirnya menjadi kenyataan. Ya, dia berhasil. Seorang Arlita Ayunda berhasil memampangkan namanya di buku-buku roman dan novel kritik sosial di toko buku. Beberapa di antaranya ada yang best seller. Karena itulah dia di sini hari ini, omong-omong. Di toko buku besar ini, ia mengadakan jumpa pembaca yang ingin mendapatkan tanda tangannya.
"Makasih, Mbaak. Nggak nyangka deh akhirnya aku bisa ketemu mbak di sini." "Kita selfie, yuk."
Untuk ke sekian kalinya dalam hari ini, dia berfoto bersama pembacanya.
"Makasih."
"Iya, sama-sama," Lita tersenyum, berusaha ramah meski sudah letih. Ya, ini bagian dari cita-citanya. Apa ada alasan untuk lelah dengan ini semua? Tepat sekali, tidak.
Omong-omong, ya, semuanya masih sama; termasuk soal pendamping yang seharusnya sudah dia miliki.
Memorinya melayang ke masa itu, masa di mana untuk pertama kalinya nama Alris diakuinya dihadapan-Nya sebagai orang yang dia suka. Setelah hari itu, ia rutin mengadu kepada-Nya, dan lebih banyak soal perasaan. Inti dari malam-malam bersujud panjang itu adalah sama; meski tak ternyatakan, Lita mengharapkan yang terbaik dari perasaannya. Kalau mau jujur, sampai sekarang seringkali ia masih merindukan melihat wajah itu lagi. Sejak lulus kuliah, mereka benar-benar lost kontak. Alris yang katanya pindah ke luar kota mengikuti pekerjaannya, membuatnya benar-benar merasakan 'LDR' yang sebenarnya. LDR pada umumnya adalah yang ternyatakan. Sementara dia? Tidak pernah sama sekali. Lagi, kesibukanlah yang membuat Lita melupakan perasaannya untuk beberapa waktu.
Pelan, senyuman tersungging tipis di bibirnya. Bersamaan dengan itu, terdengar suara familiar dari hadapannya.
"Selamat, ya, sudah berhasil jadi penulis."
"Ah, ya.." Tiba-tiba kikuk luar biasa melandanya. Ia bingung mau melanjutkan obrolan baru mereka dengan apa.
Namun tak lama, pria itu menyodorkan bukunya. Lita jadi tahu kemana obrolan ini akan dia arahkan.
"...Sudah baca bukunya?"
Alris terkekeh, "Sudah. Bagus. Saya terhanyut ke dalam pilihan diksinya. Rasanya seperti dibawa ke dalam cerita kamu."
Lita segera menyelesaikan tanda tangannya di buku milik Alris. "Senang kamu suka."
Alris terlihat tidak menghiraukan perkataan itu. Ia kembali terkekeh, tapi kali ini terasa agak tidak masuk akal karena rasanya tidak ada yang lucu sama sekali.
"Kenapa?"
"Engga..." "Saya cuma pengen tanya aja."
"Soal?"
"Waktu nulis buku itu, kamu udah tau rasanya dikhitbah belum?"
Deg, entah kenapa Lita tertegun. Ia merasa ada maksud lain dari Alris mengapa berucap itu dengan begitu gamblang.
"Belum.. Ini buku pertamaku. Aku nulis ini pas lagi kuliah dulu."
"Tapi nggak tahu kenapa rasanya begitu tepat. Saya sampai benar-benar berharap ada perempuan yang menjadi Aisyah-saya. Karakter gadis itu istri idaman banget. Dan omong-omong, watak karakternya mirip sama kamu."
Lita...belum bisa menyelesaikan kagetnya. Sebagai orang yang sudah sering berhadapan dengan makna-makna konotatif, ia jadi tidak yakin dengan apa yang didengarnya. Simpulannya secara tidak langsung mengatakan kalau Lita adalah istri idaman.
Duh..jangan ge-er dulu, Lit.. Lita mengangkat wajah.
"Memang di novel pertama aku gunain spesifikasi karakter yang ada di sekitarku waktu itu.."
Namun yang menjadi balasan Alris selanjutnya bukanlah pertanyaan tentang novel pertamanya lagi. Pria itu berdecak, seakan mau membenarkan ucapannya.
"Oke, saya langsung aja, deh.."
Lita memandang Alris sekilas dengan bingung.
"Lit, kamu belum ada yang ngekhitbah, kan?"
Oh...jangan bilang.. Lita diam dan menggeleng. Dia mewanti-wanti dirinya sendiri untuk berkaca diri dan jangan terlalu ge-er. Bisa saja Alris menyodorkan temannya atau siapapun itu.
"Nanti sore, boleh saya dan keluarga datang ke rumah kamu?"
.
.
.
.
.
SEKIAN.
NB: BUKAN CERITA BERSAMBUNG ^_^
Salam hangat,
Alin Ifa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar