Di sudut kamar, ia hanya membatu memandang layar laptopnya. Layar itu menampangkan sesuatu yang sama sekali tidak dia harapkan. Tahukah kau apa yang dimaksud? Yah, hal apapun itu, yang jelas berisi keputusan--karena wajahnya melemas tepat selesai membaca itu.
Brak! Emosinya melabil. Laptop yang ada di hadapannya pun menjadi sasaran amarahnya.
"AKH!"
Seisi kamar seakan mengelam. menyambut ketidakkaruan perasaannya sekarang.
Dia mengerjakan sesuatu di laptop itu. Sebuah tulisan tepatnya. Dia merasa telah mengerjakan itu sesuai dengan kebutuhan targetnya. Dia merasa sudah benar dengan seisi tulisannya; EYD, pemilihan diksi, juga riset dalam tulisannya. Dia sangat yakin inilah percobaan terakhirnya, dan akan sukses membuktikan kepada dunia--paling tidak dunianya--kalau menulis bukanlah hal yang bisa disepelekan untuk dijadikan pekerjaan. Dia merasa sangat amat yakin, bahkan, kalau tulisannya kali ini akan diterima.
Tapi ternyata, yang terjadi adalah sebaliknya. Ia tak puas, rasanya ingin bakar saja manusia-manusia penting dalam penerbit itu. Rasanya ia ingin mengatakan keras-keras kepada mereka, "Apa lagi yang salah dengan tulisan saya?!!" Namun kenyataannya, yang terjadi sekarang adalah ia dibuat harus menyesal dan menyerah pada mimpinya. Tuhan telah menghendaki dia harus bangun dari mimpinya dan mulai berpikir realistis.
Ia bangkit, ke luar kamar, tidak mau memedulikan lagi seisi kamarnya. Dadanya menyesak, merasa sia-sia saja dengan upayanya selama ini. Ia terdiam sepanjang langkah, namun tak mau menoleh ke belakang. Ia hanya berjalan, terus ke depan tanpa menoleh kanan dan kiri. Ia hanya tahu kalau kecewa itu menyesak dalam dirinya. Ia hanya ingin menemukan tempat untuk meluapkan semuanya. Hari ini benar-benar kelam buatnya, benar-benar menyiksanya.
Sementara mentari turun, menampakan kelam yang semakin nyata. Ia masih berjalan, tanpa tahu harus kemana. Ia masih termenung, tertegun dalam diam, tanpa tahu harus memprioritaskan pikiran apa dalam kepalanya. Matanya memandang jalan lurus-lurus. Tatapannya kosong, seperti kehilangan semangat.
Burung tuwu melengkapi kekosongan harinya. Pekiknya tak membantu menghilangkan kelam sama sekali, malah menambah. Kemudian beberapa burung terbang, melewatinya, hinggap di dahan pohon yang lain.
Ia berhenti, memandang burung-burung tuwu yang masih berkicau itu.
"Tuhu! Tuhu!", begitu kata mereka.
"Tuhu! Tuhu!"
"Tuhu! Tuhu!"
"Tuhu! Tuhu!"
Kesalnya memuncak tanpa alasan. 'Tuhu' burung-burung itu seolah mengejeknya.
"Tuhu! Tuhu!"
"DIAM!!"
Namun tak lama, geraknya memudar. Dalam duduknya ia diam. Dalam diamnya, ia tak lagi kosong. Ia terpikir satu hal yang mungkin saja sukses menghilangkan hari kelamnya.
Berlarilah ia, menuju kamarnya lagi. Dia mengambil beberapa benda penangkap inspirasi itu dan berkemas. Hendak kemana, ia pun masih belum menemukan jawabannya. Namun keyakinannya kembali tumbuh.
Sesuatu berkata dalam dirinya, tepat saat menyadari analogi terbangnya burung tuhu itu ke pohon di hadapannya lalu seolah mengejeknya. Perkataan keyakinan timbul dalam dirinya; 'Jangan sampai aku terlangkahi orang lain yang mengejekku dengan impianku..'
Jangan.sampai...
Ia menghentikan taksi di depan penginapannya.
"Mau kemana, Mas?" Supir taksi bertanya. Dalam pikirnya, sebenarnya ia agak aneh melihat wajah penumpangnya ini. Tapi supir itu menghiraukan, hanya berpikir lurus--lakukan saja tugasmu hingga habis hari.Sementara itu ia terdiam sejenak, sama sekali tak terpikir akan kemana. Tiba-tiba sekelebat ingatan akan alur dalam tulisannya menyergap.
"Ke stasiun, Pak."
*
Stasiun; itu salah satu latar tempat dalam tulisannya. Ia hanya terpikir untuk naik ke rute terjauh yang ada di stasiun kereta ini.
Ia masuk, memesan tiket, dan naik kereta yang dimaksud. Dalam diam, ia mencari kursinya. Di tiketnya tertera lokal A, kursi nomor satu.
Tak lama, ia menemukannya. Lokal berisi empat kursi itu masih kosong saat ia memutuskan untuk membatu di kursi yang dimaksud. Namun kemudian, satu suara menghapus keheningannya.
"Lokal A, ya?"
Ia mendongak, bermaksud membalas seadanya kepada suara itu.
"Iya, Mbak."
Pemilik suara itu wanita. Tampilannya tak berhasil memindahkan fokusnya pada hal lain. Matanya tak bisa mencegah pandangan terpakunya pada sosok itu. Kemanapun dia, rasanya obrolan yang tercipta diantara mereka akan sangat panjang.
Jilbab panjang wanita itu melambai, seiring hembusan angin dari jendela lokal yang dibuka. Wanita itu tak terfokus kepadanya, berbeda dengannya. Begitu duduk, wanita itu langsung membuka sebuah buku. Buku novel, tepatnya. Ia merasa mengenal judul dan isi ceritanya.
"Suka karya beliau juga, Mbak?" Keki, ia buka suara, memulai obrolan pertamanya dengan wanita itu.
"Ya." Sosok itu menanggapi dengan anggukan. Lalu tangannya terulurkan buku itu, seolah menawarkan. "Mau baca?"
Kepalanya seperti tak bisa dicegah untuk mengangguk. Maka mengangguklah ia menjawabnya. Tak lama, buku berpindah tangan.
Ia membaca bukunya sekilas. Benar saja ini adalah salah satu karya dari penulis favoritnya. Sebenarnya, karya inilah yang menjadi inspirasinya di tulisan gagal itu. Itulah yang membuatnya kecewa luar biasa mendengar tulisannya tidak diterima.
Tak mau berlama-lama, ia tiba di halaman terakhir; bagian profil penulis. Namanya, Indah Saraswati, akademisi sastra yang lulus cumlaude di universitas favorit dan sudah mempunyai banyak karya. Namun sejauh ini, ia hanya tahu nama, tidak dengan wajah, karena takut Dia akan membawa kecintaannya pada penulis ini menjadi terlalu dalam. Ia tak mau melupakan-Nya hanya demi mengorek dan mencintai dunia sesama manusia. Ia tahu dirinya; seorang pria 24 tahun yang akan terlalu fanatik jika sekali sudah suka dan kagum dengan kisah hidup seseorang.
Profil tanpa foto itu membuatnya tersenyum sekilas. Akan bahagia rasanya jika suatu saat dapat membuat orang tuanya bangga dengan cara seperti yang Indah lakukan.
Ah..sudahlah. Perbaiki saja tulisanmu dulu, Van.
Ia menutup buku itu, mengembalikannya kepada si empu.
"Makasih." "Saya udah pernah baca. Baca sekilas aja barusan."
Wanita itu mengangguk dalam senyum. "Oh? Bagus gak ceritanya menurutmu?"
Ia mengangguk yakin. "Ya." "Malah buku ini yang jadi inspirasi saya buat menulis."
"Suka nulis? Karyanya udah pernah terbit?"
Mendengus, gerutuan kecil tersirat di kepalanya, Belum, terus kenapa? Kan kalau suka nulis nggak harus nerbitin karya.
"Iya. Tapi belum ada yang terbit sejauh ini."
Senyuman muncul dari wanita itu. Senyuman pengertian, tepatnya. Ia menghangat melihat goresan bibir yang sempurna menampakan ketenangan baginya.
"Semangat. Tuhan tahu, kok, proses yang mana yang pantas buat dijadikan hasil terbaik."
"Ya.." Untuk sekian kalinya dalam lima menit ke belakang, ia merasa hari kelamnya sudah mulai terhapus.
Tak lama, kereta berjalan, mengacuhkan kanan kiri jalan dan orang yang telat memasukan. Bersamaan dengan itu, kalimat lain meluncur dari sosok di hadapannya.
"Boleh kenalan?"
Ia mengangguk. "Saya Ivan." "Mbak?"
"Indah Saraswati."
***
2016...
Tiga tahun adalah bukan waktu yang sebentar untuk menikmati kesuksesannya. Menilik ke belakang, ia jadi bersyukur dengan pilihannya naik kereta tujuan Jakarta--Surabaya itu.
"Aku boleh lihat tulisan terakhir kamu? Siapa tahu bagus, dan bisa diterbitkan di publisherku."
Kalimat itulah yang menjadi awal kesuksesan tulisan terakhirnya. Sekarang, setelah kehidupannya membaik, ia tengah melanjutkan buku keduanya tentang kisah yang sama.
"Bi, jangan keterusan menulisnya. Makan dulu, yuk. Anak-anak sudah pada nunggu di bawah, tuh."
Ia menoleh. Melihat sosok yang menyapanya, malah membuatnya semakin kebanjiran inspirasi. Sosok itulah yang dulu, sekarang, dan nanti, menjadi inspirasinya. Kehadiran sosok itu sudah seperti sumber ide untuknya. Setiap mengingatnya, ia semakin menjadi menarikan jari di atas tuts laptopnya. Setiap mengingatnya, ia semakin bersyukur tentang ungkapan 'Habis Gelap Terbitlah Terang', yang benar-benar terjadi di kehidupannya.
"Sebentar,"
"Ivan!,"
Sedetik, ia harus merelakan kepalanya tertawa, dan bibirnya tersenyum riang. Sejauh yang ia tahu, kalau sudah memanggil nama, apa yang orang itu katakan wajib dan harus dilaksanakan.
"Ay, ay," Ia mengacuh, menuliskan beberapa kata lagi sebelum beringsut ke pintu kamar.
Pandangannya meneduh. "Indahku berisik, ya.. Ganggu aliran ide aja."
Orang itu mendengus, "Itu bisa disambung nanti, kamu tahu."
"Aku tahu."
Satu kecupan di kening mengheningkan suasana di antara mereka.
-BUKAN CERITA BERSAMBUNG ^_^-
"Yakin saja, Tuhan punya rencana lain di balik setiap hari kelammu"
Salam hangat,
Alin Ifa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar