Sabtu, 01 April 2017

#SesiCerpen "FOTO"

Ngomong-ngomong, gue bingung mau ngepost apa, tapi pengen buka blog. Yaudahlah yaa... akhirnya ngepost cerpen lama aja :v 

Btw, umurnya udah dua tahun lho. Ditulis tahun 2015 wkwk, waktu bahasanya masih ancur-ancuran haha... (sekarang juga masih sih hehe..)

Enjoy reading!
*********************************************************************************

FOTO

Bandung, 2015…
Dia memandangi foto itu lama..sekali. Seolah dengan memandangi foto satu itu, seseorang yang telah lama dirindukannya bisa keluar seketika itu juga, menjadi di hadapannya. Sementara matanya terus pada foto itu, seorang yang sudah setahun ini akrab menemani hari-harinya di tempat yang baru, masuk ke ruangannya, muncul di hadapannya.
            “Siap, Dis? Presentasinya dimulai sebentar lagi.” kata orang itu, sekedar memberitahu.
            Disa—perempuan itu—mengangkat wajah. Wajah itu seketika mengulaskan senyum tipis yang biasanya hanya bisa dilihat oleh si orang tersebut, Ferry.
            “Oh, come on… Jangan tampakin ekspresi itu lagi ke saya.” Ferry melangkah mendekati Disa ketika melihat ekspresi yang selalu membuatnya berpikir: seberapa istimewanya foto itu?
            “Aku nggak apa-apa.” Disa cepat-cepat menyangkal, mencegah Ferry mendekatinya dan mengeluarkan sekian kalimat nasehat tentang hal yang sama, namun sama sekali tidak pernah berhasil padanya.
Yang ia lihat malah wajah Ferry yang terlampau dekat darinya, persis di hadapan matanya. “Fer?”
“Konsentrasi sama presentasinya, oke? Jangan sampai kita kehilangan tender.”
Dua kalimat itu membuat Disa sepenuhnya mendengus. “Sialan….”
***
FrameLine Production akhirnya dapat memenangkan tender yang diadakan untuk pemilihan siapa yang tepat menjadi kru syuting iklan salah satu klub sepakbola terbesar di Indonesia ini. Karena itu juga, malam ini FrameLine Production mengadakan pesta besar-besaran.
            Namun rupanya Disa sama sekali tidak terpengaruh dengan suasana pesta yang meriah itu. Dia malah diam-diam saja di pojok bar sambil meminum sesuatu. Satu hal yang tidak berubah darinya : tangan kirinya masih saja memegang foto itu sementara yang lainnya memegang gelas ice tea yang isinya sudah nyaris habis.
            Srrtt… Pelan..sekali sesapan terakhirnya ke ice tea yang dimaksud. Dalam diam, sebuah memori berputar. Memori tentang foto itu.

Bogor, Desember 2004…
            Deru mobil itu terdengar halus dari bengkel yang berada tepat di sebelah rumah si mpunya. Sementara itu, seorang cewek 18 tahun masuk ke bengkel, menyapa cowok berumur sama yang tengah asyik memandangi betapa indahnya mesin mobil yang sedang ia kerjakan.
            “Masih berkutat aja..” kata si Cewek, Disa.
            Cowok itu menarik diri dari bawah mobil dan menampakkan senyum lebarnya. Cengiran kuda khas-nya, tepatnya “Mau ikutan?” tanya dia bercanda.
            Disa berjongkok dan mengangkat kamera kodak-nya. “Hari ini kan aku belum foto kamu.”
            “He-eeh…” Cowok itu kembali nyengir. “Jangan coba buat gue nge-fly-lah… Gue tau lo lagi mau buat artikel tentang mobil gue, kan?”
            Disa hanya tersenyum, tidak lebih. Kemudian dia menarik cowok itu dan berfoto bersamanya. “Masa cuma mobilnya doang yang aku foto?...”

MEMORINYA terpotong begitu saja saat satu sentakan di pundak menyadarikannya.
            “Ngelamun lagi…” –Ferry.
            Disa menoleh, “Emang ada yang nyebutin kalau ngelamun ngelanggar hak asasi, ya?”
            Dengan satu komentar balasan itu, wajah Ferry mendadak berubah, sepenuhnya jadi memuram memandangi Disa dengan kernyitan yang dalam di dahinya.
            Namun bukan kata yang dia jadikan sebagai kelanjutan dari obrolan mereka. Gerakan tangannya yang berubah merampas foto itu dari tangan Disa dengan kasar dan merobeknya menjadi kelanjutannya.
            Ferry pun pergi, meninggalkan Disa yang tertegun dengan mata yang memandangi pria itu tidak percaya. Kemudian dia beranjak. Disa memunguti robekan foto itu dengan setengah hati dan memasukannya ke kantong bajunya. Lagi, dalam diam.
***
Kejadian personal semalam berdampak cukup berbeda pada mereka berdua. Yang satu masih tetap konsentrasi dengan pekerjaannya sebagai head project dalam iklan klub sepakbola, yang satu malah begitu asyiknya terjebak dalam ekspresi merengut dan kesal yang masih amat sangat nyata.
            Orang-orang kantor yang melihat perbedaan pada bos mereka jelas menanyakan itu pada Disa. Yang mereka tahu, Disa-lah orang terdekat sang bos, meski bukan sebagai pacar. Tapi Disa hanya bisa menjawabnya dengan jawaban asal saja sampai menemukan waktu yang tepat untuk menanyakan itu sendiri pada Ferry.
            Sepertinya istirahat makan siang inilah yang dia jadikan sebagai waktu yang tepat itu. Disa tengah berdiri di depan pintu ruangan Ferry. Dia hanya terpaku disana, berpikir dua kali untuk masuk. Tapi sepertinya tidak jadi karena yang punya ruangan sudah membuka pintunya duluan.
            “Ngapain kamu?” Ferry bertanya dengan nada yang cukup menusuk.
            Akhirnya setelah memberanikan diri untuk mengajak sang Atasan berbicara, Disa mengangkat wajah. “Kita harus ngomong.”

            Ferry mengetuk-ngetukan jarinya ke meja. Bukannya risih atau apa karena menunggu sesuatu. Dia hanya bingung mau membicarakan apa sementara menunggu pesanan makan siang mereka datang. Satu hal, ini bukan dimana-mana. Mereka—Ferry dan Disa—ada di ruangannya.
            “Maaf kalau soal foto itu ganggu kamu.” kata Disa akhirnya, membuka keheningan diantara mereka.
            Ferry mendengus mendengar topik pertama yang head projectnya ini buka. Topik yang sebenarnya membuatnya merasa bersalah semalaman. “…Bisa ganti topik?”
            “Enggak sebelum aku tau alasannya yang harusnya lebih dari sekedar ‘Saya sayang sama kamu.’,” tukas Disa, membuat Ferry sepenuhnya terdiam. Ya, memang dia pernah menyatakan perasaannya pada perempuan itu setelah beberapa saat dari pertemuan pertama mereka. Tapi itu dulu. Dulu…sekali, dan Disa sudah lama menolaknya.
            “…Aku nggak nuntut apapun. Just come back. Bersikap profesional.”
            Ferry memalingkan wajah karena perkataan itu. Dia tahu dan harus begitu. Tapi rasanya ini sudah terlampau keterlaluan buatnya. Ferry merasa punya segala yang lebih dari cowok kucel yang ada di foto itu. Kenapa Disa harus terlihat olehnya menaruh perhatian lebih yang justru ke cowok itu—bukan kepadanya?.
            “Bisa?.”
            “Kamu nggak tau apa yang saya rasain setiap kali kamu lihat foto itu.” sambar Ferry geram. “…Nggak masuk akal. Sampai segitunya kamu nganggap cowok yang sekarang mungkin udah entah kemana itu.
            “Tapi apa masalah kayak gitu pantas dibawa ke kantor?.” Disa mendebatnya dengan nada yang jauh lebih tinggi daripada tadi. “Ini kantor, Fer. Dan harusnya kamu sadar posisi kamu disini.”
            Seperti tidak peduli lagi dengan yang Disa katakan, Ferry langsung berdiri dan membentaknya, sekasar-kasarnya.
            “KAMU YANG SADAR DIRI!” “Sadar, Dis! Siapa sebenarnya kamu disini!. Ba-wa-han!.” “Jadi nggak usah nasehati saya dan keluar sekarang,” Kemudian nada Ferry merendah. “..Keluar.”
            Meski agak tertohok mendengar bentakan itu, Disa berdiri juga, menuruti emosi Ferry. Lagi-lagi, dalam diam. Diam juga yang menemaninya hingga di luar dan mendengarkan sayup-sayup luapan emosi Ferry di dalam sana.
***
Hanya teriakan heboh dari semua orang yang dia bisa dengar. Teriakan itu mengiringi langkah kakinya menuju ke sumber yang membuat semua orang berteriak. Langkah kaki itu berderap. Sangat terdengar terburu-buru, hingga tidak bisa bohong kalau yang punyanya sedang dilanda kepanikan yang amat sangat.

            Kemudian tarikan nafas tersengal yang terdengar. Disa menoleh ke sekelilingnya dan mengusap peluh, mengatur nafas—tahu yang dilihatnya saat ini tidak lebih dari kamarnya yang temaram dan kesepian.
            Tak lama, ponselnya bergetar dari meja kamar. Nomor yang dilihatnya dari pesan di layar membuatnya mengusap muka dan pergi dari ruangan pribadi itu.

            Yang ada di hadapannya sekarang adalah Ferry, dengan seorang dokter pribadi yang mendampinginya. Wajah itu terlihat kusut, terbenam dalam kepiluan yang bisa dibilang tidak bisa digambarkan. Sementara itu sang Dokter berbisik sesuatu padanya, membuat Disa mengangguk dan beranjak ke sisi Ferry.
            “Hei,” Dia memulai, menyapa dengan selembut mungkin.
            Ferry menoleh, tanpa kata.
            “…Aku bawain sesuatu.” katanya, masih pelan. Disa menyodorkan sekantung kresek makanan ringan kesukaan Ferry.
            Tapi yang jadi balasan dari pria itu malah cegahan dari tangannya ke makanan Disa dan tolehan dengan tatapan dalam. “Jelasin semuanya.”
            “Jelasin apa, Fer?” Disa bertanya tidak mengerti. “Kenapa?”
            “Mana foto itu? Jelasin.” Ferry mendesaknya dengan nada yang berubah tersengal, tergesa.
            Setelah yakin akan apa yang seharusnya dia jelaskan, akhirnya Disa mengeluarkan foto yang sudah dilem kembali itu dan memulai dengan dua kata. Dua kata yang membuat semuanya jelas.
            “Ini kamu.”
            Ferry tidak membantah. Dia diam dan mencoba mendengarkan. Mendengarkannya kali ini untuk mencocokan dengan ingatan yang ia punya tentang sosok perempuan yang baru saja dia bentak siang tadi.
            “Kenapa..?” dan dia hanya bisa bertanya dengan terbata.
            “Dulu, jauh sebelum aku tau kamu sebagai Ferry yang nggak suka otomotif lagi dan lebih tertarik ke film, kamu atlet kabupaten di lomba drag nasional.” Disa menjelaskan, mencoba pelan-pelan agar tidak membuat ingatan sahabat lamanya ini kembali buyar dan kacau.
            Ferry masih mencoba mendengarkan, merasakan kebenaran dalam ucapan Disa dan potongan ingatannya tentang balapan yang dimaksud.
            “I don’t know for sure… Tapi kata mama, keluarga kamu nggak mau kamu ikutan balapan lagi. So..mereka nggak mau kamu kenal aku lagi, dan balapan lagi.” lanjut Disa. “Mereka menganggap…kalau aku-lah salah satu penyebab kamu begitu konsen ke balapan.”
            Dan Ferry menggeleng pelan, tidak terima dengan ucapan terakhir Disa. Menurutnya pilihan ke karirnya sekarang ini adalah dari dirinya sendiri. “Enggak,” “Enggak ada yang bisa maksa saya buat ngelakuin sesuatu yang nggak saya pengen.”
            “Ya.. memang. Dan ini termasuk salah satu yang kamu pengen, sayangnya—dalam ingatan baru kamu.” “Setelah balapan nasional ingatan itu mulai dibentuk.” “Delapan tahun lalu.” “Sejak kamu divonis kehilangan setengah memori berarti dalam otak kamu, aku nggak bisa berhenti mantau perkembangan kamu. Sampai sekarang.” Disa menambahkan penjelasannya. Sementara itu, si Dokter hanya diam memandangi adegan yang menjurus ke romantis itu.
            Yang hanya bisa Ferry lakukan adalah memandangi foto itu dan mengambilnya. Jemarinya mengelus foto itu pelan. Dia mengesah, tidak menyangka bahwa cowok kucel yang ada di foto itu adalah dirinya. Cowok yang dia anggap sebagai orang-istimewa-tak-berguna-Disa adalah dirinya. Dan dia yakin, penantian delapan tahun untuk menjadi orang yang kembali diingat olehnya sangatlah panjang. Ferry sangat tersanjung sekaligus terpaku menyadari ketulusan Disa menemaninya sampai ingatannya kembali seperti sekarang.  
            “Alasanku nggak langsung ngasih tau semua itu adalah…Dokter Farhan bilang kondisi kamu masih labil. Aku takut satu kejujuran itu bakal ngancurin semuanya, dan aku nggak mau itu. Aku nggak mau dilupain selamanya.”
            “Terus kenapa kamu nggak kasih tau ke saya kalau nama cowok itu Ferry...?” tanya Ferry, dalam nada yang berubah menjadi seperti biasa.
            “Prayoga atau Yoga. Aku pikir itu bakal buat kamu peka..” “Ternyata, samanya kayak dulu: nggak pernah peka-peka...
            Ferry dan Dokter Farhan sama-sama menghela dan tergelak. Yah, setidaknya hari ini, jam ini, malam ini, semuanya terjelaskan. Sebuah foto bisa berarti untuk seseorang atau sebaliknya. Dimana tempat untuk menyimpan utuh sebuah memori bersejarah, tentang menyayangi dan mengingat, membenci dan melupakan. Tempat yang hanya sebuah kertas tipis dan licin, bertinta warna—bisa berubah menjadi sesuatu yang berarti dan terus diingat sampai kapanpun itu.

            Kemudian, seuntai lirik lagu mengalun dari pemutar musik terdekat, menemani pagi tentram mereka di tempat yang kembali berbeda. Keduanya mengulaskan senyum yang amat damai.  Dengan tangan yang kali ini saling tertaut, mereka menikmati kebersamaan dalam gerakan dansa diiringi lagu itu, di momen privasi mereka.
            “Kapan kita mau pulang? Sudah seminggu lho disini.” kata perempuan yang sama dengan memori di bengkelnya, 12 tahun lalu.
            “Sampai ada Ferry junior aja, ya?” Si Pria membalas dengan nada jahil tapi serius-nya.
            Perempuan itu tidak membalas apa-apa. Hanya diam dan kembali menikmati gerakan dansa-lah yang ia lakukan. Ya, dia akan terus seperti itu. Mereka akan terus seperti itu setelah proses kembali saling menemukan itu dijalani. Disa sendiri tidak akan membiarkan laki-laki kucel yang sekarang jadi bos besar perusahaan periklanan itu pergi lagi dari hidupnya, sekalipun menjadi seorang yang kembali berbeda.
            Dia juga sangat bersyukur dengan keputusannya tetap menyimpan foto itu. Dengan foto satu-satunya dari memori terbaik yang dia punya tentang Ferry, dia bisa mendapatkan orang itu kembali.
            Lalu yang tersisa dari mereka hanyalah alunan musik yang rasanya pas dengan cerita mereka.

So you can keep me
Inside the pocket
Of your ripped jeans
Holdin' me closer
'Til our eyes meet
You won't ever be alone

And if you hurt me
That's OK, baby, only words bleed
Inside these pages you just hold me
And I won't ever let you go

Wait for me to come home *

SELESAI….

*Ed Sheeran : Photograph

Tidak ada komentar:

Posting Komentar