Senin, 27 Maret 2017

BEREFEK RADIASI, TIDAK MENGURANGI JAM PENGGUNAAN GADGET

Oleh: Awalina Fitri Fajriyah


MUNGKIN ini ibarat memilih antara mati di tengah padang pasir, atau membeli air yang mahal dari penjelajah lain agar bisa bertahan hidup sampai menemukan jalan ke luar. Ya, gadget adalah kebutuhkan bagi manusia modern. Tidak banyak yang bisa menolaknya. Hanya suku-suku pedalaman dan masyarakat asli tertentu yang adatnya masih sangat kental lah yang bisa menolak keberadaan gadget.
Benar adanya yang dikatakan para pencipta gadget tertentu, kalau banyak kelebihan dan kenikmatan bisa kita nikmati dari menggunakan gadget. Tapi ada satu kekurangan besar menyusup ke kecanggihan gadget, yaitu masalah efek penggunaannya terlalu lama kepada kesehatan. Kata “terlalu lama” membuahkan tendesius yang positif kepada para penikmat gadget. Mereka akan berpikir, ah, asal sesuai aturan, nggak akan masalah. Itu benar. Gadget, apapun bentuk, jenis, dan kecanggihannya, boleh tetap digunakan, asal tahu waktu. Pepatah lama, kalau segala yang berlebihan itu akan merusak, itu juga berlaku pada penggunaan gadget. Meski begitu, masih ada saja pengguna yang tidak mengindahkan frasa “sesuai aturan”. Banyak diantara mereka yang sudah kecanduan menjadi tidak peduli lagi dengan efek radiasi yang dimiliki setiap gadget (baik itu komputer, laptop, atau televise) dan menggunakannya diluar batas.
Ponsel, misalnya. Dengan adanya smartphone, atau ponsel pintar yang dilengkapi segala fitur dan kecanggihannya, seringkali membuat pengguna malas beranjak dari gadget tersebut. Adanya playstore (toko aplikasi/game/buku online), makin memperparah kondisi tersebut. Masyarakat dibuat semakin kecanduan dan konsumtif dengan aplikasi-aplikasi yang ada seperti Go-Jek, Grab Bike, game-game yang kompatibel dengan ponsel pintar masing-masing, hingga aplikasi pekerjaan seperti seri Microsoft Office, dan aplikasi ibadah seperti Al-Quran Indonesia atau buku-buku hadits. Kecanduan hal terakhir memang bagus. Tetapi pengguna smartphone kebanyakan lebih memilih memasang aplikasi / layanan yang memudahkan “mager” hidupnya. Alhasil ia menjadi mager kemana-mana, memilih delivery order sebagai senjata utama mendapat makanan cepat saji, hingga menjadi anti sosial. Ya, efek keberadaan gadget seperti smartphone—bahkan ponsel biasa sekalipun—memang banyak negatifnya. Itu semua hanya efek jangka pendek. Radiasi yang terjadi lama sekali setelahnya adalah efek jangka panjang, yang tak hanya mengakibatkan disfungsi beberapa alat indera (seperti mata), tetapi juga penyakit mematikan, dan kematian.
Dilansir Dailymail, Dr. Alan Preece di Universitas Bristol menyatakan bahwa radiasi ponsel sangat tidak aman. Sebuah studinya menunjukan bahwa emisi transmisi sinyal ponsel akan mengubah reaksi di otak. Peristiwa fatal yang tercipta akibat terlalu banyaknya aktivitas yang melibatkan benda beradiasi itu diperkirakan akan terus bertambah dari hari ke hari karena semakin banyaknya gadget yang tercipta dengan segala kecanggihannya.
Contoh kasus kecil efek radiasi kepada pengguna ponsel terjadi pada 2001—2002. Yaitu kasus Samantha Miller, seorang remaja yang saat itu baru saja dibelikan ponsel biasa (pada zaman itu). Kasusnya yang sempat menjadi viral di dunia maya ini merupakan kisah yang seharusnya dapat dijadikan pelajaran oleh para pengguna ponsel yang overtime. Dikisahkan, beberapa bulan sebelum dilarikan ke rumah sakit di Yeovil, Samantha rutin bertelepon menggunakan ponsel. Sekitar Januari 2001, ia mengeluh sakit yang luar biasa di kepalanya dan dilarikan ke rumah sakit. Samantha didiagnosis menderita tumor ganas di otaknya. Ia terapi menggunakan radioterapi. Namun setahun setelah itu kondisinya sama sekali tidak membaik. Malahan, Samantha menghabiskan minggu-minggu terakhirnya dengan duduk di atas kursi roda dan tubuh yang lumpuh sebagian.
Kisah viral itu menjadi pelajaran bagi sebagian pengguna ponsel hingga saat ini. Namun sebagian lainnya adalah sebaliknya. Banyak diantara mereka yang masih menggunakan ponsel secara overtime, entah alasannya karena semua pekerjaannya ada di sana, keperluan komunikasi jarak jauh, atau apapun itu. Secara langsung memang ponsel seolah memenuhi kebutuhan hidup manusia saat ini. Tidak ada yang harus disalahkan dari beradaan gadget yang semakin menjamur. Tidak pembuat, tidak pemakai. Setiap hal—tidak terkecuali gadget—memiliki kekurangan dan kelebihan, manfaat dan mudarat. Khusus untuk pemakaian ponsel yang beriringan dengan efek radiasi yang mengintai kita, hendaknya mari bijaksana. Keseharian kita tidak selalu membutuhkan ponsel. Jangan biarkan kita diperbudak oleh ponsel, sehingga melupakan sosial di sekitar kita yang akan lebih dekat jika didekati secara langsung, bukan via gadget. Efek radiasi bisa diminimalisir dengan mengurangi jam penggunaan gadget, dan membiasakan beberapa trik khusus seperti menggunakan pengeras suara, matikan ponsel saat malam—terutama jam 00.00 sampai 04.00—hingga jangan terlalu mendekatkan ponsel ke telinga saat masih menyambungkan saluran telepon.

Namun pada akhirnya masing-masing pengguna sendiri yang akan menentukan: mau berakhir di meja operasi atau umur yang pendek akibat macam-macam penyakit radiasi, atau tetap bisa menikmati gadget dengan memahami penggunaan dan kapasitas diri terhadap gadget, dan sebaliknya. Silakan menentukan. (**)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar