Oleh: Awalina Fitri Fajriyah
MUNGKIN
ini ibarat memilih antara mati di tengah
padang pasir, atau membeli air yang mahal dari penjelajah lain agar bisa
bertahan hidup sampai menemukan jalan ke luar. Ya, gadget adalah kebutuhkan
bagi manusia modern. Tidak banyak yang bisa menolaknya. Hanya suku-suku
pedalaman dan masyarakat asli tertentu yang adatnya masih sangat kental lah
yang bisa menolak keberadaan gadget.
Benar adanya yang dikatakan para pencipta
gadget tertentu, kalau banyak kelebihan dan kenikmatan bisa kita nikmati dari
menggunakan gadget. Tapi ada satu kekurangan besar menyusup ke kecanggihan
gadget, yaitu masalah efek penggunaannya terlalu lama kepada kesehatan. Kata
“terlalu lama” membuahkan tendesius yang positif kepada para penikmat gadget.
Mereka akan berpikir, ah, asal sesuai aturan, nggak akan masalah. Itu
benar. Gadget, apapun bentuk, jenis, dan kecanggihannya, boleh tetap digunakan,
asal tahu waktu. Pepatah lama, kalau segala yang berlebihan itu akan merusak,
itu juga berlaku pada penggunaan gadget. Meski begitu, masih ada saja pengguna yang
tidak mengindahkan frasa “sesuai aturan”. Banyak diantara mereka yang sudah
kecanduan menjadi tidak peduli lagi dengan efek radiasi yang dimiliki setiap
gadget (baik itu komputer, laptop, atau televise) dan menggunakannya diluar
batas.
Ponsel, misalnya. Dengan adanya smartphone,
atau ponsel pintar yang dilengkapi segala fitur dan kecanggihannya, seringkali
membuat pengguna malas beranjak dari gadget tersebut. Adanya playstore
(toko aplikasi/game/buku online), makin memperparah kondisi tersebut.
Masyarakat dibuat semakin kecanduan dan konsumtif dengan aplikasi-aplikasi yang
ada seperti Go-Jek, Grab Bike, game-game yang kompatibel dengan ponsel pintar
masing-masing, hingga aplikasi pekerjaan seperti seri Microsoft Office, dan aplikasi
ibadah seperti Al-Quran Indonesia atau buku-buku hadits. Kecanduan hal terakhir
memang bagus. Tetapi pengguna smartphone kebanyakan lebih memilih
memasang aplikasi / layanan yang memudahkan “mager” hidupnya. Alhasil ia
menjadi mager kemana-mana, memilih delivery order sebagai senjata
utama mendapat makanan cepat saji, hingga menjadi anti sosial. Ya, efek
keberadaan gadget seperti smartphone—bahkan ponsel biasa sekalipun—memang
banyak negatifnya. Itu semua hanya efek jangka pendek. Radiasi yang terjadi
lama sekali setelahnya adalah efek jangka panjang, yang tak hanya mengakibatkan
disfungsi beberapa alat indera (seperti mata), tetapi juga penyakit mematikan,
dan kematian.
Dilansir Dailymail, Dr. Alan Preece
di Universitas Bristol menyatakan bahwa radiasi ponsel sangat tidak aman.
Sebuah studinya menunjukan bahwa emisi transmisi sinyal ponsel akan mengubah
reaksi di otak. Peristiwa fatal yang tercipta akibat terlalu banyaknya
aktivitas yang melibatkan benda beradiasi itu diperkirakan akan terus bertambah
dari hari ke hari karena semakin banyaknya gadget yang tercipta dengan segala
kecanggihannya.
Contoh kasus kecil efek radiasi kepada pengguna
ponsel terjadi pada 2001—2002. Yaitu kasus Samantha Miller, seorang remaja yang
saat itu baru saja dibelikan ponsel biasa (pada zaman itu). Kasusnya yang
sempat menjadi viral di dunia maya ini merupakan kisah yang seharusnya dapat
dijadikan pelajaran oleh para pengguna ponsel yang overtime. Dikisahkan,
beberapa bulan sebelum dilarikan ke rumah sakit di Yeovil, Samantha rutin
bertelepon menggunakan ponsel. Sekitar Januari 2001, ia mengeluh sakit yang
luar biasa di kepalanya dan dilarikan ke rumah sakit. Samantha didiagnosis
menderita tumor ganas di otaknya. Ia terapi menggunakan radioterapi. Namun
setahun setelah itu kondisinya sama sekali tidak membaik. Malahan, Samantha
menghabiskan minggu-minggu terakhirnya dengan duduk di atas kursi roda dan
tubuh yang lumpuh sebagian.
Kisah viral itu menjadi pelajaran bagi
sebagian pengguna ponsel hingga saat ini. Namun sebagian lainnya adalah
sebaliknya. Banyak diantara mereka yang masih menggunakan ponsel secara overtime,
entah alasannya karena semua pekerjaannya ada di sana, keperluan komunikasi
jarak jauh, atau apapun itu. Secara langsung memang ponsel seolah memenuhi
kebutuhan hidup manusia saat ini. Tidak ada yang harus disalahkan dari beradaan
gadget yang semakin menjamur. Tidak pembuat, tidak pemakai. Setiap hal—tidak
terkecuali gadget—memiliki kekurangan dan kelebihan, manfaat dan mudarat.
Khusus untuk pemakaian ponsel yang beriringan dengan efek radiasi yang
mengintai kita, hendaknya mari bijaksana. Keseharian kita tidak selalu
membutuhkan ponsel. Jangan biarkan kita diperbudak oleh ponsel, sehingga
melupakan sosial di sekitar kita yang akan lebih dekat jika didekati secara
langsung, bukan via gadget. Efek radiasi bisa diminimalisir dengan mengurangi
jam penggunaan gadget, dan membiasakan beberapa trik khusus seperti menggunakan
pengeras suara, matikan ponsel saat malam—terutama jam 00.00 sampai
04.00—hingga jangan terlalu mendekatkan ponsel ke telinga saat masih
menyambungkan saluran telepon.
Namun pada akhirnya masing-masing pengguna
sendiri yang akan menentukan: mau berakhir di meja operasi atau umur yang
pendek akibat macam-macam penyakit radiasi, atau tetap bisa menikmati gadget
dengan memahami penggunaan dan kapasitas diri terhadap gadget, dan sebaliknya.
Silakan menentukan. (**)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar