Oke, hiraukan judulnya yang sedikit aneh. Saya hanya penasaran dengan topik di atas, makanya saya menulis ini.
"Perspektif Keterkenalan", apa yang pertama singgah di benak atau kepala anda tentang itu? Saya rasa tidak akan banyak--atau bahkan, ada yang tidak peduli sama sekali karena faktor fisik blognya yang tidak menarik :/
Hiraukan.
Gambar: http://quotesgram.com/the-fault-in-our-stars-quotes-poster/
Kata kedua sedikit mengusik benak saya. "Keterkenalan" seperti skala terkenal seseorang, sejalan skala dihargai sebagai manusia yang berpemikiran. Banyak orang yang punya idola, tentu saja, dan tak jarang mereka menjadikan idolanya itu sebagai panutan. Banyak juga yang punya cita-cita menjadi terkenal karena mengidamkan sang idola. Sayang, banyak orang yang salah menilai bahwa "Hanya dengan menjadi A, kita akan dikenal. Hanya dengan berbuat A, kita akan dikenang." Akibatnya banyak orang yang stagnan, diam disitu-situ saja. Mereka yang seperti inilah tidak mengetahui potensi dirinya dengan jelas.
Apalagi zaman sekarang tidak sedikit yang dibully karena idolanya, yang diejek karena cita-citanya yang terlalu muluk (misalkan?), yang tidak bisa berkutik karena nasib, atau yang paling awalnya ialah; banyak yang diacuhkan karena kedua hal pertama itu tak masuk klasifikasi wajar di keseharian dewasa ini. Diantara kita masih banyak yang menjudge keinginan seseorang, padahal belum tentu kita tahu latar belakang keinginannya. Misalnya, tentu sah-sah saja seseorang ingin menjadi A karena ingin membuktikan kepada semua orang bahwa dia bisa. Dengan begitu, menurutnya ia akan dihargai sebagai seseorang. Setiap orang punya caranya sendiri untuk bahagia, semua orang tahu itu. Nah, masalahnya di sini adalah, mau teguh memegang keinginan itu, atau menjadi pembeda dengan potensi diri kita yang lain meski pada jalur yang mereka sebut "wajar"?
Kalau saya, memilih opsi kedua. Mengapa? Karena jujur, menurut saya kenapa tidak kita menggali potensi diri selagi masih muda? (khusus untuk 11 sampai 40 tahun yaa :D) Tidak akan rugi orang yang bisa nyaris segalanya. Dulu saya sempat berkeinginan menjadi penyanyi dengan mengikuti Idola Cilik. Tapi setelah dipikir lagi, terutama dari sisi studi, saya mengurungkan niat dan menemukan hobi ini; menulis. Sekarang saya sedang mendalaminya dengan kuliah di jurusan Sastra Indonesia. Semakin kesini tulisan saya semakin berkembang. Banyak kata dan istilah baru yang saya pelajari dari omongan atau pelajaran sebagai akademisi Sastra. Diiringi dengan memeraktekannya di blog dan dunia kepenulisan buku fiksi, akhirnya cukup lumayan yang mengenal saya sebagai pengarang. Saya bersyukur, karena mereka menghargai setiap tulisan saya dengan memberikan kritik dan saran. Coba, tak bisa dibayangkan kalau dulu saya teguh memegang cita-cita dunia entertainment itu. Entertainment dunia sementara, begitu juga sastra, sebenarnya. Tetapi jika saya tidak begitu berhasil di Sastra, saya masih bisa bekerja menjadi guru bahasa karena akademik yang terselesaikan. Kalau saya tidak sukses di entertainment? Pasti susah melanjutkan hidup ke depannya tanpa studi yang baik. Tahu kan kalau yang lebih penting sekarang itu di dunia kerja adalah ijazah, bukan skiilnya?
Maka dari itu, pikir lagi. Menjadi seperti idola atau punya cita-cita yang antimainstream memang sah-sah saja. Tapi teguh itu tidak selamanya baik, terutama ketika kita seperti tak mau menyadari potensi lain yang Tuhan tanam dalam diri kita. Kasarnya, sombong namanya.
Saya pernah menonton film "The Fault in Our Stars", yang dibintang Ansel Elgort dan Shailene Woodley. Di sana, tokoh Augustus Waters yang diperankan Elgort punya ketakutan terbesar; akan dilupakan setelah ia meninggal. Sebagai penderita kanker, dia punya cita-cita yang besar; menjadi terkenal di mata setiap orang dengan menjadi pahlawan. Tapi ini bukan lagi zaman perang atau propaganda, kan? Hazel tahu itu. Dilupakan itu pasti. Berbeda dengan Waters, Hazel punya perspektif lain tentang keterkenalan dan kaitannya dengan dihargai dan diingat. Baginya, cukup kerabat, keluarga dan orang terkasih yang mengenal, menghargai, dan mengingatnya. Ketika ketiga orang itu sudah begitu, maka bisa dibilang Hazel sudah menemukan kebahagiaannya.
Saya setuju dengan perspektifnya. Tidak harus semua orang tahu kita. Keterkenalan dihadapan mereka bukanlah sesuatu yang wajib. Lebih penting mencari potensi diri dan berbuat dengan hati, daripada memikirkan itu semua. Karena apa? Bila kita teguh bahwa semua orang harus mengetahui kita ada sebagai seseorang di dunia ini, ketika kita jatuh banyak juga yang akan menertawakan kita. Mereka akan menatap kita seolah mengatakan: "Aku bilang juga apa! Keinginanmu itu bodoh!"
Dan soal berbuat dengan hati, itu benar kiranya. Saya mencontoh Dewi Lestari, atau yang akrab disapa Dee, dengan novel Perahu Kertas-nya. Ia tentu awalnya tidak pernah mengira akan menerbitkan novel yang ia sebar sebagai bacaan gratis pada masa kuliah dulu. Karena dia mencintai hobinya, menyukai, dan menekuni apa yang dia lakukan, maka Dee mendapat timbal balik cinta yang sama dari orang-orang yang membaca karyanya, dari masa-masa sangat awal, hingga keantusiasan yang sama saat novel tersebut diadaptasi menjadi film oleh Hanung Bramantyo pada 2012 lalu.
Apa salahnya kita berbuat hal yang sama? Maksud saya, pikirkan lagi potensi diri, kembangkan diri selagi belum masuk ke liang lahat. Belajarlah belajarlah belajarlah. Tak ada batasan pembelajaran bagi yang mau belajar. Si pelajar akan menggali apapun yang menurut dia berguna, dari sumber manapun. Dengan begitu selain banyak yang akan dia bisa, ia pun menjadi mengerti poin terpenting dari semua ini; bahwa lebih penting dikenal Tuhan saat masa hisab nanti daripada dikenal seisi dunia tapi dengan mulut yang lebih banyak menggunjingkan keburukan kita.
Pikir lagi, karena semua keinginan bak negeri dongeng, antimainstream, dan muluk-muluk itu tidak selamanya disetujui dunia dan Tuhan. Dunia bukanlah pabrik pengabul keinginan. Tapi Tuhan adalah satu-satunya yang tahu jalan lain terhadap keinginan kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar