Pict taken by: Doel Sastra (#Quote HADIAH TERBAIK by Alin Ifa)
Aku membuka benda itu lagi. Seolah tak bosan, dan memang, rasanya hambar saja bila sehari tidak membukanya. Rasanya pikiranku akan tersedot begitu saja bila satu hari tanpanya.
Benda bermonitor dan berwarna putih itu pun masih sama. Menyimpan file yang sama, foto yang sama, video yang sama, musik yang sama, dan kenangan yang sama. Begitu banyak yang kusimpan di sini. Seharusnya, yang "begitu banyak" itulah memberiku inspirasi. Tahukah kalian, nyatanya tidak begitu.
Kesibukanku di dunia nyata seolah menyita semua gairahku ketika berhadapan dengan benda ini. Tak jarang, ketika dia sudah menyala dan menampilkan barisan kata itu, aku malah diam. Tak jarang, jemariku yang biasanya berakhir di atas tuts-tuts hitam berhuruf dan berangka itu malah berakhir dalam obrolan hingga larut malam di jejaring sosial bersama sang dikenal. Aku seperti kehilangan nafsu menarikan jari pada benda itu, entah kenapa.
Terkadang, sesapan kopi atau teh tak jua membantu. Tanganku malah berubah memegang ponsel atau minuman dan makanan lain setelah itu. Di semuanya, tak satupun inspirasi yang datang mengajakku mendansakan kata-kata kembali dalam monitor. Huh, menyebalkan memang..!
Seringkali aku bertanya; apakah kepala ciptaan-Nya ini sudah tak-seberisi dulu lagi? Atau...apakah semua ini hanya persoalan gairah? Tapi banyak yang bilang gairah sejalan dengan isi kepala. Itu berarti, kepalaku ini kepala kopong sekarang? Apakah ada yang bisa memberiku jawaban? Apakah ada yang bisa membantuku menemukan gairah itu lagi?
Rasanya tuts hitam itu makin berdebu saja seperti lama tak kujamah. Rasanya kepala ini pun dijejali hal-hal eksak teoritis dari yang-serba-tahu saja dari hari kehari. Hm, bosan rasanya. Tapi entah kenapa lebih banyak diriku yang membiarkan itu terjadi.
Aku menutup benda itu lagi, lalu berpaling. Suara kalam-Nya tak lama memanggilku dalam sholat. Aku teringat. Oh, aku kurang dekat dengan-Nya, Sang Maha Pemberi. Pasti itulah yang membuatku terjebak begitu lama dalam kebisuan akan kata-kataku sendiri. Pasti itulah yang membuatku berkepala kopong; kehilangan gairah, inspirasi, dan kemauan untuk menarikan jemari ini, membentuk bangunan kata indah nan berarti. Pasti itu...
Maka aku pun beranjak. Suara tangga kayu yang biasanya risau kudengar, menjadi damai. Setelah melantai, aku masuk ke kamar mandi dan mengambil wudhu. Oh, Allah... tenang rasanya.
Tak lama, setelah kembali ke kamar, aku kembali mengisi kepala kopongku dengan dua kata.
"Allahu Akbar.."
Depok, 13 November 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar