Kamis, 17 November 2016

Janji #CerpenLama

JANJI 

Karya: Alin Ifa




Sumber gambar: http://www.rootedinrights.org/motion-filed-to-end-federal-oversight-of-d-c-hospital/



Seorang wanita menatap dengan datar cincin di dalam sebuah kotak kaca yang sejak tadi digenggamnya. Dia tertegun, memandangi kotak itu sejak tadi. Dulu, cincin itu adalah pertanda bahwa dia telah memiliki hidup yang amat sempurna, padahal dulu, saat cincin itu masih menjadi benda yang bermakna besar dalam hidupnya, dia baru berumur 23 tahun, baru saja lulus, baru saja meniti hidup sebagai seseorang yang benar-benar dewasa. Namun kini, cincin itu sudah terlepas dari tempatnya semula dan masuk ke dalam kotak kaca, menjadikannya benda kenangan semata.
   Alasannya adalah tak lain karena orang yang membuat segalanya terasa lengkap, yang membuat cincin itu terasa pantas dipakai di jari kirinya, kini telah pergi entah kemana, meninggalkan sejuta kenangan yang tidak mungkin lagi bisa dia lupakan walaupun sudah berlalu 16 tahun lamanya. Dengan berusaha memulai hidup baru bersama putrinya di kota yang baru pun tidak membuahkan apa-apa. Hanya kenangan tentang pria itulah yang kini menghiasi waktu kosongnya.
   Hannah Hutchicson, putri semata wayangnya dari pria itu, Jason Hutchicson, sering menyodorkan pria-pria untuknya, dari mulai yang mapan, sampai yang baru keluar universitas, dari teman dekatnya, sampai orang yang baru dikenal anaknya itu di media sosial. Tapi dia menolaknya. Bagaimanapun, pria yang tepat bagi seorang Tamara Natakusuma hanyalah Jason. 
     Terkadang, dia tidak habis pikir bagaimana hidup bekerja seperti itu padanya, pada hatinya; memaksanya untuk mengerti cinta yang sebenarnya, memaksanya untuk berjuang bersama bidadari kecilnya, dan memaksanya untuk melepas, melupakan. Pada akhirnya, dia harus menyerah pada hidupnya sekarang dengan menenggelamkan diri dalam pekerjaannya sebagai seorang dokter bedah ortopendi di sebuah rumah sakit di Kentucky. Shriners Hospitals for Children, di jalan Richmond, kota Lexington. Tamara mempunyai jam kerja dari Senin sampai Sabtu, pukul 8 pagi sampai pukul 5 sore. Itu membuatnya nyaris tidak bisa mengalihkan fokusnya dari pekerjaan. Terkadang, demi menyempatkan waktu untuk berkumpul, Hannah datang ke rumah sakit, selepas kegiatannya di sekolah ataupun selagi ada waktu luang.
   Pandangannya terlepas sepenuhnya dari kotak kaca itu dan ia menutupnya.  Tamara menarik nafas dalam-dalam, berharap beban yang semakin berat dalam pundak dan hatinya, bisa lenyap begitu saja.
   “Mom?.” Sebuah suara memanggil dari pintu ruang kerjanya. Dia menoleh. Hannah, “Lagi nggak sibuk, kan?.”
Tamara menggeleng sambil tersenyum, “Masuklah...”
Hannah masuk dan langsung duduk di kursi pasien dihadapan ibunya. Dia meletakan tas sekolahnya di sisi kursi dan melipat tangan di atas meja, terlihat antusias.
   Tamara sudah hafal mati ekspresi itu; ekspresi yang diperlihatkan Hannah saat dia membawa pria lagi unutk ditawarkan kepadanya. Lagi, Tamara meresponnya dengan berusaha sibuk sendiri. Kali ini, dia berkutat dengan buku ortopendi.
   “Mom, ayolah... yang ini tidak buruk..”bujuk Hannah melihat respon ibunda tercintanya. Dia sudah sangat yakin tidak akan gagal pada calon ibunya yang dia bawa kali ini.
   “Hannah... aku sudah bilang berkali-kali padamu..” Tamara membantah pendapat anaknya dengan mata yang tetap tertuju pada barisan istilah ortopendi dalam buku itu.
   “Kalau ibumu tidak mau menerimaku, kurasa tak apa...” Sebuah suara lain mencampuri mereka dalam ruangan itu, membuat Tamara mengangkat wajahnya.
   Seketika memorinya terbangkitkan lagi. Lebih banyak, lebih deras, lebih pasti. Wajah itu, suara itu, perkataan itu...
   “Tidak... Aku yakin dia mau, Tuan. Mom memang suka seperti itu. Lebih dari 50 pria ditolaknya...” Hannah membalas ucapan itu.
   Pria itu tersenyum, membuat Tamara terjebak dalam lorong waktu. Suara-suara dalam ruangan itu rasanya tidak dia pedulikan lagi. Tamara tercenung sendiri dalam koridor memorinya. Perbedaan 16 tahun pada wajah itu tidak membuat ia lupa sama sekali siapa sebenarnya orang yang ada dihadapannya kini.
   Aku tidak akan pernah meninggalkanmu... aku janji...
   Sebaris kalimat itu... Sebaris kalimat yang telah diingkari Jason. Dan kini, pria itu muncul lagi sebagai orang yang sama. Dia tetap Jason... Tapi Tamara sangat sadar bahwa pria itu telah menelantarkannya selama ini, membiarkannya terjebak dalam janji-janji yang palsu.
   “Please... I'm begging you, Mommy...” Suara Hannah yang terdengar begitu memohon, mengembalikannya pada kenyataan. Perlahan, Tamara mengangkat wajahnya lagi setelah tertunduk dan terdiam lumayan lama, tadi. Dia menatap dua orang di hadapannya dengan datar. Dari sisi pria itu, Hannah berucap lagi, menjelaskan, “Tuan Osborn telah sangat baik padaku. Kami kenal sudah satu bulan ini. Dia guruku di sekolah.”
   Mendengarnya, Tamara kontan mengerenyit. Dahinya mengerut seiring keheranannya pada hubungan Tuan Osborn dan anaknya. Satu bulan?. Apakah segitu jarangnya aku di rumah sehingga Hannah bisa dekat dengan dia?...
   Please...
   Kini, Tamara merasa marah kepada dirinya sendiri, mengetahui dia belum begitu banyak berkorban untuk anaknya selama ini. Menjadi orang tua tunggal yang bekerja memang memberinya kesempurnaan materi. Tapi tidak dengan hati. Dia begitu sibuk dengan pekerjaannya sehingga melepas Hannah begitu saja. Alhasil, dia tidak memberikan perannya sebagai orang tua untuk Hannah, dan kali ini, dia kecolongan start dengan suaminya sendiri.
   “Tidak.” Tamara berkata dengan dingin.
   “Mom?.” Hannah menatapnya tidak percaya, “Laki-laki seperti apa yang Mom inginkan sebenarnya?.”
   “Yang jelas bukan dia.”sambar Tamara langsung, datar. Berucap dengan nada yang seperti tadi sebenarnya bukan hal yang bagus untuk didengar Hannah.
Mendengarnya, Hannah berekspresi makin tidak mengerti. Dia memalingkan wajah dari Tamara. Tamara pun mengikutinya dengan sikap acuh sambil berkata, “Kamu merusak suasana kumpul kita dengan membawa pria itu kemari..”
   Hannah tersentak. Dia mengangkat wajahnya, tidak percaya, “Oh, begitu?. Sejak awal Mom menganggapku perusak, makanya tidak pernah memedulikanku sama sekali?. Oke. Aku juga tidak akan memedulikan Mom lagi mulai dari sekarang.” Dan brak!. Bantingan pintu terdengar setelahnya, membuat Tamara sadar apa yang telah ia katakan pada Hannah adalah salah. Dia telah menyakiti hati bidadari kecilnya.
   Dari hadapannya, Jason menatapnya tidak percaya. Dia tertegun menatap wanita 39 tahun itu, “Harusnya aku yang dapat perkataan itu. Bukan dia...” Lalu pergi.
   Tamara menghela nafas sesaat. Dalam hati, dia membenarkan ucapan Jason. Benar... bukan Hannah.


   Sepulangnya dia dari pekerjaannya, dia memutuskan untuk menyetir ford usangnya dengan mengebut dari rumah sakit. Dia tidak mau membiarkan Hannah terlarut dalam kemarahan sekaligus kesedihannya sendiri. Ini salahnya.
   Tamara membelokan mobilnya di kecepatan 95 km/jam dengan tajam menuju jalan Blairmore. Dia hanya takut anaknya bertindak yang tidak-tidak setelah perkataan yang menyakitinya tadi.
   Ckt!. Dalam satu injakan kasar pada rem, mobil berhenti persis di depan rumah. Tamara keluar dan melangkah ke pintu depan rumah yang kini terlihat masih kosong. Tatapannya menerawang ke dalam rumah itu. Dimana Hannah?...
   “Hannah?.”panggil Tamara khawatir.
   Tak lama, nada dering panggilan berbunyi dari ponselnya. Nomor tak dikenal. Tamara mengangkatnya, “Halo?.”
   “Tamara, ini Jason. Hannah ada bersamaku sekarang.” Suara diseberang membalas, memberikan keterangan yang lebih dari cukup kepada Tamara.
   “Dia dimana sekarang?.” Tamara bertanya dengan datar sambil masuk kembali ke mobilnya.
   “Di rumahku. Bill Eads Road, dekat sungai Kentucky.”jawab Jason.
   Tanpa berkata apapun lagi, Tamara langsung membalikan arah mobilnya menuju ke arah pedesaan. Bill Eads Road, sungai Kentucky, dia tau daerah itu. Daerah itu adalah tempat tinggal impiannya dengan Jason, dulu.
   Sebelum sempat dia memutuskan sambungannya, Jason keburu melanjutkan, “Tamara, I miss you..
Mendengar kalimat klise itu, Tamara mendengus, “Umur kita sudah tidak muda lagi. Aku tidak mempan mendengar gombalan itu darimu.”
   “Tidak. Aku serius.”balas Jason, “Aku tahu aku telah salah besar membiarkanmu berjuang sendirian. Melihat Hannah, aku hanya bisa menyimpulkan satu. Terimakasih. Kau ibu terbaik yang pernah dilahirkan untuknya, dan kau perempuan terbaik yang pernah Tuhan lahirkan untukku.” Dia tertawa kecil disela-sela ucapannya, “Hannah selalu bercerita dengan antusias mengenai dirimu kepadaku di sekolah. Jujur, aku terkagum sendiri mendengarnya. Seorang ahli bedah ortopendi Indonesia pertama di Amerika... Dia juga bercerita saat dia membawa pacar pertamanya ke rumah dan kau menentangnya. Dia jadi bersyukur dengan apa yang kau lakukan saat itu karena tahu orang yang dia anggap sebagai pacar telah mengkhianatinya dengan cara yang persis seperti yang kau bilang.” Jason memberikan cerita yang membuat Tamara tercenung sendiri. Hannah telah membuka semuanya, secara tak sadar, kepada ayahnya sendiri.
   “Apalagi yang sudah dia ceritakan?.”tanya Tamara, masih belum selesai dengan rasa was-wasnya.
   “Dia juga menceritakan, betapa inginnya dia mempunyai sosok ayah, agar di pernikahannya nanti, dengan siapapun itu, dia bisa tersenyum kepada laki-laki tua yang dia sebut ayah. Hannah melakukan perjodohan itu padamu agar kau mau melupakan aku dan tidak hidup dalam kenangan. Hannah sedih sekali mendengarmu berkata seperti itu. Dia menangis begitu keluar dari rumah sakit, tidak tega mengatakan itu di depanmu sekaligus tidak menyangka kau berucap seperti itu padanya. Tapi kau satu-satunya orang yang berharga baginya, Tamara. Kau segalanya bagi Hannah...”jawab Jason. Nada berucapnya merendah.
   Begitupun ibu, sayang... Tamara berpikir, mencari jalan tercepat ke Bill Eads agar dia bisa tiba di rumah lagi sebelum makan malam.
   Untuk menutupi kegusarannya yang mendadak muncul, Tamara mendengus, membelokan mobil ke Bixby Way untuk ke jalan Lakeshore yang akan mengarahkannya ke jembatan menuju ke pedesaan Kentucky.
   “Dia sedang berdiam di perpustakaanku. Kau mau bicara padanya, atau...”
   “Aku kesana.” Tamara memotong, menambah kecepatannya setelah berbelok ke jalan Lakeshore.


   Pukul 6. Memakan waktu satu jam dengan kecepatan yang lumayan gila itu untuk menemukan rumah Jason yang ternyata memang terletak di lokasi paling pedesaan, paling terpencil, namun tenang.
   Tamara menghentikan mobilnya dan berjalan pelan memasuki halaman rumah itu. Tanah tempat tinggal Jason sangat luas. Yang dipakai untuk dijadikan rumah paling hanya satu pertiga dari itu.
   Perlahan, Tamara menghela nafas. Dia mengangkat tangannya untuk menekan bel rumah itu. Trt!-Trt!.
   Sebelum dia menekan bel itu untuk ketiga kalinya, pintu sudah membuka, “Helo, Tamara..” Jason menyapanya.
   “Dimana anakku?.”tanya Tamara tanpa basa-basi. Dia tidak menggubris Jason yang sebenarnya mengharapkan ada basa-basi dari istrinya. Tamara menggeser Jason dari pintu masuk dan memaksa masuk ke dalam rumah.
   “Tamara, apakah kau tidak ingin –”
   “Melihatmu dengan nama lain saja sudah cukup membuatku muak.”potong Tamara langsung. Dia terpikir amarah lain; tindakan Jason yang menyamarkan namanya menjadi Tuan Osborn, “Tidakkah kau berpikir kalau Hannah mengetahui ini, dia akan kecewa padamu?.”semprot Tamara marah.
   “Aku akan menanggung itu semua. Aku tahu resikonya.” Jason menyahut.
   “Dan apakah kau tidak memikirkan hal itu ketika kau meninggalkan kami?!.”bentak Tamara kemudian. Akhirnya dia menyerah kepada kemarahannya sendiri. Sekian lama ia pendam, akhirnya amarah itu keluar juga. Dia tidak kuasa menahan tangisnya dihadapan Jason. Tapi tak lama, dia segera menyusut air matanya, “Bodoh...” Dia memaki dirinya sendiri. Tamara tidak menghiraukan Jason yang mengikutinya dan melanjutkan mencari anaknya di rumah sederhana itu, “Hannah?!.”
   Saat pencariannya tiba di halaman belakang rumah itu, bukanlah sebuah tatapan marah yang menyambutnya, melainkan pelukan hangat dan tangis sendu.
   “Aku benci berkata seperti itu pada Mom...”tangis Hannah pelan, mengakui apa yang ada dalam benaknya seharian ini.
Akhirnya, Tamara hanya bisa membalasnya dengan membelai punggung anaknya dengan pelan. Dia terdiam. Kamu sudah dewasa, Nak...
Hannah melepas pelukannya dan berusaha menyunggingkan senyum termanisnya pada Tamara. Dia menyusut air matanya,  “Maafkan aku..”
Membalasnya, Tamara mengangguk pelan, “Mom juga, sayang..”
   Sementara, Jason terpaku menatap mereka berdua. Dia mendekati kedua perempuan itu.
   “Ayo kita pulang.” Tamara merangkul Hannah dengan bersahabat. Hannah mengangguk menjawabnya.
   “Tidak bisakah kalian makan malam disini?. Aku sudah membuatkan makan malam yang cukup untuk kita bertiga.”tawar Jason cepat sebelum mereka pergi.
Tamara menatap pria itu sejenak dan terlihat berpikir. Dia pria terakhir yang ditawarkan anaknya. Tapi sebelum sempat Tamara berkata apapun, dari sisinya Hannah sudah beringsut masuk, langsung ke ruang makan sambil berkata kepada Jason, “Aku tau itu kau, Yah... Kau bukan Tuan Osborn...”
   Mendengarnya, Tamara dan Jason mengerenyit heran. “Darimana...” Jason tidak melanjutkan perkataannya, terlalu bingung dengan apa yang dikatakan putrinya.
   “Mom pernah menunjukan foto dan memberitahu namamu. Jadi percuma saja kau menyamarkan nama atau apapun. Dengan wajahmu yang semakin menua, tidak membuatku lupa dengan wajah mudamu yang sangat mirip itu.”jelas Hannah ringan. Dia berlari ke ruang makan dan duduk. “Itu yang membuatku yakin Mom akan menerimamu.”kata Hannah lagi. Dia memandangi ibunya. “Dulu, Mom banyak berjuang untuk kita. Sekarang, aku yang berjuang untuk kita.”
   “Dan kau berhasil.” Jason menutupnya dan menghampiri Hannah, mengangkat kursi yang didudukinya, mengajak Hannah bercanda.
   “Jadi, bagaimana jawabannya, Mom?. Ayah sudah kembali sekarang.” Hannah menyinggung soal itu lagi.
Tamara tidak menjawab. Dia berjalan mendekati keluarga kecilnya, lalu beralih membuka kulkas yang ada di belakang Jason dan Hannah. Mereka berdua memandangi Tamara penasaran.
   Tamara tersenyum dan menarik nafas, “Sepertinya aku harus segera membuat surat pengunduran diriku ke rumah sakit...”
   “Sepertinya aku tahu artinya...”sahut Jason senang.
Hannah mengangguk setuju, “Kita tinggal disini?.” Dia bertanya pada Tamara.
Membalasnya, Tamara mengangguk pasti. Dia akan belajar menerima Jason mulai dari sekarang. Mereka akan memulai semuanya dari awal lagi. Tamara berjanji pada dirinya sendiri, dia akan memberikan yang terbaik pada keluarga kecilnya yang kembali sempurna. Dia akan lebih meluangkan waktu untuk Hannah dan Jason dan memberikan perannya sebagai ibu sesungguhnya.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar