JANJI
Karya: Alin Ifa
Sumber gambar: http://www.rootedinrights.org/motion-filed-to-end-federal-oversight-of-d-c-hospital/
Seorang wanita menatap dengan datar cincin di dalam sebuah kotak kaca yang sejak tadi digenggamnya. Dia tertegun, memandangi kotak itu sejak tadi. Dulu, cincin itu adalah pertanda bahwa dia telah memiliki hidup yang amat sempurna, padahal dulu, saat cincin itu masih menjadi benda yang bermakna besar dalam hidupnya, dia baru berumur 23 tahun, baru saja lulus, baru saja meniti hidup sebagai seseorang yang benar-benar dewasa. Namun kini, cincin itu sudah terlepas dari tempatnya semula dan masuk ke dalam kotak kaca, menjadikannya benda kenangan semata.
Alasannya adalah tak lain karena orang yang
membuat segalanya terasa lengkap, yang membuat cincin itu terasa pantas dipakai
di jari kirinya, kini telah pergi entah kemana, meninggalkan sejuta kenangan
yang tidak mungkin lagi bisa dia lupakan walaupun sudah berlalu 16 tahun
lamanya. Dengan berusaha memulai hidup baru bersama putrinya di kota yang baru
pun tidak membuahkan apa-apa. Hanya kenangan tentang pria itulah yang kini
menghiasi waktu kosongnya.
Hannah Hutchicson, putri semata wayangnya
dari pria itu, Jason Hutchicson, sering menyodorkan pria-pria untuknya, dari
mulai yang mapan, sampai yang baru keluar universitas, dari teman dekatnya,
sampai orang yang baru dikenal anaknya itu di media sosial. Tapi dia menolaknya.
Bagaimanapun, pria yang tepat bagi seorang Tamara Natakusuma hanyalah
Jason.
Terkadang, dia tidak habis pikir bagaimana
hidup bekerja seperti itu padanya, pada hatinya; memaksanya untuk mengerti
cinta yang sebenarnya, memaksanya untuk berjuang bersama bidadari kecilnya, dan
memaksanya untuk melepas, melupakan. Pada akhirnya, dia harus menyerah pada
hidupnya sekarang dengan menenggelamkan diri dalam pekerjaannya sebagai seorang
dokter bedah ortopendi di sebuah rumah sakit di Kentucky. Shriners Hospitals for Children, di jalan Richmond, kota
Lexington. Tamara mempunyai jam kerja dari Senin sampai Sabtu, pukul 8 pagi
sampai pukul 5 sore. Itu membuatnya nyaris tidak bisa mengalihkan fokusnya dari
pekerjaan. Terkadang, demi menyempatkan waktu untuk berkumpul, Hannah datang ke
rumah sakit, selepas kegiatannya di sekolah ataupun selagi ada waktu luang.
Pandangannya terlepas sepenuhnya dari kotak
kaca itu dan ia menutupnya. Tamara
menarik nafas dalam-dalam, berharap beban yang semakin berat dalam pundak dan
hatinya, bisa lenyap begitu saja.
“Mom?.” Sebuah suara memanggil dari pintu
ruang kerjanya. Dia menoleh. Hannah, “Lagi nggak sibuk, kan?.”
Tamara menggeleng
sambil tersenyum, “Masuklah...”
Hannah masuk dan
langsung duduk di kursi pasien dihadapan ibunya. Dia meletakan tas sekolahnya
di sisi kursi dan melipat tangan di atas meja, terlihat antusias.
Tamara sudah hafal mati ekspresi itu;
ekspresi yang diperlihatkan Hannah saat dia membawa pria lagi unutk ditawarkan
kepadanya. Lagi, Tamara meresponnya dengan berusaha sibuk sendiri. Kali ini,
dia berkutat dengan buku ortopendi.
“Mom, ayolah... yang ini tidak buruk..”bujuk
Hannah melihat respon ibunda tercintanya. Dia sudah sangat yakin tidak akan
gagal pada calon ibunya yang dia bawa kali ini.
“Hannah... aku sudah bilang berkali-kali
padamu..” Tamara membantah pendapat anaknya dengan mata yang tetap tertuju pada
barisan istilah ortopendi dalam buku itu.
“Kalau ibumu tidak mau menerimaku, kurasa tak
apa...” Sebuah suara lain mencampuri mereka dalam ruangan itu, membuat Tamara
mengangkat wajahnya.
Seketika memorinya terbangkitkan lagi. Lebih
banyak, lebih deras, lebih pasti. Wajah itu, suara itu, perkataan itu...
“Tidak... Aku yakin dia mau, Tuan. Mom memang
suka seperti itu. Lebih dari 50 pria ditolaknya...” Hannah membalas ucapan itu.
Pria itu tersenyum, membuat Tamara terjebak
dalam lorong waktu. Suara-suara dalam ruangan itu rasanya tidak dia pedulikan
lagi. Tamara tercenung sendiri dalam koridor memorinya. Perbedaan 16 tahun pada
wajah itu tidak membuat ia lupa sama sekali siapa sebenarnya orang yang ada
dihadapannya kini.
Aku tidak akan pernah meninggalkanmu...
aku janji...
Sebaris kalimat itu... Sebaris kalimat yang
telah diingkari Jason. Dan kini, pria itu muncul lagi sebagai orang yang sama. Dia
tetap Jason... Tapi Tamara sangat sadar bahwa pria itu telah
menelantarkannya selama ini, membiarkannya terjebak dalam janji-janji yang
palsu.
“Please... I'm begging you, Mommy...”
Suara Hannah yang terdengar begitu memohon, mengembalikannya pada kenyataan.
Perlahan, Tamara mengangkat wajahnya lagi setelah tertunduk dan terdiam lumayan
lama, tadi. Dia menatap dua orang di hadapannya dengan datar. Dari sisi pria
itu, Hannah berucap lagi, menjelaskan, “Tuan Osborn telah sangat baik padaku.
Kami kenal sudah satu bulan ini. Dia guruku di sekolah.”
Mendengarnya, Tamara kontan mengerenyit.
Dahinya mengerut seiring keheranannya pada hubungan Tuan Osborn dan
anaknya. Satu bulan?. Apakah segitu jarangnya aku di rumah sehingga Hannah
bisa dekat dengan dia?...
“Please...”
Kini, Tamara merasa marah kepada dirinya
sendiri, mengetahui dia belum begitu banyak berkorban untuk anaknya selama ini.
Menjadi orang tua tunggal yang bekerja memang memberinya kesempurnaan materi.
Tapi tidak dengan hati. Dia begitu sibuk dengan pekerjaannya sehingga melepas
Hannah begitu saja. Alhasil, dia tidak memberikan perannya sebagai orang tua
untuk Hannah, dan kali ini, dia kecolongan start dengan suaminya sendiri.
“Tidak.” Tamara berkata dengan dingin.
“Mom?.” Hannah menatapnya tidak percaya,
“Laki-laki seperti apa yang Mom inginkan sebenarnya?.”
“Yang jelas bukan dia.”sambar Tamara
langsung, datar. Berucap dengan nada yang seperti tadi sebenarnya bukan hal
yang bagus untuk didengar Hannah.
Mendengarnya,
Hannah berekspresi makin tidak mengerti. Dia memalingkan wajah dari Tamara.
Tamara pun mengikutinya dengan sikap acuh sambil berkata, “Kamu merusak suasana
kumpul kita dengan membawa pria itu kemari..”
Hannah tersentak. Dia mengangkat wajahnya,
tidak percaya, “Oh, begitu?. Sejak awal Mom menganggapku perusak, makanya tidak
pernah memedulikanku sama sekali?. Oke. Aku juga tidak akan memedulikan Mom
lagi mulai dari sekarang.” Dan brak!. Bantingan pintu terdengar
setelahnya, membuat Tamara sadar apa yang telah ia katakan pada Hannah adalah
salah. Dia telah menyakiti hati bidadari kecilnya.
Dari hadapannya, Jason menatapnya tidak
percaya. Dia tertegun menatap wanita 39 tahun itu, “Harusnya aku yang dapat
perkataan itu. Bukan dia...” Lalu pergi.
Tamara menghela nafas sesaat. Dalam hati, dia
membenarkan ucapan Jason. Benar... bukan Hannah.
Sepulangnya dia dari pekerjaannya, dia
memutuskan untuk menyetir ford usangnya dengan mengebut dari rumah sakit. Dia
tidak mau membiarkan Hannah terlarut dalam kemarahan sekaligus kesedihannya
sendiri. Ini salahnya.
Tamara membelokan mobilnya di kecepatan 95
km/jam dengan tajam menuju jalan Blairmore. Dia hanya takut anaknya bertindak
yang tidak-tidak setelah perkataan yang menyakitinya tadi.
Ckt!. Dalam satu injakan kasar pada
rem, mobil berhenti persis di depan rumah. Tamara keluar dan melangkah ke pintu
depan rumah yang kini terlihat masih kosong. Tatapannya menerawang ke dalam
rumah itu. Dimana Hannah?...
“Hannah?.”panggil Tamara khawatir.
Tak lama, nada dering panggilan berbunyi dari
ponselnya. Nomor tak dikenal. Tamara mengangkatnya, “Halo?.”
“Tamara, ini Jason. Hannah ada bersamaku
sekarang.” Suara diseberang membalas, memberikan keterangan yang lebih dari
cukup kepada Tamara.
“Dia dimana sekarang?.” Tamara bertanya
dengan datar sambil masuk kembali ke mobilnya.
“Di rumahku. Bill Eads Road, dekat sungai
Kentucky.”jawab Jason.
Tanpa berkata apapun lagi, Tamara langsung
membalikan arah mobilnya menuju ke arah pedesaan. Bill Eads Road, sungai
Kentucky, dia tau daerah itu. Daerah itu adalah tempat tinggal impiannya dengan
Jason, dulu.
Sebelum sempat dia memutuskan sambungannya,
Jason keburu melanjutkan, “Tamara, I miss you..”
Mendengar kalimat
klise itu, Tamara mendengus, “Umur kita sudah tidak muda lagi. Aku tidak mempan
mendengar gombalan itu darimu.”
“Tidak. Aku serius.”balas Jason, “Aku tahu
aku telah salah besar membiarkanmu berjuang sendirian. Melihat Hannah, aku
hanya bisa menyimpulkan satu. Terimakasih. Kau ibu terbaik yang pernah
dilahirkan untuknya, dan kau perempuan terbaik yang pernah Tuhan lahirkan
untukku.” Dia tertawa kecil disela-sela ucapannya, “Hannah selalu bercerita
dengan antusias mengenai dirimu kepadaku di sekolah. Jujur, aku terkagum
sendiri mendengarnya. Seorang ahli bedah ortopendi Indonesia pertama di
Amerika... Dia juga bercerita saat dia membawa pacar pertamanya ke rumah dan
kau menentangnya. Dia jadi bersyukur dengan apa yang kau lakukan saat itu
karena tahu orang yang dia anggap sebagai pacar telah mengkhianatinya dengan
cara yang persis seperti yang kau bilang.” Jason memberikan cerita yang membuat
Tamara tercenung sendiri. Hannah telah membuka semuanya, secara tak sadar,
kepada ayahnya sendiri.
“Apalagi yang sudah dia ceritakan?.”tanya
Tamara, masih belum selesai dengan rasa was-wasnya.
“Dia juga menceritakan, betapa inginnya dia
mempunyai sosok ayah, agar di pernikahannya nanti, dengan siapapun itu, dia
bisa tersenyum kepada laki-laki tua yang dia sebut ayah. Hannah melakukan
perjodohan itu padamu agar kau mau melupakan aku dan tidak hidup dalam
kenangan. Hannah sedih sekali mendengarmu berkata seperti itu. Dia menangis
begitu keluar dari rumah sakit, tidak tega mengatakan itu di depanmu sekaligus
tidak menyangka kau berucap seperti itu padanya. Tapi kau satu-satunya orang
yang berharga baginya, Tamara. Kau segalanya bagi Hannah...”jawab Jason. Nada
berucapnya merendah.
Begitupun ibu, sayang... Tamara
berpikir, mencari jalan tercepat ke Bill Eads agar dia bisa tiba di rumah lagi
sebelum makan malam.
Untuk menutupi kegusarannya yang mendadak muncul,
Tamara mendengus, membelokan mobil ke Bixby Way untuk ke jalan Lakeshore yang
akan mengarahkannya ke jembatan menuju ke pedesaan Kentucky.
“Dia sedang berdiam di perpustakaanku. Kau
mau bicara padanya, atau...”
“Aku kesana.” Tamara memotong, menambah
kecepatannya setelah berbelok ke jalan Lakeshore.
Pukul 6. Memakan waktu satu jam dengan
kecepatan yang lumayan gila itu untuk menemukan rumah Jason yang ternyata
memang terletak di lokasi paling pedesaan, paling terpencil, namun tenang.
Tamara menghentikan mobilnya dan berjalan
pelan memasuki halaman rumah itu. Tanah tempat tinggal Jason sangat luas. Yang
dipakai untuk dijadikan rumah paling hanya satu pertiga dari itu.
Perlahan, Tamara menghela nafas. Dia
mengangkat tangannya untuk menekan bel rumah itu. Trt!-Trt!.
Sebelum dia menekan bel itu untuk ketiga
kalinya, pintu sudah membuka, “Helo, Tamara..” Jason menyapanya.
“Dimana anakku?.”tanya Tamara tanpa
basa-basi. Dia tidak menggubris Jason yang sebenarnya mengharapkan ada
basa-basi dari istrinya. Tamara menggeser Jason dari pintu masuk dan memaksa
masuk ke dalam rumah.
“Tamara, apakah kau tidak ingin –”
“Melihatmu dengan nama lain saja sudah cukup
membuatku muak.”potong Tamara langsung. Dia terpikir amarah lain; tindakan
Jason yang menyamarkan namanya menjadi Tuan Osborn, “Tidakkah kau berpikir
kalau Hannah mengetahui ini, dia akan kecewa padamu?.”semprot Tamara marah.
“Aku akan menanggung itu semua. Aku tahu
resikonya.” Jason menyahut.
“Dan apakah kau tidak memikirkan hal itu ketika
kau meninggalkan kami?!.”bentak Tamara kemudian. Akhirnya dia menyerah kepada
kemarahannya sendiri. Sekian lama ia pendam, akhirnya amarah itu keluar juga.
Dia tidak kuasa menahan tangisnya dihadapan Jason. Tapi tak lama, dia segera
menyusut air matanya, “Bodoh...” Dia memaki dirinya sendiri. Tamara tidak
menghiraukan Jason yang mengikutinya dan melanjutkan mencari anaknya di rumah
sederhana itu, “Hannah?!.”
Saat pencariannya tiba di halaman belakang
rumah itu, bukanlah sebuah tatapan marah yang menyambutnya, melainkan pelukan
hangat dan tangis sendu.
“Aku benci berkata seperti itu pada
Mom...”tangis Hannah pelan, mengakui apa yang ada dalam benaknya seharian ini.
Akhirnya, Tamara
hanya bisa membalasnya dengan membelai punggung anaknya dengan pelan. Dia
terdiam. Kamu sudah dewasa, Nak...
Hannah melepas
pelukannya dan berusaha menyunggingkan senyum termanisnya pada Tamara. Dia
menyusut air matanya, “Maafkan aku..”
Membalasnya,
Tamara mengangguk pelan, “Mom juga, sayang..”
Sementara, Jason terpaku menatap mereka
berdua. Dia mendekati kedua perempuan itu.
“Ayo kita pulang.” Tamara merangkul Hannah
dengan bersahabat. Hannah mengangguk menjawabnya.
“Tidak bisakah kalian makan malam disini?.
Aku sudah membuatkan makan malam yang cukup untuk kita bertiga.”tawar Jason
cepat sebelum mereka pergi.
Tamara menatap
pria itu sejenak dan terlihat berpikir. Dia pria terakhir yang ditawarkan
anaknya. Tapi sebelum sempat Tamara berkata apapun, dari sisinya Hannah sudah
beringsut masuk, langsung ke ruang makan sambil berkata kepada Jason, “Aku tau
itu kau, Yah... Kau bukan Tuan Osborn...”
Mendengarnya, Tamara dan Jason mengerenyit
heran. “Darimana...” Jason tidak melanjutkan perkataannya, terlalu bingung
dengan apa yang dikatakan putrinya.
“Mom pernah menunjukan foto dan memberitahu
namamu. Jadi percuma saja kau menyamarkan nama atau apapun. Dengan wajahmu yang
semakin menua, tidak membuatku lupa dengan wajah mudamu yang sangat mirip
itu.”jelas Hannah ringan. Dia berlari ke ruang makan dan duduk. “Itu yang membuatku
yakin Mom akan menerimamu.”kata Hannah lagi. Dia memandangi ibunya. “Dulu, Mom
banyak berjuang untuk kita. Sekarang, aku yang berjuang untuk kita.”
“Dan kau berhasil.” Jason menutupnya dan
menghampiri Hannah, mengangkat kursi yang didudukinya, mengajak Hannah
bercanda.
“Jadi, bagaimana jawabannya, Mom?. Ayah sudah
kembali sekarang.” Hannah menyinggung soal itu lagi.
Tamara tidak
menjawab. Dia berjalan mendekati keluarga kecilnya, lalu beralih membuka kulkas
yang ada di belakang Jason dan Hannah. Mereka berdua memandangi Tamara
penasaran.
Tamara tersenyum dan menarik nafas,
“Sepertinya aku harus segera membuat surat pengunduran diriku ke rumah
sakit...”
“Sepertinya aku tahu artinya...”sahut Jason
senang.
Hannah mengangguk
setuju, “Kita tinggal disini?.” Dia bertanya pada Tamara.
Membalasnya,
Tamara mengangguk pasti. Dia akan belajar menerima Jason mulai dari sekarang.
Mereka akan memulai semuanya dari awal lagi. Tamara berjanji pada dirinya
sendiri, dia akan memberikan yang terbaik pada keluarga kecilnya yang kembali
sempurna. Dia akan lebih meluangkan waktu untuk Hannah dan Jason dan memberikan
perannya sebagai ibu sesungguhnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar