Oleh: Doel Sastra
Sudah lama rasanya kakikku tidak menapaki gunung yang selalu membuatku
rindu. Tanggal 5 september 2015, akhirnya aku bisa menapaki gunung cikuray 2821
meter diatas permukaan laut, ya walaupun bukan gunung aktif setidaknya ini yang
ke tiga kalinya aku menaiki gunung cikuray ini, ini bukan suatu pendakian yang
biasa-biasa saja, tapi ini adalah pendakian yang sangat terberat bagiku dikarenakan
aku harus menjadi porter untuk para pendaki-pendaki pemula yang berasal dari
jakarta yang berjumlah 15 orang mereka semua adalah para pekerja staff kantoran
yang bekerja disalah satu instansi perusahaan besar di jakarta. Inilah kisah
perjalananku bersama mereka.
Tanggal 3 september 2015 pukul 21:00 aku mekakukan meeting point di
kantor mereka sebelum keberangkatan menuju garut. Setelah selesai meeting point
, lalu 4 mobil terrios dikeluarkan dan kami berangkat menuju garut, dengan
perlengkapan pendakian yang sangat-sangat safety.
Dalam perjalanan kita berbincang-bincang ria dan sesekali kita menuju rest area untuk makan malam. Perjalanan
masih butuh waktu +/- 7 jam menuju garut. Setelah melakukan makan malam, perjalanan
dilanjutkan. Tanggal 4 pukul 03:00 dini hari kita sudah berada di daerah garut,
tapi kami kesasar dalam perjalanan sedikit panik, karena kita telah mengestimasikan
waktu dengan tepat. Akhirnya slah satu dari anggota kami memakai GPS untuk
menuntun perjalanan kami menuju Cilawu garut. Sesampainya di cilawu, kita mencari
pertigaan genteng sebelum menuju ke pos pemancar cilawu. Setelah masuk menuju
ke pos pemancar dengan jalan yang berliku dan bebatuan yang sangat besar-besar
al hasil salah satu mobil tidak kuat untuk menanjak dan anggota lainnya ikut
membantu untuk mendorong mobil tersebut. Singkat cerita sesampainya di pos
pendakian pemancar jam 04:40 kami diminta biaya simaksi sebesar 10 ribu. Di
sana kami istirahat terlebih dahulu, sambil mengecek kembali peralatan
pendakian, perbekalan, dan menikmati pemandangan alam yang sudah mulai
memperlihatkan ke-asriannya. Setelah selesai mempersiapkan segala sesuatunya
mulai dari niat, fisik, mental, logistik dan peralatan. Kami kelompok yang
beranggotakan 15 orang siap melakukan oendakian gunung cikuray atau yang biasa
disebut gunung swiss van java.
Sebelum melakukan pendakian kita berdosa bersama dan saling sadar menyadari
bahwasanya gunung bukan tempat bermain, gunung bukan tempat sampah, gunung
bukan tempat maksiat. Tujuan utama kita mendaki adalah “Rumah” ya, kita harus
bisa kembali sampai rumah kita masing-masing dengan selamat. Baiklah ini cerita
pendakian kita.
Pukul 05:17 Pos 1 Pemancar
Setelah melewati pos basecamp pemancar,
petualangan baru dimulai, jalur terus perlahan menanjak, pemandangan berupa
perkebunan sayur milik warga di sana. Warna hijau terlihat sangat luas dan
dibatasi dengan pemandangan pegunungan di sekitar. Nyaris tidak menemukan bonus
jalur landai, kecuali setelah berjalan 30 menitan dari pemancar. Itu pun tidak
berlangsung lama. Menikmati udara pagi yang dingin dan mulai menusuk
ketulang-tulang kami sehingga salah satu dari rombongan kami menggigil hingga
masuk angin.
Sesampainya rombongan kami di pos 1. Diwajibkan untuk mendaftar ulang
dan memberikan nama-nama dari anggota rombongan pendakian. Pos ini juga
merupakan tempat terakhir untuk mengisi persediaan air minum rombongan dan
melengkapi perbekalan logistik. Sebab, di sini, kita masih bisa menemukan
warung.
Pukul 07:06 Menuju pos 3
Setelah melewati pos 1 dengan jalur yang sangat melelahkan. Kita
disambut dengan pemandangan sudah mulai memasuki hutan atau perbatasan vegetasi
, jalur mulai berani mempermainkan hati kita, kadang bikin kita emosi, semakin
sadis. Selain tingkat kemiringannya yang semakin meningkat, tanjakan di Cikuray
pun bisa dibilang lengkap, mulai dari tanjakan berupa tanah, batu, tanah keras
dan akar-akaran. Saat ingin menuju pos 3 disinilah aku mulai bekerja keras
untuk membantu membawakan tas gunung (carrier)
salah satu rombongan yang saat itu dia mengalami kelelahan.
Dan di sinilah
aku yang bertugas sebagai porter rombongan mereka, dan di sinilah juga tanggug jawabku
sangat besar. Sebagaimana aku harus menjadi pemimpin rombongan mereka. Kita
sudah memakan waktu banyak, seharusnya kita sampai pos tiga itu pukul 12 siang.
Tapi ternyata estimasi pendakian kita yang sudah diperhitungkan tidak sesuai
dengan waktu pendakian kita yang sebenarnya. Sebelum menuju pos 3 saja kita
sudah memakan waktu 8 jam. Tidak habis pikir mengapa se-lama itu.
Pukul 17:27 pos 3
Apakah kita akan melanjutkan pendakian ini, setelah ada banyak kawan
kita yang cedera, kelelahan, masuk angin? Tanyaku kepada salah satu anggota
rombongan. Ternyata mereka semua memilih untuk mendirikan tenda di pos 3 saja.
Karena hari sudah mulai petang dan kabut-pun sudah mulai turun dan menebal.
Setelah selesai mendirikan tenda di pos 3 mereka semua beristirahat, ada yang memasak,
ada yang masih sibuk mengeluarkan logistiknya. Dan aku sendiri membantu salah
satu anggota rombongan yang sedang sibuk memasak. Pukul 19:45 setelah para
rombongan mengisi perutnya, lalu kami saling berbincang-bincang di dalam tenda
sampai obrolan kita menuju ke pertanyaaan “jam berapa kita lanjutkan pendakian
ini sampai ke puncak?”, “jam 4 pagi” jawabku. Mengapa jam 4 pagi? Karena jarak
antara pos 3 dengan pos 7 atau disebut puncak bayangan ,itu memakan waktu +/- 3
jam perjalanan. Tapi sayangnya hanya sebagian rombongan saja yang melanjutkan
pendakian sampai ke puncak.
Pukul 04:00 Summit Attack
Alarm handphone milikku
berbunyi. Dan aku membangunkan sebagian anggota rombongan yang akan melanjutkan
pendakian sampai ke puncak. Setelah mereka bangun, aku mempersiapkan logistik
air minum, roti dan madu. Walaupun hanya sebagian saja, tapi aku sebagai porter
menuruti apa yang mereka minta. Memang ada rasa tak tega meninggalkan sebagian
rombongan yang tidak ikut ke puncak di karenakan mereka semua kelelahan dan
sakit. Tapi lepas dari itu semua mereka mendoakan kami agar selamat sampai
puncak dan kembali lagi menuju tenda rombongan.
Pukul 04:38
Dengan memakai jaket gunung yang sangat tebal, dengan perlahan lahan
kita menaiki tanjakan yang curam, oh ya! Asal kalian tahu di gunung cikuray ini
ada tanjakan yang berbeda-beda dan sangat unik namanya diantaranya ada 5
tanjakan, yaitu tanjakan Ambing, Cihuy, Sakti, Taraje dan tanjakan Wakwaw.
Bagaimana menurutmu? Sangat unik kan? Tapi menyakitlan. Bagaimana tidak menyakitkan
dengkul kita selalu bertemu dengan jidat kita disaat menaiki tanjakan-tanjakan
itu. Sungguh memang cabe rawit gunung cikuray itu.
Pukul 06:00 menuju puncak
bayangan / puncak cikuray
Nafas kami sudah sesak akibat oksigen yang sedikit, memang perjalanan kita
menuju puncak setengah melelahkan. Untuk kalian yang ingin melalukan pendakian
malam jangan lupa membawa persiapan oksigen agar tidak terlalu sesak jika kita
kehabisan oksigen. Cuaca langit sudah memunculkan kebiruan, aku dan rombongan
pun menyudahi istirahatnya dan melanjutkan perjalanan. Ternyata hanya memakan
waktu 15 menit saja dari tempat peristirahatan kita. Dan sampailah aku dan
kawan-kawanku menggapai puncak cikuray.
(aku, bang umar, bang diaz)
Terbayar sudah lelah kami di puncak cikuray 2821 mdpl, inilah kisah
pendakianku. Semog kalian menikmati apa yang aku rasakan. Pukul 09:00 kita
turun dari puncak dan menemui kawan-kawan kita di pos 3, hanya memakan 1 jam
setengah saja untuk turun dari puncak menuju pos 3. Setelah sampai pos mereka
semua telah membereskan tenda dan mempersiapkan makanan untuk para rombongan
yang menuju puncak. Setelah makan, kita pun bergegas turun dan perjalanan turun
pun disambut dengan riang tanpa adanya kelelahan dari para rombongan. Dan kita
turun dengan selamat dan tidak lupa bawa
turun sampahmu. (**)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar