Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Januari 2018

MENGGAPAI PUNCAK CIKURAY


Oleh: Doel Sastra



Sudah lama rasanya kakikku tidak menapaki gunung yang selalu membuatku rindu. Tanggal 5 september 2015, akhirnya aku bisa menapaki gunung cikuray 2821 meter diatas permukaan laut, ya walaupun bukan gunung aktif setidaknya ini yang ke tiga kalinya aku menaiki gunung cikuray ini, ini bukan suatu pendakian yang biasa-biasa saja, tapi ini adalah pendakian yang sangat terberat bagiku dikarenakan aku harus menjadi porter untuk para pendaki-pendaki pemula yang berasal dari jakarta yang berjumlah 15 orang mereka semua adalah para pekerja staff kantoran yang bekerja disalah satu instansi perusahaan besar di jakarta. Inilah kisah perjalananku bersama mereka.

Tanggal 3 september 2015 pukul 21:00 aku mekakukan meeting point di kantor mereka sebelum keberangkatan menuju garut. Setelah selesai meeting point , lalu 4 mobil terrios dikeluarkan dan kami berangkat menuju garut, dengan perlengkapan pendakian yang sangat-sangat safety. Dalam perjalanan kita berbincang-bincang ria dan sesekali kita menuju rest area untuk makan malam. Perjalanan masih butuh waktu +/- 7 jam menuju garut. Setelah melakukan makan malam, perjalanan dilanjutkan. Tanggal 4 pukul 03:00 dini hari kita sudah berada di daerah garut, tapi kami kesasar dalam perjalanan sedikit panik, karena kita telah mengestimasikan waktu dengan tepat. Akhirnya slah satu dari anggota kami memakai GPS untuk menuntun perjalanan kami menuju Cilawu garut. Sesampainya di cilawu, kita mencari pertigaan genteng sebelum menuju ke pos pemancar cilawu. Setelah masuk menuju ke pos pemancar dengan jalan yang berliku dan bebatuan yang sangat besar-besar al hasil salah satu mobil tidak kuat untuk menanjak dan anggota lainnya ikut membantu untuk mendorong mobil tersebut. Singkat cerita sesampainya di pos pendakian pemancar jam 04:40 kami diminta biaya simaksi sebesar 10 ribu. Di sana kami istirahat terlebih dahulu, sambil mengecek kembali peralatan pendakian, perbekalan, dan menikmati pemandangan alam yang sudah mulai memperlihatkan ke-asriannya. Setelah selesai mempersiapkan segala sesuatunya mulai dari niat, fisik, mental, logistik dan peralatan. Kami kelompok yang beranggotakan 15 orang siap melakukan oendakian gunung cikuray atau yang biasa disebut gunung swiss van java. Sebelum melakukan pendakian kita berdosa bersama dan saling sadar menyadari bahwasanya gunung bukan tempat bermain, gunung bukan tempat sampah, gunung bukan tempat maksiat. Tujuan utama kita mendaki adalah “Rumah” ya, kita harus bisa kembali sampai rumah kita masing-masing dengan selamat. Baiklah ini cerita pendakian kita.

Pukul 05:17 Pos 1 Pemancar
Setelah melewati pos basecamp pemancar, petualangan baru dimulai, jalur terus perlahan menanjak, pemandangan berupa perkebunan sayur milik warga di sana. Warna hijau terlihat sangat luas dan dibatasi dengan pemandangan pegunungan di sekitar. Nyaris tidak menemukan bonus jalur landai, kecuali setelah berjalan 30 menitan dari pemancar. Itu pun tidak berlangsung lama. Menikmati udara pagi yang dingin dan mulai menusuk ketulang-tulang kami sehingga salah satu dari rombongan kami menggigil hingga masuk angin.

Sesampainya rombongan kami di pos 1. Diwajibkan untuk mendaftar ulang dan memberikan nama-nama dari anggota rombongan pendakian. Pos ini juga merupakan tempat terakhir untuk mengisi persediaan air minum rombongan dan melengkapi perbekalan logistik. Sebab, di sini, kita masih bisa menemukan warung.

Pukul 07:06 Menuju pos 3
Setelah melewati pos 1 dengan jalur yang sangat melelahkan. Kita disambut dengan pemandangan sudah mulai memasuki hutan atau perbatasan vegetasi , jalur mulai berani mempermainkan hati kita, kadang bikin kita emosi, semakin sadis. Selain tingkat kemiringannya yang semakin meningkat, tanjakan di Cikuray pun bisa dibilang lengkap, mulai dari tanjakan berupa tanah, batu, tanah keras dan akar-akaran. Saat ingin menuju pos 3 disinilah aku mulai bekerja keras untuk membantu membawakan tas gunung (carrier) salah satu rombongan yang saat itu dia mengalami kelelahan. 

Dan di sinilah aku yang bertugas sebagai porter rombongan mereka, dan di sinilah juga tanggug jawabku sangat besar. Sebagaimana aku harus menjadi pemimpin rombongan mereka. Kita sudah memakan waktu banyak, seharusnya kita sampai pos tiga itu pukul 12 siang. Tapi ternyata estimasi pendakian kita yang sudah diperhitungkan tidak sesuai dengan waktu pendakian kita yang sebenarnya. Sebelum menuju pos 3 saja kita sudah memakan waktu 8 jam. Tidak habis pikir mengapa se-lama itu.

Pukul 17:27 pos 3
Apakah kita akan melanjutkan pendakian ini, setelah ada banyak kawan kita yang cedera, kelelahan, masuk angin? Tanyaku kepada salah satu anggota rombongan. Ternyata mereka semua memilih untuk mendirikan tenda di pos 3 saja. Karena hari sudah mulai petang dan kabut-pun sudah mulai turun dan menebal. Setelah selesai mendirikan tenda di pos 3 mereka semua beristirahat, ada yang memasak, ada yang masih sibuk mengeluarkan logistiknya. Dan aku sendiri membantu salah satu anggota rombongan yang sedang sibuk memasak. Pukul 19:45 setelah para rombongan mengisi perutnya, lalu kami saling berbincang-bincang di dalam tenda sampai obrolan kita menuju ke pertanyaaan “jam berapa kita lanjutkan pendakian ini sampai ke puncak?”, “jam 4 pagi” jawabku. Mengapa jam 4 pagi? Karena jarak antara pos 3 dengan pos 7 atau disebut puncak bayangan ,itu memakan waktu +/- 3 jam perjalanan. Tapi sayangnya hanya sebagian rombongan saja yang melanjutkan pendakian sampai ke puncak.

Pukul 04:00 Summit Attack
Alarm handphone milikku berbunyi. Dan aku membangunkan sebagian anggota rombongan yang akan melanjutkan pendakian sampai ke puncak. Setelah mereka bangun, aku mempersiapkan logistik air minum, roti dan madu. Walaupun hanya sebagian saja, tapi aku sebagai porter menuruti apa yang mereka minta. Memang ada rasa tak tega meninggalkan sebagian rombongan yang tidak ikut ke puncak di karenakan mereka semua kelelahan dan sakit. Tapi lepas dari itu semua mereka mendoakan kami agar selamat sampai puncak dan kembali lagi menuju tenda rombongan.

Pukul 04:38
Dengan memakai jaket gunung yang sangat tebal, dengan perlahan lahan kita menaiki tanjakan yang curam, oh ya! Asal kalian tahu di gunung cikuray ini ada tanjakan yang berbeda-beda dan sangat unik namanya diantaranya ada 5 tanjakan, yaitu tanjakan Ambing, Cihuy, Sakti, Taraje dan tanjakan Wakwaw. Bagaimana menurutmu? Sangat unik kan? Tapi menyakitlan. Bagaimana tidak menyakitkan dengkul kita selalu bertemu dengan jidat kita disaat menaiki tanjakan-tanjakan itu. Sungguh memang cabe rawit gunung cikuray itu.

Pukul 06:00 menuju puncak bayangan / puncak cikuray
Nafas kami sudah sesak akibat oksigen yang sedikit, memang perjalanan kita menuju puncak setengah melelahkan. Untuk kalian yang ingin melalukan pendakian malam jangan lupa membawa persiapan oksigen agar tidak terlalu sesak jika kita kehabisan oksigen. Cuaca langit sudah memunculkan kebiruan, aku dan rombongan pun menyudahi istirahatnya dan melanjutkan perjalanan. Ternyata hanya memakan waktu 15 menit saja dari tempat peristirahatan kita. Dan sampailah aku dan kawan-kawanku menggapai puncak cikuray.



(aku, bang umar, bang diaz)

Terbayar sudah lelah kami di puncak cikuray 2821 mdpl, inilah kisah pendakianku. Semog kalian menikmati apa yang aku rasakan. Pukul 09:00 kita turun dari puncak dan menemui kawan-kawan kita di pos 3, hanya memakan 1 jam setengah saja untuk turun dari puncak menuju pos 3. Setelah sampai pos mereka semua telah membereskan tenda dan mempersiapkan makanan untuk para rombongan yang menuju puncak. Setelah makan, kita pun bergegas turun dan perjalanan turun pun disambut dengan riang tanpa adanya kelelahan dari para rombongan. Dan kita turun dengan selamat dan tidak lupa bawa turun sampahmu. (**)

Kamis, 07 Desember 2017

WAHANA SWAFOTO TERBARU: 3D STREET ART ALA KOTA TARI TOPENG


Oleh: Alin Ifa


Kelihatan keren kan street art-nya? Sebagian orang pasti akan berkomentar dengan excited-nya, luar negeri punya! Memang, ya, segala yang berbau luar negeri pasti akan dianggap keren oleh orang-orang kita. Mau itu seni lukis jalan seperti di samping, ataupun produk-produk luar dari mulai baju, sepatu, hingga lagu. Tulisan ini sama sekali tak akan disangkutpautkan dengan rasa nasionalisme kita yang sudah mulai berkurang. Well, bisa kamu lihat dari judul, aku justru bakal memperkenalkan satu wahana swafoto street-art yang tidak kalah kece dengan gambar di atas.
Memang sudah banyak street-art yang Indonesia punya, dipamerkan di dinding atau jalan-jalan. Tapi kali ini aku akan mengulas satu lokasi street-art terbaru. Letaknya persis di kota perbatasan Jakarta-Bogor. Ayo tebak kota apa? Ya, Depok! Kota Tari Topeng ini punya satu lokasi street-art baru. Aksesnya mudah terjangkau oleh kendaraan bermotor, umum—baik angkot, ojek konvensional/online, atau bahkan bus—, mobil pribadi maupun jalan kaki.
Lokasi persisnya yaitu terletak di Jalan Tondano, Depok Timur—arah depan, kalau kata orang-orang sana. Bagi kalian yang dari Jakarta, Bogor, ataupun kota-kota lain, yang tertarik berswafoto ria di sini, bisa berpatokan pada dua jalan utama Kota Depok, yaitu Jalan Margonda, atau perbatasan antara Depok dan Bogor; lokasi Simpangan Depok. Patokan lebih spesifiknya untuk menuju ke lokasi, tinggal tanya aja ke warga sekitar sana Depok Timur Depan, atau Polsek Depok. Nah, lokasinya dekat banget dari dua tempat itu.
Lokasi street-art di Jalan Tondano ini dikembangkan oleh para pemuda di jalan itu sejak awal 2017. Para pelukis berbakat di sana menuangkan ide mereka ke jalan komplek sekitar rumah, dan mengundang warga untuk berswafoto. Menurut salah satu pemuda, ide mengkomersilkan jalan yang awalnya polos ini muncul ketika banyak diantara mereka yang memiliki hobi yang sama, lalu didukung oleh pejabat setempat. Maka, jadilah lokasi street-art Tondano. 
Omong-omong soal komersil, banyaknya pengunjung yang datang setiap sore hari untuk berfoto membuktikan kalau kata itu dianggap angin lalu oleh mereka. Dari mulai anak-anak kecil, remaja, hingga rombongan ibu-ibu, tumpah ruah di jalan ini di hampir setiap sore. Tarif yang dikenakan oleh para pemuda ini murah nan meriah banget. Untuk bisa berswafoto sepuasnya, pengunjung hanya harus membayar parkir 2000 rupiah dan uang lukis seikhlasnya. Bahkan menurut salah satu pemuda, ada yang tidak memberi uang terakhir itu. Tapi katanya, tak apa, asal bisa melihat orang senang dan menyalurkan hobi.
Untuk kamu yang terbiasa makan saat berwisata, jangan khawatir bakal kelaparan (hihihi). Dimana-mana, keramaian publik akan mengundang para tukang jajanan jalanan hadir. Begitupun di jalan ini. Kalau hari lagi cerah-cerahnya plus sedang ramai-ramainya, akan ada banyak tukang jajanan yang singgah di jalan ini, dari mulai cilok, batagor, bahkan sampai ketoprak. Tapi itu bukan berarti kalau jalan ini lagi sepi, jadi kamu tidak akan bisa makan apa-apa. Tidak begitu, kok. Persis di depan Jalan Tondanonya sendiri ada toko sejuta jalan alias Alfamart. Jadi kamu tidak perlu khawatir akan kelaparan atau kehausan waktu berkunjung ke mari. Tapi kalau masih paranoid juga, tidak ada salahnya membawa bekal minum atau cemilan sendiri (asal jangan nyampah wkwkwk...)

















Terlihat seru, kan, berswafoto di sana? So, tunggu apalagi, kawan? Tertarik mencoba lokasi swafoto street-art Tondano? Mainlah ke Depok! Jangan lewatkan keseruan berswafoto di atas objek street-art yang bermacam rupa, sekaligus menikmati jajanan jalanan di sini!