Sabtu, 15 Januari 2022

TETIRAH



Cerpen oleh: Alin Ifa


“Hidupmu selama ini terlalu monoton, Nak,” kata Ibu di suatu pagi. Pagi itu hujan, dan tidak ada yang lebih membahagiakan daripada menikmati teh buatan sendiri ditemani biskuit rumahan karya ibu. Apalagi hari ini minggu.

“Hm,” Aku mengiakan saja, “aku juga merasakan itu, sih, Bu.”

Aku menatap ibu dengan penuh kasih, sebagaimana dirinya memandang mata berbingkaiku ini dari netra menuanya. Ibu mengekeh. “Nah, kalau sudah tahu, kenapa gak mencari sesuatu yang lebih menantang?”

“Aku kira klien-klienku sudah cukup menantang,” gumamku sambil menyembunyikan tatapan malas itu agar tidak terlihat ibu. Semata untuk membuatnya nyaman, kalian tahu. Frasa ‘lebih menantang’ membuatku tahu pembicaraan ini akan mengarah ke mana.

Lagi, aku menyesap tehku. “Bas liburan kemari bukan untuk mencari sesuatu yang lebih menantang lagi.”

Sejujurnya, setelah berucap demikian, aku segera mengamati gerak-gerik dan sorot mata ibu. Wanita renta itu bergeming—tidak memalingkan fokusnya dariku, tapi dia tetap mengeluarkan satu perasaan itu lagi: khawatir. Padahal, apa yang harus dikhawatirkan dari pria 35 tahun yang memiliki karir gemilang sebagai pengacara dan dapat hidup dari pekerjaan itu? Sudah berulang kali aku berusaha memperlihatkan versi terbaikku di depan ibu, tapi selalu ada saja yang kurang. Si sang berjasa tidak pernah betul-betul bahagia, apalagi akhir-akhir ini.

Aku menghela, coba mengingkari bahwa yang dimaksud ibu adalah itu. “Bu, Bas gak liburan untuk mencari istri.”

“Mungkin itu yang harus kamu lakukan sekarang.” Tapi, daripada marah, ibu tersenyum. “Semua hal di hidup kamu sudah sempurna, bisa ibu bilang begitu? Hanya itu yang kurang. Pendamping.”

Pen.dam.ping. Aku bahkan merasa perlu membaginya menjadi tiga suku kata hanya demi mempertegas urgensi kata itu dalam hidupku. “Masih banyak hal yang belum aku capai, Bu.”

“Sebutkan, apa? Ibu bantu kamu mewujudkan itu.”

Alih-alih menjawab, aku hanya tersenyum. “Yang jelas, pendamping termasuk salah satunya. Tenang, aku gak lupa cari istri, kok.”

Ibu mengangguk, menatapku dengan sorot matanya yang menyendu. “Gak lupa itu nggak menjamin kamu akan mencarinya dengan segera. Gimana Dara? Partnermu itu juga masih lajang, kan?”

Aku menyeringai. Dara lagi. Aku masih mengingat jelas tipe pria idamannya seperti apa. Jauh dari apa yang kumiliki dan ada padaku. “Jangan Dara. Kutu buku kayak Bas nggak cocok sama dia.”

“Memangnya ada pengacara yang nggak kutu buku?”

“Ada. Dara contohnya—dan lagi dia sukanya suami yang nggak seprofesi dengannya,” jawabku acuh tak acuh. Usai menandaskan tehku, tadinya aku ingin membuka buku dari rak terdekat dan membacanya sebagai pengalihan pikiran. Namun, ibu menyodorkan selembar kertas padaku begitu beranjak dari kursinya. Aku menatapnya penasaran. “Apa ini, Bu?”

“Kontak dia. Cocok atau enggaknya kasih tahu ibu. Cepat, ya, sebelum stok gadis lajang anak teman-teman ibu menipis.”

***

Begitu saja, tapi nyatanya urgensi yang nyata terasa di balik permintaan ibu mulai menggangguku. Malam, di tepi kolam renang belakang rumah, aku merenungi setiap gurat nada ucapan ibu tadi siang.

Tiba-tiba ponsel di sisiku berkedip, menampilkan nama Dara di layarnya. Sebuah telepon. “Halo, Ra?”

“Baskara Hanggono kayaknya begitu menikmati ada di tempat ibu, ya?” Dara, tunangan si atlet golf Ario Wibisana itu tertawa pelan. “Tapi jangan khawatir, gue nggak berniat ganggu liburan lo kok.”

Aku menyembunyikan senyum. “Terus? Apa nih telepon-telepon begini?”

“Ngerasa harus aja.” Kali ini aku bisa merasakan dia mengangkat bahu di seberang sana walau tidak bisa melihatnya. “SW lo ngilang seharian ini. Gue takut lo kenapa-kenapa. Belum siap take over BasDa Lawyer soalnya.”

BasDa Lawyer adalah nama firma hukum buatan kami. Aku tahu itu nama yang aneh, tapi ternyata merk usulan Dara itu lebih menarik hati klien daripada BasRa. Nanti klien kita ingatnya kota di Afganistan, bukan firma hukum. Begitu kata Dara. Kupikir, benar juga.

Karakter Dara memang ceplas-ceplos di luar ruang sidang. Namun, ketika sudah masuk pengadilan dan berhadapan dengan yang dibela, Dara akan berubah menjadi wanita dewasa yang senang mendebat dan membabat. Dia orang yang tepat untuk perkara pidana, sementara aku lebih banyak menangani perdata.

Yah, sebagai seseorang yang sudah bertunangan, bisakah Dara dimintai saran juga soal kontak di tanganku ini? Aku menatap kertas pemberian ibu sekali lagi. Di sana tertulis sebaris nomor bernama Naila.

“Ra, ibu mulai jodoh-jodohin gue.” Aku memulai. “Menurut lo gimana?”

“Hem. Bisa kita pindah ke video call? Gue mau lihat muka lo.”

“Oke,” Meski tidak menemukan korelasi apa pun antara nama yang diberikan ibu dan pertanyaanku tentang itu kepada Dara, aku menurut, “angkat.”

Tidak lama kemudian, wajah Dara terlihat di kamera. “Oke, jadi ... lo mau dijodohin?” Tampang sengak Dara seolah mengejek nasibku. “Udah lihat orangnya?”

Aku merebahkan diri di kursi tepi kolam. “Belum. Ibu cuma kasih gue kontaknya.”

“Udah dikontak orangnya?”

“Belum.”

“Terus apa yang mau lo tanyain, sih?” Dara berdecak. “Gue kira prosesnya udah jauh sampai mana gitu. Teleponan dululah.”

“Takut.”

Tawa Dara menggema di seberang. Dia sendiri terlihat duduk di meja makan apartemennya. Langit malam yang cerah sebagai latar Dara, sementara langit mendung sebagai latarku rasanya mewakili suasana hati masing-masing.

“Kenapa takut?”

“Takut orang itu nggak sesuai sama kriteria calon istri Baskara Hanggono yang lo buat.”

Ekspresi Dara melurus saat itu juga. Tawanya mereda, tatap matanya berubah serius. Dia meletakan ponsel pada sandaran—aku sangka begitu karena dua tangannya terlipat di atas meja. “Bas, itu konyol. Lo udah berumur, jangan pake alasan itu untuk—”

“Tapi bener,” Aku memotong komentarnya, “Karena lo tau gue banget, Ra.”

“Apa yang udah selesai, selesai di sana. Gak usah dibawa-bawa ke masa depan, Bas.”

Aku menyeringai menanggapi ucapan yang entah sudah berapa kali terucap dari Dara. “Susah dong, dengan mendirikan firma itu, secara nggak langsung gue udah bawa masa lalu ke masa depan.”

We’re finish. Long time ago.”

Dua kalimat itu selalu menimbulkan nyeri di dada. Hanya Dara yang bisa melakukannya. Aku menatap sosok di depan layar dengan sorot yang mungkin saja sulit diartikan. Selalu begitu setiap Dara menandaskan percakapan personal kami dengan dua kalimat pendek itu.

“Bahkan sebelum ibu tahu kita pernah serumah.” Aku menoleh ke sekeliling, melihat keadaan—siapa tahu ibu memperhatikan percakapanku dengan Dara. “Kadang gue heran, apa artis-artis yang menikah siri itu ngerasain perasaan sedalam ini?”

Dara menanggapi, “Telepon orang itu, oke? Lo harus move on.”

“Dengan menjadikan orang itu sebagai pelampiasan?” Aku coba mendebat Dara. “Gue gak mau. Dari namanya, dia pasti orang baik.”

“Telepon orang itu.”

Aku terdiam. Kalau Dara sudah mengulang kalimatnya dan ucapan itu diakhiri dengan senyuman tipis nan damai, sepertinya aku tidak bisa berbuat apa-apa. Sekali lagi, kutatap layar.

“Kalau gue nggak bisa, gimana? It’s always been you, Ra.”

“Harus bisa.”

Tiba-tiba, layar berubah menjadi tampilan whatsApp kembali. Dara pergi. Suasana sekitarku kembali sepi.

Kembali, aku memandang kertas pemberian ibu. Kali ini, kuketikkan nomor itu, kusimpan—langsung kupanggil. Semoga Naila tidak masalah aku menelepon jam ini.

Nada sambung terdengar.

Diangkat.

“Halo? Bisa bicara dengan Naila?”

“Ya, saya sendiri. Dengan Mas siapa ini?”

“Perkenalkan, saya Baskara Hanggono. Boleh saya melamar kamu?”

.

.

.

SELESAI

 


Minggu, 09 Januari 2022

ENCHANTED

A 'Sweet' Short Story

Alin Ifa


Arga termenung di ruangannya. Berhadapan dengan laptop, ditemani suara rintik hujan yang terdengar samar dari luar, ia bukan merenungi kerugian, kesedihan, kemalangan, atau hal negatif lainnya. Arga terdiam di kursinya sejak lima belas menit yang lalu karena hal sesepele wanita yang dikenalnya melalui jejaring sosial setuju untuk bertemu.

Besok. Haruskah dia meminta saran Nita dan Bragi terkait kencan pertamanya setelah sekian tahun?

Arga menepuk wajahnya. “Ini bukan kencan, Ga. Gila lo!” Ya, gila, segila respons lawan bicaranya karena mau saja diajak bertemu setelah berkenalan seminggu belakangan ini.

Belum pernah video call. Hanya mengirim foto diri di tengah kegiatan masing-masing. Arga akui wanita ini cantik dan anggun, berusia empat tahun lebih muda darinya. Kepribadiannya pun ceria, sejauh yang ia tahu. Entah saat bertemu langsung nanti. Bisa jadi, sifat itu berubah sekian kali lebih baik atau lebih buruk.

Arga mengusap wajahnya, memutuskan untuk mengetik jawaban dari pertanyaan ‘Mau ketemu di mana?’.

“Ayam Geprek Pak Herman?” ketiknya menawarkan. Tempat makan hommie itu memang sedang digandrungi di kota ini.  

Tak terduga, wanita itu membalas, “Besok hari pertama aku di kota kamu. Gak berniat jemput aku di bandara?”

“Ah, yaaa ....” Arga sama sekali tidak menyadarinya, tapi perasaan malu sendiri itu memunculkan rona merah di wajah dan sekitar telinga. Seandainya Bragi dan Nita melihatnya, mereka pasti akan meledek Arga habis-habisan. “Iya juga. Dia dari Kyoto.”

Arga mengetikkan balasan, “Oke, bandara. Hahaha, sorry, you feel so close to me.

Wanita itu membalas dengan emoji tertawa terbahak terlebih dahulu, lalu ....

“Aku cuma bercanda, Arga! It’s okay. See you soon. Aku mau lanjut kerja dulu. Bye. Aku ambil flight malam ini juga ke sana.”

Ada setitik perasaan kecewa ketika dia mengakhiri percakapan mereka. Arga mengetik, “Bye. Semangat.”

Tak lama, Arga menambahkan balasannya, “Dan hati-hati di jalan.”  

Dia menutup percakapan dengan dua kata yang seperti biasa, “You too.”

You too. Kemudian, arah pandangnya terpalingkan pada langit malam. Arga berdiri dan memandang langit Jakarta dari lantai 32 ini. Perasaan hangat yang menyusup ke relung hatinya tidak bisa dicegah. Perlahan, ia mengulas senyum, merasa konyol pada dirinya sendiri dalam percakapan ‘office hour’ mereka tadi. Arga semakin tidak sabar bertemu wanita itu besok.

***

Atas kesadaran diri, Arga akhirnya memutuskan untuk menjemput tamunya di bandara. Berdiam di terminal penjemputan sejak pukul 5 pagi, Arga tidak terkantuk-kantuk. Ia siaga dengan ponsel di tangan. Menyengajakan diri, Arga bahkan berlari di sekitar bandara sambil menunggu. Dia tidak ingin telat menjemput tamunya.

“Dari jadwalnya, jam setengah tujuh sampai airport.” Arga melirik jam tangan yang melingkari pergelangannya. “Lima belas menit lagi.”

Namun, sepertinya tidak perlu menunggu lima belas menit, sosok wanita yang mirip dengan foto muncul menarik troli bandara berisi beberapa tas kecil dan satu koper berukuran medium. Pandangannya seperti mencari-cari sesuatu.

Arga mendekatinya. “Halo?”

“Hai?” Wajah yang awalnya bingung itu menunjukan binarnya. Sebelah tangan langsung terulur. “Arga, ya?”

“Ya, betul.” Arga tersenyum, semata membalas senyum ceria lawan bicaranya. “Misaki?”

Yang dituju berdecak sebentar pertanda tidak setuju dengan panggilan yang disematkan Arga. “Shila aja.”

“Oke.”

Sejenak, mereka berdiri kikuk di lorong besar itu. Arga tahu harus dia dulu yang mulai bicara. Masih pukul enam pagi, mau ke mana mereka? Restoran ayam geprek tujuannya pasti belum buka.

“Aku nggak nyangka kamu jemput di sini.” Shilalah yang nyatanya bicara lebih dulu. “Aku belum tahu harus stay di mana. Tapi mau menyewa hotel terdekat dari sini. Itu di mana, ya?”

“Mau tinggal sampai kapan di sini?” tanya Arga berbasa-basi, semata mengalihkan dirinya sendiri dari aroma parfum Shila yang mulai menyenangkan indra penciumannya.

Shila mengangkat bahu. “Looks like aku sudah terpesona duluan sama Indonesia. Boleh tinggal lama?”

Sorot mata lembut itu bagi Arga seperti menyimpan sejuta maksud di dalamnya. Namun, kali ini Arga tidak mau berlarut-larut dalam penafsirannya sendiri. Ia menyeringai dan mengeluarkan suara tawa yang sedikit aneh dan hambar, tapi terhibur oleh ucapan misterius Shila. “Silakan.”

Sekali lagi mereka terdiam dalam senyum masing-masing. Sekali lagi pula, Shila yang memecah keheningan. “Jadi, kita akan terus diam di sini atau ....”

Atau!” Arga cengengesan, merasa konyol karena menyadari mereka sudah berdiri di lorong itu cukup lama. “Mari, saya antar kamu ke salah satu homestay ter-hommie di kota ini.”

Kemudian, mereka berdua melangkah menjauhi terminal penjemputan. Keceriaan Shila Misaki menghiburnya di pagi itu.

*

Sedikit yang Shila tahu, rumah tinggal yang dimaksud sebenarnya apartemen asetnya di tengah kota. Arga membawa wanita itu masuk, meletakan koper dan tas-tasnya di dekat ruang tamu. Shila sibuk memandang seisi apartemen dengan sorot tak percaya. Lucu rasanya, ia kira karena orang luar, Shila akan biasa saja melihat isi apartemennya.

“Waw,” Binar mata Shila tak bisa membohongi diri, “aku gak yakin ini disebut hommie.”

“Ehem,” Arga mengangkat bahu, “for me, this is quiet hommie.”

“Siapa kamu?”

Arga balas menoleh. Matanya bertubrukan dengan netra pemilik wajah oriental itu. Seketika Arga gugup menerima rasa penasaran yang membuncah dari Shila. “No body, serius.”

“Manajer mana yang punya apartemen sebagai asetnya?”

Arga mau tak mau menunjuk dirinya sendiri.

“Aku gak yakin kamu ‘manajer’.”

Neither do I. Seringai lebar Arga terbit ketika Shila dengan luwesnya memperlihatkan kekagumannya lebih lanjut. Lucu, masih terasa lucu dan semakin lucu. Siapa sangka wanita anggun berumur 28 tahun juga bisa bertingkah lugu seperti ini? Arga mulai mengikuti Shila ke manapun, mendengarkan segala decakan kagumnya dengan penuh perhatian.

Hingga kemudian mereka tiba di dapur ....

“Kamu punya pacar, Arga?” Bersandar pada meja dapur, pandangan penasaran itu menyorotnya.

“Gak ada waktu untuk mencarinya,” jawab Arga dengan tegas.

“Kenapa? At your age, kakakku sudah punya anak dua.”

Arga terkekeh. “At your age, saya hampir menikah.”

“Kenapa urung?”

“Dia nggak tepat buat saya.” Arga mengangkat bahu. Fokusnya sedikit pudar dari Shila bukan karena ia mengingat kenangan di masa lalu, tapi karena sedikit tak siap harus berhadapan dengan pertanyaan seperti ini. “Atau saya yang nggak tepat buat dia? Entahlah.”

“Apa katanya?”

You deserve better.”

Shila tertawa. “Ternyata ... kita punya cerita yang sama.”

Detik selanjutnya, tawa itu perlahan menyurut menjadi tak bernyawa. Shila terus menghindari tatap matanya sambil mengambil duduk di kursi makan. Arga tetap memandangnya penasaran meski wanita berambut lurus itu tak peduli.

Kemarin, Arga penasaran akan sifatnya, kini ia justru penasaran tentang penyebab sepasang mata yang tak sipit tapi juga tidak bundar itu berair. “Thank you,” ucap Shila terbata.

Belum sempat Arga membalas sepatah kata pun, Shila menangis pilu di hadapannya. Arga tidak tuli dan buta—dan tak ingin berbasa-basi. Ia tak tahu harus bagaimana, tapi masih cukup berakal untuk sigap mengambilkan tisu dan segelas air putih. Wanita di hadapannya sepertinya baru patah hati dalam hitungan bulan lalu—atau bahkan hari. Arga tidak akan bertanya kenapa karena itu bukan urusannya.   

Breakfast?” tawar Arga segera, semata untuk mengisi kekosongan obrolan mereka.

“Ya, sure.

Arga berbalik, menelepon layanan pesan antar. Namun, tanpa Arga sadari, sebilah pisau dapur terhunus.

Pisau itu menembus jantungnya tepat sebelum jam 7 pagi.

Shila Misaki menelepon seseorang dari ponselnya sambil berjongkok di sisi si mayat. “Mr. Nelwan, CEO Arga Group sudah tewas.”

Di seberang sana, sang klien tersenyum sambil menyilang foto Arga. “Terima kasih, Shila. Kita ke target selanjutnya. Nita dan Bragi.”

“Siap, Mister.”

.

.

.

BERSAMBUNG ....  


Sabtu, 27 Januari 2018

KEHABISAN INSPIRASI? COBA TENGOK (lagi) PLAYLIST LAGUMU!




It’s me, again. Sisi geeky weirdo-ku kali ini mau membahas tentang writing tips ketika kehabisan inspirasi. Tertarik buat menyimak lebih lanjut? Baca kelanjutan tulisan ini baik-baik yaa ^_^

Bagi kalian yang sudah terbiasa menulis pasti gak asing lagi mengalami saat-saat kehabisan inspirasi. Kamus harfiahnya, kehabisan inspirasi justru menurutku berbeda arti dengan writer’s block. Why? Because, buatku writer’s block adalah saat-saat aku sebenarnya sudah punya satu-dua ide tertentu buat kelanjutan tulisanku, tapi sayang—belum mau menuliskannya dalam satu bentuk bangunan kata yang indah.  Sementara itu kehabisan inspirasi justru waktu ketika aku sama sekali bingung mau menulis apa karena gak ada ide tentang alur, diksi, ataupun tema yang terlintas dalam pikiran. (Entah dalam kamus kalian, ya, hehehe....)

Well, dalam postingan sebelumnya tentang writing tips, aku pernah menyebutkan kalau justru ide itu harusnya digali, bukan ditunggu datang dalam kepala. Yap, benar. Tapi kehabisan inspirasi bukanlah saat-saat kita putus asa menunggu ide itu datang. Kehabisan inspirasi terjadi karena penyair puisi, penulis drama, dan pengarang prosa sering nggak menyadari bahwa karya yang akan mereka hasilkan bisa ber-ide apa aja dan gimana aja. Yang kita bicarakan terkait inspirasi itu soal estetika, alias keindahan. Artinya, ide boleh biasa, tapi eksekusi estetika harus spesial.

Gak ada yang menyalahkan satu ide klise, kan? Kita lirik aja “Perahu Kertas”-nya Dee. Yang ada dalam karya besar Dee itu adalah kisah cinta diantara Kugy dan Keenan yang seolah secara gak langsung berkali-kali dilarang bersama, tapi pada akhirnya saling menemukan juga. Klise, happy ending. Yang menjadikan karya itu luar biasa justru estetika yang Dee keluarkan, yang berhasil membuat kita percaya kalau karakter Kugy dan Keenan memang mungkin sungguhan berada di kehidupan nyata—dengan segala problema dan pendeskripsian emosinya. Dee gak pakai bahasa yang terlalu berbelit dan puitis. Dia hanya jadi pengarang yang masuk dalam cerita, menjadi pencerita bagi kisah luar biasa Kugy dan Keenan yang mengandalkan takdir. Dan, Dee berhasil. Karya yang sempat re-write itu sukses di pasaran.

Maka kunci karya (apalagi sastra) cuma estetika. Keindahan yang disajikan di dalam karya kamu lah yang akan membuat pembaca merasuk, dan mengerti apa yang mau kamu sampaikan. Itulah yang terpenting. Bukan seberapa cemerlang dan rumit ide yang kita gunakan di suatu karya.

Berapa karya yang sudah kamu tulis? Berapa puisi puisi? Berapa cerpen? Berapa novel? Atau bahkan—berapa naskah drama dan skrip film? Berapa cerita yang sudah kamu buat dengan ide berbeda? Darimana kamu mendapatkan ide-ide buat karyamu itu? Sebelum menuju ke paragraf selanjutnya, lebih baik ingat-ingat dulu sumber inspirasimu.

Atauu... justru yang menginspirasi penulisan karyamu itu adalah seseorang?—yang sayangnya kini bukan lagi bagian dari hidupmu? Mantan, misalnya? Atau orangtua yang sudah dipanggil Allah?

Well, kehilangan mereka bukan berarti kamu harus berhenti berkarya. Wise man said, menulis adalah salah satu cara untuk mengukir ilmu agar abadi. Ilmu gak harus selalu berkaitan dengan  hal-hal ilmiah, teman. Kita kita yang ahli menuliskan pelajaran kehidupan, bisa melestarikan nilai norma dengan mulai menulis ulang kisah yang ada di sekitar kita.
Tapi, kalau tak ada lagi yang bisa kita tulis??

Never say nothing. Selalu ada sumber inspirasi tertentu bagi yang mau menggalinya. Well, siapa yang suka nulis di laptop / hp sambil dengerin lagu, mungkin bisa coba melirik playlistnya masing-masing :) (That’s worked for me, anyway)

Mungkin kalian bisa coba cara ini. Misal, kalian tiba pada satu state of mind yang bilang keras-keras, Gue mau nulis! Tapi nulis apa, ya...? Jangan bingung! Silakan dengarkan satu lagu. Apa aja, gak ada batasan. Suka lagu itu? Ngerti maknanya? Bisa ngerasain pengisahan dalam lagunya?


Why don’t you just write that down!


Tulislah ulang kisah dalam lagu itu dengan caramu sendiri! Plagiat? No, never. Siapa bilang rasa terinspirasi itu merupakan bentuk dari plagiarisme?

Oh, atau kalian perlu contoh? Aku pernah ngalamin hal semacam itu, sebenarnya.

Waktu itu pas pertama kali pengen coba tulis cerita crime tentang kepribadian ganda, jujur aku gak kunjung menemukan mood yang tepat. Well, kalian bisa bayangkan: cerita kriminal yang isinya ada orang kepribadian ganda, mana bisa ditulis dengan tata bahasa baku yang berputar-putar? Sayang, itulah yang aku lakukan selama lima draft novel itu. To be honest, dengan alur berbeda pula. Aku gak kunjung menemukan inspirasi buat menghidupkan naskah kriminalku. Diksi yang aku pilih itu lagi itu lagi—gak berkembang sama sekali. Lima draft dengan lima ide cerita berbeda dan pasangan tokoh utama berbeda, sukses kuhapus begitu saja.

And theeen, huge surprise came. Tau lagunya Charlie Puth—Dangerousion? Lagu itulah merupakan inspirasi terbesarku dalam menyelesaikan naskah kriminal itu karena mirip dengan curhatan si tokoh utama a.k.a Laura Gardner yang memang digambarkan stress dan berbahaya karena kepribadian ganda yang dia punya.

Awalnya bahkan aku gak tau sama sekali tentang lagu itu, but then, penjelajahan youtube-ku menemukan lagu itu. Aku suka video klip dan lagunya, dicarilah liriknya. And i was like, FINALLY! THIS IS MY TIME!

Dari sana aku pun tau kalau lagu-lagu sejenis itulah yang cocok buat dimasukan ke playlist penulisan novel kriminalku itu. Download download downlod.. Proses penulisan berlanjut dengan kecepatan yang...yeep...cukuup memuaskan.

So, see what we’re going? Maksudku adalah, kehabisan inspirasi bukan cuma soal kehabisan bahan penceritaan, lho, ya—tapi juga koleksi diksi dan alternatif plot twist yang jadi unsur wajib novel-novel serius. Lagu-lagu karya musisi seantero bumi bisa jadi bahan tulisanmu. Cobalah menjelajah—baik di laptopmu sendiri, maupun internet. Secara gak sadar, mereka menyimpan berjuta sumber inspirasi buat kamu.

Tapi kalau kamu masih juga ngaku kehabisan ide, yang perlu kamu cek justru bukanlah playlistmu—melainkan satu hal:

“SUDAH BERAPA BANYAK YANG KAMU BACA?”



This night, that’s all from me. InsyaAllah di blog ini bakal terbit postingan-postingan selanjutnya. Sooo, JUST SUBSCRIBE, AND WAIT! :)




Your most sincerely,
Peter Van Hou— (WHO’S FANS OF TFIOS???!!—me, obviously -_-)


Ups, sorry,



Alin Ifa

Kamis, 25 Januari 2018

WRITER'S BLOCK = PENYAKIT MENYERAMKAN PARA PENULIS


Indeed. Bagi orang-orang yang sudah terbiasa menulis, writer's block merupakan salah satu penyakit menyeramkan. Gimana enggak? Disaat mereka seharusnya menghadapi laptop buat menghasilkan 1000/2000 kata, writer's block membuat mereka tak bisa melakukan apa-apa dihadapan laptop. Hanya membuka tulisan lama, mengedit bab terakhir mereka, atau bahkan terjebak dalam "movie hours". Atau yang lebih nggak nyambungnya lagi adalah: makan-tidur-makan-tidur----jalan-jalan.  

Mungkin diantara kalian ada yang pernah melakukan hal-hal di atas? Eiits, jangan sekali-kali menyebut hal itu sebagai rangkaian kegiatan nggak berguna. Bukan karena kalian nggak menghasilkan tulisan dalam sehari, jadi ngerasa bersalah atau apapun itu. Jangan sampai terbesit, Ih! Ngapain sih gue hari ini..? Ada deadline novel, juga... Huffft.---Well, rangkaian kegiatan yang kalian lakukan sebenarnya ada hubungannya dengan proses pencarian ide itu sendiri. 

Bagi kalian yang mengaku mempunyai cita-cita sebagai penulis entah fiksi atau nonfiksi, mengaku saja: kalian membenarkan serangkaian kegiatan itu menularkan bermacam ide untuk progres tulisan. Kembali lagi pada hakikat fiksi alias sastra, sastra adalah cerminan dari kehidupan nyata. Yap tepat. Kehidupan nyata, artinya sama sekali nggak perlu jauh-jauh mencari ide buat tulisan fiksi. Nggak jauh beda, tulisan nonfiksi seperti artikel, dan bahkan karya ilmiah punya sumber ide tersendiri dari kehidupan nyata. Setiap segi kehidupan sebenarnya bisa kita jadikan sumber berita, opini, celoteh, sampai dengan jurnal-jurnal ilmiah dan skripsi untuk kelulusan jenjang pendidikan. 

Jadi, sebenarnya writer's block bukan tentang kehilangan ide yang dialami para penulis. Writer's block terjadi hanya karena kita malas menuliskan sesuatu. Mungkin lagi nggak mood? Atau lagi sakit? Butuh refreshing dan sebagainya? 

Karena pada dasarnya ide itu dicari, bukan ditunggu datang. Dan alam raya ini menghasilkan triliunan sumber ide kalau kita mau mencarinya. Masalah utama writer's block sejak awal memang hanya satu: KEMALASAN. Maka, hilangkanlah rasa malas itu. Kuncinya adalah dengan menyemangati diri kita sendiri. Ingat, sungguh-sungguhkah kita jadi satu diantara semiliar orang yang menekuni dunia kepenulisan? 

Kalau merasa sungguhan menekuni dunia kata itu, maka tunggu apa lagi? Mulailah menulis! 

Senin, 22 Januari 2018

BOSAN? 3 CARA INI BISA JADI JALUR PELARIAN YANG TEPAT!



Di lapangan kehidupan (eak, bahasanya...), nyatanya gue sering menemukan orang-orang yang nggak pernah bosan bilang kalau dia "BOSAN". Yap, ngerti kan maksudnya? Nowdays, dengan begitu banyaknya kemudahan teknologi dan alternatif aktivitas, justru seharusnya orang-orang yang seperti itu bisa cari satu saja kegiatan pelarian yang nantinya bisa mereka masukan ke dalam daftar kegiatan harian. Well, bagus-bagus kegiatan itu lama-lama menghasilkan manfaat. Apapun kegiatannya, memang kuncinya cuma satu: TEKUN. 

Banyak faktor sebenarnya yang membuat orang-orang itu merasa bosan. Dari mulai faktor sepele berupa "sungguhan bosan" karena mereka ngelakuin kegiatan yang sama, terus-menerus, atau memang "nggak melakukan apa-apa", sampai dengan faktor kebosanan yang kompleks---yang gue definisikan sebagai "bosan bohongan". 

Nggak ada yang tau seseorang bilang bosan itu karena apa, kan? Siapa tau dia lagi ada masalah atau semacamnya, dan jadi nggak mood ngelakuin rutinitasnya itu. Nggak mood bakal berubah jadi nggak melakukan apa-apa. Ya, intinya satu memang: karena apapun bosannya, yang jelas mereka sebenarnya sadar harus melakukan sesuatu. 

So, below, gue rangkum 3 kegiatan yang kiranya bisa jadi jalur pelarian yang tepat buat kamu-kamu yang lagi bosan alias boring, border, bordesen...bored.  

1. Find your hobbies! (Cari hobimu!)
Melakukan hobi adalah salah satu cara terjitu membunuh kebosanan. Hobi bisa apa aja. Dari mulai hobi di belakang laptop semisal menulis fiksi/artikel, mendesain sesuatu, atau melakukan segala hal yang bisa dilakukan di laptop/komputer/gadget kamu. Semodern ini mustahil banget kalau masih ada manusia yang tabu dengan hobi. Masing-masing dari kalian pasti punya hobi tersendiri. Lakukanlah itu buat membunuh si bosan. Jangan biarkan diri kamu sama sekali nggak ngelakuin apa-apa dalam sehari. 

Yap, sebenarnya nggak ada salahnya juga menyediakan 'silence session' dalam rangka mengistirahatkan otak dan badan dari kegiatan harian. Kita bisa melakukan hal itu dalam bentuk tidur. Tapi nggak mungkin juga kan tidur kita sampai makan waktu seharian? Rugi berat kita melalui sekitar dua belas jam waktu produktif dengan hanya "TIDUR".. Yeah, i think that's not the best option. Apalagi ada segelintir orang yang menjadikan tidur sebagai hobi sungguhan. Well, i mean, that's good. But... lebih baik jadi orang yang cukup tidur daripada kelebihan tidur. Nggak baik buat kesehatan juga, soalnya. 

Dan balik lagi pada pembahasan hobi, selain hobi di balik meja, ada pula hobi yang "take action". Contohnya: travelling, membuat film/video kocak, membuat kover lagu kalau kamu punya hobi dasar menyanyi, berdagang (ala-ala Mail di Upin Ipin, misalnya?), atau sampai dengan coba-coba jadi 'speaker' kalau memang kamu ngerasa pintar ngomong di depan orang banyak. Those are worth trying, believe me. 


2. Fix yourself! (Benahi dirimu!)
Cara kedua dilakukan karena mungkin saja ada yang salah dengan pola kegiatan harianmu. Well, gue cuma saran, dan itu bukan berarti orang-orang yang bosan itu jadi pribadi yang gagal. Enggak. Setiap dari kita dilahirkan sebagai pemenang. Ya...IYKWIM. Dalam rahim ibu kita, kita adalah sperm yang tercepat sampai ke ovum. Pembuahan terjadi dan lain sebagainya itu (pokoknya ingat-ingat aja pelajaran biologi SMP haha...). So, nggak ada alasan seseorang itu punya takdir buat selalu salah atau semacamnya. Masing-masing dari kita dikasih kesempatan kedua untuk membenahi diri. Sedetil apapun kesalahan yang ada di dalam diri gue rasa bakal menjadi celah datangnya kebosanan. Bosan sama diri lo yang gini-gini aja, misalnya? Then find the wrong thing, misalnya: kesalahan pola tidur, pola makan, pola pikir, sampai kerutinan kita menghadapkan diri kepada Allah, bisa jadi alasan kebosanan itu datang---tapi sekaligus juga bisa jadi jalan buat kita membenahi diri dan berubah, menjadi pribadi yang nggak bosenan. 

Well, again, who knows? Seringkali kita ngerasain sesuatu yang kita sendiri nggak bisa terjemahin alasannya. Inilah jawaban caranya. Karena kemungkinan ada sesuatu yang salah dalam diri kita, maka yang harus dilakukan adalah fix yourself. Benahi dirimu!--karena proses membenahi diri seharusnya memang nggak dilakukan pada saat menghadap Allah aja, atau di bulan suci seperti Ramadhan. All i can say is: manusia hidup buat berproses. Kalo kita bosenan, do nothing, then gimana mau ada proses? Yeah. That's what i mean. 


3. Try something new! (Cobalah sesuatu yang baru!)
Cara terakhir ini agak sebelas dua belas sama cara satu. Buuuut, not that hard. Mencoba sesuatu yang baru nggak harus berbentuk ngelakuin kegiatan yang namanya hobi, atau ngelakuin proses membenahi diri. Enggak. Mencoba sesuatu yang baru bisa dalam bentuk kita bereksperimen pada apapun yang lagi kita lakuin. Cari tau lebih dalam, jelajahi sesuatu yang belum pernah kita jamah. Bukan dalam arti sesuatu yang macam-macam. Kata Rasul juga, mencari ilmu itu wajib bagi muslim laki-laki dan perempuan. Dan, lagipula pepatah "Carilah ilmu sampai ke Negeri Cina", sama ucapan "Tuntutlah ilmu sampai ke liang lahat." memperjelas urgensi 'try something new'. Jadilah manusia yang pembelajar, yang selalu punya rasa ingin tau. Gue yakin itu satu tipe manusia yang nggak pernah punya rasa bosan karena dia selalu menilai segala sesuatu itu masih ada terusannya. Nggak ada ilmu yang benar-benar berbatas. Banyak hal yang bisa kita pelajari di bumi ini. Dari mulai yang eksak, sampai yang nyeni. 

Sooo, as a wise human, haruslah kita pikirkan satu hal sebelum try something new. Apa itu? 

Pernah dengar istilah 'berpikir melingkar'? Yap, that. Apapun yang ingin kita coba, harus punya dampak positif bagi diri kita, bahkan bagus-bagus, buat orang lain. Kan salah kalau kita justru mempelajari dan (amit-amitnya..) menyebarkan sesuatu yang jelek. Mau dibawa kemana Indonesia kita kalau generasi mudanya belajar hal yang bukan-bukan?? Bagi yang lagi, segera udahan. Bukan tappan lagi, tapi udahan. Poinnya, buat apa belajar sesuatu yang bikin dampak negatif buat kita, kan? Belum lagi, hisabnya pun bakal berat di akhirat nanti (bagi pembaca yang merasa muslim/muslimah, ehehe...) 



Uhm...Okay, then. Kayaknya nggak ada lagi yang pengen gue baceo-in di sini. Jadi, udahan aja, ya tulisan kali ini? Resumenya: if you are boring, then do something! / kalau lo bosan, lakukanlah sesuatu!. Jangan diam, kalau nggak mau tergantikan! 

Okelah, guys. Lebih baik gue undur diri sekarang sebelum ditimpuk pake batu dan tanah karena banyaknya campur kode yang gue lakukan di sini wkwk... 

So...

SEE YOU SOON! Alin pamit undur diri!



Best regards, 
Alin Ifa

Kamis, 18 Januari 2018

HOLIDAY SESSION: FUN OR NAH?




That's a weird title, i know.. 

Actually about that, gue rasa kita harus masukan kembali hakikat kata sifat. Adjective word depends on perspective. Phhfft, yah... Hal satu itu yang akhir-akhir ini gue pegang. Segala yang berbau kata sifat dan bersangkutan dengan kata sifat, nggak akan selamanya punya pendapat tetap, karena balik lagi, tergantung sikap setiap orang- bakal mengeluarkan sifat yang bagaimana ketika berhadapan dengan satu kata tertentu. 

From my own perspective, i'd like to say, gue lebih condong menganggap holiday alias liburan alias break dari segala rutinitas harian kita adalah masa-masa yang menyenangkan. Kenapa? Bukan karena kita nggak melakukan apa-apa, tapi kita bebas jadi apa-apa dan melakukan apapun yang kita suka di holiday. 

Well, seperti yang kalian tau, anak sekolah sudah mumet sehari-hari dijejal tugas dan pelajaran. Belum lagi bimbel dan kewajiban yang menantinya di rumah. Waktu untuk diri sendiri pun terbatas disaat weekday. Semua itu membuat kita nggak bebas, gue rasa. Dan, begitu holiday datang, everyone release their mind, refresh their body and head. Yang terpikir begitu liburan datang adalah: REFRESHING. 

Mungkin gue pernah mengulas ini di satu tulisan sebelumnya yang bilang, refreshing nggak harus menghabiskan banyak uang, bisa dilakukan di sekitar rumah, atau bahkan dengan bantu-bantu keluarga di rumah. But, that's not what i want to say. 

Obviously, cara kita menghabiskan liburan bisa bermacam-macam. Ada yang benar-benar jalan ke tempat rekreasi, atau bahkan yang makan-tidur-makan-tidur juga ada. Balik lagi, tergantung orang menganggap apa yang mereka lakukan di liburan ini tuh menyenangkan apa enggak. Bisa jadi, orang yang liburannya rekreasi terus seakan tu duit nggak akan habis sampai tujuh turunan, malah sama sekali nggak merasa puas dan senang. Atau justru yang liburannya di rumah mondar-mandir kasur-dapur-teras lah yang punya liburan menyenangkan. Nggak ada batasan terhadap sebuah anggapan, demikian juga dengan ini. 

The point is, suit yourself. Tujuan berlibur itu buat merileks-kan pikiran. Nggak lebih. Kita berlibur bukan untuk mencapai target tertentu kayak yang kita lakukan pada saat weekdays. Nggak, bro, sist. Kita berlibur untuk mengistirahatkan jiwa dan raga biar kembali siap beraktivitas seperti biasa. Well, yea i mean...kan sama sekali nggak lucu kalau awal-awal liburan jalan-jalan kemana-mana atau terlalu banyak menikmati waktu dengan beraktivitas capek-capek, tapi di akhir liburan malah tifus. Uh...jangan sampai begitu yaa. 

Kemanapun dan bagaimanapun kita nikmati holiday, intinya cuma satu: tau batasan--batasan duit, batasan diri, dan batasan hati. Know your limit. That's the best way to safe yourself in every situation of life, ya know? 

Aaaannnddd, karena kiranya nggak ada yang perlu gue celotehin lagi di sini, jadi gue pamit undur diri wkwk. 

FYI, gue lagi nikmatin libur semesteran dengan pulang ke rumah ortu dan bantu-bantu mereka sebisa gue. I'm not really going anywhere, but that's fun because chillin with your family is everything. Jadi, sampai jumpa lagi besok di postingan gaje berikutnya. I'm gonna tell something to you about ldr story. 

Curious? Don't go anywhere! I'll be right bacckkkk, people! 



And nggak lupa...

"HAPPY HOLIDAYYY!!!" 



Stamp of love, 
Alin Ifa

Kamis, 04 Januari 2018

MENGGAPAI PUNCAK CIKURAY


Oleh: Doel Sastra



Sudah lama rasanya kakikku tidak menapaki gunung yang selalu membuatku rindu. Tanggal 5 september 2015, akhirnya aku bisa menapaki gunung cikuray 2821 meter diatas permukaan laut, ya walaupun bukan gunung aktif setidaknya ini yang ke tiga kalinya aku menaiki gunung cikuray ini, ini bukan suatu pendakian yang biasa-biasa saja, tapi ini adalah pendakian yang sangat terberat bagiku dikarenakan aku harus menjadi porter untuk para pendaki-pendaki pemula yang berasal dari jakarta yang berjumlah 15 orang mereka semua adalah para pekerja staff kantoran yang bekerja disalah satu instansi perusahaan besar di jakarta. Inilah kisah perjalananku bersama mereka.

Tanggal 3 september 2015 pukul 21:00 aku mekakukan meeting point di kantor mereka sebelum keberangkatan menuju garut. Setelah selesai meeting point , lalu 4 mobil terrios dikeluarkan dan kami berangkat menuju garut, dengan perlengkapan pendakian yang sangat-sangat safety. Dalam perjalanan kita berbincang-bincang ria dan sesekali kita menuju rest area untuk makan malam. Perjalanan masih butuh waktu +/- 7 jam menuju garut. Setelah melakukan makan malam, perjalanan dilanjutkan. Tanggal 4 pukul 03:00 dini hari kita sudah berada di daerah garut, tapi kami kesasar dalam perjalanan sedikit panik, karena kita telah mengestimasikan waktu dengan tepat. Akhirnya slah satu dari anggota kami memakai GPS untuk menuntun perjalanan kami menuju Cilawu garut. Sesampainya di cilawu, kita mencari pertigaan genteng sebelum menuju ke pos pemancar cilawu. Setelah masuk menuju ke pos pemancar dengan jalan yang berliku dan bebatuan yang sangat besar-besar al hasil salah satu mobil tidak kuat untuk menanjak dan anggota lainnya ikut membantu untuk mendorong mobil tersebut. Singkat cerita sesampainya di pos pendakian pemancar jam 04:40 kami diminta biaya simaksi sebesar 10 ribu. Di sana kami istirahat terlebih dahulu, sambil mengecek kembali peralatan pendakian, perbekalan, dan menikmati pemandangan alam yang sudah mulai memperlihatkan ke-asriannya. Setelah selesai mempersiapkan segala sesuatunya mulai dari niat, fisik, mental, logistik dan peralatan. Kami kelompok yang beranggotakan 15 orang siap melakukan oendakian gunung cikuray atau yang biasa disebut gunung swiss van java. Sebelum melakukan pendakian kita berdosa bersama dan saling sadar menyadari bahwasanya gunung bukan tempat bermain, gunung bukan tempat sampah, gunung bukan tempat maksiat. Tujuan utama kita mendaki adalah “Rumah” ya, kita harus bisa kembali sampai rumah kita masing-masing dengan selamat. Baiklah ini cerita pendakian kita.

Pukul 05:17 Pos 1 Pemancar
Setelah melewati pos basecamp pemancar, petualangan baru dimulai, jalur terus perlahan menanjak, pemandangan berupa perkebunan sayur milik warga di sana. Warna hijau terlihat sangat luas dan dibatasi dengan pemandangan pegunungan di sekitar. Nyaris tidak menemukan bonus jalur landai, kecuali setelah berjalan 30 menitan dari pemancar. Itu pun tidak berlangsung lama. Menikmati udara pagi yang dingin dan mulai menusuk ketulang-tulang kami sehingga salah satu dari rombongan kami menggigil hingga masuk angin.

Sesampainya rombongan kami di pos 1. Diwajibkan untuk mendaftar ulang dan memberikan nama-nama dari anggota rombongan pendakian. Pos ini juga merupakan tempat terakhir untuk mengisi persediaan air minum rombongan dan melengkapi perbekalan logistik. Sebab, di sini, kita masih bisa menemukan warung.

Pukul 07:06 Menuju pos 3
Setelah melewati pos 1 dengan jalur yang sangat melelahkan. Kita disambut dengan pemandangan sudah mulai memasuki hutan atau perbatasan vegetasi , jalur mulai berani mempermainkan hati kita, kadang bikin kita emosi, semakin sadis. Selain tingkat kemiringannya yang semakin meningkat, tanjakan di Cikuray pun bisa dibilang lengkap, mulai dari tanjakan berupa tanah, batu, tanah keras dan akar-akaran. Saat ingin menuju pos 3 disinilah aku mulai bekerja keras untuk membantu membawakan tas gunung (carrier) salah satu rombongan yang saat itu dia mengalami kelelahan. 

Dan di sinilah aku yang bertugas sebagai porter rombongan mereka, dan di sinilah juga tanggug jawabku sangat besar. Sebagaimana aku harus menjadi pemimpin rombongan mereka. Kita sudah memakan waktu banyak, seharusnya kita sampai pos tiga itu pukul 12 siang. Tapi ternyata estimasi pendakian kita yang sudah diperhitungkan tidak sesuai dengan waktu pendakian kita yang sebenarnya. Sebelum menuju pos 3 saja kita sudah memakan waktu 8 jam. Tidak habis pikir mengapa se-lama itu.

Pukul 17:27 pos 3
Apakah kita akan melanjutkan pendakian ini, setelah ada banyak kawan kita yang cedera, kelelahan, masuk angin? Tanyaku kepada salah satu anggota rombongan. Ternyata mereka semua memilih untuk mendirikan tenda di pos 3 saja. Karena hari sudah mulai petang dan kabut-pun sudah mulai turun dan menebal. Setelah selesai mendirikan tenda di pos 3 mereka semua beristirahat, ada yang memasak, ada yang masih sibuk mengeluarkan logistiknya. Dan aku sendiri membantu salah satu anggota rombongan yang sedang sibuk memasak. Pukul 19:45 setelah para rombongan mengisi perutnya, lalu kami saling berbincang-bincang di dalam tenda sampai obrolan kita menuju ke pertanyaaan “jam berapa kita lanjutkan pendakian ini sampai ke puncak?”, “jam 4 pagi” jawabku. Mengapa jam 4 pagi? Karena jarak antara pos 3 dengan pos 7 atau disebut puncak bayangan ,itu memakan waktu +/- 3 jam perjalanan. Tapi sayangnya hanya sebagian rombongan saja yang melanjutkan pendakian sampai ke puncak.

Pukul 04:00 Summit Attack
Alarm handphone milikku berbunyi. Dan aku membangunkan sebagian anggota rombongan yang akan melanjutkan pendakian sampai ke puncak. Setelah mereka bangun, aku mempersiapkan logistik air minum, roti dan madu. Walaupun hanya sebagian saja, tapi aku sebagai porter menuruti apa yang mereka minta. Memang ada rasa tak tega meninggalkan sebagian rombongan yang tidak ikut ke puncak di karenakan mereka semua kelelahan dan sakit. Tapi lepas dari itu semua mereka mendoakan kami agar selamat sampai puncak dan kembali lagi menuju tenda rombongan.

Pukul 04:38
Dengan memakai jaket gunung yang sangat tebal, dengan perlahan lahan kita menaiki tanjakan yang curam, oh ya! Asal kalian tahu di gunung cikuray ini ada tanjakan yang berbeda-beda dan sangat unik namanya diantaranya ada 5 tanjakan, yaitu tanjakan Ambing, Cihuy, Sakti, Taraje dan tanjakan Wakwaw. Bagaimana menurutmu? Sangat unik kan? Tapi menyakitlan. Bagaimana tidak menyakitkan dengkul kita selalu bertemu dengan jidat kita disaat menaiki tanjakan-tanjakan itu. Sungguh memang cabe rawit gunung cikuray itu.

Pukul 06:00 menuju puncak bayangan / puncak cikuray
Nafas kami sudah sesak akibat oksigen yang sedikit, memang perjalanan kita menuju puncak setengah melelahkan. Untuk kalian yang ingin melalukan pendakian malam jangan lupa membawa persiapan oksigen agar tidak terlalu sesak jika kita kehabisan oksigen. Cuaca langit sudah memunculkan kebiruan, aku dan rombongan pun menyudahi istirahatnya dan melanjutkan perjalanan. Ternyata hanya memakan waktu 15 menit saja dari tempat peristirahatan kita. Dan sampailah aku dan kawan-kawanku menggapai puncak cikuray.



(aku, bang umar, bang diaz)

Terbayar sudah lelah kami di puncak cikuray 2821 mdpl, inilah kisah pendakianku. Semog kalian menikmati apa yang aku rasakan. Pukul 09:00 kita turun dari puncak dan menemui kawan-kawan kita di pos 3, hanya memakan 1 jam setengah saja untuk turun dari puncak menuju pos 3. Setelah sampai pos mereka semua telah membereskan tenda dan mempersiapkan makanan untuk para rombongan yang menuju puncak. Setelah makan, kita pun bergegas turun dan perjalanan turun pun disambut dengan riang tanpa adanya kelelahan dari para rombongan. Dan kita turun dengan selamat dan tidak lupa bawa turun sampahmu. (**)