Senin, 24 Oktober 2016

Kias dan Kilas Tepi Imaji




Imaji. Apa yang kau ketahui tentang satu kata itu, kawan? Imajikah sesuatu yang dibayangkan, dikhayalkan, untuk diwujudkan dalam satu tulisan? Imajikah suatu tempat imajinasi berkembang? Imajikah suatu yang dapat dikiaskan?

Mungkin tulisan ini akan terdengar terlalu sastra bagi kalian. Rasa penasaran saya justru terusik dengan kata itu. "Sastra" oleh sebagian orang dianggap sebagai "gaya bahasa" karya fiksi yang "seringkali tidak berbicara dalam bahasa manusia yang sebenarnya". Malah, buku-buku sastra yang ada sekarang ini nyaris dianggap sebagai buku "alien" kalau bukan karena masih ada yang berhasrat membaca dan menelaahnya. Orang-orang kita dewasa ini lebih tertarik membaca tulisan yang tidak "nyastra", yang tidak baku sama sekali, bahkan mengikari kaidah kebahasaan.

Mereka menganggap karya fiksi hanyalah sebagai hiburan; bacaan ketika mereka suntuk--jadi tidak perlu gaya bahasa berat yang akan memaksa otak memahami yang ada. Mereka menelan imaji karya fiksi bulat-bulat. Padahal, tak sadarkah mereka dengan usaha penulis menyampaikan maksud lain dari ceritanya agar pembaca menjadi membaca hermeunitik? Itu sulit. Bahkan saya pun mengakuinya.

Karya fiksi dibuat dengan imajinasi bercampur fakta yang disatukan dalam suatu plot dan cerita. Setiap cerita memiliki kompleksitas tersendiri, tergantung para penulisnya. Di dalam setiap kompleksitas itu ada tokoh berikut wataknya, latar, dan sudut pandang. Membuat semua itu menyatu dengan begitu harmonisnya jelas perlu waktu dan imajinasi yang cukup tinggi.

Bukan bermaksud mengurungkan niat kawan semua untuk memulai menulis. Tapi itu memang benar adanya. Proses menulis bukanlah hal gampang yang bisa kita pelajari sehari dua hari-semalam dua malam. Proses menulis adalah proses dimana kita mengiaskan dan mengilaskan imajinasi untuk satu kesatuan fiksi, sekalipun pada satu bagian imaji kita sedang berada di tepi.

Gampangnya seperti ini; proses menulis adalah proses membuat karakter plus tokoh, lengkap dengan perencanaan ceritanya, yang kemudian harus diulas lagi, dibaca kembali, disunting kembali, agar menjadi satu kesatuan imajinasi yang santun dibaca. Sekalipun kita sedang tak ada ide, tetap harus menulis. Sekalipun imajinasi kita sedang terhempas ke tepi sungai imaji, kita tetap harus terus mendorong imajinasi itu agar masuk kembali ke sungai imaji.

Menulis soal kebiasaan. Bukan hanya menyoal menulis, tapi juga membaca. Ingin bisa menulis, maka banyak membaca lah. Ingin tetap menulis, maka janganlah berhenti--sekalipun kita sedang berada di tepi imaji, tetap kiaskan dan kilaskan imajinasi itu dalam bentuk bangunan kata nan indah.

Itulah sastra. Dengan segala keindahannya, ia memukau para bahasawan hingga awam untuk membuat, maupun menelaahnya. Sastra lah yang seharusnya jadi bacaan kita, bukan novel non-kaidah-kebahasaan. Sastra lah yang seharusnya membuat kita giat membaca, bukan asyik sendiri membaca status mantan atau teman. Sastra pun dapat menggugah siapapun yang tengah berada dalam tepi imajinya agar tidak berhenti menulis.


"DENGAN MEMBACA, KAMU MENDAPATKAN ILMU. DENGAN MENULIS, KAMU MENGUKIR ILMU" -- Alin Ifa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar