Kamis, 07 Desember 2017

WAHANA SWAFOTO TERBARU: 3D STREET ART ALA KOTA TARI TOPENG


Oleh: Alin Ifa


Kelihatan keren kan street art-nya? Sebagian orang pasti akan berkomentar dengan excited-nya, luar negeri punya! Memang, ya, segala yang berbau luar negeri pasti akan dianggap keren oleh orang-orang kita. Mau itu seni lukis jalan seperti di samping, ataupun produk-produk luar dari mulai baju, sepatu, hingga lagu. Tulisan ini sama sekali tak akan disangkutpautkan dengan rasa nasionalisme kita yang sudah mulai berkurang. Well, bisa kamu lihat dari judul, aku justru bakal memperkenalkan satu wahana swafoto street-art yang tidak kalah kece dengan gambar di atas.
Memang sudah banyak street-art yang Indonesia punya, dipamerkan di dinding atau jalan-jalan. Tapi kali ini aku akan mengulas satu lokasi street-art terbaru. Letaknya persis di kota perbatasan Jakarta-Bogor. Ayo tebak kota apa? Ya, Depok! Kota Tari Topeng ini punya satu lokasi street-art baru. Aksesnya mudah terjangkau oleh kendaraan bermotor, umum—baik angkot, ojek konvensional/online, atau bahkan bus—, mobil pribadi maupun jalan kaki.
Lokasi persisnya yaitu terletak di Jalan Tondano, Depok Timur—arah depan, kalau kata orang-orang sana. Bagi kalian yang dari Jakarta, Bogor, ataupun kota-kota lain, yang tertarik berswafoto ria di sini, bisa berpatokan pada dua jalan utama Kota Depok, yaitu Jalan Margonda, atau perbatasan antara Depok dan Bogor; lokasi Simpangan Depok. Patokan lebih spesifiknya untuk menuju ke lokasi, tinggal tanya aja ke warga sekitar sana Depok Timur Depan, atau Polsek Depok. Nah, lokasinya dekat banget dari dua tempat itu.
Lokasi street-art di Jalan Tondano ini dikembangkan oleh para pemuda di jalan itu sejak awal 2017. Para pelukis berbakat di sana menuangkan ide mereka ke jalan komplek sekitar rumah, dan mengundang warga untuk berswafoto. Menurut salah satu pemuda, ide mengkomersilkan jalan yang awalnya polos ini muncul ketika banyak diantara mereka yang memiliki hobi yang sama, lalu didukung oleh pejabat setempat. Maka, jadilah lokasi street-art Tondano. 
Omong-omong soal komersil, banyaknya pengunjung yang datang setiap sore hari untuk berfoto membuktikan kalau kata itu dianggap angin lalu oleh mereka. Dari mulai anak-anak kecil, remaja, hingga rombongan ibu-ibu, tumpah ruah di jalan ini di hampir setiap sore. Tarif yang dikenakan oleh para pemuda ini murah nan meriah banget. Untuk bisa berswafoto sepuasnya, pengunjung hanya harus membayar parkir 2000 rupiah dan uang lukis seikhlasnya. Bahkan menurut salah satu pemuda, ada yang tidak memberi uang terakhir itu. Tapi katanya, tak apa, asal bisa melihat orang senang dan menyalurkan hobi.
Untuk kamu yang terbiasa makan saat berwisata, jangan khawatir bakal kelaparan (hihihi). Dimana-mana, keramaian publik akan mengundang para tukang jajanan jalanan hadir. Begitupun di jalan ini. Kalau hari lagi cerah-cerahnya plus sedang ramai-ramainya, akan ada banyak tukang jajanan yang singgah di jalan ini, dari mulai cilok, batagor, bahkan sampai ketoprak. Tapi itu bukan berarti kalau jalan ini lagi sepi, jadi kamu tidak akan bisa makan apa-apa. Tidak begitu, kok. Persis di depan Jalan Tondanonya sendiri ada toko sejuta jalan alias Alfamart. Jadi kamu tidak perlu khawatir akan kelaparan atau kehausan waktu berkunjung ke mari. Tapi kalau masih paranoid juga, tidak ada salahnya membawa bekal minum atau cemilan sendiri (asal jangan nyampah wkwkwk...)

















Terlihat seru, kan, berswafoto di sana? So, tunggu apalagi, kawan? Tertarik mencoba lokasi swafoto street-art Tondano? Mainlah ke Depok! Jangan lewatkan keseruan berswafoto di atas objek street-art yang bermacam rupa, sekaligus menikmati jajanan jalanan di sini! 




Rabu, 22 November 2017

4 PILIHAN PELARIAN NASKAH “BUANGAN”

Oleh: Alin Ifa



Ketika kamu adalah seseorang an-author-wanna-be yang sudah ditolak penerbit mayor mentah-mentah, apa yang akan kamu lakukan? Apa langkahmu selanjutnya? Terus menawarkan naskah itu—entah fiksi atau nonfiksi, atau menyerah dengan cita-citamu? Di awal, pasti kamu sudah menggebu-gebu, mengatakan kepada dirimu sendiri, bahkan kepada orang banyak, kalau kamu ingin jadi penulis. Kamu ingin tulisanmu diubah menjadi karya yang bernilai jual—yang sekaligus akan mengubah anggapan kalau penulis itu tidak bisa dijadikan profesi tetap. Jauh di dalam sana, kamu ingin berkata kepada orang-orang, “Siapa bilang penulis itu nggak bisa ngasilin uang banyak?” Atau, “Aku bisa, kok jadi penulis serius!” Ya, ketahuilah, tidak ada yang salah dengan itu sama sekali. Dunia modern sudah mengusung kebebasan berekspresi, berpendapat, dan berkreasi. Bahkan di Indonesia hal itu sudah diatur di Undang-undang Dasar 1945 pasal 28. Jadi jelas tidak ada yang salah dengan anggapan kalau penulis adalah pekerjaan yang bisa dijadikan profesi utama. Penulis fiksi, misalnya—seperti novel, cerpen, dan puisi?
Cara terawal untuk membuktikan anggapan itu adalah berhasil memasukan naskah kamu ke ranah nasional seperti ke penerbit mayor atau media nasional. Saat kata “nasional” terdengar, inilah kendalanya. Nasional, berarti satu Indonesia. Di tangan penerbit atau media terkait, naskah kamu akan bersaing dengan penulis-penulis lain dengan tema yang nyaris sama (atau bahkan sama). Dari sini, sudah terdengar menyeramkan, bukan? Belum lagi ada beberapa penerbit yang regulasinya panjang sekaligus pemberitahuan keputusan naskahnya yang super lama.Ya, tepat. Tetapi bagi kamu yang pernah mencobanya, kamu pasti sepakat kalau karena keputusan naskah itu, kamu jadi tahu daya saing naskahmu di penerbit mayor. Karena itulah, ayo jadilah orang yang jeli menilai peluang! Setelah misalkan naskahmu ditolak suatu penerbit—katakanlah Gagasmedia; yang lebih mengusung tema remaja, atau genre romantika dan sosial, atau Bukune; yang lebih mengutamakan humor—hendaknya jangan mudah putus asa. Ingat, orang terbaik adalah yang berhasil memperjuangkan impiannya.
Masih banyak yang bisa kamu lakukan dengan naskahmu. Berikut saya rangkum beberapa pelarian yang bisa kamu lakukan terhadap naskahmu. Silakan disimak!
     1.      Dicetak dan dipajang untuk dijadikan bacaan sendiri
Ya, hal di atas mungkin bukan pilihan yang cukup bagus, dan cukup...err...yah, menjengkelkan pula. Tapi tidak usah bohong, diantara kalian pasti banyak yang sudah melakukannya pada karya-karya awal, yang ala-ala masih ditulis tangan atau saat baru pertama kali memegang aplikasi pengolah kata. Naskah yang berakhir di rak buku rumah tidaklah buruk. Malah, seringkali keberadaan naskah-naskah itu akan bisa membangkitkan lagi semangat menulis kita.
Misal, kamu pernah mengirimkan naskah tertentu ke penerbit dan tidak diterima, lalu memutuskan untuk memajangnya saja di rumah. Di waktu senggang, bacalah lagi naskah tersebut, resapi setiap bagiannya dengan kepala dan pikiran yang menyatu kepada isi naskah. Percaya atau tidak, kamu akan menemukan semangat menulismu kembali. Yakinkanlah diri sendiri untuk menuliskan kisah yang lebih baik daripada tulisan terdahulumu. Tapi jangan anggap naskah yang “buangan” itu sebagai bagian kelam dari pengalaman menulismu. Justru anggaplah tulisan-tulisan pribadi yang kamu pajang di rumah sebagai catatan perkembangan tulisanmu. Itu akan membantu tulisan-tulisanmu kedepannya menjadi jauh lebih baik lagi dan mencapai akhir yang kamu inginkan: masuk ke penerbit besar untuk dinikmati orang banyak.

     2.      Dimodif dan dibagikan di dunia maya
Inilah cara kedua untuk naskah “buangan” kamu. Kamu punya naskah romance, misalnya, tapi bingung mau diapakan setelah ditolak beberapa kali oleh penerbit mayor. Saya pikir inilah salah satu cara tertepat menerbitkannya. Untuk cara ini, kamu perlu menyampingkan dulu pikiran ingin menjual naskahmu dalam bentuk buku. Pikir lagi, naskah yang bisa memperkaya kamu adalah naskah yang banyak dibeli orang, bukan hanya yang mejeng di toko buku besar sekelas Gramedia. Ayo tebak, apa yang harus kamu ketahui dari keinginan itu? Tepat, selera pasar.
Penerbit satu seumpama menolak naskahmu dengan alasan a, b, c, hingga z. Jangan putus asa. Mengapa tidak kamu melihat naskahmu dari kacamata pembaca, bahkan redaksi? Bacalah lagi naskah tersebut. Jangan terlalu cepat menyalahkan penerbit atau bahkan mengutuk diri kita sendiri tidak berbakat menulis. Ya, memang; ibarat Lionel Messi dengan sepakbolanya, menulis sendiri bisa dilihat sebagai bakat. Tapi cobalah bergeser sedikit ke Cristiano Ronaldo—yang sukses di sepakbola karena kerja kerasnya. Poinnya, kamu harus bisa menganalisis kelemahan naskahmu sendiri. Kalau sudah mendapatkan weakspot-nya, silakan, ujilah selera pasar dengan membagikan hasil modifikasi naskahmu ke dunia maya sebagai sastra cyber.
Sastra cyber hematnya bisa disebut sebagai tulisan-tulisan fiksi yang tersebar di dunia maya. Ia dapat dipasang di media apapun. Tetapi kalau kamu ingin menjangkau selera pasar, cobalah wattpad.com, atau storial.com. Terbitkanlah keseluruhan naskahmu di sana. Dengan tagline yang tepat, naskah kamu bisa ditemukan oleh pembaca dari Indonesia, bahkan seluruh penjuru dunia. Dari menerbitkan di salah satu tempat itu, kamu akan bisa melihat respon si dunia oranye dan si dunia biru langit itu terhadap karyamu. Poin plusnya, jika mendapatkan respon positif—apalagi naskah romantik atau genre teen-fiction—penerbit regional yang seringkali menjadi sider (silent reader) di sana akan tertarik menerbitkan karyamu dalam bentuk buku.

     3.      Dicetak dan dijual melalui self publisher
Cara ketiga ini mungkin langkah yang cukup berani. Karena kenapa? Disarankan cara satu ini dilakukan oleh kamu yang sudah punya income sendiri, atau yang pintar menabung, atau yang punya keterampilan dibidang editing dan desain kover. Oleh beberapa penulis (terutama penulis nonfiksi), cara menjual buku melalui self publisher, atau menerbitkan sendiri, memang menjadi senjata utama penyebaran bukunya. Tapi bagi kamu yang pemula, tidak disarankan menggunakan cara ini. Mungkin ya, karya kita akan mejeng di toko buku online penerbit tertentu yang menyediakan penerbitan self publish. Saya sependapat bagi yang mengatakan ini bukanlah cara ampuh untuk kamu yang ingin mendongkrak nama.
Penerbitan-sendiri sebuah buku bisa saja sukses besar. Tetapi kamu juga harus tahu; dari namanya saja sudah ‘Self-Publishing’—itu berarti, karya kita akan diterbitkan secara cetak, dan dijual oleh kita. Sudah banyak memang yang menyediakan jasa penerbitan-sendiri dengan paket-paket unggulan masing-masing, seperti Leutika Prio, Nulisbuku.com, atau Guepedia.com. Mereka menyediakan jasa percetakan bukumu sekaligus penjualannya dan layanan promosi, ISBN, plus pembuatan kovernya. Pahitnya, untuk layanan, jika kamu ingin memakai jasa mereka, bisa dipastikan biaya penerbitan akan bertambah, dan itu tidak pernah sedikit—terutama untuk kantong penulis-penulis pelajar.
Jalan satu-satunya jika kamu tetap ingin mencoba jalan self publishing adalah dengan mempelajari keterampilan penyuntingan dan desain kover buku. Dengan menggunakan media sosial pribadi untuk promosi dan mempelajari keterampilan promosi lainnya, bisa dipastikan biaya penerbitan buku kamu hanya terdiri dari pencetakan buku saja, tidak dengan pembuatan kover, editing, ataupun soal promosi. Poin plus dari cara ini adalah, membuka peluang berbisnis penerbitan kamu untuk jangka panjang karena (khusus Nulisbuku.com) kamu bisa memajang nama penerbitanmu sendiri—seperti Aftsa Publisher, misalnya.

     4.      Dimodif dan dikirim kembali ke penerbit sasaranmu
Cara terakhir ini agak ngotot, sebenarnya. Tapi saya rasa tidak ada salahnya juga kamu menggunakan ide lamamu untuk ditawarkan ke penerbit sasaranmu lagi. Bukan bermaksud keras kepala. Dari sana, diam-diam penerbit sasaranmu (tempat naskah versi lamamu pernah ditolak, dulu) akan menilai sejauh mana kamu menginginkan menerbitkan buku di sana. Awal-awal terbitnya karya penulis besar di penerbit tertentu juga seperti itu; mereka mengirim, terus mengirim hingga nama mereka tak asing lagi di meja redaksi. Lama kelamaan redaksi penerbit itu akan mempertimbangkan karyanya. Dan, bom, terbitlah novel-novel yang kamu kenal sekarang ini.
Ya, meski saya sendiri tak bisa bohong kalau faktor yang termasuk utama dalam kesuksesan cara ini adalah relasi, tapi usaha tidak akan mengkhianati hasil, kan? Pada awalnya penerbit incaranmu menolak naskahmu dengan kekurang a, b, c. Maka, perbaikilah naskah “buangan” itu hingga pantas dibaca dari sudut pandang manapun. Namun kunci utamanya saat memodif naskah—baik untuk ditawarkan kembali atau untuk dibagikan ke dunia maya (poin 2)—adalah justru jangan memikirkan kesan pertama yang didapatkan atau tampak fisik struktur kalimatnya. Ya, jangan sekali-kali.
Dalam menulis, menyunting, atau bahkan hingga memodifikasi sebuah naskah, kita sebenarnya sama sekali tidak perlu otak. Yang kita perlukan hanyalah hati, dan sense untuk merasa seperti semua karakter yang ada di dalam cerita kita. Jika semuanya sudah enak dibaca, dimengerti, dan bahkan berhasil membuat kita terbawa ke dalamnya, itulah yang disebut berhasil menulis.
            Mimpi adalah sesuatu yang perlu diperjuangkan. Jika kita gagal di satu mimpi, kita mempunyai dua pilihan; mau tetap bertahan dan mencoba lagi berjuang di mimpi yang sama, atau pindah dan kembali bermimpi lagi. Silakan, tinggal kamu pilih. Bermimpi dan berusahalah menjadi penulis, atau menyerah pada anggapan orang bahwa menulis hanya merupakan pekerjaan sampingan. Semua terserah padamu—karena pada hakikatnya dasar label “naskah buangan” itu tercipta karena selera. Kamu mau menciptakan selera kamu sendiri, atau mengikuti selera pasar dan terjebak di dalamnya? (**)

Sabtu, 15 April 2017

HOLLYWOOD KIBLAT FILM, KAABAH KIBLAT UMAT ISLAM, PARIS KIBLAT FESYEN, INDONESIA KIBLAT...(?)

Oleh: Alin Ifa



SEBUAH ironi lantas terlintas di pikiran kita; mengapa nyaris tak ada yang menjadikan Indonesia sebagai trendsetter atau pusat bermulanya suatu budaya? Apa kita kalah dari Hollywood Hills, Amerika? Atau bahkan Mekkah; suatu kota suci yang di dalamnya terdapat Kaabah, yang dijadikan kiblat umat Islam. Semuanya sebenarnya soal selera. Untuk masalah keduniawian, nampaknya Indonesia seakan tak punya bakat cukup kuat untuk menjadi kiblat dari satu aspek budaya internasional. Bahkan bisa dikatakan, nyaris 85 persen pemuda kita menyukai suguhan Amerika dan Paris.
Amerika dengan Hollywoodnya telah merajai perfilm-an sejak zamannya Disney Pictures baru didirikan. Paris; dengan kabar burung tentang begitu rumitnya penemuan parfum yang benar-benar harum digunakan—yang sempat difilmkan juga dalam Parfume: The Story of Murderer, telah melekat dan menjadi ciri khas kiblat-kiblat dunia. Setiap orang yang melihat suatu film yang diproduksi rumah produksi besar seperti Universal Studio atau One Race Film akan langsung tahu kalau film itu datang dari Hollywood. Begitu juga dengan setiap orang yang mendengar kata “parfum” dan “fesyen”, akan terpikir Paris. Nah, pikirkan, apa yang bisa membuat orang-orang berpikir kalau A, B, C, hingga Z itu pasti Indonesia?
Apa yang pantas dibanggakan dari kita? Banyak, tentu saja. Budaya, keramahan masyarakatnya, makanan, bahasa, bahkan hingga hal-hal bersejarah seperti sisa-sisa zaman penjajahan asing ataupun mantra—semua itu bisa dikenalkan kepada asing. Tentu saja karenanya banyak hal juga dari Negeri bernama jelata “Endonesa” ini yang bisa menduduki tempat di hati orang luar.
Indonesia pun punya Bali dengan pure, dan pantainya. Lalu ada Yogyakarta dengan keratonnya. Ditambah lagi pasar-pasar terapung di sungai-sungai Kalimantan dan Sumatera; yang mana hal semacam ini jarang  terlihat di kota pelabuhan (sebutan untuk kota yang memiliki sungai cukup luas) di luar Negeri. Dengan semua yang dimiliki, Indonesia sebenarnya mempunyai potensi untuk disebut “kiblat”.
Sayang, sepertinya semua itulah yang membuat Indonesia tak disebut kiblat manapun. Sebagai Negeri yang sangat kaya, Indonesia memiliki pemuda yang sayangnya lalai dalam mencintai Negerinya sendiri. Ya, mereka sering upacara hari senin, hafal pancasila, dan beberapa pasal Undang-Undang Dasar ’45. Tetapi mayoritas mereka hanya melakukan itu sebagai rutinitas rutin di sekolah, tidak untuk diamalkan. Dampaknya, daya cipta mereka tak tajam untuk tertarik mengasah potensi dalam Negeri. Dibanding membuat suatu pembeda, yang terjadi sekarang adalah—bahkan para inovator pun—jadi berkiblat ke luar Negeri, menggunakan referensi luar Negeri, untuk kreasi-kreasi mereka. Pikiran bahwa segala yang berasal dari luar Negeri itu keren, sudah terlanjur merasuk; tak hanya ke dalam anak muda, namun juga para pelaku kreatif.
Sebenarnya sama sekali tak ada salahnya menjadikan luar Negeri sebagai percontohan. Namun di sinilah poinnya; seperti menyontek yang dimodifikasi, melihat produk-produk atau hasil kreasi asing hendaknya bukan diniatkan untuk menjadi pengikut. Produk A, desain B, wangi C, jasa D, atau apapun itu, terutama produk kreatif yang trend, yang berasal dari luar Negeri, hendaknya diolah luar-dalam oleh para manusia Indonesia menjadi sesuatu yang lebih baru. Kalau bisa, bahkan kita seharusnya menemukan, bukan memodifikasi.
Memang proses menemukan itu sendiri bukanlah hal mudah. Diantara banyaknya potensi mendunia yang Indonesia punya, menemukan sesuatu yang berbeda dari yang dimiliki negara-negara dunia ibarat mencari jarum di tumpukan jerami. Sulit. Tetapi ada satu poin penting yang harus dipenuhi terlebih dulu untuk proses menemukan julukan sebagai sebuah kiblat khusus kepada Indonesia, yaitu pengetahuan. Pengetahuan sendiri tidaklah harus didapat dari kondisi formal. Rasa ingin tahu yang tinggi lah merupakan faktor utama dari mendapatkan sebuah pengetahuan yang mumpuni. Realitasnya, pemuda Indonesia masih memiliki rasa ingin tahu yang amat sedikit terhadap suatu hal, apalagi ketika diharuskan tekun kepada hal tersebut dan memperjuangkannya di kancah dunia. Malas lebih dulu yang ada.
Dari hal tersebut, kita mengetahui bahwa satu hal besar berikutnya adalah memperbaiki mental pemuda kita. Sedikit demi sedikit, dengan perbaikan pendidikan dan kelakuan aparatur Negara sekaligus pemerintah terkait, seluruh pemuda Indonesia akan menjadi pemuda yang tahu apa yang penting untuk Negaranya. Seluruh pemuda Indonesia akan gigih meraih keinginannya mengembangkan dan menyebarkan bidang-bidang itu lalu konsisten di kancah dunia. Dengan begitu, bidang apa yang akan Indonesia kiblati di masa depan, hingga seterusnya, dapat ditebak sesegera mungkin.(**)

Sabtu, 01 April 2017

#SesiCerpen "FOTO"

Ngomong-ngomong, gue bingung mau ngepost apa, tapi pengen buka blog. Yaudahlah yaa... akhirnya ngepost cerpen lama aja :v 

Btw, umurnya udah dua tahun lho. Ditulis tahun 2015 wkwk, waktu bahasanya masih ancur-ancuran haha... (sekarang juga masih sih hehe..)

Enjoy reading!
*********************************************************************************

FOTO

Bandung, 2015…
Dia memandangi foto itu lama..sekali. Seolah dengan memandangi foto satu itu, seseorang yang telah lama dirindukannya bisa keluar seketika itu juga, menjadi di hadapannya. Sementara matanya terus pada foto itu, seorang yang sudah setahun ini akrab menemani hari-harinya di tempat yang baru, masuk ke ruangannya, muncul di hadapannya.
            “Siap, Dis? Presentasinya dimulai sebentar lagi.” kata orang itu, sekedar memberitahu.
            Disa—perempuan itu—mengangkat wajah. Wajah itu seketika mengulaskan senyum tipis yang biasanya hanya bisa dilihat oleh si orang tersebut, Ferry.
            “Oh, come on… Jangan tampakin ekspresi itu lagi ke saya.” Ferry melangkah mendekati Disa ketika melihat ekspresi yang selalu membuatnya berpikir: seberapa istimewanya foto itu?
            “Aku nggak apa-apa.” Disa cepat-cepat menyangkal, mencegah Ferry mendekatinya dan mengeluarkan sekian kalimat nasehat tentang hal yang sama, namun sama sekali tidak pernah berhasil padanya.
Yang ia lihat malah wajah Ferry yang terlampau dekat darinya, persis di hadapan matanya. “Fer?”
“Konsentrasi sama presentasinya, oke? Jangan sampai kita kehilangan tender.”
Dua kalimat itu membuat Disa sepenuhnya mendengus. “Sialan….”
***
FrameLine Production akhirnya dapat memenangkan tender yang diadakan untuk pemilihan siapa yang tepat menjadi kru syuting iklan salah satu klub sepakbola terbesar di Indonesia ini. Karena itu juga, malam ini FrameLine Production mengadakan pesta besar-besaran.
            Namun rupanya Disa sama sekali tidak terpengaruh dengan suasana pesta yang meriah itu. Dia malah diam-diam saja di pojok bar sambil meminum sesuatu. Satu hal yang tidak berubah darinya : tangan kirinya masih saja memegang foto itu sementara yang lainnya memegang gelas ice tea yang isinya sudah nyaris habis.
            Srrtt… Pelan..sekali sesapan terakhirnya ke ice tea yang dimaksud. Dalam diam, sebuah memori berputar. Memori tentang foto itu.

Bogor, Desember 2004…
            Deru mobil itu terdengar halus dari bengkel yang berada tepat di sebelah rumah si mpunya. Sementara itu, seorang cewek 18 tahun masuk ke bengkel, menyapa cowok berumur sama yang tengah asyik memandangi betapa indahnya mesin mobil yang sedang ia kerjakan.
            “Masih berkutat aja..” kata si Cewek, Disa.
            Cowok itu menarik diri dari bawah mobil dan menampakkan senyum lebarnya. Cengiran kuda khas-nya, tepatnya “Mau ikutan?” tanya dia bercanda.
            Disa berjongkok dan mengangkat kamera kodak-nya. “Hari ini kan aku belum foto kamu.”
            “He-eeh…” Cowok itu kembali nyengir. “Jangan coba buat gue nge-fly-lah… Gue tau lo lagi mau buat artikel tentang mobil gue, kan?”
            Disa hanya tersenyum, tidak lebih. Kemudian dia menarik cowok itu dan berfoto bersamanya. “Masa cuma mobilnya doang yang aku foto?...”

MEMORINYA terpotong begitu saja saat satu sentakan di pundak menyadarikannya.
            “Ngelamun lagi…” –Ferry.
            Disa menoleh, “Emang ada yang nyebutin kalau ngelamun ngelanggar hak asasi, ya?”
            Dengan satu komentar balasan itu, wajah Ferry mendadak berubah, sepenuhnya jadi memuram memandangi Disa dengan kernyitan yang dalam di dahinya.
            Namun bukan kata yang dia jadikan sebagai kelanjutan dari obrolan mereka. Gerakan tangannya yang berubah merampas foto itu dari tangan Disa dengan kasar dan merobeknya menjadi kelanjutannya.
            Ferry pun pergi, meninggalkan Disa yang tertegun dengan mata yang memandangi pria itu tidak percaya. Kemudian dia beranjak. Disa memunguti robekan foto itu dengan setengah hati dan memasukannya ke kantong bajunya. Lagi, dalam diam.
***
Kejadian personal semalam berdampak cukup berbeda pada mereka berdua. Yang satu masih tetap konsentrasi dengan pekerjaannya sebagai head project dalam iklan klub sepakbola, yang satu malah begitu asyiknya terjebak dalam ekspresi merengut dan kesal yang masih amat sangat nyata.
            Orang-orang kantor yang melihat perbedaan pada bos mereka jelas menanyakan itu pada Disa. Yang mereka tahu, Disa-lah orang terdekat sang bos, meski bukan sebagai pacar. Tapi Disa hanya bisa menjawabnya dengan jawaban asal saja sampai menemukan waktu yang tepat untuk menanyakan itu sendiri pada Ferry.
            Sepertinya istirahat makan siang inilah yang dia jadikan sebagai waktu yang tepat itu. Disa tengah berdiri di depan pintu ruangan Ferry. Dia hanya terpaku disana, berpikir dua kali untuk masuk. Tapi sepertinya tidak jadi karena yang punya ruangan sudah membuka pintunya duluan.
            “Ngapain kamu?” Ferry bertanya dengan nada yang cukup menusuk.
            Akhirnya setelah memberanikan diri untuk mengajak sang Atasan berbicara, Disa mengangkat wajah. “Kita harus ngomong.”

            Ferry mengetuk-ngetukan jarinya ke meja. Bukannya risih atau apa karena menunggu sesuatu. Dia hanya bingung mau membicarakan apa sementara menunggu pesanan makan siang mereka datang. Satu hal, ini bukan dimana-mana. Mereka—Ferry dan Disa—ada di ruangannya.
            “Maaf kalau soal foto itu ganggu kamu.” kata Disa akhirnya, membuka keheningan diantara mereka.
            Ferry mendengus mendengar topik pertama yang head projectnya ini buka. Topik yang sebenarnya membuatnya merasa bersalah semalaman. “…Bisa ganti topik?”
            “Enggak sebelum aku tau alasannya yang harusnya lebih dari sekedar ‘Saya sayang sama kamu.’,” tukas Disa, membuat Ferry sepenuhnya terdiam. Ya, memang dia pernah menyatakan perasaannya pada perempuan itu setelah beberapa saat dari pertemuan pertama mereka. Tapi itu dulu. Dulu…sekali, dan Disa sudah lama menolaknya.
            “…Aku nggak nuntut apapun. Just come back. Bersikap profesional.”
            Ferry memalingkan wajah karena perkataan itu. Dia tahu dan harus begitu. Tapi rasanya ini sudah terlampau keterlaluan buatnya. Ferry merasa punya segala yang lebih dari cowok kucel yang ada di foto itu. Kenapa Disa harus terlihat olehnya menaruh perhatian lebih yang justru ke cowok itu—bukan kepadanya?.
            “Bisa?.”
            “Kamu nggak tau apa yang saya rasain setiap kali kamu lihat foto itu.” sambar Ferry geram. “…Nggak masuk akal. Sampai segitunya kamu nganggap cowok yang sekarang mungkin udah entah kemana itu.
            “Tapi apa masalah kayak gitu pantas dibawa ke kantor?.” Disa mendebatnya dengan nada yang jauh lebih tinggi daripada tadi. “Ini kantor, Fer. Dan harusnya kamu sadar posisi kamu disini.”
            Seperti tidak peduli lagi dengan yang Disa katakan, Ferry langsung berdiri dan membentaknya, sekasar-kasarnya.
            “KAMU YANG SADAR DIRI!” “Sadar, Dis! Siapa sebenarnya kamu disini!. Ba-wa-han!.” “Jadi nggak usah nasehati saya dan keluar sekarang,” Kemudian nada Ferry merendah. “..Keluar.”
            Meski agak tertohok mendengar bentakan itu, Disa berdiri juga, menuruti emosi Ferry. Lagi-lagi, dalam diam. Diam juga yang menemaninya hingga di luar dan mendengarkan sayup-sayup luapan emosi Ferry di dalam sana.
***
Hanya teriakan heboh dari semua orang yang dia bisa dengar. Teriakan itu mengiringi langkah kakinya menuju ke sumber yang membuat semua orang berteriak. Langkah kaki itu berderap. Sangat terdengar terburu-buru, hingga tidak bisa bohong kalau yang punyanya sedang dilanda kepanikan yang amat sangat.

            Kemudian tarikan nafas tersengal yang terdengar. Disa menoleh ke sekelilingnya dan mengusap peluh, mengatur nafas—tahu yang dilihatnya saat ini tidak lebih dari kamarnya yang temaram dan kesepian.
            Tak lama, ponselnya bergetar dari meja kamar. Nomor yang dilihatnya dari pesan di layar membuatnya mengusap muka dan pergi dari ruangan pribadi itu.

            Yang ada di hadapannya sekarang adalah Ferry, dengan seorang dokter pribadi yang mendampinginya. Wajah itu terlihat kusut, terbenam dalam kepiluan yang bisa dibilang tidak bisa digambarkan. Sementara itu sang Dokter berbisik sesuatu padanya, membuat Disa mengangguk dan beranjak ke sisi Ferry.
            “Hei,” Dia memulai, menyapa dengan selembut mungkin.
            Ferry menoleh, tanpa kata.
            “…Aku bawain sesuatu.” katanya, masih pelan. Disa menyodorkan sekantung kresek makanan ringan kesukaan Ferry.
            Tapi yang jadi balasan dari pria itu malah cegahan dari tangannya ke makanan Disa dan tolehan dengan tatapan dalam. “Jelasin semuanya.”
            “Jelasin apa, Fer?” Disa bertanya tidak mengerti. “Kenapa?”
            “Mana foto itu? Jelasin.” Ferry mendesaknya dengan nada yang berubah tersengal, tergesa.
            Setelah yakin akan apa yang seharusnya dia jelaskan, akhirnya Disa mengeluarkan foto yang sudah dilem kembali itu dan memulai dengan dua kata. Dua kata yang membuat semuanya jelas.
            “Ini kamu.”
            Ferry tidak membantah. Dia diam dan mencoba mendengarkan. Mendengarkannya kali ini untuk mencocokan dengan ingatan yang ia punya tentang sosok perempuan yang baru saja dia bentak siang tadi.
            “Kenapa..?” dan dia hanya bisa bertanya dengan terbata.
            “Dulu, jauh sebelum aku tau kamu sebagai Ferry yang nggak suka otomotif lagi dan lebih tertarik ke film, kamu atlet kabupaten di lomba drag nasional.” Disa menjelaskan, mencoba pelan-pelan agar tidak membuat ingatan sahabat lamanya ini kembali buyar dan kacau.
            Ferry masih mencoba mendengarkan, merasakan kebenaran dalam ucapan Disa dan potongan ingatannya tentang balapan yang dimaksud.
            “I don’t know for sure… Tapi kata mama, keluarga kamu nggak mau kamu ikutan balapan lagi. So..mereka nggak mau kamu kenal aku lagi, dan balapan lagi.” lanjut Disa. “Mereka menganggap…kalau aku-lah salah satu penyebab kamu begitu konsen ke balapan.”
            Dan Ferry menggeleng pelan, tidak terima dengan ucapan terakhir Disa. Menurutnya pilihan ke karirnya sekarang ini adalah dari dirinya sendiri. “Enggak,” “Enggak ada yang bisa maksa saya buat ngelakuin sesuatu yang nggak saya pengen.”
            “Ya.. memang. Dan ini termasuk salah satu yang kamu pengen, sayangnya—dalam ingatan baru kamu.” “Setelah balapan nasional ingatan itu mulai dibentuk.” “Delapan tahun lalu.” “Sejak kamu divonis kehilangan setengah memori berarti dalam otak kamu, aku nggak bisa berhenti mantau perkembangan kamu. Sampai sekarang.” Disa menambahkan penjelasannya. Sementara itu, si Dokter hanya diam memandangi adegan yang menjurus ke romantis itu.
            Yang hanya bisa Ferry lakukan adalah memandangi foto itu dan mengambilnya. Jemarinya mengelus foto itu pelan. Dia mengesah, tidak menyangka bahwa cowok kucel yang ada di foto itu adalah dirinya. Cowok yang dia anggap sebagai orang-istimewa-tak-berguna-Disa adalah dirinya. Dan dia yakin, penantian delapan tahun untuk menjadi orang yang kembali diingat olehnya sangatlah panjang. Ferry sangat tersanjung sekaligus terpaku menyadari ketulusan Disa menemaninya sampai ingatannya kembali seperti sekarang.  
            “Alasanku nggak langsung ngasih tau semua itu adalah…Dokter Farhan bilang kondisi kamu masih labil. Aku takut satu kejujuran itu bakal ngancurin semuanya, dan aku nggak mau itu. Aku nggak mau dilupain selamanya.”
            “Terus kenapa kamu nggak kasih tau ke saya kalau nama cowok itu Ferry...?” tanya Ferry, dalam nada yang berubah menjadi seperti biasa.
            “Prayoga atau Yoga. Aku pikir itu bakal buat kamu peka..” “Ternyata, samanya kayak dulu: nggak pernah peka-peka...
            Ferry dan Dokter Farhan sama-sama menghela dan tergelak. Yah, setidaknya hari ini, jam ini, malam ini, semuanya terjelaskan. Sebuah foto bisa berarti untuk seseorang atau sebaliknya. Dimana tempat untuk menyimpan utuh sebuah memori bersejarah, tentang menyayangi dan mengingat, membenci dan melupakan. Tempat yang hanya sebuah kertas tipis dan licin, bertinta warna—bisa berubah menjadi sesuatu yang berarti dan terus diingat sampai kapanpun itu.

            Kemudian, seuntai lirik lagu mengalun dari pemutar musik terdekat, menemani pagi tentram mereka di tempat yang kembali berbeda. Keduanya mengulaskan senyum yang amat damai.  Dengan tangan yang kali ini saling tertaut, mereka menikmati kebersamaan dalam gerakan dansa diiringi lagu itu, di momen privasi mereka.
            “Kapan kita mau pulang? Sudah seminggu lho disini.” kata perempuan yang sama dengan memori di bengkelnya, 12 tahun lalu.
            “Sampai ada Ferry junior aja, ya?” Si Pria membalas dengan nada jahil tapi serius-nya.
            Perempuan itu tidak membalas apa-apa. Hanya diam dan kembali menikmati gerakan dansa-lah yang ia lakukan. Ya, dia akan terus seperti itu. Mereka akan terus seperti itu setelah proses kembali saling menemukan itu dijalani. Disa sendiri tidak akan membiarkan laki-laki kucel yang sekarang jadi bos besar perusahaan periklanan itu pergi lagi dari hidupnya, sekalipun menjadi seorang yang kembali berbeda.
            Dia juga sangat bersyukur dengan keputusannya tetap menyimpan foto itu. Dengan foto satu-satunya dari memori terbaik yang dia punya tentang Ferry, dia bisa mendapatkan orang itu kembali.
            Lalu yang tersisa dari mereka hanyalah alunan musik yang rasanya pas dengan cerita mereka.

So you can keep me
Inside the pocket
Of your ripped jeans
Holdin' me closer
'Til our eyes meet
You won't ever be alone

And if you hurt me
That's OK, baby, only words bleed
Inside these pages you just hold me
And I won't ever let you go

Wait for me to come home *

SELESAI….

*Ed Sheeran : Photograph

Rabu, 29 Maret 2017

"YOU SHOW ME HOW YOU WRITE, YOU SHOW ME WHO YOU ARE"




Jujur gue terinspirasi sama film satu ini. Yap, Fast Furious franchise, who don't know it? Whole world know. Bagi yang belum tau, ini adalah scene saat Dom bilang, "You show me how you drive, i'll show you who you are." di Furious 6. Sesaat setelah gue nonton ini untuk yang kesekian kalinya, gue mikir, bener juga, ya. I mean, itu jelas berlaku pada semua tindakan kita, baik keterampilan, akademis, atau kegiatan sehari-hari. Nah, begitu juga di dunia kepenulisan (baik yang pemula maupun yang expert). 

Gimana cara kita menulis, gimana cara kita meracik semua kata itu dan menggambarkannya ke dalam suatu adegan dalam cerita khayalan apapun, akan menunjukan siapa diri kita. Awal orang-orang menyukai seorang penulis bukan karena perilakunya, atau bahkan setelah menjadi stalker kehidupan dunia nyata dan dunia maya-nya (kok serem amat, ya :v). Pasti yang pernah dan sering baca novel, at least sepakat sama gue kalau yang bikin kalian tertarik sama penulis tertentu adalah karena karyanya. Tanpa perlu membaca buku biografinya (kalo ada wkwkwk), kita pasti akan menjadi stalker dengan sendirinya begitu menyukai karya suatu penulis. Dari karyanya, kita bisa tahu seperti apa si penulis itu. Dan menurut gue, karena itulah kita--gue, dan pembaca yang bercita-cita berkarya melalui tulisan--harus menulis sesuatu yang benar-benar membuat ada rasa "Ih, kok gue banget", pas ngebaca karya itu lagi. Gue pribadi beranggapan kalau karya yang sesuai dengan kepribadian kita bisa ngebuat pembaca secara nggak langsung mengenal seluk-beluk diri kita. Ketika lo menulis tentang kisah aksi yang di dalamnya ada sepasang manusia cuek yang sangat oriented kepada tujuan misinya, sehingga mengesampingkan urusan hati, pembaca akan bisa menilai kalau salah satu diantara tokoh utama itu adalah kalian. Ya, kalian, yang nulis cerita itu. Ditambah lagi kalau dialog-dialog yang lo buat itu mudah dimengerti dan friendly buat dibaca atau juga ketika dialog itu ada di dalam cerita. Bisa jadi nggak lama setelah cerita lo banyak yang baca, akan banyak juga yang berani berkomentar, mengkritik, bahkan bisa ada yang menjadi teman chattingan lo dalam sekejap. Who knows, kan? 

Well, that's like true story for me hahaha... Jadi kan gue juga nulis di Wattpad. Work gue itu berisi cerita-cerita yang bahasanya dan dialognya kaku-kaku banget. Asli, ngayal. Cuma beberapa kejadian di cerita-cerita gue yang terinspirasi dari kehidupan nyata. Sisanya? nope. Lo tau apa hasilnya? Bagian-bagian yang mudah dimengerti dan berasal dari kehidupan nyata itu lah yang terbanyak dapat vote dan komentar. Yang lainnya cuma dibaca lewat doang hahahaha... Tragis banget ya gue :v 

Tapi, nggak papa. Sekarang gue lagi berusaha bikin sesuatu yang gue banget dan realitas banget. Memang sulit, sih, apalagi buat gue yang terbiasa ngayal abis-abisan ini (tapi untungnya nggak sampe bikin cerita-cerita alay :/) 

Dan kenyataan lainnya tentang itu adalah waktu gue jadi pembaca novelnya Exprellianmus (user Wattpad), dengan ceritanya "The Number You're Trying to Reach is not Reachable". Bagi yang sudah baca novelnya (eh, spoiler, novel ini udah terbit lhooo keren asli!), pasti tau dan ngerasain betapa gedeknya waktu baca kecerdasan sekaligus kepolosan Aira yang nggak ketulungan. Yak, saya aja sampe ngakak gak berhenti-berhenti waktu dengan polosnya ada kalimat, "oke, siapa yang pertama kali mencetuskan ide genius kalau nilai terbanyak itu sama dengan PDKT". Gue pikir, seharusnya itu udah jadi bahasa nasional, dong? Siapa coba yang nggak tau modus hahahaha... Tapi nyatanya "ada", walaupun cuma karakter Aira buatan penulis bernama asli Adara Kirana ini. Jadi penghafal KBBI sejak kelas empat SD gue kira seharusnya dia tau bahasa-bahasa gaul juga. Ternyataa.. ampun dah. Btw, cukuplah curhat soal buku ini wkwk, gue ngiler pengen beli coba (bagi aku uaaang :v *canda deng*). Belum sempat ke tokbuk *hiks*. Udah habis kali, entah deh hehehe... Soal buku ini, recommended banget buat dibeli. Selain menghibur, di sana lo juga bisa dapat pelajaran-pelajaran, vocab bahasa Inggris dan penulisannya yang asik, dan cerita tentang novel-novel luar plusss mitologi Yunani (:D) yang seru abis dan dijelaskan secara gampang. Gue banyak belajar dari novelnya, btw. 

Nah berkaitan dengan judul, dari ceritanya, Exprellianmus berhasil "sedikit" menunjukan dirinya kepada pembaca. Dia penggemar Harry Potter series (kelihatan dari Usernamenya dan PP, dan tokoh utama yang seolah ada mengambil sedikit sifat Hermonie --- au nulisnya bener atau engga ini :v). Melihat ceritanya yang dipenuhi mitologi Yunani dan banyak buku yang nggak gue kenal, sementara Adara terasa lihai dan enak menuliskannya, seenggaknya membuat gue tahu kalau sebenarnya ada sisi dirinya yang "begitu", alias mirip-mirip, alias sebelas-dua belas sama Aira. Pembacanya yang lain juga sempet bilang di wall (ketauan dah stalkernya hehe...) dengan kalimat begini, "Kok ceritanya kayak lo banget si, thor?". Dan benar aja, pas gue stalk IGnya (hehe..), Adara kelihatan remaja yang pintar. IGnya lo tau isinya apa? Buku. Yap BUKU. BUKUUUU. Duh, gue sampe ngiler ngeliat foto-fotonya. Dalam hati, maauuu dong! Hahaha.. sayangnya kepala gue udah keburu keracunin sama novel-novel yang yaah begitulah.., bukan serial Potter, atau novel-novel yang agak "berbobot"..

Ok ok, cukup curhatnya lah hehe.. I think that's prove, kalau apa yang kita tulis, apabila kita terlihat dan terasa lihai menuliskannya, bisa dilihat oleh pembaca kayak sesuatu yang mencerminkan diri kita banget. 

Poin gue di sini adalah, kalau lo mau menulis sesuatu, usahakan yang kerasa "lo banget". Bukan "lo banget" itu berarti lo harus nulis buku "BIOGRAFI" yaa.. Jangan dulu hehe. Maksud gue, ketika lo lagi suka sama genre A, alur B, tema A, latar B, tokoh A, dan lain sebagainya, gabungkan itu menjadi suatu cerita yang LO BANGET. Kalau lo udah enjoy bacanya, nggak ngerasa "Hiih...bete bacanya..", berarti lo udah berhasil membuat suatu karya yang kelak akan ada pembaca. Pembaca yang dimaksud nggak harus pembaca berbayar kok (yang beli dari tokbuk, maksudnya). Pembaca dari platform Wattpad, Storial.co, atau yang lainnya, juga bisa. Yang penting karya lo dibaca, kan? Itu kan poinnya kenapa lo pengen jadi penulis?--atau at least, itu gue hehe--karena yah, realistis aja: karya yang udah keren, dan enak dibaca pasti suatu saat bakal nyangkut ke scoutnya penerbit. Diam-diam--di Wattpad, setau gue--banyak penerbit yang jadi sider. Nggak lama, eeh, tertarik menerbitkan karya tertentulah. 

Oke segitu aja ya dulu ocehan gue pagi ini. Sampai ketemu di postingan selanjutnyaa :) 
Dadaaaah :* 

All love,
Alin Ifa